Linimasa

Saturday, June 29, 2013

Membacamu dengan Takut

"Aku takut kehilanganmu, " menjadi kalimat ternista. Andai semua 'milik' sekekal Tuhan. Keabadian tidak akan menangis dalam nyanyian. Dini hari penuh gumpalan rindu untuk kembali takut. Buku yang kubeli hangus tertikam. Kurobek lalu kutelan. Semua selesai denganmu, takut.

Februari Duka Berlalu

Melihat beberapa halaman ke belakang, goresan tetap tak sempurna. Tuhan Yang Maha Bijakasana selalu memberikan jalan lewat proses sadis. Sekalinya akalku berfungsi itu pun terlalu lemah untuk tidur dengan baik. Jika waktu dapat diputar kembali, maka aku tidak akan pernah belajar. Empat bulan mereka acuh, bahkan hingga sekarang tak ada satu pun harapan. Akhirnya, manusia menolong dirinya sendiri untuk bertahan. Kata-kata yang terkadang patah di tengah susunan. Aku duduk dan berdiri lama terbang melayang berselimut hujatan. Dendam itu memacu jantungku untuk bertahan punya rasa. Februari harusnya akulah orang paling bahagia, namun saat ini lebih dari sebuah keberhasilan! Aku tetap senyum di antara keacuhan kalian.

Tuesday, June 18, 2013

Siapkan Kendali

21.00 menuju pulang ke rumah, posisi duduk di samping kiri pak supir bisa bernomor 640. Senin ini sedikit melegakan. Beberapa hal yang mengganjal bathinku berbulan-bulan nyaris termuntahkan. Aku jijik ketika aku lupa. Aku muak ketika aku satu-satunya orang yang harus tak dianggap dan terlupakan. Jarak tertinggal ratusan meter. Mulut yang sesungguhnya manis lebih baik bungkam. Manusia butuh bernegosiasi setiap detik ia merasa lelah, bertanya sendiri menjawab sendiri, dan menganggap yang ada di depan mata adalah hanya kesuksesan baru. Aku akan kedinginan jika telanjang di atas bis ini. Tak kuperjual-belikan jiwaku sendiri untuk akalku yang kelabu. Tanpa kepastian, sedangkan segudang rencana baru dibuat. Apa iya hidupku akan seperti ini terus? TIDAK. Mungkin esok ada yang lebih sakit dari ini, mari siapkan kendali.

Setiap Tetes Airmataku Uang, Andai Saja

Di tangga merah tempatku duduk, tak banyak cerita bahagia, lamunan yang terpaksa harus tumbuh dan menari di kepala. Aku lelah, Tuhan. Namun, Engkaulah yang kuanggap satu-satunya pemilik utuh. Mereka yang berusaha menyanggupi juga menghakimi, sama seperti mereka yang lain, entah apa bedanya kemarin dan hari ini, mungkin bathinku harus bertambah kuat.

Saturday, June 15, 2013

Tanpa Kata Tanpa Hati

Ruang tanpa hati telah mati. Isyarat semesta alam. Mentari sukacita. Peri baik sang cinta segera kembali. Fatamorgana.

Pagi Menghilang Hari Ini

Ketika mereka menggunakan lidah untuk menjilati ludah mereka sendiri, aku tetap kehilangan 'rasa'. Belum ada satu pun nafas sewangi kasih tanpa terbebani. Lamunan mengatakan iya saat pagi menjelang, semua hal tentang hari ini.

Wednesday, June 12, 2013

Ayah, dengan Segala Hormatku

Aku memang tak harus menjadi seperti ibu. Seorang yang kuat menghadapi kesakitan di hatinya, hingga kini ia tetap tersenyum manis memijak duri tanpa harus sering menjerit. Ayah, aku selalu mencoba untuk mengingatmu sebaik-baiknya lelaki. Walau tak satu pun yang kurasa sangat sulit dilupakan di masa kecil dalam kenangan. Maaf aku biasa, dan tak ada angan sosok sepertimu. Suatu saat, suami yang mungkin menggantikan lara ini.

Saturday, June 1, 2013

Hujan Menangis Kesakitan

Airmata adalah ungkapan mesra pribumi hati. Jika hujan turun di bumi seperti mengamuk maka ia sedang mengutarakan kekacauan perasaannya. Kalau saja keduanya bertukar, airmata kubiarkan jatuh di kepala lalu hujan yang menetes di pipi. Mungkin Tuhan yang akhirnya ikut kesakitan.