Linimasa

Monday, June 27, 2016

Diam Sendiri Menangis Usai

Pikiran begitu runyam sejak bangun tidur meneteskan airmata siang tadi. Apakah masih ada harapan untukku lebih bahagia? Tuhan, hanya Engkau yang dapat kuharapkan. Meskipun tak nampak, tak pernah mengirimkan teks sayang, dan terimalah aku penuh dosa. 

Sunday, June 26, 2016

Mendesah Lemah

Katanya manusia tempatnya dosa. Setelah dipikir dosa itu bukan tempat yang nyaman. Manusia hanya berusaha memberikan kenyamanan terhadap sesama dengan dosa. Aneh memang ketikan kali ini. Gila selalu mendesah dalam tubuh lemah.

Anak Kecil!

Kembali bertemu pukul 2 pagi lebih. Dinding kamar ini sama seperti anak kecil yang dipaksa menjawab dengan tanya, "kamu mau apa?". Lalu, ia hanya menggelengkan kepala. Tragis bagi dinding. Ia hanya pasrah ketika roboh saat gempa bumi. Apakah aku harus menunggu gempa bumi baru merasakan jatuh cinta? Ah, anak kecil!

Mampukah?

Aku bosan menambah trauma. Pikiran yang rusak ini semakin tak berdaya. Kasihan. Lalu, aku terus bersembunyi di balik perasaan yang enggan terkikis. Aku bosan menambal luka-luka kecil di hati. Hati yang rusak ini semakin pudar tak berwarna. Mampukah aku sendiri?

Thursday, June 23, 2016

Warnamu


Pagi selalu mencuri perhatianku untuk tetap membuka mata. 

Sebenarnya perasaan yang kacau mencari titik tenang.

Tak kunjung berhenti gelisah menanti hari ke hari.

Sebagian diri ini kamu dan sebagiannya lagi tertinggal di balik selimut.

Akulah pengecut yang sangat tega untuk tetap berdiri, berbaring, dan bermimpi.

Suatu saat misalnya pagi tak lagi berwarna artinya aku hitamkan kamu.

Pembuktian!

Jujur menyakitkan. Setiap orang pernah membencinya. "Maaf, kita berteman saja" atau "Aku harus membahagiakan mereka". Entah apa yang terjadi sebenarnya. Ketika manusia tetap berusaha mempertahankan perasaan. Saat mimpi bukan lagi mimpi. Kenyataan yang pahit adalah kita tidak pernah berusaha membuka hati. Tapi satu hal untuk menang, pembuktian! 

Saturday, June 18, 2016

Sebagai Kamu

Apakah bulan berwenang mengatur keadaan langit atau mereka hanya ingin tetap berdiri tegap meskipun matahari sangat menyengat?

Seakan keanehan tidak pernah ada. Bahwa keanehan hanya perhiasan semata yang dibiarkan aneh menempe di mata.

Mereka hanya tak ingin dikenali dengan kebahagiaan yang nyatanya menjadi luka rasa bersalah. Mereka tersimpan di balik selimut norma.

Kusebut waktu sebagai mata, kamu sebagai mulut, dan kuulang lagi. Menyebut mata sebagai waktu, mulut sebagai kamu.

Hujan Ramai

Hujan berebut turun ke bumi. Entah tetesan mana yang sampai pertama. Terdengar deras saling menyapa. Sesama hujan yang setuju membasahi. Darat membiarkan buliran air tergeletak. Kemesraan miliknya. Kesendirian miliknya. Hujan tak mau sendiri.

Tali

Ia mengikatku tahunan. Ia membuatku tunduk. Ia menciptakan drama. Ia memang egois. Ia membiarkanku pergi. Ia juga menyambutku datang. Ia seolah benar. Ia seorang, tali dalam lamunan.

Friday, June 17, 2016

Bernama Duri

Rindu itu bernama duri. Akhirnya, ia tergeletak lemah di bagian otak yang sudah tak lagi berfungsi. Duri tak lagi berdaya. Kasihan duri. Nasibnya tak baik. Hanya sebatas tembok. Sial! 

Thursday, June 16, 2016

Mereka Sebentar

Teman makhluk sebentar. Ia sekadarnya. Hisapan rokok ini mungkin tak sebentar. Teman hanya palsu. Perbincangan sendu tak dimengerti. Teman sekadarnya. Mereka tidak lebih baik dari asap rokok yang menancap di dada. 

Si Kenang

Mengeluh sungguh menyiksa. Mengeluh membuat kita tahu bahwa mereka tidak peduli. Mengeluh sungguh dramatis. Kesusahan sendiri. Kesenangan ramai. Mengeluh sungguh TRAGIS.

Wednesday, June 15, 2016

Diam, Kembali Diam

Aku mengatakan tidak bukan aku tidak. Rasanya semua berputar untuk mengatakan iya. Aku pengecut yang setia memilih kesalahan tegang di depan mata. Rasanya masih adil jika harus berstatus tidak menikah sementara. 

Malam semakin sakit, dan membiarkan tembok mendengar jutaan diam. Aku tidak pernah kehilangan. Tua bukanlah usia. Perjalanan ini hanya tentang waktu yang begitu tegang. Melangkah atau tetap menganggapmu satu-satunya. 

Tuesday, June 14, 2016

Bukan Aku yang Satu

Masih ada waktu untuk tertawa.
Masih ada waktu untuk menangis.
Semua tentang hidup.
Semua datang dan pergi.
Tidak ada satu-satunya yang diam.
Tidak ada satu-satunya cinta.
Kembalilah, aku.

Sunday, June 12, 2016

Bosan di Kota

Apakah pikiranmu sama denganku? Setelah ribuan hari terlampaui bosan di kota.

Kenangan selalu mengikat, erat, sampai teringat bosan di kota.

Apakah perasaanmu sama denganku? Setelah lampu menyala jalanan bising, bosan di kota.


Saturday, June 11, 2016

Ibu, Aku Ada

Ibu, sabarlah.
Ibu, aku hanya mampu mencium pipi kenyalmu.
Ibu, sabarlah.
Ibu, aku yakin kau mampu menghadapi ini.



Teman Bicara, Sebentar

Sudah pagi, kira-kira setengah tiga. Angin dan langit yang sedikit gelap termangu menatap rumah-rumah kesepian di kota. 

Tak mungkin mereka iri dengan kami yang bodoh dengan masalah polusi, harta, apalagi status. 

Sedikit tersiksa ketika ingin disiram, dibasuh pelukan karena harus menanggungnya sendiri. Gelisah tak ada teman bicara. 

Media sosial hanya sebatas baca, ketik, lalu, dan baru. Apalagi kehidupan yang kapan saja musnah. 

Tidak ada satu pun orang yang sanggup menghitung dosanya sendiri. Tidak ada satu pun hati yang mampu dibagi kecuali bumi dan langit tidur di matamu.

Thursday, June 9, 2016

Sore, Rindu, dan Diacuhkan

Cinta harus berpisah. Cinta tidak bersama. Cinta bertemu saat tegang. Cinta bertemu saat butuh. Cinta harus bersama? Cinta tidak berpisah?

Aku hanya merasa cinta.

Tuesday, June 7, 2016

Selesai Tak Pernah Berhenti

Aku sudah berbaring di permadani. Aku kesepian. Temani aku tidur. Aku ingin dipeluk. 

Tak lama aku mencoba tenang sampai tertidur dan bertemu dalam percakapan teks denganmu Selasa pagi. 

Rangkaian rindu terus meragu.

Saturday, June 4, 2016

Oh, Tidak!

Oh, tidak. Aku tidak sendirian di kamar ini. Tuhan menatapku dengan kasihan. 

Tiga puluh tahun berlalu. Cepat jadi dewasa karena masalah begitu dekat. 

Dimana tawa yang ingin kembali. Kemana rasa jadi perempuan.

Tuhan mengampuniku dengan kasihan. Hidupkan kesepian ini.

Sendiri TAI

Mungkin rasanya bagimu sudah tidak lagi seperti dulu. Wajar manusia berubah karena status baru. Aku memang orang bodoh yang kagum akan waktu. Tak ingin kusia-siakan apa yang sudah kubina. Meskipun akhirnya harus tetap pulang sendiri. Kamar seperti tempat pengampunan dosa bagiku. Duduk tanpa celana sambil menatap layar. Begitu setiap malam yang membosankan. Mungkin ini alasan mereka menikah. Walau tanpa perasaan setidaknya tidak kesepian. TAI.

Friday, June 3, 2016

Gerah!

Bumi semakin sepi. Semenjak dihuni digital keparat. Manusia seakan keji. Semenjak lupa diri.

Era dimana "apa kabar?" menjadi misteri, sapa hangat menjadi bahasa alien yang terdengar kurang harmonis.

Dosa besar kita, rasa acuh terhadap diri sendiri yang diacuhkan, dibiarkan banyak sendiri sampai malam tak mau pulang.


Thursday, June 2, 2016

Aku, Kamu, dan Sisa Cinta

Kalau cinta tidak tinggal serumah, tidak menikah, jarang bertemu, mengunyah rindu, cinta membuktikan bahwa yang kekal hanyalah kenangan. 

Manusia cuma bisa berharap, menangis, kembali merenung, dan mungkin menyesal sampai enggan tidur. 

Namun, cinta hidup meskipun tidak lagi subur, tumbuh menjadi keindahan yang menggelantung di kelopak mata kita.

Bukan, Derita Bukan

Aku tidak bisa berharap banyak dengan sisa ingatan. Perasaan melulu tanpa masa depan. Duduk, bakar rokok, melamun, dan aku seakan terbengkalai di rumahku sendiri. 

Tuhan pernah marah padaku. Semua terputus sementara. Hingga terputus-putus, aku hanya bisa menyesal. Akankah hari menjadi milikku seutuhnya nanti?

Diam, Hati, Sudahlah

Kadang aku bosan menyerah pada sepi.

Malam kesepian terus beriringan dengan hati.

Entah siapa yang harus menanggung sepi.

Malam sudah tidak lagi berdaya seperti hatiku.