Linimasa

Tuesday, January 28, 2014

Kembali Pasrah

Tidak satu tidak pula dua, dan tidak ada urutan ketiga menjadi yang terkasih dalam hidupmu jika akhirnya harus pisah. Namun pernah kurasa sangat dimiliki, juga begitu cinta. Malam akan abadi dengan gelapnya, siang yang tak sempurna, kali ini aku kembali pasrah melihatmu. 

Sunday, January 26, 2014

Lalu Melulu

Kepercayaan tidak membuatmu bertindak menghakimi diri karena apapun cinta demi seuntai kenangan adalah kepasrahan mengubur masa lalu. 

Saturday, January 25, 2014

Lawan, Kawan, Awan

Tak berani menentang lawan, kawan, awan. Merajut kemenangan dalam selimut hangat di permadani. Terlelap pagi ini dengan dusta, janji, caci maki. Hidup tak sampai seribu tahun seperi lagu cinta. Mereka hadir tak kembali untuk sama. 

Pukul Tiga ke Tiga

Harus berterima kasih kepada realita karena aku tak pandai bermimpi. Setinggi-tingginya khayalan, percuma karena itu bukan maksud hidupku. Mengarungi pukul tiga ke pukul tiga setiap hari tak jemu. Aku hanya percaya sehatku milikMu. Maka suatu nanti jika terpaksa berbaring lama tiba, kuanggap sedang kalah. 

Friday, January 24, 2014

Persembahan dari Senyum

Aku ingin selalu menatap bibirmu, inilah kenyataan sesungguhnya terang pada bayang malam.
Senyum tak mudah sirna datang dari hati yang tulus, keajaiban pada sebuah pengorbanan terbanyak.
Tak ada persembahan khusus kecuali suatu hari kau mengenang hari lalu.
Cinta akhirnya mundur demi masa depan, namun bukan karena harus rela terbunuh dalam kesendirian 

Pagi Setinggi Awan

Simpan kata-kata manis kita yang rapih. Cinta datang hanya sekali untuk selamanya. Tak ada penyesalan yang pantas dibanggakan. Kelak manusia mati demi Tuhan. 

Monday, January 20, 2014

Kamu Kalah Kawan

Pastikan kamu berani kalah dengan apa yang kamu telah pertaruhkan sendiri jika belum pernah siap untuk menang! 

Menang dalam perasaan adalah kekalahan yang tertunda sebelum matahari tenggelam jauh menuju malam sunyi! 

Sunday, January 19, 2014

Kopi Toraja

Kopi Toraja ini membuatku sedikit cemas. Padahal aku tidak berada dalam upacara kematian di tanah Sulawesi. Satu gelas yang kuseruput perlahan, terselip susu instan pemanis luka. Tak ada kacau yang serius kecuali tetap menjaga hati, disamping cinta yang berarti. 

Aku Mesra, Bukan Hujan

Hujan seakan membuatku tumbuh sebagai wanita paling mesra. Tanpa pelukan namun bibir tercumbu, tanpa bertindihan hatiku mendesah. Lengkap tanpa derita, tetesan air yang membentuk cinta dalam selimut hati. 

Friday, January 17, 2014

Aku Cintamu Aku!!!

Aku satu-satunya yang mencintaimu, jangan berharap mereka melukaimu, akulah satu-satunya persinggahan terakhir sebelum kau memilih tak nyaman, memilih jalan benar, memilih untuk mendengar Tuhan, dan tak ada kasih yang sempurna sampai kita mati kecuali pulang bersih menuju surga.

Dekat Pukul 3

Sepi adalah pengabdian. Puisi tak bernafas pendek. Kata-kata ingin diikat erat. Tangan bergelantungan pada satu ruang. Gelap bukan halusinasi. Mimpi tak pernah menyerah. Kita yang punya rencana. Tidurlah di antara dini hari.

Mungkin Ini Kalau

Bagaimana aku terpejam, bagaimana aku tidak tahu? Disini adalah rasa, disana kamu. Berdua selalu lebih baik sedalam rindu, walau tak akan pernah bersama sampai mati.

Thursday, January 16, 2014

Apapun Teman Cinta

Apapun yang terjadi, cinta bisa datang dan pergi.
Apapun yang berjanji, cinta bisa sedih atau bahagia. 
Apapun pilihan cinta tak harus memihak pada satu-satunya pengabdian.
Apapun setianya cinta tak harus memiliki selamanya hidup berdua.
Maka, cinta memang indah terbuai semasih tinggal di dunia. 

Kuberi Air Segar, Kutanam dan Selamanya Cinta

Entah mengapa harus menuliskan ini:
Biar rasa benci (mereka) menjadi penguat cinta yang tak pernah salah. 

Takut, gelisah, dan segala hal seakan hantu yang terus memburu untuk menelan racun sendiri bahwa kematian sudah dekat. 

Aku harus mengaku senangnya tidak menyesal. 

Wednesday, January 15, 2014

Di Antara Kemelut

Kadang aku tak mengerti bagaimana cara menerima kekalahan ketika aku tak merasa harus kalah. 

Sejuta buaian dari lidah manusia seakan indah walau akhirnya tak indah lantaran manis di depan saja. 

Tak pernah aku mendapatkan luka saat menghitung berapa lama aku terlupa namun kusesali jika aku melupakan luka karena sedang bahagia. 

Warnaku bukan darimu, lalu mereka selalu menjerit percis di dekat telinga bukan bicara perlahan seperti mengajak semua orang bisa jatuh cinta. 

Tuesday, January 7, 2014

Kita Pernah Mesra

Lidah tak mungkin ada sambungan seperti sinetron di televisi demi sebuah skenario. Kehidupan telah dimulai sejak tanah terasa dipijak lembek layaknya tanah. Langit tak selalu biru nan manis seindah mata memandang kemesraan di satu ruang kita duduk berdua. Hiduplah di hatiku semampu akalmu bermain! 

Pencari Korek Api

Malam menjujung tinggi nilai kesepian. Identik dengan hati, seputar perasaan. Rasanya tak ingin kembali patah!!! 

Lalu dimana akan kutumpahkan cinta yang begitu mendalam ini? Bukan siapa, bukan kenapa.

Kusambung hisapan rokok di tengah gelisah, lamunan murka anak seorang wanita hebat. 

Perdebatan muncul lagi kemarin siang, runtuhlah aku untukmu. Haruskah aku menyesal ketika kau benar-benar takut? Sementara tubuh ini terlalu 'kecil' memeluk lama. 

Biarlah yang tak mungkin, dan gelap ini kuindahi wangi bara mulut tak berdaya. Sebab aku rela dicintaimu selamanya!

Monday, January 6, 2014

Senin Diharap

Awan berdansa di langit biru. Senin dalam rindu. Wajah mengurai sendu. Cuma memikirkanmu.

Lamunan, aku berharap banyak pada bayang. Jangan dustai wujudnya di hadapku. 

Sunday, January 5, 2014

Sekelibat Linimasa Pasangan

Habis menyaksikan lelaki lemah di linimasa dan sekelibat berpikir perempuan mana yang harus mundur? Linimasa mengguncang diri mereka untuk aktif berkasih sayang. Berpasangan agar menunjukkan tidak lagi sendirian lalu mempublikasikan ke khalayak bahwa saya normal punya pacar. Tak begini tak begitu, panggung sandiwara.

Sebuah Wajar

Tidak ada perlawanan untuk sebuah wajar. Mendayu sekuat apapun batasmu 'kan mati. Kau akan terinjak oleh waktumu. Tak ada bangunan yang tersisa sekalipun pernah lelah memikul berton pasir rasa cinta. Selamat datang sepi sendiri.

Iringan Musnah

Siapa dapat menahu hati? Bersedihlah. Karena sementara menjadi pemenangnya. Semua kalimat sirna, aku segera dimusnahkan. 

Seakan Sepi

Sore dengan secangkir kopi yang biasa kuseduh, kuaduk dengan sedikit susu manis walau senyum hilang dan tunduk terdiam dengan sejuta angan. 

Bersamaku, bersamamu. Terima kasih datangnya rindu, seakan sepi. Cinta 'kan kembali pada waktu dalam nyanyian merdu.

Saturday, January 4, 2014

Mengaduk Kopi yang Sama

Dini hari yang begitu sunyi. Jemari tak kunjung diam, mulut tetap bungkam. Hari berganti cepat, tanpa harus pamit. Dan aku masih mengaduk bubuk yang sama, Coffeemix di dalam gelas berisikan setengah air panas. Tak ada yang berubah dari sikap nyaman menjadi diriku sendiri kecuali rasa takut. Penjarakan bayang-bayang gila di atas api yang sedang terbakar bahwa esok masih kecil dalam penantian.

Hidup Sesungguhnya Jalan untuk Pulang

Tidak ada yang lebih indah dari kebersamaan, namun kematian adalah jalur pemisah yang pasti terjadi. Setiap kehilangan mempunyai caranya sendiri agar tetap tegar membuang tawa. Bahkan sangat jarang mereka yang begitu saja iya ketika pemilik dunia ini menentukan takdir. Mungkin suatu saat nanti aku pun merasakan, atau mereka terpaksa bersedih karena kematianku. 

Friday, January 3, 2014

Jum'at 3 Januari

Keadaan yang tak selalu manis membuat siapa pun juga belajar mengenang. Terkenang akan sebuah pengorbanan. Dikorbankan mata penuh ratapan. Tatapan yang tak berpegang. Peganglah dengan erat sekuat bathinmu berontak, aku tak rela meninggalkan cinta. Ini hari yang suci bagi jiwa sepi! 

Wednesday, January 1, 2014

Jumlah 7

Bahagianya detik ini mulut tak berbau alkohol sambil kurenungi segala tenang di permadani yang terbalut sprei putih 805. Kurebahkan lelah, keluh, serta peluh yang tak mau hilang sepanjang lalu. Aku bukan peramal, dukun apalagi ahli agama namun percaya bahwa keajaiban datang di sela rasa takut hanya dengan melawan diri. Musuhku yang malu, lawanku yang palsu, kutinggalkan pesan ini di balik kaca:

"Perubahan yang tak pernah kuminta, singgahlah sebentar di hari indah. Lukiskan warna baru pada cinta tulus, goresan tanpa luka di antara jemari manis, " begitulah yang pasti.

Terkasih 2014, jangan murung dan gelisah.