Linimasa

Friday, October 26, 2012

Kendala dan Ini Bagian Hidup

"Klo mnrt aq kau lg d ksh pljrn sm allah, biar bs lbh menghargai barang yg kau punya" Setiap airmata selalu bermakna, bagi kesusahan manusia, walau tak selalu sama rasanya. Apa yang sedang terjadi adalah apa yang harus aku terima saat ini. Kekalahan, emosi, serta berlimpah sabar untuk terus bertahan dengan manis. Tak sepedih itu, mungkin. Jika harus menjawab, "Iya, hari ini aku makan nasi, " aku malu dengan mereka yang kelaparan! Tuhan masih baik, kendala selalu menyerang bagian yang paling sulit, menikmati hidup dengan IKHLAS.

Thursday, October 18, 2012

Dunia Menanti Kita Menang

"Ade pikirin buat bsk ongkos y..Tiba2 Ma2 g ada uang gimana?" Aku tahu saat ini bukanlah dahulu. Tidak mudah untuk terbiasa namun dengan semangat harus kulalui. Udara terhempas di atas kepala, nafas berhembus seakan teraniya. Namun, Ibu selalu sabar dan megah di hadapku! Tangan tak dapat mengepal dan tenang bersembunyi. Tujuanku kali ini MENANG melawan ego dalam diri! Dunia tak mau menunggu, kitalah yang harus meraihnya!

Wednesday, October 17, 2012

Perangi Tembok Bisu

Hanya saja terpaksa menulis lagi, karena ini bahagianya dunia. Sekedar menatap namun membuat semua orang berkutik dengan kata. Tak satupun dinding memeluk tubuh atau raga coba mendekapnya lebih dekat. Jauh dari imajinasi, satu langkah pergi. Berulang-ulang begitu saja. Sebentar, Aku tidur! Tunggu aku bangun di alam yang lebih nyata, selesai dari peperangan bathin kelabu pagi.

Terlalu Pagi Untuk Main Hati (Lagi)!

Aku menanti rasa yang lebih sabar dari diam ketika aku mencoba mengertimu. Membaca segalanya dengan waktu, menghantar dan menjemput makna tanpa memikirkan rodaku dua atau empat. Haripun kian menusuk, bukan pisau yang tertancap di tulang rusuk. Melainkan angin yang menggoda serpihan kaca untuk berantakan di hatiku. Sejak itu aku bilang, "Aku ingin berhenti disini". Sementara celoteh lain bertahan pada kebenarannya. Dimana tempat yang paling aman untuk mengatakan cinta? Lalu kau tersenyum, "Cinta sejati bukanlah kamu". Sampai akhirnya aku sadar, kenapa kita butuh berkorban demi waktu. Walau kadang tak pernah adil dengan munculnya perpisahan. Adalah tempat, tanggal, bulan, dan tahun saksi yang terhapuskan kala kematian rasa tiba pada saatnya.

Tuesday, October 16, 2012

Asapku Kelu

Mulut bergumulan asap, tak tercium sedikitpun bau rokok dari ujung kalbu. Seakan derita itu menjanjikan bahagia dengan syarat berani membuka pintu? Bodoh ya bodoh, dimana pintu dimana kuncimu? Menetap di teralis halusinasiku, tangan-tangan tetap melaju, bayang-bayang hilang kendali. Struktur sikap otak, lidahku kelu!

TUMPAH DI PENAGIH

Lidahku enggan tersambung, aku gelap gulana, aku hilang merana. Suasana sama, Tuhan marah, dan itu yang kurasa. Waktu tak terhenti, terus berlanjut sampai Ibuku sakit, sampai Ibuku senyum, entah dimana lagi tempat memohon, setelah sadar diri ini banyak meminta, SEGERALAH masalah lenyap dari ketersiksaan. AKU INGIN UANG TUMPAH DI PENAGIHNYA!

Monday, October 15, 2012

Bukan Tuhan Kalian

Sebijaksananya apapun derai airmata, kelak mati ditindas senyuman. Maka, aku enggan tersenyum di seberang jalan tanpa tanda. Tak mungkin terasa harunya, kalau cuma sinis. Kaki menapak tanpa suara dan nada, jika hantu bertemankan api. Kulakukan dikala aku sadar, sembah Tuhanku sendiri, bukan harus Tuhannya kalian.

Dosa Bukan Harapan

Sejenak malam bisu berkutat pada asap yang pekat di mata, aku sendirian di depan kaca rias Sang Ibu. Ada apa dunia ini, duniaku? Harapan begitu saja sirna, kesempatan berlalu tanpa alasan dan pamit. Tuhan tak pernah beri yang paling susah, ketika manusia merasa ingin sekali diuji. Guncang menjadi pelengkap kalimat di baris kelima nanti, mungkin bukan kamu sebabnya. Jika masih ada satu minggu lagi, aku berani melacur diri pada lamunan, pasrah dalam ketiadaan, menggenggam tulisan tanpa terbiar dibuang.

Thursday, October 11, 2012

Tempat Persembunyian, Cinta

Jembatan reot menyatukan dua insan berbeda. Dipertemukan untuk berbagi keegoisan, suka dan duka. Ketika bosan berpisah dalam waktu, itu-itu saja akhirnya yang timbul amarah. Setiap menit terasa mungkin. Tapi lebih mungkin esok tak akan ada lagi cara untuk melintasi jembatan reot itu. Lebih kurang mungkin, lusa tak lagi juga membagi duka diantara suka cita egois itu. Aku gelisah dalam hitungan, pahit rasanya. Jika makanan disebut kuliner, maka kamu adalah piring yang akan kubanting sendiri hingga pecah tak tersisa, nanti. Peluklah nafasmu sendiri, suatu saat di tempat persembunyian kita, cinta.

Mengubur Dimensi, Mengubah Persepsi

Aku yang salah, kamu yang benar. Kita satu generasi, namun bedanya adalah pemikiran. Sebuah pesan berawal dari 'peka', penempatan akal. Tak terbinasa dalam bias. Makhluk Tuhan yang paling sempurna, manusia. Setiap manusia punya Tuhan masing-masing. Kamu kali ini harus salah, aku harus menang. Adalah masa tempat ritual nafas menjejakkan hasratnya. Dari tahun pertama hidup mempunyai tujuan untuk bahagia, akhirnya akan mati.

Wednesday, October 10, 2012

Lalu, Cinta Itu Apa? Menikah?

Topik menarik kehidupan manusia tak lain untuk dipertanyakan adalah menikah. Mereka seakan sukses dalam hidup jika sudah menikah. Perbincangan MENJADI KHUSUS dengan menikah. Sepasang lelaki dan perempuan dalam ikatan untuk sehidup semati hanya dengan menikah. Lalu, CINTA ITU APA? Menikah? Berarti manusia harus selalu kembali kepada ajaran agamanya. Mungkin manusia tak lagi punya perasaan jika kembali melihat ajaran agamanya. Tidak lain bagi manusia yaitu agama yang menjadi landasan untuk berpulangnya (DARI SESAT). Lalu, Menikah Itu Khusus Untuk Orang Yang Beragama?

Gelap Gulit Akhir Jaman

Jika saja aku hanya dapat mencumbuimu dengan tangan-tangan ini, dan kulakukannya setiap hasrat itu muncul di permukaannya. Sadarilah berkhayal itu sulit, sempurnakah manusia mengabdikan dirinya untuk sebuah percakapan dunia? Tombol kecil di ujung nestapa, ditekan lalu mengeluarkan semburan HITAM, gelap gulita akhir jaman.

Aku Tahu, Sedih Itu 'Sakit'!

Tanpa banyak tanya, (lagi-lagi) airmata di pipiku tertiup angin begitu saja. Bis malam ini terjaga dalam gelap. Menerawang pada logika dan buyar dalam asaku. Sudah sangat sakit. Aku tahu SEDIH ITU SAKIT.

Sunday, October 7, 2012

Akhirnya Aku Sebut Ini Nasib

Belum sampai di pukul 7 malam, Hujan pun turun perlahan bukan karna aku sendirian melainkan hujan tau malam ini adalah kebahagiaan. 7 tahun lalu mungkin aku tak pernah pikir tentang sekarang, Santai. Kemudian kuharap 7 jam kemudian aku selamat sampai di peristirahatan, rumah remang. Ada yang menungguku, Aku segera menghampirinya, Ketulusan selalu sabar. Biar perihal kesusahanku, Kehancuran kini terlalu dalam, Tak ada satu pun bantuan dan Ibuku harus kuat bertahan. Malam minggu hujan bisu, saksi nasibku.