Linimasa

Saturday, August 30, 2014

Aku Andai

Andai aku dapat menghentikan cinta, lalu membiarkanmu raih sang cita, namun tak mungkin kubiarkan diri tersiksa, harus apa aku? 

Hanya satu andai yang dapat merebut hatimu dariku, paling nekat, aku tetap cinta.

Rindu Seperti Kematian yang Pasti Terjadi

Jarang bertemu kita merindu, sering bertemu kita ciptakan rindu, dekat kita sering merindu, dan jauh membuat rindu menjadi sebuah kelurahan. Ada apa dengan rindu? Hasrat kita melekat karena saling membutuhkan. Seakan tubuh selamanya merapat berpelukan, jemari bergenggaman tanpa beban, dan tidak ada satu orang pun sanggup menganggu. Rindu seperti Tuhan yang kita agungkan. Rindu seperti Tuhan yang kita takuti. Rindu seperti kematian yang pasti terjadi. 

Abadi di Hati

Seumur ini aku masih berbelit dengan "apa". Tak karuan. Isi kepalaku berkecamuk, selalunya, sebelum mendarat di permadani. 

Aku tak menginginkan depan apalagi belakang. Tujuanku denganmu, mereka tak akan pernah menerimanya. Sadarkah "hari" tentang rasa-rasa yang terbuang.

Di sebuah pertanyaan, aku tak mau menjawab. Sesungguhnya cinta adalah pengorbanan abadi.

Thursday, August 28, 2014

Kamis Tak Tahu

Banyak keadaan pedih yang tak terlupakan seperti detik ini dan aku tak boleh menyesal.

Setidaknya aku masih selalu merasa punya Tuhan. Biarlah tanpa perhatian dan kecewa.

Omong kosong sudah biasa. Aku harus rela menerima konsekuensi. Hidup sebentar saja.

Wednesday, August 27, 2014

01.03

Tak ada lonceng untuk dibunyikan. Nada lama tersisa. Kutuliskan lagi 'hidup'. 

Ibuku terbangun dari tidur batuknya meradang. Rasanya semakin rumit. 

Masalah, selesailah. Kami memohon. Ini melelahkan.

Thursday, August 21, 2014

Gerakan Cinta

Jika cinta tak bergerak dengan dua tangan, tak berjalan dari kedua kaki, tak nampak dari kedua mata, dimana cinta menelusuri waktu dalam sesaknya? 

Hati yang terluka, hati yang mereka sebut perasaan, namun sayangnya tak punya hati mereka tetap ingin merasa punya cinta.

Wednesday, August 20, 2014

Mimpi Sementara Gila

Jangan telanjangi aku dengan takut, marah apalagi cemburu wahai cinta. Ini menyebalkan. 

Waktu habis terkikis curiga tanpa bukti atau pengakuan hanya menerkanya dengan logika serta perasaan. 

Padahal kemarin aku jauh kemudian mendekat karena rindu gila. Untaian rasa datang mengukir kalimat terindah. 

Begitu saja pergi tak membentuk pada bagian di dalamnya. Seakan berlalu tanpa permisi.

AKU TIDAK INGIN BERMIMPI.


Berpisah, Untukku

Aku tidak tenang. Aku semakin mengerti. Aku tak ingin segelisah ini. 

Sebenarnya mudah saja. Namun aku tak ingin melepasmu. 

Aku percaya cinta karena kita pasti berpisah. 

Friday, August 15, 2014

Jumat Disini

Awan putih gerak perlahan. Kupandang drama di balik jendela. Langit jauh 'tuk kugapai. Sekali lagi, tak ada keajaiban.

Thursday, August 14, 2014

9 Lagi

Setelah 9 hari kedepan aku harus kembali diselimuti ketakutan meski detik ini sudah terjadi. Rasa yang tak ingin hilang dipaksa musnah perlahan dengan sikap acuhmu.

Memang benar waktu tak akan pernah berbohong. Namun tidak salah bila kenyataan membawamu betah di persinggahan baru.

Dewasa ini sulit menterjemahkan gelak tawa lepas tanpa beban. Hal yang mengganjal kadang tak terjawab. Kau memaksaku untuk menelan pil pahit demi perubahan.

Tak berdaya harus bahagia.

Tunggu Kabar

Ungkapan hati sia-sia sejam berlalu. Jauh-dekat tugasku menunggu kabar. Kasihan pada diri ini lemah. 
Pengemis cinta yang tak kunjung sadar. 
Sebut aku dusta tak bernyawa. 

Jangan Dusta, Kaca

Tak ingin menghitung waktu bertahan untuk pulang. Keresahan cukup menyiksa dalam entah. Seakan rela dibodohi padahal hanya tiada kesan yang berarti lagi. Perjalananku, jangan engkau mendustai kaca-kaca pecah yang tak mungkin kembali UTUH. 

Wednesday, August 13, 2014

Setiap Pagi dalam Sepekan

Sudah 1 minggu terbangun di udara pagi. Inilah kehidupan yang tak seperti biasanya. Tak banyak berharap untuk menikmati sebuah perjalanan lepas dari waktu sibuk lama. Hidup ini, hasrat ini, kekuatan pikiran serta senandung hati. Jangan pergi semangatku! 

Tuesday, August 12, 2014

Istirahat Hati, Diri

Tidak ada luka apalagi cinta, tersisa hanyalah pengabdian.
Tidak ada airmata apalagi dusta, ternoda hanyalah pengakuan.
Tidak ada drama apalagi penyesalan, teraniayalah perpisahan.
Selamat istirahat diri.

Aku Tak Tahu

Aku tak boleh muak dengan mesra. Tak boleh merasa tak punya lagi perasaan karena diri salah. Sebenarnya aku tak kuasa dengan ketakutan ini. Hati dan pikiranku tak jelas. Akalku tak menemukan pertanda baik. Aku tak ingin jauh namun aku juga tak berpikir didekatkan. 

Terkutuk Entah

Terkutuklah entah. 
Kuhabiskan takut ini hingga sakit.
Berbaring gelisah.
Hati kuat mengikat.
Tak kuasa meninggalkan indah.
Semoga aku tabah.


Saturday, August 9, 2014

Sakit Mungkin

Kalimat berbaris dengan logika singkirkan pedihnya hati menuju petang tanpa irama.

Aku menunggu jawaban mesra oleh jemari tak bersalah karena semuanya masih berfungsi. 

Tiba-tiba sudah pukul satu lebih setelah makan selesai lalu terbaring memaksa kantuk sepakat untuk bermimpi.

Namun yang hadir gelisah membabi buta bengong mengukur detak jantung sambil melihat dada. 

Mungkin sakit.

Gratis Kenangan

Langit biru mencakar bathinku hingga tak tersisa. 

Aku pasrah karena bumi inilah tempat penyimpan kenangan gratis. 

Airmata enggan turun dari atas sana, menakutkan sedikit pun tidak.

Haruskah tetesan luka dipaksa sakit meringis? 

Diam karena perasaan yang mendalam. 

Semoga esok gembira datang lepas menari riang.

Alasan Hebat

Alasan selalu membuatku merasa hebat dalam bertindak. Padahal kamu tak pernah setuju apalagi peduli. Belas kasihan tak akan pernah menjadikan alasan itu cerdas.  Kebingungan yang terpaksa mati tanpa tanya dan jawab. 

Kembali Kembali Kembali

Kembali ke tempatmu, kembalilah.
Kembali menyadari dimana tempat terbaikmu, kembalilah. 
Kembali menyebar senyum dalam keruh, kembalilah.
Kembali ke rumahmu, kembalilah.
Kembali menciptakan indah jauhkan ragu, kembalilah. 
Kembalilah! 

Aneh, Posesif, Segalanya

Aku aneh. Aku posesif. Aku tak pernah mengerti. Aku merasa dekat ini seperti jauh. Aku mengaku salah bertuhan pada maaf. Aku hanya bisa diam meratapi segalanya. 

Aku Hilang

Harusnya perlahan mencari yang lain, meski sulit berpaling saat ini. Langkah awal saja belum terbuat, sementara ia sudah. Aku tak ingin ada rencana banyak. Tak mengagumkan niat untuk bertekad. Cerah datanglah di tidur dan bangunku. Aku hilang! 

Friday, August 8, 2014

Sore di Tepi

Entahlah entah. 
Gundahlah entah.
Entahlah gundah.

Petang Biru di Bali

Jemari mengepit sebatang rokok yang sedang tersiksa menuju mati. Sore datang lagi dalam harapan. Rindu berterbangan dibawa udara Bali. Gelisah menganggap aku lawan.

Tuesday, August 5, 2014

Semesta Berbisik di Atas Awan

Matahari terbit perlahan di atas awan. Gumpalan putih menyebar ke penjuru langit Tuhan. Irama sederhana sungguh berkesan. Dengung mesin pesawat sambut hari liburan. 

Sunday, August 3, 2014

Hari Ini Tak Ada yang Lain

Dan hari semakin dekat untuk menceritakan kepadamu bahwa inilah resah, sakit, dan bukan ketersiksaan biasa. Aku setengah gila memikirkan hati, guncangkan jiwa. Pikiranku terancam dibatas bayangmu. Kamu jangan pergi.

Saturday, August 2, 2014

Tak Rasa Hilang

Aku hanya tak ingin rasa-rasa begitu saja hilang seakan yang hidup mesti dimatikan yang mati tak boleh tumbuh kembali. Tak ada kata hilang untuk rasa-rasa yang begitu saja datang ketika yang mati masa lalu dan yang hidup kini jiwamu di jiwaku.

Friday, August 1, 2014

Lebih Cepat Saja

Pengorbanan bisa membuat kenangan indah bertambah manis dan kenangan pahit semakin sakit. Pikiranku mungkin salah apalagi perasaan yang begitu mengekang hati. Semoga saja aku tersadar. Seandainya lebih cepat.