Linimasa

Tuesday, June 30, 2015

Sekarang Sakit!

Kenyataan ini pahit, kawan! Pahit! Kita hanya bisa menelan dan mengalah! Sakit, kawan! Sakit! 

Monday, June 29, 2015

Sahur dengan Hati

Akhirnya, aku jadi penonton.
Penonton... 


PeDe Terhempas

Kadang, aku merasa tidak percaya diri untuk membuka hati. Entah kapan dan dengan siapa aku bisa ditaklukkan. Aku pikir cinta itu soal waktu, pertemuan dan perpisahan, kebersamaan adalah tentang salah dan benar. Seperti judul-judul sebelumnya, ketikan menyentuh harapan yang muncul di kepala, lagi dengan semoga. Semoga aku mendapatkan  kesempatan dari orang yang tepat, suatu hari nanti, walau aku tidak utuh, hina, jahat. Aku di sebuah arah.

Kecil, Sederhana, Menghargai

Aku takut bukan karena aku tidak berani melangkah tanpa persetujuanmu. Tanpa kamu sadari, aku telah menghargaimu, dari hal paling sederhana, yang mungkin kamu tidak peduli dan tidak mau tahu. Aku akan terus berusaha tetap menghargaimu, meskipun kenyataan yang mesti kuterima akan jauh lebih banyak pahitnya. Selamat tidur.

Semua Pasti Baik, Aku Sabar

Harusnya aku tidak perlu sering meminta lagi, menunggu kabar, apalagi berharap tentang apapun. 

Waktunya mungkin sudah habis, meski belum tuntas. Semua yang kutelan ini seakan mesti terasa manis. 

Aku tidak boleh mengeluh disaat orang mengeluh. Padahal aku juga punya perasaan. 

Biarlah pahut itu tertiup angin kencang. Aku kehabisan cara untuk mengendalikan diri. 

Sakit hati bukan masalah besar, semua ada obatnya, aku yakin perlahan sembuh. 

Rasa kecewa mereka seger terbayar dengan sikap dan langkah barumu, sikap acuhmu padaku.

Aku mencoba tutup mata, tapi tidak bisa. Teks yang kuterima sangat menyakitkan, sementara kamu di posisi aman. 

Hatiku keram seketika. Hancur, tidak ada tanda bangkit kecuali dikasihani hari ke hari tanpa henti. 

Aku dimusuhi dan aku dipaksa harus menerima segalanya. Risiko pun terlanjur kutanggung.

Tuhan, aku tidak menginginkan balasan. Jangan biarkan dia bingung, sanggup atau tidak suatu saat aku bisa.

Thursday, June 25, 2015

Sedikit Saja, Tuhan

Sudah berhari-hari menatap penantian, teks muncul dan hilang, tanpa suara, dan ketika semua kembali aku hanya mampu pasrah menerima kepahitan. Tuhan, kalau Engkau memang satu jangan biarkan mereka menjadi lebih banyak membenci karena seakan cuma aku yang salah. Aku tidak ingin menyebutnya sakit hati. Aku selalu berharap bisa selalu sabar. Aku berharap ikhlas apapun yang terjadi pada akhirnya nanti. Tuhan...

Wednesday, June 24, 2015

Semangatlah!

Aku sedih karena merindu, seakan-akan kita jauh. Apakah kau begitu marah? Musibah yang menimpaku cukup menjadi pembelajaran. Sabar tidak mudah, ikhlas tidak gampang. Aku tak sabar ingin kembali melihat senyum dan bahagiamu. Semangatlah!

Puasa 3 Hari Lebih

Seperti mimpi bisa mengendalikan diri untuk menjalani Puasa kali ini. Setidaknya 3 hari lebih sudah terlewati. Aku banyak dosa. Aku tidak akan pernah sempurna. 

Semoga Tuhan selalu melindungiku meskipun aku tetap hidup diiringi salah.

Tuesday, June 23, 2015

Hilang! Tidak Pernah?

Sebenarnya, puisiku banyak yang hilang. Hilang karena aku tidak pernah mengerti. 

Kapan dan Layar

Dua bertemu. 
Ketikan dan layar telepon genggam. 
Dua tidak ingin berpisah.
Masih ketikan dan layar yang sama.
Kapan kita benar-benar jatuh cinta?

Beda, Airmata, Terkikis

Pagi ini. Rasanya beda. Hatiku perlahan terkikis. Semenjak waktu mendebarkan datang. Aku tidak punya harapan lagi. Sulit menyimpan kesedihan. Airmata yang kuceritakan sudah mengering sendiri.  

Bukan Keajaiban

Menunggu matahari terbit di malam hari adalah tidak mungkin. Seperti keajaiban yang mungkin pernah datang sekali. Manusia boleh memilih jalan bahagia sendiri. Tuhan menjaganya dengan sempurna. Apakah sesama manusia bisa saling berdamai? Jawabannya bisa. Apakah kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri? Jawabannya mungkin. Sebelum siang tak pernah kembali, aku menginginkan sunyi-sunyi terindah. 

Saturday, June 20, 2015

Pengeras Suara Mengganggu Manusia Digital

Banyak manusia digital yang mengeluh soal pengeras suara Masjid belakangan ini. Dulu saat belum ada tempat pamer keprihatinan di media sosial, mereka tidak bersih keras menolak. Tapi sekarang dianggap mengganggu. Manusia digital itu membentuk dirinya supaya beda, tapi ternyata mereka sama. Seperti orang kebanyakan yang telah menggantungkan separuh hidupnya untuk bermedia-sosial, hingga kehidupan sosial sebenarnya perlahan musnah. Manusia digital tidak lebih baik, atau menjadi lebih berarti, mereka lepas dari kenyataan hidup demi kemajuan yang segera habis oleh ketiadaan.

Masuk Hari Ketiga Ramadan

Ramadan mengajarkan banyak hal. Sebelum masuk hari pertamanya, aku ketakutan. Sampai akhirnya bisa melewati dua puasa. Hal paling sederhana adalah sabar. Tanpa itu, semua hal baik akan menjadi sangat buruk. Aku tidak sabar, aku bosan dengan pikiran-pikiran negatif. Maka, aku  ingin belajar pelan-pelan. Semoga diterima.

Wednesday, June 17, 2015

Di Dalam Kata

Setelah melewati perdebatan, aku hanya berpikir tentang kesalahan yang datang dari diri. Aku tidak ingin menyalahkan orang lain. Perasaan harus kutelan dengan sisa senyuman. Aku tidak pernah merencanakan perubahan karena manusia sepertiku bodoh dalam bertindak. Tuhan, aku lama tak banyak bicara padaMu. Jangan jauh, jangan meninggalkanku. Ini harusnya tidak sakit, apalagi pilu. Jiwa kuat, hati biarlah rusak. Di dalam kata selalu ada makna, misalnya sabar.

Sunday, June 14, 2015

Katakan Ditanya Tidak

Seakan aku diam karena aku menerima apa saja saat aku hanya bisa diam. Apa yang kurasakan hanya selalu mencoba untuk mengalah dengan apa yang kupikirkan. 

Sulit bijaksana menelan pahit. Aku memulai masalah yang sudah usang bila kembali dijadikan masalah. Lagi dan lagi semua keterlambatan jalan, tidak memilih, tidak menangis.

Seperti Aku, Mungkin?

Manusia itu kejam, tidak punya perasaan. Mengaku saja bukan melakukan. Seperti aku, mungkin?

Dan manusia tidak pernah puas dengan apa yang ia sudah dapatkan, sebanyak apapun itu! Seperti aku, mungkin?

Manusia sering berbohong demi satu alasan yang membuatnya jatuh lebih dalam. Seperti aku, mungkin?

Sewangi Kelam

Sendiri menunggu wangi sepi ini semakin menyala. Tidak ada jendela untuk keluar. Tidak ada kunci untuk membuka pintu yang terbuat dari besi. Hatiku sudah lama hilang disimpan. Kadang aku merasa bodoh. Kadang aku lelah. Padahal aku punya Tuhan, tapi aku masih mengelak kebenaran. Darimana airmata yang menetes di pipi? Aku benci semua perasaan. Mereka bilang begini ada untungnya, begitu ada baiknya. Namun, tidak ada satu pun yang tahu kemana jalan hendak dituju.

Monday, June 1, 2015

SM

Setiap arah tak ingin kutendang. Mereka saja yang puas berdendang. Seakan rasa hilang 'tuk memulai. Mereka tak benar mengerti. Seringkali tangisan mencubit. Malam yang teramat dalam. Sesak hati meratapi hati. Melambai terkenang.