Linimasa

Sunday, April 27, 2014

Pagi denganmu

Bir membuatku tak banyak berpikir dibanding kopi. Aku butuh itu dan tidur dengan indah pagi ini. 

Keakuan Kekamuan, Pelukan

Terbakar yang sudah. Tak lelah kekamuan, tak lemah keakuan. Ini izin kita untuk bertahan menjadi besar di hati sendiri. Jika semoga menjadi dua bagian, biar kita tukar wajah telanjang dan biar kita terbalut dalam pelukan. Cukup.

Tiga Lebih

Mesranya kamu ketika berdiri tepat di hadapanku. Jangan, jangan mendekat karna kita tidak sedang terluka. Peluklah jemari yang kau letakkan pada ujung penantian. Eratkanlah rangkulan tanpa arah ini. Kita tidak bersalah atas kebahagiaan. Walau tak abadi. 

Beri Lagi

Pagi tersenyum padaku. Dia tak marah apalagi mengamuk. Nada-nada sumbang tak ada, semestinya. Mereka hanya tak mampu berusaha! Sekian titik yang kukendalikan mulai lemah, syaratnya hanya sekaleng bir untuk mencuri si kantuk. Berikan satu lagi senyum demi satu lagu tanpa bekas hati. 

Wednesday, April 23, 2014

Walau Kadang Aku Mengalah

Walau kadang aku hanya salah, tak bisa mempertahankan rasa yang kubenar atas diriku. Walau kadang aku hanya salah, tak pernah merasakan bagaimana kamu atas diriku. Walau kadang aku hanya salah, tak dapat mengira mana yang terbaik selain mengalah. 

Monday, April 21, 2014

Malam Tak Mau Pilu

Kita tidak sedang bermimpi, tidak sedang tertidur, permadani hangus akibat kebakaran debu. Tumpah segala sedih dalam nafas pilu, patah, dan tak tersambungkan. Malam tak mau hilang kendali. Surga jauh dicumbui.

Saturday, April 19, 2014

19 Record Love Day

Tidak ada bangku, yang tersisa hanya air hujan, saksi bahwa aku memilihmu di atas keinginanku sendiri, Sabtu sore.

Airmata Kopi

Hanya ingin membuat hidup semakin berselera, rintik hujan menemani setiap rindu di ujung airmata. Jangan lepaskan keresahan ini pada yang ragu, biar hidup dengan manisnya secuil rasa malu. Secangkir kopi yang hina berbalut asap tembakau nista, tak 'kan membidik romansa dosa. 

Kamu untuk Kita

Ketika aku untuk kamu, kamu untuknya nanti. Ketika aku untuk kamu, kamu untuk kenangan kita nanti. Ketika senyum kecil terbuat untuk tetap bertahan hebat, kamu tak sanggup memilih. Ketika tawa marah tercipta untuk tetap berdiri kuat, kita masih cinta. Tak ada yang dipersalahkan.

Dan Salah

Dan harus berani dibilang salah, karena aku bukan pembenaran. Dan harus tegas mengaku salah, karena kau bukan pembetulan. Dan aku diam untuk sebuah tutur, jika tak ada yang lebih baik. 

Thursday, April 17, 2014

Surganya Dosa

Rindu lamunan di ujung tebing hari. Hati kita tak bersatu dalam surga. Kedua mata tertutup. Suara liar merana. Raut wajah kehilangan. Angin tersimpan di lemari. Dosa tak ada lawannya.

Bahumu Kakiku

Cahaya tak bernada, gelap membasuh muka, kelam di bahumu, pegal di kakiku. Ini apa, ini siapa, semua tenggelam dalam keentahan. Berjanjilah waktu yang sempurna untuk menangis itu datang! 

Ingin Tak Pernah

Anjing-anjing menganjing, dan lelah akan ini. Tak mungkin kubuat nyawa baru di diriku. Dan tak mungkin aku gila sendirian. Anjing-anjing menganjing, dan kacau akan ini. Tak mungkin kucintai yang tak bernyawa dengan lidah basah dan nafsu birahi. Anjing-anjing menganjing, aku ingin tak pernah.

Takut Dunia

Inilah saat yang membosankan, melihat tayangan mengerikan, terutama kekejaman yang tak berujung damai. Mereka saling membunuh dengan sebuah pernyataan, pertanyaan tanpa mendekat. Seakan menghapus negosiasi perlahan bukan mencapai tujuan yang lebih baik. Akhirnya aku paham sesuatu yang tak dapat kujabarkan, negara itu hebat mendoktrin. Kita terlanjur lemah. 

Wednesday, April 16, 2014

Memekakkan Rasa

Ketika. Satu saja hari yang terbaik. Ketulusan, rasa cinta, dan kau tahu ciuman termanis adalah berdekatan dengan pipi yang berlumur airmata. Sudah. Hingga waktu terbuang dari sisinya. Aku cemas. Aku malu. Aku tak ingin pulang sebelum Desember.

Monday, April 14, 2014

Kabar Kita

Bagaimana kabarku, keadaanmu, kita harus bisa menghadapi semua seindah mungkin. Indahmu, wajahku, kita harus lebih dari kekuatan! 

Tuesday, April 8, 2014

Keluarga dan Lelaki

Ketika melihat keluarga yang utuh aku jadi tahu betapa pentingnya peran seorang suami, lelaki. Ketika melihat perceraian aku jadi mengerti betapa sulitnya bertahan dalam kekecewaan. Tanpa harus dipersalahakan, mempersalahkan, terlalu buruk menyebutnya suratan takdir. Mana yang harus ditempuh dan dicintai. Kutahu dunia hanya sementara.

Monday, April 7, 2014

Tulisanku Fotoku Sebaliknya

Fotoku adalah tulisanku, tulisanku adalah fotoku. Keduanya tak ingin kupisahkan begitu saja. Walau aku sedang tak nyaman denganku. 

Entah Apa Aku

Kebosanan tinggi. 
Seakan aku tak tahu apa dan kenapa?
Malam yang kusimpan semakin berat.
Kejenuhan atas segalanya.
Rindu yang tak dapat kucampur lagi dengan logika, kesandarkan entah pada tempatnya.
Sebaik-baiknya pagi nanti, biar aku tidur dengan tenang.

Friday, April 4, 2014

Taksi Saksi

Judul yang kubuat manis di permadani, itu berlalu.
Hasrat tak dapat dibendung, kubalur nafsu dalam belaian.
Ini gejolak kita, pernah sebelumnya. 

Lukamu Lukaku

Sahabat cinta terbaikmu adalah luka. Si luka yang tak lelah sembuh saat diteteskan lagi luka. Begitu luka membaik, ia sombong. Luka berperasaan maka mereka takut kena "luka". Tak sebaik pengharapan, bahwa hari terindah menjadi sahabat bagimu bagiku. 

Wednesday, April 2, 2014

Mimpi dan Situasi

Permadani tak berbau, tak hangat seperti sapamu. Aku tak pernah berjanji untuk ingkar atau menang dalam pertaruhan rindu. Wajah-wajah gentayangan, aku heran. Mimpi dari bangun tidur semalam, aku bersama ritual kecil. Asap bertaburan dari bibir kecil ini. Kupeluk bantal kesayangan dengan do'a. Sesalkah situasi menatap adanya kita?