Linimasa

Friday, November 30, 2012

Hari Membiru, Redam!

Hari membiru, dan ternyata hanya langit yang mampu berwarna seperti itu! Mendung seakan kagum kepada kami yang sedang ketakutan, hujan membasahi bekas gigitan di bibir dalam kebisuan! Terus terang ini kacau, aku mencoba tak hancur dari permukaan kasar, tenggelam diantara gelapnya awan! Tanpa pelangi, tanpa sinar mentari, jangan menangis ibuku, jangan bersedih! Meredam.

Friday, November 23, 2012

Gelap Mata

Frustasi hati, senang banyak bicara malam ini, hati! Sebab aku terlalu banyak terlelap, menyelusuri tikungan tajam dalam keadaan mata terpejam! Tak lama dari jeda itu, sedihku berubah menjadi bentuk buliran-buliran kecil, hati! Karena aku terlampau banyak terdiam, menyesalinya!

Thursday, November 22, 2012

Thamrin 22

Dahiku tak lagi berkrenyit, karna malam tiba tepat di pukul 21.00 WIB!
Penyeberangan itu berganti murung, manja pada pancaran sinar lampu penuh sesal! Seolah-olah tak berdaya, teraniaya didalam cahayanya!

Pelan dan Bangkit

Didalam bis 640, Telanjang di atas duri, terlentang menghadap langit, aku yakin terik matahari sepanas apapun tak 'kan membunuhku! Apa aku harus menyerah? Dan aku memang memasrahkannya! Setahunan ini, atau aku ingat beberapa kejadian yang terhempas hingga membuatku semakin berpikir? Kenapa Tuhan? Pelan tenggelam, perlahan bangkit, sujudku semoga Engkau terima, terima kasih kebaikan!

Barusan Aku Lewat

Didalam bis 640, Barusan jembatan cinta kulewati, aku seperti orang yang akan selalu sendirian saat tak bersamamu! Jemari di depan layar kaca, tulisan demi tulisan, kata demi kata yang seakan aku adalah milikmu satu-satunya! Namun, bukanlah egois manusia jika yang lain menjadi suatu kepentingan, usai dari satu berlanjut dua dan seterusnya! Caraku melamun, cara-cara yang sedang kupahami bagaimana mengatasi rindu ini? Sederhana saja, bila nanti yang terjadi adalah pertemuan, tersenyumlah di jembatan itu, cinta!

Dua Kosong Itu Lebih Baik

22 November 2012,
Hari ini kubuat asik sejak bangun tidur mendekat ke siang tadi, aku selalu harus puas menjadi renungan-renungan yang paling jelas, sebagai diriku sendiri atau berubah menjadi 'orang' yang gagah!
Enggan melangkah keluar dari ruangan ini, entah ada apa dengan keresahan yang selalu kuanggap serius?
Surat elektronik tak meringis saat kuketik, semuanya tersimpan rapih tanpa lemari, sampai kau berani mengajakku pergi membawa malam yang tenang bersama nyanyian tanpa janji!

Sunday, November 18, 2012

Biarkan Biar

Kita semua adalah orang pantas untuk selalu bersyukur. Entah ukurannya apa, biarkan celoteh mereka. Dan kita yang tahu bagaimana cara menikmati semua yang sudah kita syukuri. Entah kalimatnya apa, biarkan penilaian mereka.

Setidaknya, Ibu

14 November 2012 Ibu, aku memang belum menikah (maaf, kebahagiaanmu tertunda). Tapi bagiku tak ada salahnya jika aku mencoba merasakan apa yang kau alami, dari sudut pandang mata ini. Hari kian jemu dalam kegelisahan. Tak ada tontonan, tak ada suara mesra. Aku menafsirkan setiap kesepian untuk tak perlu digembar-gemborkan seperti tangisan anak kecil yang kelaparan. Di pagi hari bekas kesuntukan semalam, dapur kecil adalah memulai bahagia, tempat penyedia bekal makanan yang terbuat dari tangan-tangan indahmu. Tiba di meja, kalimat baru kubaca yang maknanya sama seperti kemarin. Kekuatan itu datang ketika kau melihatku, ketika kau menungguku lebih bahagia atau sekedar memberikanmu senyuman.

Tuesday, November 13, 2012

Jadi, Saat Ini Aku Denganmu

Hari semakin tua untuk memulai cinta yang baru. Mungkin, ketakutan tak 'kan pernah menepi. Jika aku berpikir hanya ada satu perasaan yang paling indah yakni bertahan dalam egoku. Suatu hari nanti, ketika masih ada salam dan sapa yang lebih arif dalam sentuhan hangat. Responku, senyuman kelak melarut di ujung jalannya. Jadi, aku saat ini masih denganmu.