Linimasa

Wednesday, May 29, 2013

Karena Kau Pasti Tahu

Setelah akhirnya kita dengan sadar memutuskan untuk kembali bersama. Dan kau tahu betapa lelahnya menanti, mengenal lagi, mengerti. Tak semudah itu menerima kenyataan yang jauh lebih indah apalagi dekat siksa hati.

Masalah Berlalu di Masa Lalu

Jembatan cinta menjadi salah satu tempat menulisku yang Agung. Mengapa? Karena pertemuan kita disini. Keadaan tak pernah mempersalahkan aku atau kedatanganmu hingga kita terpisah. Hanya saja sebelah pihak yang menghakimi. Mengapa? Karena pertemuan kita disini. Maka berbicaralah pada diammu nanti. Mengapa? Karena perpisahan kita disini.

Tuesday, May 28, 2013

Jika yang Merdu Nada, Maka Kamu Vokalnya

Nafas cinta tak selalu mewangi. Ruang gelap terus mencari, meraba, hingga mendapatkan pegangan. Seperti leher yang tercekik, dan tetap bersuara. Keluh sakit. Lakukan cinta, ungkapkan irama, jika yang merdu itu terdengar nada maka kamulah vokalnya.

Ketika Manusia Semakin Banyak Memilih Tak Bertuhan

Maka aku tetap berdo'a untuk diriku sendiri, walau sedikit tergoda untuk sekadar mengingatkan bahwa hidup bukan sebatas SALAH dan BENAR. Kita berada dalam langkah, menuju PULANG.

Kamar Kita Berbeda

Siapa yang membalurkan kayu putih di tubuhmu jika suatu hari nanti kamar kita berbeda? Ibu, aku menyayangimu.

Selintas Bahagia Mawar

Bahagia itu sederhana, dan pernyataan itu yang seringkali mereka ungkapkan tak lama berduka. Mawar putihmu segera patah karena tak sampai di tanganku yang tengah bercucuran darah.

Monday, May 27, 2013

Luka Pendamping Cinta

Jika jatuh cinta harus menggunakan akal sehat maka aku akan selalu kehilangan banyak 'kamu'. Seribu tangga menuju taman hati, kitalah yang berperan untuk memilih siapa pendamping di kursi kanan nanti. Lalu, sebelah hati terpisah mencari jalan lain agar tetap bahagia. Aku hanyalah luka yang terbiar sakit. Kalau saja kebutuhan setiap rasa adalah malammu. Kita nikmati saja hasrat 'tuk bercinta.

Sedih Tak Puitis

Ketika aku mulai kehilangan banyak rasa, halaman ini menjadi korban, tak ada lagi huruf yang menangis, apalagi angka sebagai petunjuk sesal, semua orang bilang aku seorang yang emosional, dan kubiarkan jiwa-jiwanya terbakar lalu keguncangan. Lambaian tangan terpotong angin yang lelah, sedih tak ada rindu, tak ada duka, sedih tak puitis.

Friday, May 24, 2013

Masih Milikmu

Tumpahkan rasa-rasa kita. Saling memaki lalu bahagia. Endapkan cerita lalu ke dalam kopi tanpa gula. Gelas terbelah, cinta masih milikmu.

2.41 Esok Masih Ada Harapan

2.41, aku mulai menempelkan jemari di atas huruf, tanda baca, dan beberapa angka. Sepagi ini aku selalu merasa lebih nyaman daripada harus menahan emosi dan rasa kantuk. Kata lainnya, detik ini adalah kebahagiaanku. Sunyi penuh cinta. Aku masih menanti barisan itu rapih, walau beberapa gigiku sudah berlubang tak terurus. Seumpananya saja, kamu tidaklah seorang yang mereka pikirkan. Asap rokokku berjatuhan di luasnya udara, dan masih berpihak pada keyakinan bahwa esok masih ada harapan.

Monday, May 13, 2013

Harapan Selesai

Airmata perlahan menetes, tak lama aku duduk di bis ini. Bis yang tadi cukup lama juga kunanti di Thamrin. Sudahlah yang penting, menangis. Aku mau sedikit melegakan hati. Iya, aku pernah mengungkapkan hal ini, airmata di beberapa tulisanku. Ketika masalah kian memberatkan hari. Rasanya pilu datang lagi. Badan remuk tak mengurai asa. Kuharap selesai.

Saturday, May 11, 2013

Lempar Frustasi

Aku bukan yang dulu. Terima kasih untuk sebagian dari kalian yang akhirnya menjauh. Kurasa tak ada alasan yang perlu dicari. Tepatnya kepedihanku sudah memberikan berkah hidup yang luar biasa. Bahkan lebih baik dari apa yang kalian pikirkan selama menilai aku seringkali buruk. Masa frustasi begitu mendebarkan hati, guncangkan jiwa. Dalam keadaan apapun juga, nafas suci tiba-tiba muncul ketika masuk dini hari.

Tuesday, May 7, 2013

Bukan Bermimpi

Ruang belajar di temaram. Meja tak bernyawa yang sanggup menuliskan isyarat hati. Bisik mengusik jiwa, pensil patah tak terganti. Kertas-kertas terbakar di tong sampah. Semua menjadi mimpi. Bukan bermimpi.

Kamu Lagi!

Setiap alasan untuk datang dan pergi. Nafas-nafas melayang tak terkendali. Bicara sayang, binasalah diri. Kamu lagi!

Tertatih Bahagia

Melewati masa tertinggal. Selamat malam Pak Satpam yang berbaik hati menghantarku ke Jalan Dewi Sartika untuk pulang. Banyak sapa dan kata manis beberapa menit tadi. Semua indah dan kebaikan selalu tersimpan rapih. Hari ini adalah bekalku di masa depan. Tuhan, kuatkan aku melangkah, berjalan, tertatih demi bahagia!

Sunday, May 5, 2013

Bingung Dilema

Setengah langkah pun rasanya belum sanggup. Aku harus selalu diberikan pilihan tersulit jika berhadapan dengan perasaan. Hingga pada akhirnya ini menjadi keras tak mencair. Pikiranku lepas, namun bathinku mengikat pada kenyamanan yang tak pernah memberikanku situasi aman.
Tuhan menangis, aku dalam ketiadaan. KuasaNya erat di ujung dilemaku.
Mereka aku paksa untuk mengerti dan melupakan. Mereka aku biarkan menari di sesatnya asumsiku untuk menjabarkan rasa-rasa yang segera hilang. Waktu tidak pernah banyak menuntut, namun aku tak kunjung tersadar. Semoga hari ini baik, dan jauh dari luka membekas.

Wednesday, May 1, 2013

Kalian di Pinggiran Dusta

Kalimat yang kalian tulis tak dapat kumakan, apalagi kutelan. Setelah kalian berani menghabisi ujung-ujung kata di pinggiran dusta. Teriaknya halus dengan airmata, duka dan suka. Paling belakang cuma lelah. Sebentar saja, lalu berburu menghitung waktu.

Mei Tempat Baru

Harapan tetaplah harapan. Aku, Ibu dan abangku bertahan untuk tak mudah hancur. Kami ingin hidup besok untuk meninggalkan luka di masa lalu. Luka yang rasanya sulit mengering. Basah dan perih berkepanjangan. Sakit yang membuat sekujur tubuh tak ingin lagi bercumbu sedalam-dalamnya di lautan. Trauma menjadi lumrah. Kami sesungguhnya harapan bagi cinta yang baru.

Blogger Teman Baikku

Nyawaku seakan terisi kembali dengan ini, disini. Cuma tulisan yang begitu saja, hidup nyatanya adalah ungkapan. Tak sekasih itu. Apalagi harus saling mencintai. Blogger tak pernah bertatap muka denganku. Aku yang menghampirinya saat rindu dan jempol ini segera bernada. Jemari patah tertinggal asa, disini saksinya.

Sama Berpijak

Semudah itu orang lupa. Secepat itu ia bisa menjilat ludahnya yang sudah terbuang. Seakan tanpa dipikir lagi, ada apa di depan, siapa di kiri lalu siapa di kanan hingga yang lebih penting mendapat tempat paling belakang. Tak ada keadilan yang harus dipaksakan untuk terlihat tetap adil. Belum tentu si tua selalu peduli dan yang muda sembuh dari kesombongan. Apapun yang masih di dunia. Sama.

Bosan Dunia

Ketika aku merasa bosan. Ketika dunia ini semakin membuatku tak kenal diri. Ketika aku merasa sangat bosan. Ketika dunia ini tak mampu mengendalikan aku saat merasa cukup bosan! Sandar tak tersadar. Ingin hilang.