Linimasa

Monday, February 28, 2011

Rekonstruksi Bukan

Manusia selalu merasa biasa,
saat kesalahannya harus dipertaruhkan demi mencapai tujuannya yang ingin luar biasa.

Seakan nada yang baik dibalik menjadi irama yang sumbang,
terdengar namun tak dapat dinikmati.

Sungguh noda meninggalkan bekas,
melukai dan mengasihi seseorang hingga terlupakan.

Persoalan yang tak ada ujungnya,
karna masalah slalu harus dijelaskan dengan alasan yang pasti.

Entah,
apakah manusia adalah makhluk yang harus dimaklumi?

Mereka terlalu sembarang menyebut hal-hal yang tak pantas.

Mereka terlalu kurang ajar mendefinisikan sisi lain yang tak harus dipersalahkan.

Kehidupan tetap berjalan mengiringi setiap desakkan,
ingin dihargai atau mati memang tinggallah sebuah nama.

Saturday, February 26, 2011

Jenjang Pagi

Entah apa rasanya,
tak ingin lagi banyak bicara atau menangisi keadaan ini.
Aku hanya butuh ditemani dengan tawa dan senyum ketulusan.
Dimana hati yang tak ternodai? Yang sanggup membuat hati tak tersiksa lagi.
Kini dalam kesendirian, pilu.
Ya, biarlah menjadi catatan penting didalam masaku.
Indahku, mungkin.

Andai dapat aku sederhanakan,
sebentang kisah bisu kelabu.
Namun itu 'kan memberatkan.


Tak 'kan cukup dari separuh rasanya kehilangan waktu.
Waktu yang menyelimuti takut juga rasa senduku.

Friday, February 25, 2011

Siang 106

desah gelisah terselubung,
kriput melumat hati.

sempat terasa gila,
runtuh tanpa kata.

sesal dalam pilu,
sesakku dalam keretakkan.

syurga yang orang nanti sepanjang waktu,
pencapaian hidup tiada akhir.

106

Selamat datang. Kalimat itulah yang menyambutku dalam senyum.
Senyum yang membungkamku, mungkin penyelamat rasa sombongku.
Kita semua berjauhan. Di penghujung hati terasa begitu sepi.
Merakit satu persatu tanda untuk bangkit dari kesusahan.
Aku hanya ingin memeluk kalian.
Tuhan, lindungi keluargaku.

Thursday, February 24, 2011

Hari Kamis Ini

merapuh jika ku hanya mampu mengeluh,
selalu ada rasa...
semangat yang terbuat dari kesedihanku!

terdalam untuk keadaan ini,
semoga masih ada mimpi baru yang menjadi sumber bahagia...
mimpi yang bukan sekedar janji dan bualan!

Tuhan,
inisial, waktu, simbol, airmata dari kehidupan memanglah jalannya...
aku yakin Engkau Satu Maha Segalanya!

Monday, February 21, 2011

Semesta hati

berdiri diatas bangku,
tertidur dibawah mejaku,
dan kamu...

pesan terakhir dalam rindu,
menyertakanku padamu,
atasmu...

mencintai dan katakan untuk dicintai,
tak ingin katakan,
tak ingin kehilangan...

peduli dan cinta,
aku harus menyertaimu dalam sedihku...

Teman Sunyi (rokok dan kopi)

rokok dan kopi membuatku berpikir lebih dari sakit dan pahit,
membuatku lebih manis dari gula dan susu kental termanis,
hingga kekinian menjadikan aku rapih menangis,
segalanya sirna memukul pundakku sampai sadar dan tersadar...

aku hidup dan ini nyata,
aku tersenyum dan inilah hidup,
yang tak selalu sebenarnya aku benar,
yang tak selalu sesungguhnya aku ini hina dan salah...

aku mencoba lebih tegar,
baik dan membaik,
aku sedih dan teman sunyi janganlah pergi...

Saturday, February 12, 2011

Senam Hati

aku cuma punya dua tangan, dan dua kaki...
seuntai perjalanan,
kukatakan ini yang terbaik...
setelah banyak kebaikan yang terabaikan di dunia ini!

ini...
ini hidup,
berpesan dalam hina,
berkelana dalam waktu!

yang entah kapan hari berakhir dengan indah...
atau menganggap tidur semalamku nyenyak!

jangan bosan akan belajar...
menimbang, mengetahui yang paling mendasar dari sebuah perasaan jatuh!

dan katakan hati ini begitu syahdunya,
penuh dengan tanya juga jawaban yang merumitkan isi kepala...
sabarlah aku, sabarlah kamu...sabarlah kalian!
mereka bukan budak kita untuk selalu mengerti...
pahamilah ini!

Tuesday, February 8, 2011

Tue and lies

Seorang bijak mengagumi kebenaran...
Suara terbanyak memperoleh jutaan nada sumbang!

Sebagian kecil dari hari kemarin...
Menangisi pilu dalam kedudukan yang tak imbang,
Merana sendirian diatas kekaguman yang semu!

Menandingi kata dari emosinya dunia,
Perang fisik yang menyedihkan jika bathin tak dapat lagi membendung tekanan terdahsyat...
Rela mati, mati rasa!
Rasanya mau pulang...
Lalu tak kembali lagi!

Jika jujur lebih baik,
Maka telanjanglah dibawah kemuraman...
Seketika kita dibiarkan,
Seketika itu pula kita berdusta,
Kita dan kita!
Kata dan bohongku...