Linimasa

Tuesday, August 30, 2016

Tak Melukai

Udara perkotaan makin sakit saja.
Perempuan-perempuan sibuk digentayangi umurnya.
Seperti aku yang masih sendiri.
Tidak salah mereka bilang aku sakit bak udara yang berhamburan melintasi serpihan dosa kekasih.

Doa tak pernah salah.
Tuhan mengiyakan apa saja yang baik oleh manusia.
Seumpama waktu memihak padaku nanti, berharap tak menyakiti.
Aku tak ingin melukai.

Airmata di Sudut Kamar

Kita benci kesedihan.
Tapi manusia tak cukup hanya merasakan bahagia.
Matahari ingin dimengerti tentang cahayanya.
Bulan tak dapat kugapai sebagaimana kita hanya menangisi mimpi-mimpi.

Aku kecil tak berdaya.

Aku (Tak) Pernah Ingin

Aku tak ingin melupakan sesal.
Aku tak ingin terbunuh penyesalan.
Aku tak ingin sekadar bermimpi.
Aku tak ingin terkubur dalam gelisah.
Aku tak ingin hari datang begitu cepat.
Aku tak ingin merasa sepi.

Segelas kopi hitam gula instan tidak cukup menenangkan hati.

Monday, August 29, 2016

SEPI KALI INI

Tak mampu, aku tak mampu menanggung sepi.
Sore begitu sepi, aku tak mampu hadapi.
Teranglah airmata..

15 Jam Berlalu

Menanti senja dalam kerumunan logika.
Kenyataan hidup memang pahit.
Siapa yang dijodohkan dengan hidup?
Mereka sering lupa ingatan.
Hari-hari yang dilalui seakan murah.
Saat kesedihan tiba semua menjadi berharga.
Rokok ini, baju ini, alas duduk ini, dan obat-obatan yang kusingkirkan sementara mendorongku untuk kembali bermimpi.

Tidak ada alasan lari dari kenyataan apalagi menghilang. Hidup yang kuhadapi, senyuman ikhlas kunanti.

17 Jam Berlalu

Kesepian itu tidak enak.
Kesepian itu menyakitkan.
Penderitaan hati terus berlanjut.
Penderitaan hati menghabisi tubuh.
Sanggupkah aku bertahan?
Sanggupkah aku menelusuri hari tanpa pegangan?
Tuhan, jangan pernah tinggalkan aku.
Aku semakin kesepian.

9 HarI Lalu

Pukul tiga pagi.
Memikirkan sepi begitu menyakitkan.
Berulang kali sepi hanya membuatku sakit.
Kembali kupikirkan dan tetap sakit.
Apakah pagi yang sepi terus berlanjut?
Tak pernah berharap keajaiban datang.
Tak pernah bermimpi aku tetap menjadi yang terbaik di hatimu.
Andai cinta berakhir dalam sekali.
Hanya sekali aku tunduk mencintaimu.