Linimasa

Wednesday, January 28, 2015

Sabar Ini Pasti Bahagia

Semoga sabar ini bahagia, tetap tenang ketika harus berhadapan dengan keguncangan. 

Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya berusaha pasrah apa adanya ketika hati sudah berantakan.

Bukan Tuhan, Bukan Malaikat

Aku pernah kehilangan, aku tidak mau itu terjadi lagi.
Aku pernah patah hati, dan aku tidak mau itu terulang kembali.
Namun, aku bukan Yang Maha Adil.
Aku juga bukan Malaikat.
Aku masih banyak berharap dari manusia.
Manusia yang katanya punya perasaan.
Dimana aku berdiri disitu pula aku TERJATUH.
Aku bukan Tuhan, aku bukan Malaikat.

Tuhan, Aku Mau Tenang

Setengah empat sudah dekat. Aku pasrah menelan obat flu demi mendapatkan kantuk dengan kata lain tidur nanti akan sangat gelisah. Hari ke hari yang lumayan bingung meratapi asa. Mungkin aku bukan seperti dulu lagi, mungkin aku bukan aku lagi. Dinding hati penuh coretan, aku mau tenang, Tuhan? 

Tuesday, January 27, 2015

Hari Sibuk Doa

Hari yang sibuk menyimpan pesan-pesan terbaik. Suka dan duka diputar kembali dalam ingatan tajam. 

Kita tidak sendirian untuk memimpin angka pada jarum jam yang terus bergerak. 

Meskipun banyak ketinggalan, harusnya tidak ada penyesalan karena sudah terlambat.

Rasa takut kian membesar, mengejar kemana pun langkah ini pergi. Tidur dan bangun yang menyebalkan.

Apa dayaku sebagai manusia yang masih ingin dibilang waras tetap berusaha tegap bersama sabar.

Tahun lalu bukanlah tahun ini. Dan tahun ini tentang kebahagiaan seutuhnya, pengorbanan untuk selamanya.

Wednesday, January 21, 2015

Sibuk Bersama Sisa Hati

Kita sibuk menanyakan mau apa sebenarnya diri ini setiap menolak kesempatan. Kesalahan yang memiliki batas terbagi menjadi ruang dan tenang untuk melakukan pembenaran. 

Aku tak ingin mencampur segelas Anggur Merah dengan dosa-dosa. Aku tak ingin tergoda ragu sebelum meminumnya apalagi merasa salah. Aku sibuk kali ini bersama sisa hati. 

Saturday, January 17, 2015

Menyebalkan?

Gelisah sungguh menyebalkan. 
Tapi aku tahu apa? 
Aku harusnya bisa tidak peduli.
Entahlah, dan malam ini tanpa kata-kata berjam lamanya sedikit membingungkan. 



Friday, January 16, 2015

Siang Di Antara Siang

Sedih yang tak selalu bisa kubagi denganmu, sedih yang tak bisa kuatur.
Saat mereka bilang aku gila, mereka pikir aku tak pernah baik.
Sadar akan sesal, tak pernah menyesal sabar.

12.20

Hidup ini adakala berat.
Sabar melawan takut.
Terapit dusta dan doa.
Aku tak ingin terjaga lama.

Monday, January 12, 2015

Kamu, Kegagalan

Selamat pagi, kegagalan. Orang-orang tengah sibuk tidur menyimpan mimpi. Dan aku tidak ingin menyalahkan kantuk untuk cepat bertemu dengan senyuman dari doa-doa yang indah. Sudah benarkah kamu?

Gila Tanpa Koma

Laki-laki yang sedang jatuh cinta akan terlihat bodoh ketika menjual masa lalunya demi menarik perhatian sang perempuan. Padahal perempuan tidak butuh cerita masa lalu sama seperti ia tidak memerlukan masa lalu untuk kembali diceritakan. 

Melalui pernyataan tersebut bukan maksud hati ingin menjatuhkan siapa. Rasanya, cinta semakin mudah ditebak bukan karena siapa yang bicara namun alasan apa yang paling tepat agar "Kita tidak bermimpi menghadapi kecewa seratus kali". Gila.

Lilin Imajinasi

Lilin tidak menyala sendiri, lilin butuh dinyalakan. Apinya yang kuning menyala dengan tenang. Seakan menatapku tajam. Lilin tidak jahat, lilin menemani ruang gelap. Manusia selalu punya ide dalam dosanya. Lilin mati jika dimatikan. Jangan relakan imajinasimu terbiar.

Tuesday, January 6, 2015

Nihil Rasa

Waktu yang baru datang seperti rekaman ulang di masa lampau. Seseorang tidak memiliki kenangan dalam hidupnya adalah nihil. Kalimat yang terucap atau langkah yang diambil melalui proses berpikir. Rasa takut yang memburu bak tembakan peluru karet. Ia mencium kulit berkerut, mengganggu ingatan sampai nafas terpental seakan sakitnya luar biasa. Padahal bisa sembuh. 

Monday, January 5, 2015

Tuhan, Jangan Marah Besar

Mungkin tidak ada yang lebih sakit selain jatuh. Tidak ada yang lebih kejam selain membunuh rasa sendiri. Jiwa terpukul menahan guncangan hebat. Bukan mau kita musibah terjadi, bukan mau kita menginginkan kesedihan. Di antara salah terselip salah, di antara benar ternoda pula oleh salah. Rasa bersalah, egois, setan dalam hati, beri siraman doa dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Tuhan, jangan marah besar.

Sekelibat Drama

Sudah banyak kata yang terhapus. Aku mencoba tetap mengetik apa yang kurasa membingungkan. Sementara mengetik irama duka tak perlu banyak pertimbangan.

Aku tengah menyaksikan rasa kecewa ibu yang begitu dalam. Mungkin drama atau aku salah berpikir bahwa orang akan melakukan apa saja hanya demi uang. 

Dua hal paling gawat, menuhankan uang dan perasaan. Tapi aku bukan tipikal orang yang suka uang. Namun aku terlanjur menuhankan perasaanku sendiri. 

Manusia gelap mata untuk sebuah tujuan, tapi bisa jadi tujuan tersebut bukanlah apa yang sepatutnya didapatkan. Berbagai cara ditempuh supaya tidak kalah, apa saja asalkan puas.

Aku sendiri tak mau cepat puas agar dapat mengoreksi kembali apa yang dilakukan dan tambah bersemangat tak henti. Ingat, puas tak sama dengan syukur. Puas terkadang buas. 

Barisan-barisan tak tertata rapih. Entah harus menjadi benar atau salah. Semoga kesempatan yang Tuhan berikan tidak datang terlambat.

Menguat

Mata pedas sekali siang ini.
Airmata yang menetes di pipi terbawa angin.
Ia tak ingin terluka.
Hanya saja membengkak.
Semoga Tuhan mengampuni dosaku.
Bathin menguat.

Friday, January 2, 2015

Hari Kedua Januari

Angin kencang tak kasih ampun debu-debu yang mengancam. Langit seakan kosong oleh derasnya hujan.

Para makhluk Tuhan yang berakal sedang risau menagih janji pada dirinya sendiri. Tahun ke tahun penuh makna untuk bersyukur.

Malam tiba dengan cepat. Aku harus berani menerima gambaran hidup lewat mimpi dalam tidur nanti.