Linimasa

Sunday, December 28, 2014

100 Tahun Mimpi

Haruskah aku menyerah ketika aku merasa tidak berdaya? Tidak.
Haruskah aku mundur ketika perang dimulai dengan senyuman? Tidak.
Haruskah aku mengaku pengecut ketika aku merasa jujur dengan hati? Tidak.

"Tidak" selalu membuat diri ini hidup sampai 100 tahun nanti meskipun hanya mimpi.

Tentang Bahagia Raya

Aku menyimpan sejuta bahagia dengan melakukan beribu hal yang membahagiakan. 

Aku belum memikirkan rencana masa depan ketika bergerak diam-diam dan bersyukur tentang hari ini. 

Pendapat setiap orang berbeda soal cinta, hidup, dan kematian. Kadang mereka sekadar berbisik atau menusuk.

Pendapat orang bisa membuat hati terluka. Aku akan berusaha tak menyakiti hati yang sudah hilang nyawa.

Tahun ke tahun hingga zaman berganti menjadi sebuah cerita paling berharga. Jadikan rasa syukurmu, bahagia.

Maju dengan Tulus

Tubuh ini sedang mengeluh. Mungkin meladeni sakit yang sempat tertunda. Semoga tidak parah karena hari indah menanti, aku tak ingin kehilangan kesempatan. Walaupun tak mungkin sempurna, aku berani maju dengan ketulusan. 

Saturday, December 27, 2014

Terang Tak Kemana



Setiap terang berhak ketakutan, merasa sepi, dan semakin tak dapat melihat dengan jelas. 

Drama Bathin

Sebelum kata menyerah dijual dalam penjara bathin. Maka, kuatlah dengan tenang. Terbangkan rasa-rasa yang tak lagi berfungsi demi mencegah kerusakan hati. 

Dibenci dan Dibenci

Aku tak bisa melawan benci. Aku bertahan diam dengan tanya sendiri dan tetap melakukan yang terbaik. 

Aku sadar akan diri. Khayalan memang tak kenal batas namun punya pilihan untuk lanjut atau disudahi. 

Aku tak mau menyalahkan hati, kekalahan, serta begitu indahnya kenyataan ini. 

Biar harum yang menyebar tanpa harus dipuji, kemudian kau melipat kenangan dengan wangi suatu hari nanti. 

Thursday, December 25, 2014

Desember Hari ke 25

Kehidupan memberikan kita tempat yang layak untuk berusaha dan berdoa meskipun akan selalu terpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Kala sendirian manusia diberi waktu untuk merenung. Kadang tak mudah menganggap diri paling benar di antara kitab-kitab yang setia mengetuk satu persatu pintu bathin manusia dengan penuh kesabaran. Kesempatan yang Tuhan kasih bertubi-tubi walau manusia masih saja ragu sebaik mungkin memakainya.

Hanya kepedihan yang selalu dirasa tak semanis ucapan "tenang" dalam gejolak jiwa berantakan. Langit, Tuhan, asa yang terhapus dan Kamis lahir tanpa pertikaian.

Wednesday, December 24, 2014

MencariMu

Tuhan yang hilang, bumi mencariMu. Bumi menangis sendirian. Menangis untuk memohon satu, tutup saja mulut-mulut yang kejam. Mulut yang berbau tak sedap dengan sembarang kata menyakitkan. Kata yang tak santun melukai hati. Semakin banyak masalah, kerusakan jiwa. 

Tuesday, December 23, 2014

Waktuku Bukan Kalian

Pagiku bukan pagi kalian, siangku pun begitu, soreku tak dapat ditandingi apalagi malam. 

Apa yang perlu dibanding-bandingkan antara aku dan kalian? Selain bagaimana. Kita semua tak pernah merapat di satu kaca yang sama. Maaf.

Sunday, December 21, 2014

Menunggu Bukan Kiamat

Menunggu itu bukan hal yang sulit. Untuk sabar menunggu kita tidak perlu membayangkan kiamat. Dunia bukan milik kita, dan kita tidak perlu bersih tegas ingin menggenggamnya.

Malam pun tiba, tak ada rasa kesal. Band di sudut sana asyik memainkan nomor-nomor lawas salah satunya "Inikah Cinta". Seakan aku romantis sendirian, padahal kamu ada. 


Terima Kasih Kesempatan yang Indah

Hari Sabtu (20/12), kebahagiaanku lengkap dengan senyuman yang datang dari wajah-wajah lama-baru. Mereka menyempatkan diri untuk berbagi senang, tak perlu dijelaskan seberapa menderitanya hidup masing-masing. 

Aku merasa semakin dewasa walau belum menjadi perempuan seutuhnya di umur yang lumayan "mengerikan". Beberapa ucapan yang disertai doa membuat hati ini lega karena tak ada niat untuk saling melupakan.

Tuhan yang baik, aku banyak salah. Terima kasih atas segala kesempatanMu yang indah. 

Saturday, December 20, 2014

Hidupku di 29

Aku tidak boleh lupa tentang kebaikan. Orang yang memberiku senyuman pertama, ibu yang senantiasa tegar, serta doa ayah yang tak pernah putus. 

Hari ini aku merasa banyak dosa, tapi bukan untuk ditangisi apalagi menyesal. 

Tuhan Yang Maha Segalanya, ampunilah dosaku, jangan Engkau permalukan aku di hadapan hambaMu, jangan Engkau miskinkan aku di hadapan hambaMu. 

Wangi sampai mati, hidupku di 29. 

Friday, December 19, 2014

Hujan Melipat Sakit

Hujan menghapus dosa pada Jumat tak bersalah. Warnanya bukan hitam tapi bening siap diminum. Tenggorokan murka diam menyembunyikan sakitnya. 

Dusta Tak Cinta

Mereka bilang dusta, aku cinta. Hujan, jangan buatku menderita.

Monday, December 15, 2014

Selangkah Datang, Tak Mau Pergi

Rasanya tak ingin tua, rasanya ingin dilahirkan kembali, namun puluhan tahun bukan sebentar, aku hanya perempuan dusta yang egois ingin bahagia, berdua, sendiri, aku hanya perempuan yang mereka sebut bukan perempuan sesungguhnya. Dan airmata menyelinap ke dalam pori-pori di pipi, hari dimana sebagian hilang tak pernah nyata, detik dimana sebagian yang datang adalah keajaiban. Terima kasih Tuhan untuk segala kesempatan yang Engkau berikan, semoga dapat kujalani meski kalah bersama cerita indah.

Sunday, December 14, 2014

Merindu Gila Denganmu

Dimana harus kubuang dosa? Tempat sampah penuh kepalsuan.  Dan wadah untuk mengeluh habis suaranya, kesakitan. Aku ingin lupa sebentar, aku yang pernah bahagia, saling merindu "gila" denganmu. 

Ingin Tenang, Sedikit

Aku tidak butuh apa-apa, aku ingin sedikit lebih tenang. Beberapa menit terbuang jadi penyesalan. Satu yang mengubah "akhir", hanyalah keajaiban. Kemudian, proses sulit di awal bukan pelajaran terbaik. Dalam ritme yang kencang, aku dianggap guncang. Tidak berhenti untuk hidup!

Karena Aku Juga Manusia

Seperti habislah kata, saat membayangkan hal terburuk. Namun apa yang harus aku takuti? Waktu tak pernah rela berbohong. Manusia harus tegar hadapi kenyataan.

 

Wednesday, December 10, 2014

Kamu Harus Bahagia

Kamu tidak bodoh, aku pun tidak, kita sedang banyak sadar meski akhirnya kamu diam dan aku tetap melamun.

Mungkin aku tak perlu mengingat hari yang paling indah, airmata yang paling sakit, atau pertikaian dusta.

Hidup berjalan dengan manis. Seperti kopi-kopi yang kubuat terlarang. Malam selalu menerimaku apa adanya. 

Kamu harus bahagia, aku menyusul. 

Setiap Hati, Baca Lagi

"Kamu tahu istilah pasir kalau semakin digenggam bakalan lepas." 

Aku harus mampu membacanya lagi tanpa banyak tanya. 

Misalkan terjadi, aku tak heran. Ruang kosong harus siap terisi. 

Dan akulah masa lalu yang tak pernah bosan melupakan kecewa.

Tuesday, December 9, 2014

Tanya Sendiri, Jawab Sendiri

Relakan sedih datang dan pergi karena suatu hari nanti cinta bukan milikmu lagi.

Aku tengah berkhayal soal kekuatan hati. Apakah manusia sanggup kehilangan orang yang ia cintai?

Tanya hati yang sakit.

Belum Menikah, Aku

Aku belum mau menikah, rasanya aku tak perlu sedih karena aku belum menikah. Aku harus menjadi diriku sendiri, meski malu dihadapan Tuhanku. Aku belum menikah karena aku belum mau menikah. 

Sebentar Lagi atau Lebih Cepat

Cepat atau sangat lambat, aku tidak ada lagi. Segala kesalmu 'kan sirna. Doa-doaku selalu yang terbaik. Rasanya tidak sakit atau pedih. Aku hanya bisa tersenyum. 

Aku Tak Ingin Luka Lagi

Habis manis sepah dibuang. Aku jijik dengan pernyataan itu. Mungkin lebih baik memilih lupa daripada menganggap orang lain buruk. Perjalanan terasa sebentar. Meski masih panjang untuk menghapus banyaknya dosa. Dengan berbatang rokok dan segelas kopi hangat, aku tak ingin terluka lagi. 

Sakit Dusta

Dusta,
sakit,
kupandangi yang sedang berhadapan dari jauh,
sakit,
dusta,
kutelan ludah dengan ikhlas,
sakit,
dusta.

Thursday, December 4, 2014

Di Bawah Pohon Duduk Sendiri

Di bawah pohon keringat dingin, airmata makin deras bercucuran. "Ya, sudah menangislah" dan aku selalu tahu diri mengecap pahit ucapanmu. Tuhan, kuatkan jiwa yang lemah ini.

Temani aku, ketikan.

Anjing!

Andai aku tak cinta, aku tak merasa tersiksa seperti ini. Andai aku tak tersiksa, aku lebih dalam merasakan cinta. Anjing!

Wednesday, December 3, 2014

Mungkin?

Aku tak mau memaksakan diri untuk singgah di hati yang lain demi kebahagiaan orang-orang. Dengan begitu aku tetap menjadi penjahat yang murung tunggu ditangkap. Entahlah, Tuhan bisa memberikan aku waktu berapa lama lagi dalam membenahi kepingan dusta yang berserakan di taman kalah. Bila esok tiba, jangan cari aku karena kau butuh. Pastikan hari kemarin terbuang kesalnya. Biarkan jiwa yang tenang bersahabat pada tubuh baru, mungkin.

Rabu, Terima Kasih Untukmu

Harusnya aku tak perlu mengharapkan apa-apa lagi karena aku tak ingin berpikir seburuk itu. 

Hari yang indah tak selamanya bisa dikenang, hari yang kita anggap sangat spesial sudah lama berlalu. 

Hitamnya wajahku tak mungkin diputihkan menjadi sangat cantik bak bidadari. 

Semoga malam ini tidurmu nyenyak, terima kasih rela berbagi bahagia dengan bangsat sepertiku.

Monday, December 1, 2014

MEMBACA!

Takdir tak pernah tidur. Rencana yang berhasil patut disyukuri. Bangunlah dengan cita-cita. Kekasih tak boleh menangis lama. Selembar kertas adalah masa lalu. Hari ini kita hanya perlu MEMBACA!