Linimasa

Wednesday, January 30, 2013

Lantai Krim Marun

Lantai krim bercampur marun, tangan kiri mengenggam secangkir kopi campuran gula juga krim yang beradu, lamunan, blues! Galeri sendu kurasa begitu, ramai namun tatapku hilang? Rasaku tenggelam, sisa pertikaian semalam. Enggan banyak menambah catatan cinta, kursus dua puluh dengan waktu, air kopi ini terombang-ambing saat kuketik benam wajah muram laksana bulan tanpa malam. Jujur, bahwa kehilangan itu permasalahan terberatku.

Tuesday, January 29, 2013

Akustik Hati

Never happy, not satisfied Always complains for nothing Hopes and dreams are fading away It's not hard to figure it out There's no doubt, you'll find a way Live the moment, each and every day

Rumput Berhati Nurani

Tak ada hari indah kecuali BESAR HATI. Hatiku ingin lupakan luka, lupakan pedih, terasa seperti lapangan luas untuk diinjak kaki-kaki lalu berganti rumput hijau yang baru ditanam.

Kembali Duduk di Jembatan Cinta

Rasanya aku senang, ini yang dapat kuungkapkan sebelum bertemu denganmu. Duduk dan menunggu. Ada sesuatu kala aku betah untuk sabar dalam waktu. Terbiasa, mungkin itu alasan aku tetap menginginkanmu. Jika kau merasakan hal yang sama, cukup jawab dalam hati saja. Inilah kenangan kita. (Beberapa menit kemudian, setelah kutuliskan kalimat di atas, entah kenapa rasa kesal muncul begitu saja, tak seperti biasanya, karena kau datang terlambat dari waktu yang ditentukan)

Monday, January 28, 2013

Ombak Malam 27 Januari 2013

Tak bisa menepismu dari kata 'mungkin', bila seiya-sekata adalah sesungguhnya cinta paling abadi.
Kutelan lamunan, menerawang dalam sudut semu. Waktu ini haru, kita berencana tersiksa, soal cinta bukan matematika.
Menembus kalbu, seiring tarian jemu, lihat kiri-kanan, belakang kita layar, di hadapan sejuta kepala, banyak tanya banyak irama.
Remuk hati, remuk raga, jiwa terbang untuk kembali, mata pekat lalu mendekat, disini ada aku, rayuan manja mengupas tangis.
Sebelah kiri halaman tertulis kamu jangan sedih, malam selalu setia memeluk kegelisahan, gelap adalah sahabat mereka, cahaya

Kaca Bukan Mereka

Semua orang kasihan sama kita, dan kita adalah orang mereka perhatikan. Biarkan saja. Umur kita manis, wajah dalam sendu, kita tidak akan sendirian, kita berada diantara kekuatan pikiran, bukan sekedar perasaan, kita pasti bisa mendapatkan jalan terbaik: mengorbankan perasaan, memang sakit sekali, apalah artinya hidup kalau tidak berani mengarunginya. Berikan kejelasan pada pemikiran kita sendiri, tenangkan dengan hati kita sendiri, lalu rasa kasihan mereka berbalik kepada mereka. Kaca tempat kita merasa malu, bukan mereka.

Bukan Trauma, Ini Cinta

Cinta (lagi) yang seketika buat hatiku beku dan senantiasa haru. Merasakannya terlalu dalam, khusus di hari-hari yang kuanggap adalah cinta. Dan untuk itu, berbagai pendapat orang berdatangan dari yang baik juga sangat buruk. Soal kapan akan menikah, kuharap tidak dimengerti hanya biarkan saja aku menikmati proses menuju kesana. Tak akan ada (selalu) yang indah, menelan ludah saat gelas mulai kosong, sepiring airmata yang sudah dicuci, dibersihkan, diletakkan kembali ke asalnya. Lakukan hakmu, kewajiban kalian, ini bukan trauma, ini cinta!

Saturday, January 26, 2013

Ombak Malam 26 Januari 2013

Bagian yang hilang, hari sudah lelah. Jangan padam, waktu terus berjalan, hindari sesal.
Jalan berlubang, tikungan tajam. Ludah terinjak, dijilat lagi, debu berterbangan mengulum fana.
Dan ketiga adalah yang tak terpilah dalam logika, berkaca di air yang keruh.

Friday, January 25, 2013

Jelaga Pagi 24 Januari 2013

Untuk bisa seirama, aku terpaksa menghentikan bisikan lainnya.
Kegumurahan pada hati nurani, aku mendengarnya dengan mata dan melihatnya dengan telinga.
Rantaian logika terjerumus ke dalam kubangan, bercampuran tanah berulat.
Aku hanya perkenalkan nama, selebihnya dosa, mengikis ujung kalbu.
Satu-satunya nama belakangku terpenjara di bibirmu, tepat saat bercumbu dalam kelam.
Memanggil Tuhan-Tuhan kita dalam gumpalan asap, lambaian pulang harus terasa ngeri.
Itu dogma, bukan sekamu-kamunya hebat menantang langit!!
Menangis, berduka, senang, tersenyum, berulang kali basah di bawah hujan, tak 'kan mungkin sanggup menari di atas payung.
Rambut tak lagi berlinang di pengheningan, tulisan miring pun hilang, mencari jawaban: dimana pena kita?
Sepuluh sudah #JelagaPagi ! Jangan memaksa untuk datang dan pergi di akhir kesendirian.

Tak Sesusah Puisi

Puisi itu punya kaki dan berjalan di kepalamu. Puisi memiliki tangan untuk meraba hatimu. Aku tak 'kan membelikanmu susah, jadi biarlah rasa ini kuberi, puisi.

Tiba (Lagi) Hujan

Tiba-tiba hujan, tiba-tiba aku merasa ada kamu. Badan jadi terasa suam. Pikiran melemaskan sekujur tubuh. Cinta pada pertemuan.

Enggan Lagi Cinta

Enggan 'tuk lupakan Sabtu malam dalam sunyi. Bisik-bisik hati. Pesan yang terluka. Lagi cinta.

Tuesday, January 22, 2013

Satu Banding Satu di Ruang Yang Kosong

Pagi buta selalu mengiris lamunan keras hati. Menari-nari tanpa sebab asalkan berbunyi. Sejak hari Sabtu mataku tak bersuara, mulutku tak melihat apapun. Ketika sapa hangatmu lebih berarti dari sesiapapun. Haruskah aku telanjang di atas mawar berduri? Berdua denganmu adalah keindahan. Mungkinkah aku menutup tubuh yang dingin ini dengan nurani? Sendiri begitu menyiksa hati. Di permadani semua bermain dengan hasrat termasuk kenangan.

Endus Cinta di Bawah Logika

Jatuh cinta, kurasa tak semudah itu ketika masih memikirkanmu. Aku merasa sangat malas untuk memperkenalkan diri, BANYAK CERITA (LAGI) atau mendengar orang menceritakan hal cintanya. Hanyalah proses, karena aku memang mengenal bagaimana caraku mengendus setiap cintaku.

Monday, January 21, 2013

Tahun Lalu Jelang Ibu Terluka

Aku ingat tahun lalu, bukan lupa, tetapi luka Ibu. Mencarimu berjam-jam, kemudian kabar datang terlalu buruk. Aku ingat itu. Dimana saat tanggal ini tak terpikir bahwa Ibu akan terluka. Ibu sudah memaafkanmu, kesalahan besarmu. Kemudian aku pun merenung soal salahku (juga). Semua mengerikan, beda ritme salah. Namun, Ibu memang tegar menjaga kita berdua.

Sunday, January 20, 2013

Dibalik Kaca Air Hujan

Mata hati. Disini kita melihat, disini kita membaca. Jendela duka. Koridor Sarinah, 17 Januari 2013

Salam (Kembali) Rindu

Kuberikan rindu baru untukmu, tanpa lelah kubaca satu persatu keresahan itu, berharap tak akan pernah ada mimpi buruk diantara kita, kenyataannya waktu-waktu seperti ini meresahkan juga berikan sejuta hikmah luar biasa.

Karena Aku (Juga) Pernah

Manusia adalah MAKHLUK TUHAN YANG PALING SEMPURNA. Ada sedih dan bahagia, aku ingin mengenal itu berulang-ulang kali bahwa ketika pernah sedih, kita juga pernah bahagia. Berputar. Saat aku merasa sedih karena susah, saat tak ada pilihan kecuali menikmatinya, aku pun tersiksa. Lalu bertanya-tanya kapan bahagia itu datang? Aku senang ketika aku memikirkan hal-hal yang orang lain tidak terlalu pedulikan. Mengenai kesusahanku sudahlah. Sekian banyak hari terbuang dengan uang-uang yang datang tanpa bicara. Mungkin rejeki kita beda, tapi tentu tak semua rejeki yang kudapatkan adalah MILIKKU SENDIRI. Seperti banyaknya soal kehilangan, aku tak menginginkan orang-orang terlambat menerima apa yang seharusnya mereka dapatkan. Tidak mudah mengajak orang melakukan kebaikan kecuali kita yang berani untuk (tetap) melakukan.

2.53

Sekitar pukul 2.53 dini hari. Setiap waktu dalam pertanyaan tanpa suara. Tarian jemari, luka di ujung jari-jari. Tempat yang nyaman, bersama kopi berdialog dengan pikiran. Simpan hati.

Saturday, January 19, 2013

Hilang Semangat?

Tertulis 16 Januari 2013. Rasanya tak bersemangat. Fisik kian melemah. Isi kepala jauh dari kata rapih. Karena kesal, semua jadi berantakan. Keluhan tak tersampaikan, lebih tepatnya tidak dipedulikan! Pekerjaanku ini istimewa. Bertemu dengan orang dan cerita baru tentunya selalu menarik. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Entah sampai kapan? Kuanggap ini pelajaran.

Monday, January 14, 2013

Hujan Puisi

Hujan menciptakan sebuah rindu mungil. Bunyian rintik di luar sana membuat tubuh ini seakan dipelukkan. Ritme kekasih merayu, senyum dari gelisah lalu. Ada bekas airmata di pipi, duka tanpa pamrih

Saturday, January 12, 2013

Untuk Kembali

Ketika aku memutuskan tenggelam disana, pada akhirnya aku harus tetap berenang ke tepian. Ketika nafasku sudah tak sanggup, aku meminta Tuhan membantu untuk menguatkan agar aku kembali bergerak menyelami airNya.

Biarlah Sakit, Terima Kasih

Jadi, aku mengerti mengapa yang paling 'Mengasihi' hanyalah Tuhan. Sebaik apapun aku, seburuk apapun juga aku, manusia lain tidak pernah benar-benar berani memutuskan untuk terima kesalahan/kebenaran seadil Tuhan menerima keadaanku. Buku belum ditutup rapat, aku sebegitunya. Percikan trauma menjadi koreng yang sangat pedih, tetap tanpa dendam. Kumatikan ucapan terakhir tadi sekitar pukul tiga sedalam-dalamnya di lubuk hati, biarlah sakit, dan terima kasih. Tuhan Mengasihi kita semua selamanya.

Walau?

Kenapa ini begitu menyedihkan, sayang? Apa kau juga merasa seperti itu? Kita tidak kalah, kita sudah berhasil melewati masa, pergolakan jiwa. Sadarlah sayang, kita tetap menyatu, selama kita mampu, walau cinta bersemi dalam hati saja.

Di Atas Roda Empat, Sepulang Kerja

Malam ini aku bersama Ibu, tapi jelas-jelas (masih) rindu kamu. Jum'at, iya aku suka sekali hari ini. Hari lahirku, kau tau itu. 20 menjadi tanggal suka cita, pertaruhan nyawa sang Ibu. Kau sedang apa? Tentu bathin kita menyatu, 'tuk saling memikirkan. Lampu-lampu jalan tak sanggup meredam bathinku, siksa.

Friday, January 11, 2013

Menjadi Suara Cinta

Kisah cinta akan 'indah' ketika menjadi suara, ada perasaan disitu, ada irama, merdu tersalurkan dari suasana hati yang baik maupun seburuk apapun juga. Mendayu-dayu, nostalgia tangan saling berpegangan, ungkapkan cita dan mimpi. Lalu berjalan tanpa beban. Susah bersama, menari di cara yang beda. Membuat hasrat lepas begitu saja, sesyahdu burung berkicau jelang sang mentari muncul dari peradaban.

Rehabilitasi Kawanan Cinta

Karena sebuah hubungan cinta, pertemanan berada di ring kericuhan. Entah apa yang dipersoalkan, karena kutahu memang 'egoisme' dekat dengan bibir yang basah (keinginan untuk memiliki). Sinis, tak bisa sedikitpun rela berteriak bebas di keramaian. Kendati hubungannya sendiri terletak di tengah pulau tanpa penghuni. Beberapa kali jatuh cinta, 'tuk kesekian kali, ring berikutnya tanpa akhir yang menyenangkan. Membutuhkan proses panjang merehabilitasi kepahitan 'cinta'!

TANPA JANJI, AKU HARUS KEHILANGAN

Tak ada janji kutagih, melainkan waktu panjang 'tuk tebus masa lalu. Bukan kelam, bukan. Tentu ini indah, soal bahagia. Banyak belajar. Soal sabar, memahami sebuah peran. Wanita itu lemah, mengakulah! Jangan pernah sembunyikan ini dari diri, sekalipun mereka tertawa saat sedang melankolis. Angin terlalu kencang, tak memberikan isyarat 'tuk cairkan beku, hati dan sudahlah. Lampu di tengah sunyi, jarak kita menyakitkan. Apa kabar kamu? Kuharap rindu, dan kita bersama terbelenggu.

Beradu Syahdu

Tanpa kebijaksanaan. Tekanan terus berdatangan, kita mulai bingung saat itu. Mata-mata seakan berpaling, telinga-telinga berusaha mendekat, menerka, menerjang. Kita masih saling tersenyum. Namun itulah lawan yang paling mematikan, kebenaran.

K3M3LUT

Disini. (Letakkan tanganmu di dadaku) serasa tak berdenyut. Mati, hilang nafas-nafas kecil, sumbu emosi. Percikan api musnah (kemarin berlalu), dermaga terkunci rapat, tak ada celah. Nanti saja, aku ini membeku. Setengah tiga tadi, setengah pagi ini, terpenjara tanpa sapa (lagi). Tak ada kamu di linimasa, yang ada hanyalah diam. Semua lenyap seketika, pilihanmu? Bahasa-bahasa yang kau tulispun semakin membuatku jatuh berperasaan, surat kekasih. Tawa, senyum, tawa, senyum, ocehanmu, rindu, senyum, tawa, gelak candamu, amarah, rindu, menyatulah semua, aku harus siap sambut esok.

Thursday, January 10, 2013

Hargai Pekerjaan Kalian

Membosankan jika harus menunggu. Terlebih orang yang ditunggu TIDAK PENAH TAHU DIRI. Namun, baiknya adalah aku terlanjur belajar sabarnya menunggu. Pertama karena ‘cinta’, kedua karena aku mencintai pekerjaanku. Sudah beberapa kali kejadian tadi terulang, dan sangat menghambat apa yang seharusnya aku kerjakan. Lucu sama orang pintar, sama orang yang tahu segalanya (mungkin), egois bukan idealis (bahkan). Ini selalu membuat aku gerah! Entah berapa lama aku harus diam dan menelan ludah, indahnya sabar itu tetap tak punya batasan, titik. HARGAI PEKERJAAN KALIAN KAWAN. Jika bisa menciptakan KARYA di sebuah perusahaan, hal yang terbebani bukan karena terlalu suka dengan karyamu sendiri melainkan ada banyak orang yang menunggu di luar sana.

21 Titik Dua Sekian

...ternyata tanpa sadar aku terlalu menyayangimu!
Sekarang aku balik ke pukul satu. Di pagi buta yang dingin dengan seribu pertanyaan di kepala. Banyak yang ingin kudiskusikan, terlepas soal ‘hubungan’ kita. Seperti biasa, kamu satu yang pertama tau bagaimana hari-hariku. 21:24 surat kekasih. Aku tenggelam, rasanya ingin bertemu (kembali). Menyusul 21:36, mulutku terbungkam, tak bernyawa menatap seluruh kata yang menjerumuskan aku untuk luluh. Saat ini aku sedang berada dalam titik kecewa, bukan karenamu, bukan. Tapi sangat menyedihkan, kita (lagi) bisa berbagi cerita, untuk sementara ini. Aku selalu percaya bahwa kamu baik-baik saja, kalimat ini sederhana, kita diterpa gemuruh sendu. Kamu harus bisa meyakinkan dirimu sendiri, sebelum orang lain yakin atas dirimu. Tanggal 8 tadi, airmataku menetes, rindu tak dapat dibendung, syahdu yang tak dapat kusembunyikan, semacam pertentangan jiwa, berangsur akan lama. Hari ini banyak kesimpulan, sayang. Aku akan mencoba menjawab pertanyaanku sendiri di kepala ini, harus kukatakan, ini sungguh sedih keadaan kita harus saling menahu. Maafkan segalanya, termasuk cintaku.

Wednesday, January 9, 2013

Pukul Satu

Menuju pukul satu pagi, aku berusaha tenang, sayang. Aku berusaha kuatkan diriku, atas keadaan. Segalanya, bukan hanya tentang 'kita'. Yang membuat aku semakin kuat adalah kamu, aku harus maju ke depan, kamu pun tersenyum, bangga pernah menemani kepayahanku. Sebenarnya, aku gelisah. Dan sesungguhnya aku merasa sangat kehilanganmu.

Lemah untuk Melupakan

Dan kamu, kamu yang ada dipikiranku saat ini. Kamu, jangan sedih. Entah dimana kamu, jaga dirimu. Hari sudah malam, biasanya kita saling berkabar. Sekarang aku berada di dalam bis 640, aku tidak mengantuk padahal sebentar lagi nampak patung Pancoran (kau selalu bilang, jika aku seringkali keluhkan kantuk saat perjalanan menuju kesana). Rencananya aku mau mencoba sesuatu yang baru malam ini, kau pun tahu. Aku cerita beberapa waktu lalu, kau setuju. Tentu, kau adalah orang yang setia menyemangatiku. Kini, tak ada lagi ocehanmu itu. Semua tentang ingatan. Waktu tersenyum melihatku sendirian, karena waktu menghargai kita untuk saling melupakan, kesalahan.

Tuesday, January 8, 2013

1000 Pertanyaan untuk 1000 Jawaban

MALAM SELALU MEMBUATKU BERPIKIR, SAKIT
Tidak ada satupun 'masalah' tanpa jalan KELUAR. Lupakan orang yang tahu soal sejarah untuk mengetahui jawaban yang pasti. Dan ingatlah kesalahan pada berbelitnya KENYATAAN. Sesekali aku tak menyebut Tuhan, lupa diri. Seakan tetap sabar, bisa mengikhlaskan, selalu memaafkan, dibalik 1000 pertanyaan untuk 1000 jawaban. Jalan terakhir hidup, MATI.

Secercah Harapan di Januari

"Berapa menit kemudian yang ada RINDU, SENDU, PILU..." 22:11 aku naik ke mobil biru muda setelah mengusap bahumu. Hari ini Senin, 7 Januari 2013. Bahwa menjadi yang terbaik dalam hidup seseorang adalah kebanggaan dan menjadi diri sendiri tentunya jauh lebih menakjubkan. Sinar-sinar kecil mengiringi langkah pencari nafkah di kala malam tiba. Aku melewatinya, tanpamu. Kita pernah melintasi cahaya-cahaya itu bersama. Lalu, apa yang kita pikirkan? Tak lain hanya kebahagiaan. Walau akhirnya tak ada yang sempurna, tak ada yang utuh untuk dirasakan terus-menerus seperti awal jatuh cinta. Mobil ini pun melaju, aku bersandar tepat di belakang mas supir. Tangan kananku ada di bagian pembatas antara depan dan belakang. Seperti kita, tak mungkin ke belakang, dan semudah itu bisa berada di depan tanpa turun dan MEMBUKA PINTU. Tak lama, seorang wanita turun dari angkutan umum yang berlampu kuning redup ini, dan satu wanita bergantian naik duduk di tempat yang semula KOSONG. Jadi begitu hidup, silih berganti. Tanpa suara tangan tetap mengeluarkan berbunyi saat menyentil atap mobil, bila terpaksa bicara sekedar ada perlu, "Kiri..." Tak ada kata lain? Tujuan harus tepat, tegas, agar berhenti pada TUJUAN.

Monday, January 7, 2013

Dosa Yang Terluka

Aku merasa hidup denganmu, satu kali satu waktu. Satu waktu yang seakan menyiksa ketika menemukan jalan buntu. Jalan buntu karena tak ada jalan lain untuk bisa dilalui kecuali menyerah. Sebenarnya, waktu terlalu sebentar. Emosilah yang membuat kita betah berlama-lama. Betapa sadarnya aku, begitu lelah. Dosa yang terluka, semoga kelak ada arah dituju.

Mati Rasa Bukan Dimulai

Apapun yang kita temukan di perjalanan adalah hasil dari sebuah pencarian. Kehidupan, dan terlalu gegabah jika kusebut pahitnya hidup ini. Belum sejauh itu kuselami makna dan pengorbanannya. Aku masih kecil di kehidupan. Umur 27 tahun, belum berkeluarga. Bukan juga aku menyesal. Namun, semestinya aku berani untuk MEMULAI! Ibu, Ayah, terima kasih sabarmu.

Cinta Bukan, Ini Mimpi

Karena Cinta, orang bijaksana dalam berkomitmen. Karena Cinta pula, orang tak (lagi) mempercayai dirinya sendiri untuk membuat keputusan. "Hujan tak henti, waktu terus bergulir mengajariku banyak hal dari satu cerita, " pikirku bukanlah hatiku. Tuhan, jangan marah. Aku lemah.

Harus Apa?

Entah rasa bersalah ini harus kujadikan apa? Dosa? Terlalu dalam aku larut, hingga tolol. Harus apa yang terhina? Berkali aku sujud, Tuhan, jangan biarkan aku jauh dariMu.

Barisan Jembatan Cinta

Berhadapan dengan tiga orang yang duduk di kursi besi panjang. Satu lelaki dan dua wanita. Satu wanita berkerudung, satu lagi wanita yang memakai rok pendek berwarna hitam. Tidak ada sesuatu, aku hanya menggambarkan situasi saat menunggumu di bawah gerimis Senin malam. Maafkan aku sayang, aku juga memilihmu. Ingatkan aku selalu sayang, kita tidak boleh kalah dengan setan.

Waktu Tidaklah Serba Salah

Jika ingin kembali, sudah tidak ada jalan. Maka, manusia dipertemukan dengan jalan berikutnya untuk memulai, sekalipun itu salah atau benar, namun bukan RAGU. Ragu dirasa semacam penyakit, guncangnya JIWA. Jiwaku, jangan kau tertawai hidupku! Kaki-kaki yang menapak, tangan-tangan yang mengemis, mata yang terus meratapi kalah ke kalah.

Friday, January 4, 2013

Aku Satu-satunya

Lagu mesra selalu membuatku tersenyum, seketika hasrat adalah janji-janji puisi yang terabaikan. Aku satu-satunya wanita romantis.

Beri Waktu Cinta

"Beri cinta waktu untuk memahami, untuk meyakini, bila esok yang 'kan terjadi, semua indah 'kan terjalani, " penggalan lain datang dari band yang besar di hatiku. MALIQ & D'Essentials seperti malaikat yang turun ke bumi untuk melindungi kegelisahanku. Beginilah caranya lirik lagu menguatkan kegamangan? Ruang kosong yang (belum) mau terisi. Jangan pernah paksa aku untuk jatuh cinta (lagi).

Sejuta Lamunan Sendu

"Tak 'kan lelah aku menanti, tak 'kan hilang cintaku ini, hingga saat kau tak kembali, 'kan kukenang di hati saja, " penggalan lagu haru dari sebuah nama Ariel- frontman band yang kini bernamakan Noah. Kehidupan manusia tak jauh dari rasa-rasa yang dialaminya. Tentang mimpi, cinta adalah bonus ketika bermimpi. Begitulah pandangan sebenarnya. Jatuh- bangun dari lintas waktu, bukan pertempuran hati, bukan sekedar janji. Komitmen lepas kendali, cuma soal datang- pergi.

W.A.Y?

Where are you?
Hari keempat, tanpa satupun sepotong kata mesra darimu. Berbatang rokok tetap menjadi saksi bisu, pikiran ini selalu berusaha lebih tenang dari apa yang kau pikirkan. Sebagaimana adanya aku, itulah kamu. "Untuk orangtua yang dicintai, kadang harus memilih sakit hati, " kata hati ini.

Thursday, January 3, 2013

25 Detik

Aku melihatmu di linimasa, tepat 25 detik saat aku membuka akunku. Ini semakin berat, kita saling menyiksa diri. Apa dayaku, apa dayamu? Tenggelam dalam rasa, cinta.

Ketika Hari Ini Aku Sedih

Kau yang selalu tahu kenapa, apa, bagaimana. Ketika hari ini aku sedih tanpamu, aku hanya mampu mengatakan "Aku sedikit tersiksa, " bukan berarti rasa yang tak banyak itu kebodohan. Malah, aku seakan-akan berhasil buat diriku lebih tenang dengan menuliskan ini. Sudah hampir pukul dua. Tadi dalam perjalanan pulang ke rumah, kantukku tak tertahan. Mata yang tertutup menerawang dalam kekosongan. Ketika hari ini ada kamu, berarti aku pembual. Maka, menarilah bersama di rindu yang tak berbatas.

Lampu Jalan Kehidupan

Perjalanan. Hidup ini ada lampu yang digunakan untuk menerangi jalan.
Jika lampu itu mati, hanya kita yang bisa hidupkan, bukan Tuhan.

Wednesday, January 2, 2013

Sayang Sebagai Sayang

Sayang itu harus dihapus sebagai sayang. Rindu itu harus dimusnahkan sebagai rindu. Inilah dunia yang tak pernah adil. Tuhan membuat kita merasa bahagia, namun orang lain tidak suka. Tuhan membiarkan kita terus bersama, namun orang lain tidak mengerti. Soal cinta, lagi-lagi aku harus terpaksa banyak DIAM (tak bergerak).

Cinta (mungkin) Perasaan

Cinta, dan ketika semua orang berusaha menjelaskannya dengan perasaan, hingga tak mampu (lagi) berjalan dengan hati. Runtuhlah gelisah ini, aku coba bertahan sendiri.

Taman Hati Bisu

Silahkan bunuh masa lalumu, dan perlahan habiskan rasa itu hanya denganku. Darimu, dariku, untukmu, untukku. Kenangan manis di taman hati yang bisu.

Sujud, Dosa, Cinta

Masjid At-Tin, 31 Desember 2012. Parkiran mobil malam itu dipenuhi roda-roda menuju Taman Surga. Berbondong-bondong umat ingin bersandar pada kegelisahannya (aku mengganggapnya begitu). Di pelataran Masjid nampak banyak persiapan. Mental dan waktu, aku termasuk di antaranya. Lupakan ustadz cengeng yang mengumandangkan sejuta do'a. Bagiku malam itu adalah perasaan ini, sesuatu hal yang terpaksa harus aku TINGGALKAN, sedih. Keberanianku berubah menjadi lamunan panjang hingga detik-detik yang tak mau pergi. Merindumu, genggaman, senyum, syahdu, aku telanjang dalam merdu, awal 2013.

Tuesday, January 1, 2013

Tak Menyesal Terlalu Sakit

Tak ada satupun yang harus kusesali. Entah seberapa kuat aku bertahan? Aku tak bisa begitu saja melupakanmu. Namun, kita harus terpisah. Sedih, bukan luka. Senang, tidak seharusnya. Mimpi kita terlalu sakit.

Satu Januari

"Hidup tidak pernah membedakan antara sedih dan bahagia. Aku berharap waktu mau memaklumi mereka yang sedang menangis dan tertawa." Sayang, ingatkah pertama kali kita bertemu? Aku tak berharap ini cinta. Lalu, di hari baik ini dengan tujuan kita yang sama. Percayalah, suatu hari nanti kau akan lebih mencintaiku.

Pagi Buta Tanggal 31

Duduk berhadapan dengan kaca rias di kamar Ibuku. Kusam. Entah ada dialog terselubung apa di wajahku. Gelisah. Beberapa kali kugoyangkan kaki. Menghitung cepatnya kemudian, tak mungkin pernah merasa sanggup meninggalkan berjuta detik yang berlalu. Kamu harus menjadi yang terakhir dalam not salah. Petikan gitar yang patah, jeritan malam begitu resah. Teman bicara searah. Lalulintas waktu bersama, jembatan cinta, pengiring nada yang kita anggap selalu indah. Berikan aku waktu hari ini untuk banyak tersenyum, banyak menatap, banyak menjelaskan, banyak menerima segala harapanmu. Senandung kasih bisu.