Linimasa

Monday, January 15, 2018

Sampai Besok!

Besok, aku ingin hebat.
Aku ingin melupakan segala hal tentang cinta.
Besok, aku pasti tegar.
Aku ingin menjadi bagian dari matahari bersinar.
Besok, aku lupa harus melakukan ini.

Mungkin Saja Mungkin

Aku sedang tidak bergairah memilih.
Aku sedang tidak ingin melupakan.
Tidak bergairah memilih untuk melupakan.

Puisi-puisi lama mendesak hati.
Kalimatnya banyak yang patah.
Mungkinkah hari ini rindu menjadi nyata?

Kita Itu Aku, Kita Itu Bisa Juga Kalian

Kita tidak seperti manusia sebenarnya detik memandang kekalahan, kita tidak terima.

Kita seperti ribuan kilometer yang terhapus bumi, kita bukanlah pelari tangguh.

Kita menginginkan kemarin, padahal itu sudah musnah.

Kita terlalu sombong mengaku tangguh, sementara darah yang bercecer dibiarkan bersih oleh tangan lain.

KITA MENGAKU SANGAT SABAR DENGAN MENGELUH.

Kita tidak sedang bermimpi, maka kita hanya perlu sadar.


Friday, January 12, 2018

Bodoh Lagi

Aku selalu ingin berjanji, bahwa ini yang terakhir.
Tulisan cengeng, bosan tersungkur dalam kebodohan.
Diam, mengetikkan ujung-ujung kalimat yang patah.
Aku menjadi bodoh lagi.


Tidak Akan Bersama

Senyum yang kuingat, senyum perkenalan.
Pertama, arah mata yang tak berujung.
Saling menatap, namun tak mencintai.
Kedua, jemari-jemari yang bersentuhan dengan buku.
Kita tidak akan bersama.

Dan sudahlah.

Karenamu

Siang ini aku menikmatimu.
Perlahan mengenalmu, berpikir tentang malam itu.
Kusadari cinta datang bukan karma.
Meski kita tak akan pernah selamanya, dan waktu menjemput satu per satu kekalahan.

Biarkan mimpi menjadi teman baikku karenamu.

Tuesday, January 2, 2018

Tiap Aku dengan Hati

Aku selalu gagal main hati.
Tiap gagal, aku merasa hanya padamu.
Aku selalu gagal memiliki.
Tiap gagal, aku merasa darimu.

Semua yang datang terlanjur beralih.
Semua yang datang kututup rapat dalam toples berisi air dan ikan.
Lama-lama, mati juga.

Nafas ini pernah bertukar.
Sekejap dihantui mimpi.
Kebisuan yang tak terkendali.
Seakan pernah memilikimu hari ini.