Linimasa

Sunday, November 30, 2014

Minggu Duka

Beberapa jam setelah kuunggah foto keranda mayat di media sosial, berita duka datang. Kemudian siang itu cerah menghantarkan kakak dari ibuku ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku tidak ingin terusik alasan "penyakit", sebutan kehendak Yang Maha Kuasa lebih pantas daripada banyak menduga. Hari Minggu ini membuka mataku terbuka lebar, dan aku membiarkan telingaku mendengar jelas, tak enggan untuk merendahkan hati. 

Kematian membuat kita semua kembali "tegur sapa". Hilang rasa benci, lupakan pertikaian. Airmata menetes bersama, bergantian, ikhlas jawabannya. Selamat Jalan ibu yang memiliki tiga laki-laki tangguh. 

Friday, November 28, 2014

Tanpa Dendam, Penuh Sayang

Kesabaran adalah segalanya. Perang bathin selalu terasa sakit. Kata-kata yang terus terhimpit semakin menua. Sudahlah malam, jangan siksa aku karena kau anggap pagi menyebalkan. Ini bukan soal benar atau salah. Tidak juga soal aku yang pasti lemah. Aku ingin cerita terindah tanpa dendam, penuh kasih sayang.

Tuhan, Bicaralah!

Di balik jendela kujepit rokok yang semakin hari menusuk dada. Memikirkan jumlah waktu yang sudah dilalui, aku merasa sangat beruntung. Tak perlu kusebut bagaimana. Biarlah 10 tahun nanti kuceritakan indahnya suka-duka. Itu tak ingin menjadi seberapa tentang mimpi. Aku tak suka berangan tinggi. Cukup yang sederhana saja untuk memuaskan dahaga jiwa ini. Enggan menuhankan uang meski cinta kubawa sujud tiap gerak dalam doa. Apakah aku manusia paling hina? Tuhan, bicaralah!

Wednesday, November 26, 2014

Kubur Rasa

Mengubur semua rasa yang patah lantaran bentuknya tak lagi utuh. Seperti kaca yang pecah tak dapat tersambung dan bisa digunakan untuk menatap diri. Tak ada yang mungkin benar, tak ada yang tak mungkin dalam salah. Keadaan tak sehancur itu. Suasana malam tak selalu sepi dengan gelap tanpa bunyi. Kita yang berakal mengucap syukur lewat nafas teratur. Abadikan ritmenya di tembok putih yang lugu. Saling diam karena masa lalu.

Monday, November 24, 2014

Di Antara Bulir Hujan

Tak ada derita dalam bathin. Tak ada sedih yang harus disesali. Tak ada bahagia dengan pura-pura. Tak ada airmata tanpa alasan. Hujan mengingatkan aku pada dinginnya hati, suasana ini penting. Bukan kesendirian, bukan perpisahan, sederhana saja untuk satu cinta, bertahan.

Tak Serba Salah

Memang bukan untuk selamanya tentang isi dunia. Kesadaran itu terkadang membuatku jadi pesimis. Rasanya tak ingin banyak sikap lagi. Manusia yang serba salah tak boleh lelah. 

Sunday, November 23, 2014

Mabuk Rindu Aku Mabuk

Rindu mabuk, aku rindu setengah sadar banyak bicara. Namun itu hanya sekadar rindu yang tak bisa kupaksakan untuk "kembali" lagi. Rindu mabuk, aku rindu harus punya uang demi banyak teguk tak sadar. Namun masa lalu adalah kenangan.

Masa ke Masa, Takutnya

Kadang aku merasa bodoh ketika terlalu memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Harusnya aku tidak takut apalagi bingung karena telah dewasa. Meskipun "takut" adalah pengecut.

Hari yang terlalui seolah memburu. Kadang aku harus membuatnya nyaman dengan senyum. Rasanya tak pernah bosan memberi apa saja yang terbaik bagi separuh hati. 

Masa yang indah, masa yang terlupakan, masa yang tak pernah abadi.

Saturday, November 22, 2014

Karena Putih Mengaku Suci

Beberapa kali membuang kalimat dalam bayangan membuat iramanya tak mudah untuk diingat. Perasaan teguh pada titik normal di ruang batas yang enggan kuterima. Seperti kedua jempol yang sungkan menolak saat dipaksa gerak demi mencapai garis. 

Apakah hitam selalu terlihat gelap? 

Friday, November 21, 2014

Sebentar, Pergi

Suatu hari nanti bila tulang-tulang jemariku digerogoti ulat dalam kubur, halaman ini menangis sendirian. Tak ada aku lagi yang menggoyangnya menjadi irama tai kucing soal hidup, kebosanan, dan ketakutan dibenci. Lihat berikutnya.


Sukacita Tertuju ke Depan

Segera tiba di penghujung tahun. Teringat 3 tahun yang lalu saat aku berada di bulan pengenalan. Kini aku kembali menjalani rutinitas dan tak lagi kebingungan seperti bulan-bulan kemarin seakan terpuruk tanpa pekerjaan. Alhamdulillah, seorang laki-laki membantuku masuk ke rumah yang baru sebut saja Linikini.

Di setiap perjalanan menuju kantor dan pulang ke rumah aku selalu memutar kembali hari-hari yang pernah kulalui dari atas sepeda motor berwarna hitam-kuning. Kehidupan hanya sebentar, namun aku tak pernah siap MATI. Sujud berjuta kali membuat aku tetap bersalah, iya manusia.

Garis menentukan arah, namun takdir bukan penyebab keterpurukan. Aku harus berani menyambut tahun baru dunia yang fana ini dengan ikatan tali hitam di kepala bertuliskan "Jiwaku Lemah". Terima segala maksud, cara, sukacita, pergilah kegelisahan. 


Saturday, November 15, 2014

Sekiranya Terbiar

Aku tidak ingin kamu kosong, sendirian, dan tidak bahagia. Untuk hati yang baik, jangan biarkan kecewa jadi bumerang. Hari selalu baru ketika berganti. Sore menghilang tanpa pesan namun Sabtu datang mengetuk. Bersandarlah dengan senyuman, sayang.

Thursday, November 13, 2014

Lalui Harus

Mungkin aku harus mengurangi sedikit perhatian ketika dianggap banyak bicara. Aku tak ingin menganggap diri ini paling sabar apalagi merasa benar. Semua yang kulalui begitu berkesan. Waktu menunjukkan keajaibannya dengan syarat sederhana, mengalah.

Apalagi Karma

Karma tidak akan menunggu karma. Mereka anggap karma sebagai Tuhan, yang dapat membalas segala keluhan sakit pasca jatuh cinta. Padahal hati cuma ada satu bukan dua apalagi Karma.

12 Lewat Sudah

Rabu sudah lewat. Aku tahu masih ada hari yang tersisa. Entah sampai kapan penantian ini mengejar kami. Sejuta kenangan harus ditinggalkan. Tempat tinggal kami yang baru, sabarlah. 

Benci Ditemani Kutip Dua

Aku benci dengan "benci". 
Aku benci sama "benci". 
Aku benci tertipu "benci".
Aku benci melukai "benci".
Aku tak pernah menginginkan "benci".

Monday, November 10, 2014

Tidak Tahu Apa, Satu Semua

Luka tak punya banyak alasan untuk menjadi sangat berarti, ketika alasan terluka lebih kecil dari ukuran dusta. Seiya tak pernah memahami gelombang hati yang rusak, maunya hidup ini tak ada perasaan sebesar isi kepala. Logikamu, logikamu. Dalam sunyi logikamu enggan bernada, suntuk di kegelapan. Hiasan dosa menerawang jauh, semoga tak menggrogoti imajinasinya. 

Saturday, November 8, 2014

Lebih Bodoh dari Beda

Tak dapat dibedakan lagi antara yang beda dengan yang tidak. Seperti pendapat yang mempunyai satu tujuan sama namun terus berselisih paham. Harusnya begini, meskipun begitu. Dan tak ada jeda untuk berpikir sejenak, kenapa yang beda tak boleh diagungkan sementara yang sama lebih bodoh. 

Friday, November 7, 2014

Tiga Lebih Jumat Ini

Tiga lebih membacaku perlahan sampai esok tiba ia tetap gugup. Di ujung sirna sakitnya luka tak seberapa untuk terluka lagi. Enggan bermimpi tinggi karena hidup tentang daun ini tumbuh dan gugur. Pilihan membuat kita dewasa bukan menjadi mentah. Usia yang tak seberapa bukan halusinasi. Genggam erat ketulusan hati.

Tuesday, November 4, 2014

November Terima Kasih

Bulan November aku berterima kasih padamu. Perjalanan baru dimulai dengan berbagai macam cara dan keikhlasan. Orang-orang baik yang menghampiriku semoga hidup kalian selalu damai. Sementara orang-orang yang menjauh jangan berharap tak kembali dengan jabatan tangan. Aku buktikan segera! Kutuang banyak sedih dalam gelas yang kosong. Kuminum bahagia yang mengapung di lautan. Aku bukan musuh kalian yang dapat dimenangkan. 

Monday, November 3, 2014

Senin di Hari Sama

Hariku dan sepucuk harapan baru.
Kesempatan datang tanpa diminta.
Terima kasih ketulusan.
Mawar putih tak boleh terluka. 
Semangat ini paling luar biasa. 

Sunday, November 2, 2014

Hilang Gairah

Kini aku semacam tak ada gairah, mungkin waktunya orang enggan lagi bertanya padamu. Siapalah aku untuk berpikir keras harus bagaimana aku? Diamku sudah banyak, aku tak perlu memaksanya jadi bisu. Entah dosa apa yang akhirnya hanya memberatkan langkah manusia jika alasan hidup ini sesungguhnya mencari bahagia. 

Saturday, November 1, 2014

Ibu Jangan Menangis Lagi

Dalam lamunan airmata berkaca.
Bayang-bayang menangis terlalu lama sampai tertidur pulas.
Matahari belum nampak yang ada hanya dingin bekas hujan.
Enggan menanti hari tanpa bahagia.
Semoga laki-laki selalu ingat perempuan yang ia sakiti.