Linimasa

Saturday, October 31, 2015

Menebus Kekalahan

Mereka bersembunyi dan tertawa. Mereka kira kami tidak mendengar. Mereka lupa, kami terluka.
Mereka penjahat yang manis.
Kami hanya orang jelek.
Orang yang tersakiti rela berdiri lama dengan peluh.
Airmata mengendap dalam jiwa bertubuh lemah.
Mereka keluar dari tempat persembunyian setelah mengisi peluru ke dalam senjata. Dor.. Dor.. tidak ada yang mati, namun bunyi tembakan dusta jauh lebih menyakitkan.
Kami yang kalah senang melihat kemenangan. Lawan bukan musuh terberat melainkan sahabat yang tersimpan.

Kita, Tuhan, Terakhir

Kita yang menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Kita yang menciptakan kesedihan kita sendiri. Tuhan sudah menyerahkan kebahagiaan dan kesedihan itu sebagai tanggungjawab kita dalam menyambut akhir kehidupan. Semoga dosa tidak membekas, namun terhapus. Semoga dosa tidak menghina, namun memberikan yang salah petunjuk. Disini kita membujuk penantian agar tetap bersabar. Tegap dalam airmata terakhir.

Thursday, October 29, 2015

Luka Tai Kucing

Luka, apakah kau masih sanggup bertahan dalam ketiadaan. Mereka menertawakanmu. Sudahlah, luka. Apa kau malu akui kekalahanmu?

Maaf, cinta hanya soal pengorbanan. Termasuk rela PATAH HATI. 

Kenapa yang Sakit Hati Aku Bukan Dia?

Cinta tidak merencanakan penderitaan. Cinta membawa kebahagiaan bagi empat mata yang saling menatap dengan ketulusan. Aku tidak ingin memperdebatkan perasaan, karena dia pemenangnya. Aku tidak ingin mengemis perasaanmu, karena akulah juara pertama. 

Sunday, October 25, 2015

Obat Patah Hati

Senyum! Senyum! Senyum! 
Ternyata obat patah hati tidak mahal! 
Senyum! Senyum! Senyum!
Ikhlaskan..

Tidur Itu Tidak Murah

Tiga pagi, apa aku harus menyerah? Dada ini sesak tak terhingga. Rasanya ingin meledak! Kenapa aku harus patah hati? Sementara orang-orang sibuk berbahagai. Entah...

Saturday, October 24, 2015

Hati, Sayang

Jgn pernah pergi dr hidup aku, sampe kpnpun~

Tapi aku terpaksa harus melewati kesepian ini lebih dulu, sayang. Padahal kamu orang yang aku anggap paling setia. Ternyata tidak. Aku harus berani menghadapi kenyataan pahit ini. Sakit biarlah begitu sakit. Hati-hati, sayang.

Friday, October 23, 2015

Kami di Bumi

Setiap nafas akan mendapatkan kehidupan dan kematiannya masing-masing. Bumi yang tua menanti sisa nafas terakhir dengan membiarkan hujan tertahan. Salah kami di bumi. Maafkan kami di bumi. 

Saturday, October 17, 2015

Cemburu Menyakitkan

Menahan cemburu itu menyakitkan. Tapi cinta tidak akan menyerah. Cinta adalah sosok yang berani. Cinta adalah tubuh yang tegap berani melawan sakit. Cinta tidak akan rela mundur begitu saja dengan alasan kalah. Menahan cemburu itu menyakitkan, sayang.

Friday, October 9, 2015

Salah yang Disemogakan

Dada kanan terasa pilu seperti bekas kena tembakan, apakah begitu rasanya? Entah. 

Kulawan sadarku dengan menghisap rokok. Manisnya hidup ini tak sepahit pemikiran manusia. 

Semoga aku tetap salah!

Thursday, October 8, 2015

Sabar, Jangan Pergi

Sabar, jangan bosan dengan pemikiranku. Sabar, ikhlaskan rasa tersiksa. Sabar, jangan biarkan aku melamun lama. 


Wednesday, October 7, 2015

Tak Ingin Lebih Sakit, Tersiksa

Sebenarnya hati ini sedih. Inginku bukan menjadi pesimis. Kondisi ini menyuruhku banyak bersabar. Isi kepalaku mulai terbatas. Ragaku tak seperti dulu. Namun, semangatku bertahan di lingkaran yang kuat. Pikiranku masih berantakan. Konsentrasiku melemah. Tuhan, jangan kau biarkan aku tersiksa.

Saturday, October 3, 2015

Izinkan Pagi Ini

Sebelum tiga pagi jemariku menari di sini. Butuh dua jam lagi sampai pada tiga percis. Semua orang tahu apa yang mereka pikirkan. Meskipun perasaan terkadang bukanlah isi kepala. Sabtu tidak selalu hebat. Kita tetap berusaha menjadi yang terbaik bagi kita. Sebelum matahari terbit, izinkan aku memimpikanmu.

Mereka Adalah Kita

Mereka yang duduk di tepian lelah menghadapi luka. Mereka ingin kembali ke sebuah masa. Mereka tidak mengharapkan yang baru. Mereka pikir yang terbaik adalah menerima. Mereka jarang menangis. Mereka banyak senyum. Mereka tidak pernah merasa kuat. Mereka hanya bosan disakiti. Mereka adalah orang-orang yang tertidur di siang bolong.