Linimasa

Sunday, June 29, 2014

Kayu Patah

Jika pensil yang patah tak dapat lagi tersambung karena ia terbuat dari kayu. Maka biarlah kayu memilih untuk tak sendirian tidur dalam buaian.

Baik Jahat Biasa

Semoga aku bukan sebaik-baiknya setan yang rela menuangkan gemercik dogma dalam nuranimu. 
Semoga aku bukan sejahat-jahatnya setan yang pasrah menjejalkan cuka dalam airmatamu. 
Pagi ini, aku hanya biasa untuk menjadi cinta yang terlupakan. 

Thursday, June 26, 2014

Kuning Menyerang

Wajah wajah penuh kegelisahan tersenyum di antara warna-warni cahaya lampu pada ruang ini. Setengah dari kegelapan mencabik sisi haru, detiknya mati rasa.

Wednesday, June 25, 2014

Rindu Terbalut Waktu

Seiring waktu yang pekat akan rindu. Merana sudah diantara terangmu dan gelapku. Kunanti hari yang luar biasa. Semoga tak lebih jauh dari ketersiksaan yang mengalir detik ini. 

Sunday, June 15, 2014

Ketika Rindu itu Kamu

Ketika rasa rindu jauh lebih penting daripada harus jatuh cinta lagi. Aku bertemankan nyanyian syahdu, segelas kopi, dan berbatang rokok yang kutelan asapnya mencintaimu apa adanya. 

Monday, June 9, 2014

Doa Tanpa Irama, Luka Tanpa Bekas

Tak ada kesedihan abadi untuk hidup yang berarti. Aku hanya ingin melihat kembali sebagian waktu yang hilang di matamu. Segala yang tak dapat kumiliki dan biarlah. Cinta terbiasa berjalan tanpa kaki bagi tangan dingin. Disini tak ada tempat layak bahagia kecuali kita dipertemukan lagi.

Friday, June 6, 2014

Tak Berencana Kembali Terbakar

Hari ini bukan hari seharusnya hatiku gelisah, begitu menderitanya ia meneteskan kesedihan dalam entah. Dini hari selalu tak berdaya, tak satu pun yang seharusnya menjadi paling benar. Aku hanya salah yang selalu memberanikan diri menggoreskan luka sendiri. Tak berencana untuk kembali terbakar.  

Thursday, June 5, 2014

Titik Setelahmu

Ada saatnya rasa sabar itu tak lagi menjadi keajaiban dalam diriku ketika aku harus mengaku lelah. Titik yang begitu sakit, koma pun tak pernah menemukan seru yang keras untukmu. Sadarlah! 

Sakit Terlalu

Ketika sudah tidak bisa lagi menahan sesak di dada, aku hanya sanggup menangis. Jiwa dan ragaku terlalu sakit saat ini.