Linimasa

Thursday, July 30, 2015

40 Kilometer

Setelah empat puluh kilometer perjam berlalu, tak terasa sudah dua belas lewat. Telunjuk dan jari tengahku mengapit sebatang rokok, sementara kedua jempol tangan kiri dan kanan asyik menatap layar ini. 

Kemarin malam tidurku berantakan, tadi seharian aku gelisah. Aku harus tetap menjalani hariku dengan pikiran-pikiran terbuka, meskipun hati semakin tertutup. Kesedihanku banyak tapi aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Aku tidak mau lebih lama merasa kesepian. 

Semoga yang menyiksa tak akan terulang.

Wednesday, July 29, 2015

Gelisah, Selesai?

Setiap kesepian yang tidak perlu dirasa sepi mengajariku tentang berpikir lebih jauh. Meskipun kebanyakan bimbang dan ragunya daripada menikmati apa yang terjadi. 

Suara pendingin ruangan ini seperti bisikan apa kabar besok? Aku ketakutan dan lanjut mengetik. Tuhan menemani manusia dengan caranya, berharap soal pengampunan. 

Selesailah, gelisah.

Tuesday, July 28, 2015

28

Airmataku rasanya tak ingin berhenti pagi ini. Tak kuat menahan rasa bersalah dan menanggung kehancuran hati.

Iya, aku perempuan.

Sunday, July 26, 2015

Empat Waktu Mundur Kalah

Waktu selalu baik, walau keadaan tidak seperti yang diinginkan. 

Lampu di kamar menyala karena kita yang hidupkan. 

Masihkah ada esok hari untuk sesuatu yang tidak membuatku terpuruk?

Aku ingin dilindungi dari masalah takut dan kecewa. 

Setidaknya, Ampun!

Terima kasih, mimpi. Kau pertemukan aku dengan orang-orang yang terpaksa tidak bisa kutemui saat ini. Aku sedih dibatasi sejak hari itu.

Mungkin mereka memandangku lebih dari ulah penjahat. Banyak yang kusimpan dan kutelan karena aku sadar tentang kekalahan. 

Pasti aku yang harus mengalah, mundur dengan salah, tersenyum karena mereka nanti bahagia.

Tuhan, katakan aku ini manusiaMu yang masih pantas mendapatkan kebahagiaan kecil nan berarti.

Dengan segala dosa aku tetap memohon ampun. 

Masa Sekali Cinta

Aku hanya bisa sedikit menyinggung lewat teks, selebihnya menikmati apa yang aku harus telan. 

Ini akan menjadi yang terakhir kalinya hatiku rela dirobek. Diam begitu menyiksa, sayang. Airmataku keluar dan berhenti seketika tanpa permisi. 

Mungkin waktu menginginkan aku terbiasa sendiri menimbang kekalahan. 

Aku berharap pertemuan berikutnya aku bisa berpura-pura lebih dewasa, tidak lagi menunjukkan kesal. 

Sakit ini tak terbayar. Tak terbayangkan! Kamu harus tau! Dan aku tidak mendendam! Hancur ini tak ternilai, sayang. Tapi aku serahkan pada yang memberi, tak lain adalah Tuhan. 

Wednesday, July 22, 2015

Tetap Membara



Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri. Malam ini aku tidak akan mengatakan bahwa aku hancur karena cemburu. Sudah terlalu sering aku diuji dan tidak pernah kapok. Aku tidak perlu membakar  foto dan kertas kenangan. Sejumlah gambar dan teks digital pun cepat atau lambat akan terhapus. Aku rela kehilangan bukti-bukti. Ingatan kita tidak pendek, ingatan kita panjang. Cinta bukan persoalan aku suka kamu, dan kita hidup bersama. Ingatlah, aku satu-satunya api yang kau nyalakan tanpa pernah kau padamkan. 

Jurang Ikhlas

Setiap hari yang kita pikirkan adalah bagaimana cara untuk bisa bertahan merasakan bahagia. 

Kita juga mendapatkan banyak ancaman agar tetap bahagia di atas duri-duri yang kita pijak. 

Seakan-akan telapak kaki kita kuat. Padahal kedua telapak kaki kita dalam bahaya karena membeku kesakitan. 

Apa yang bisa kita lawan? Kenyataan memang pahit. Namun, kenyataan tidak pernah mendorong kita jatuh ke jurang. Justru kenyataan membuat kita tegap berdiri di tepian. 

Tuhan Maha Adil. Aku harus ikhlas.

Friday, July 17, 2015

Selamat ya!

Sementara orang-orang sujud berjamaah, aku berusaha menghidupkan mata yang sempat tak tenang beberapa jam lalu dengan segelas kopi manis-pahit. 

Aku mengaku banyak salah kepada orangtua dan mereka siapapun yang merasa dirugikan, namun lebih terhina bila aku angkuh. 

Kata "maaf" sangat sederhana, indah, dan melegakan hati. Meskipun kini hatiku tak lagi utuh sebagaimana hati yang baru dilahirkan. 

Pagi yang cerah, burung berisik di jendela pertanda masih ada harapan dari banyak orang untuk memaafkan segala brengsekku. 

Selamat lebaran pembacaku! 

Wednesday, July 15, 2015

Bukan Himalaya

Sudah aku lewati banyak 'sendiri' saat tak bersamamu. Seribu kali aku berpikir tentang apa yang aku harus terima. Apakah aku pantas kesepian? Sebab aku bukan seperti bulan yang dinanti, ketika muncul ia langsung mendapat senyuman. Tahukah kamu bahwa perasaan bersalah yang paling berat adalah aku tidak bisa hidup 10 tahun lagi denganmu.

Tuesday, July 14, 2015

1 Bulan

Sebulan lebih kita tidak bertemu. Terima kasih telepon genggam yang selalu siap mengirimkam teks tanya-jawab aku dengannya. Lebaran hari pertama aku berencana mencium tanganmu. Semoga.

Takut!

Takut melihat tanggal, bulan, dan tahun. Takut melihat jarum jam bergerak. Takut jalan ke belakang. Takut jalan ke depan. Takut merasakan cinta nanti. Takut menghadapi manusia. Takut menyerangku dengan tenang. Takut menyuruhku bungkam. Takut memaksaku menangis. Takut mengikuti jejakku pergi. Takut menggentayangiku dengan kenangan. Takut menghukumku!

Percaya Diri atau Kamu

Rasa percaya diriku seakan hilang ketika keadaan hati seperti ini. Yang kupikirkan satu hal, tentang itu melulu dan aku bosan tersiksa. Pernah kupaksa untuk berbohong, tapi bodohnya aku mencari tahu. Sekarang aku tetap dengan perasaan yang kemarin, sementara kamu asyik kebingungan.

Sunday, July 12, 2015

Ketika Tidak

Ketika aku tidak bisa pulang, aku pergi. Ketika aku tidak bisa pergi aku akan kembali. Ketika aku tidak bisa pulang dan pergi dari tempat aku berdiri, aku sudah tiada.

Berita Baik Mereka, Bukan Untukku

Airmata meneteslah! 

Jangan malu karena kalah! Jangan takut karena kamu tidak jadi juara! Jangan menyesal karena kamu sudah berusaha!

Airmata meneteslah! 



 

Sakit Ini Benar-benar Sakit

Waktumu sudah habis dengan yang lain, aku mencicipi keluhannya dan kembali membakar rokok. Malam semakin dingin dalam perdebatan tentang iya atau tidak, aku tetap bukanlah pilihan. 

Tuhan, Engkau saksi. Airmataku habis, dan aku sangat lelah. Hatiku sudah lama hancur, namun terus kupaksa ia berada pada tempat yang menyiksanya lebih dalam. Sakit ini, benar-benar kurasa sakit. 

Sedikit Lagi, Aku Pergi

Aku harus mengalah dengan keadaan yang menyakitkan. Mulutku dibungkam hanya sesak yang tersisa. Persetan dengan semua alasan. Maumu bukan mauku dan aku lepas dari asa. 

Tubuhku semakin mengecil seperti hatiku yang sudah tidak lagi besar. Aku ingin tidur nyenyak dengan ikhlas. Kulepas segala belenggunya. Aku ingin bangun dengan senyuman.

Saturday, July 11, 2015

Malam Minggu Indah?

Jangan heran bila akhirnya aku biasa saja. Aku membebaskan pikiran mereka, seperti aku merelakan kau dengan yang lain. Suatu hari nanti, kau lebih bebas dari malam ini. Bersenang-senanglah! Aku tidak akan pernah lupa dipaksa untuk berhenti cemburu, mematikan rasaku. Sakit dalam diam, jarak, dan aku mohon Tuhan jangan pergi dari jemari yang rajin mengusap airmata sendiri. 

Tuesday, July 7, 2015

Demi Persiapan

Takut, rasa ini begitu besar. Tapi aku yakin bisa melawan takut. Kadang aku berlebihan soal cinta. Padahal ceritanya mengalir tanpa rencana. Berarti cinta hanya butuh persiapan, banyak bersyukur, dan rela ditinggalkan, mungkin.

Sunday, July 5, 2015

Sibuk Lebaran

Dulu dan sekarang masih sama soal Lebaran. Tempat mana yang akan dikunjungi pertama jadi perdebatan. Ayah dan ibu, kalian memisahkan diri dari sebuah janji. Sementara aku tersenyum untuk cinta. 

Saturday, July 4, 2015

(Tidak Penting) Dibesarkan

Telunjuk dan jari tengah mengapit sebatang rokok. Jempol kiri menekan beberapa huruf. Aku tak heran sepagi ini. Segudang pertanyaan kubiarkan terus bertanya. Cerita kecil bermakna terurai dalam hari saja. Wajah indah tidak penting untuk dibesar-besarkan. Ia tumbuh dan musnah dengan ukuran sederhana.

Lawan Lagi, Lawan Pagi

Bukan untuk pertama kalinya, aku susah tidur. Entah karena setengah gelas kopi sachet atau jiwaku yang tidak sanggup tenang. Di antara dua alasan, aku nyaris kehilangan gairah. Apa sebenarnya hidup ini? Kesenangan, kesepian, kehancuran, kekhawatiran, ketidakpastian yang mereka sebut proses. Perjalanan belum sampai pada satu langkah. Aku terpaksa maju mengelilingi perasaanku sendiri dalam jawaban iya. Sementara yang tidak adalah kekalahan. Dan semakin dekat pukul 8 pagi, Sabtu terlalu bising dan mencengkam. Malam minggu atau aku yang tidak akan pernah bisa percaya diri merasakan kebahagiaan. Sekali lagi, entah. Juli, aku ada untuk melawan diri!

Wednesday, July 1, 2015

Tahun Dalam Enggan

Tahun 2015 ini bukanlah bagian dari yang diimpikan. Sayang sekali aku tidak terlalu suka dengan cita-cita. Apa yang menjadi diriku hanya sedikit, entahlah kapan aku bisa mencurahkan sebagiannya lagi? Enggan berjalan lebih jauh, atau mundur tanpa arah. Seperti kekasih yang terabaikan dari kisah sedih di hari muda. Aku bersamaku, aku tidak abadi.

1/2 Siksa

Aku capek tersiksa dengan pikiran. Kepala nyaris pecah dalam tangisan. Hati meraung kesakitan meminta bantuan. Seketika diam, senyumlah, dan senyumlah airmata! Tidak ada cerita tentang "hari lama" lagi, semua akan pergi terganti olehnya yang berusaha menawarkan janji. Mundur melepas tangan.