Linimasa

Thursday, December 27, 2012

Mimpi Hati-Hati

Hati itu MIMPI, cinta itu bonus ketika kita sedang BERMIMPI. Maka, jangan biarkan TIDUR itu terlampau nyenyak. Jangan biarkan mimpi itu menjadi HANTU dan esok adalah keresahan. BANGUNLAH tanpa kau tertidur, karena hati saat mati nanti tetap meninggalkan KENANGAN.

Tuesday, December 25, 2012

Di Malamnya Durjana

Isi otakku TERLENTANG, Badanku enggan TELANJANG, Mentari di atas kepala, BERLARILAH di malamnya durjana.

Dan Itu Bukanlah Galau

Satu dan lain hal, alasan aku menunda banyak cinta, inilah hidup. Kalian harus tahu betapa indahnya perang dengan perasaan, kalian harus mengerti betapa sulitnya menyanyi dengan puisi, dan itu bukanlah galau.

Kuku Patah

Potongan kuku menyelinap di kulitmu, ia hanya ingin menyampaikan pesan, suatu hari nanti jika merasa sakit, jangan pernah menjerit, tersenyumlah.

(Lagi) Rindu Lagi!

Pertemuan kita itu selalu menambah kerinduan.

Segera Habis 25

"Tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka yang sedang bergembira di hari perayaan agamanya" Jadi, aku selalu mencoba untuk berpikir sebaik mungkin sejak Ayah memberitahukan hal itu. Kenapa bisa terlontar larangan itu? Aku berbicara bukan dengan seberapa jauh aku mengetahui ajaran agamaku, dan seberapa banyak aku melakukan apa yang sudah agamaku ajarkan. Kemudian, Ayah juga pernah memperingati aku, agar tidak terlalu dekat dengan kawan yang berbeda agama. INGAT! Aku tidak mendengarkan hal yang satu ini. Dewasa ini, banyak rekan-rekan yang tak seagama denganku. Tidak ada masalah. Pada akhirnya aku menemukan jalan tengah. Aku tidak pernah berharap ada ucapan-ucapan dari orang lain saat aku sedang merayakan Lebaran. Entah kenapa? Sisi lain, kupikir harus ada memang yang dapat membedakan. Bukan berarti TIDAK MENGHARGAI. Tapi biarlah, agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku. Kita tidak akan pecah, asalkan jangan mendengki. Kita tidak akan hancur untuk menetapkan jati diri.

Hanya Aku Orangnya

Aku adalah orang yang paling berhak memanggilmu, "Sayang". Ternyata, waktu menggulung mau kita. Tak perlu kuceritakan soalan itu disini. Lalu, kamu tak perlu tahu kapan aku jatuh cinta, begitu pula saat kutahu kau sudah ada yang punya nantinya. Namun, hanya saja kamu perlu memahami kita begini karena kita semakin cinta. Dan perlu kamu tahu, hatiku terjaga.

Judul Menyendiri

Segelas Coffeemix, inilah teman yang baik saat aku begitu resahnya. Banyak berpikir, banyak bicara. Seharusnya dialog itu tidaklah searah, namun pertanyaan terkadang menjadi rahasia. Rahasia indahnya sebuah perasaan. Kita butuh menari lebih khusyu’ saat sendiri, walau berdua tentu akan LEBIH INDAH.

Sunday, December 23, 2012

Sudahkah Hina Hari Ini?

Orang bisa gagal menyampaikan 'informasi', tapi bukan gagal melepas IMAJINASI. Ada yang gila di lubang dekat hidungku, pori-pori YANG TERSUMBAT NODA asap putih. Rokok yang kuhisap seakan berlumuran minyak, tidak enak lalu mengulangnya lagi. Kubakar satu persatu kekalahan, akalku nyangsang di dengkul kaki, entah apa yang paling terluka selain besotan aspal. DERITA-DERITA menata ruangnya sendiri, terbahak-bahak dengan tawa, terngais-ngais dengan sedih, sudahkah hina hari ini?

Kendati Sabar

Ada banyak rasa yang bisa dipahami dari sebuah kesusahan, susahnya orang benar-benar mengerti untuk belajar tentang 'sabar'. Sakitnya sabar menyakitkan kesabaran orang.

Cukup Pelukan Kita

Memandangmu dalam foto, menatap tajam. Lupakan cumbuan mesra, cukup pelukan kita. Hujan tak henti, kita adalah kenangan.

Bersama Kehilangan

"Atasi ketakutanku, 'karya'! Aku ingin selalu larut didalammu, tidur dan bangun bersama bayangmu, " Rasa takutku atas waktu semakin tak menentu! Lelah kutunggu detik ini melambung jauh, irama patah hati yang akan mengatakan bahwa aku tak mampu sendiri. Sekian jangan, aku harus bersama kehilangan.

Saturday, December 22, 2012

Pelelangan di Bulan Awal Depan

Surat peringatan kembali datang, tertulis 14 Desember 2012. Apakah masalah ini tidak ada jalan keluarnya? Berbulan, tahun, rasanya tersiksa tanpa kepastian. Apa yang Engkau beri kepada kami Tuhan? Lemah tak berdaya, lelah tanpa suara. Diam membuat keadaan sedikit tenang. Tak bisa lagi menyalahkan, namun terlajur menggrogoti.

Friday, December 21, 2012

Ketidak(SANG)gupan

Walau kadang tak sanggup (lagi) dan terus-menerus menyanggupi, "Kuatkan jiwaku yang kian melemah.." Aku hanya selalu berusaha berperasaan.

Dua Puluh Dua Belas Dua Puluh Dua Belas

Senyum untuk ini,
Airmata pula yang membawaku jatuh dalam BAHAGIA! Tepat pergantian dari 19 ke 20 di bulan dua belas, segalanya tumpah ruah, dihadiri orang-orang yang punya waktu untukku, terima kasih teramat bagi kamu juga! Tumbuh dan hilang, Airmata menyentil seperempat bagian yang nyata, lalu menari di kelelahan rasa!

Wednesday, December 19, 2012

Satu Hari Masih (Mungkin) Hidup Kembali

Waktu telah membesarkan aku, berikan 2012 ini kekuatan yang luar biasa, bahkan diluar jangkauanku untuk memikirkan satu masalah dan lainnya! Dimulai dari perilaku seorang anak yang terlena oleh harta, luka menetes berbulan-berbulan, gelisah seakan memburu tiap detik yang menyisa, Ibuku tetap tegar hadapi anak-anaknya! Pun Ayah yang baik lepas dari sekedar angan, bahwa ia (mungkin) kembali berbaik hati dengan kerinduan keluarga yang terdalam! Pergolakan bathin, relung jiwa setipis asa putus dan menangis, yang tak pantas kusesali, kamu? Jelang bahagia dua puluh yang usang, beberapa tahun kedepan masih punya cinta, kesungguhan tanpa batas, kelak sadar diri!

Sunday, December 16, 2012

DUA PULUH Lima Ke Atas

Selamat datang pesan-pesan dalam hidup, kita selalu berpapasan dan tersenyum, entah itu saat menjelang siang, saat menanti sore, saat berselimut dengan malam, atau disaat pagi tiba aku terpaksa harus terbangun! Setelah judul, hari tadi cukup membingungkan, dari mulai pergi hingga sampai? Entah ada apa? Padahal aku sehat, mungkin aku kurang luwes menikmati waktu, mungkin? Sekali saja ini aku bisa lebih luwes, kadang hanya mampu bersembunyi di balik kata (lagi-lagi) entah! Aku menyebutnya dua puluh lima ke atas!

Saturday, December 15, 2012

Bangun dari Penantian

Duabelas lebih dan aku suka sekali jam tengah malam. Dua dunia yang menyatu dalam kegelapan, tanpa matahari terasa kita kuat berjalan, juga saat malam habis, sinar panas harus berani untuk dilawan. Duabelas bulan indah dari cinta Ayah dan Ibu, ada aku di bulan duabelas! Hari keduapuluh, sedang apa suster dan dokter saat itu? Ibu pasti manja kesakitan saat ingin melihat wujudku, tak lama aku pun menjerit setelah berlama-lama dalam kandungan. Senyum sederhana menanti kelahiranku, Ibu menjagaku hingga kini penuh kasih.

Tuhan Jahat! Enggak!

Beberapa jam yang lalu, rasa lelahku bercampur dengan murung. Menelusuri jalan di malam hari yang penat, nampak di kiri beberapa orang tengah asik menikmati buah durian. Mobil parkir di dekat trotoar, dan aku melewati semua itu. Tak terasa sampai juga di pangkalan ojek, sepuluh ribu atas rejeki Tuhan aku sampai di hadapanmu. Muka asam, dan entah apa rasanya berjalan kaki tadi, hingga timbul amarah pada diri sendiri. Sebenarnya ingin menyapamu lebih riang, maaf aku yang selalu ingin diperhatikan. Lalu duduk dan kau bangun dari bangku, kurebahkan kepala di meja, terngiangkan "Tuhan Jahat! Enggak!, " berkali-kali rasanya aku ingin melupakan tentang siapa aku dulu. Kemudian kau kembali duduk, "Mau makan apa?" sebelumnya memang aku bilang mual, kau tahu aku sedikit rewel dengan makan. Kitapun beranjak dari tempat pertemuan awal, menyebrangi jalan untuk memesan satu piring menu dari restoran yang menyolok itu agar perutku aman. Selesai dari kelaparan, kita berbincang. Dalam pertemuan, selalu ada cerita-cerita menarik diantara kita, aku suka momen ini, rasanya beda dan lebih nyata daripada telefon genggam. Beberapa kali ada pembahasan yang memukul dadaku, ternyata itu pula campuran kimia kata yang menggelisahkan jelang tidur pada setiap waktu. Sulit menjabarkan perasaanku lagi, terlalu buruk keadaanku, juga ingin membuktikan betapa aku menyayangimu. Andai Tuhan jahat bukan karena aku tak pernah memohon, melainkan kita harus dipisahkan.

Friday, December 14, 2012

Ayah Mendekaplah

Kusadari ada sosok ayah pada telinga yang selalu mendengar, airmata mungkin begitu saja menetes di pipinya (terbayang di kepalaku). Perbincangan di telefon selesai, aku tak merenung sedetik pun dari angan. Tak lama dari itu, hujan turun bersahaja derasnya. Dunia telah mengabdi pada kesenangan semata, tidak ada tarian yang sempurna saat jalanan menjadi sangat licin untuk bisa berputar-putar. Tuhan tahu segalanya, aku punya wewenang dengan masalah yang seberat ini dan aku tak sendirian menghadapi semburannya. Pesan ayah itu agama, layaknya aku kehilangan sosok, ia mengajarkan bagian lain dari sebutir pil yang wajib dikonsumsi tepat pada irama juga waktu, ibadah mendekaplah.

Wanita Lagi

Aku mengenal sebuah tangis, yang mengaung dalam pernyataan: derita di bathin seorang wanita. Lalu, aku hanya tak pernah tenang ketika membayangkan, jika itu terjadi (lagi) bagi hidupku, (mungkin) anak perempuanku di masa mendatang. Kemudian, kuketahui bahwa perjalanan setiap individu adalah berbeda, juga rasa. Tak satupun hal yang sama dapat dijadikan genggaman erat kecuali sedang mabuk cinta. Bagaimana tentang wanita? Kamu bisa menjawab, wanita itu cuma belanja, uang, dandan, airmata. Dan jika akal sehatmu kosong, sebaliknya wanita tak pernah mendapatkan segalanya. Tangis hendak berlalu, jauh dari keheningan malam pekat. Kopi-kopi di gelas yang tak habis untuk berpikir sewanita apa dunia ini, harus berdandan secantik apa kamu? Bila tak satu pun memandangnya dengan cara wanita.

Thursday, December 13, 2012

Sinis-sinis Meringis, Lidah Menangis

Lidah dapat membebelkan apa saja yang dilihat oleh mata maupun tak terlihat oleh keduanya ketika tidak punya 'hati' lagi. Dan apa rasanya kamu yang merasa punya hati? Sudahkah perang dengan dirimu sendiri untuk membalut totolan-totolan perih didalamnya dengan tanganmu sendiri. Pisau dilumati lidah yang kering, apa kekeringan atas perasanya menghasilkan pertanyaan "Apa", lalu sampah dibiarkan saja tertimbun bersama tanah, iya mulut kita kadang meluapkan kata tak guna.

Tuesday, December 11, 2012

Senyum Mas Kondektur

Menunggu kendaraan besar itu sampai di pinggiran trotoar Cibubur. Selama satu jam, akhirnya bis bernomor A 70 muncul. Ini karena aku tak punya pilihan lain, uang pas sembilan ribu. Kunikmati, walau iya sempat mengeluh lantaran matahari menjepit dahiku. Tak lama bis tiba, kondektur tersenyum dari balik kaca, langsung kuberikan sisa uangku tadi, "Langsung tidur, " paparnya. Bukan akrab, mungkin baru satu dua kali ditagih ongkos olehnya saat menaiki kendaraan besar ini. Namun, begitulah senyuman, dapat mengubah segalanya. Ramah dan tegur sapa di siang penuh keringat ini, terima kasih mas kondektur.

Friday, December 7, 2012

Tidak Tragis, Indah

Bis berhenti di pertengahan jalan, aku pernah melihat segerombolan orang mengalami hal sama denganku saat ini. Waktu yang Adil dan Sentosa, dan akhirnya aku mengalami yang mereka rasakan di bawah terik matahari, tak kuasa aku mengeluh, Tuhan terserah kau mau apa?

Wednesday, December 5, 2012

Setiap Tetes Airmata Lebih Bermakna

Airmata akan terus mengalir, dan yang menghentikannya adalah kematian! Jangan berharap esok senang, jangan berharap ada teman yang selalu mau berdampingan dalam kesusahan, jangan terlalu sering tidur dengan khayalan! Selesaikanlah baik-baik pada waktu yang disediakan Tuhan, tata rapih hidup kita dengan sesabar-sabarnya, sabar TIDAK ADA BATASNYA, kelak setiap tetesan airmata tadi akan lebih bermakna!

Masih di Jalanan, Problema Jakarta

Kesemrawutan jalanan di Jakarta tak kunjung usai, sepulang aku dari kantor nampak kendaraan selalu antri merapat di Jalan Jendral Sudirman! Hari ini, hujan turun menggantikan sesaknya polusi yang datang dari kendaraan, (aku menyadari bahwa hampir setiap duduk di bis 640 aku menahan kesesakkan itu) walau jalanan basah namun masih saja timbul hal yang sama, nafas menghirup udara yang telah bercampur panasnya knalpot solar! Tentu tidak mungkin, jika aku berjalan tanpa satupun kendaraan umum ke kantor atau pulang ke rumah dari kantor tanpa uang, dan kini berapa banyak uang yang harus dikeluarkan, aku sedang mengeluh dengan dinding putih ini dengan coretan, andai aku bisa lebih diam daripada harus bilang Jakarta semakin berantakan!

Tuesday, December 4, 2012

Matanya, Manusia

Manusia, matanya diberi cinta langsung, menatap keterpurukkan, menjadi penghibur sayup memilu! Matanya diberi rasa langsung, menguntai kalimat, menapak satu per satu waktu dalam perjalanan, dan yang lain-lain adalah cerita sabar, lalu matanya terdiam, sesaat kutinggalkan!

Aku Hanya Dosa Saat 'Bercinta'

Di setiap ruang nafsu, gairah terbuka berkuasa, mengendap rasa malu, diantara si tubuh dan gemuruh! Lemas tak berdaya, ayunan seakan-akan berwarna hitam pekat, gelap! Gejolak tak menahu berbasuh dosa saat bercinta!

Monday, December 3, 2012

Hujan Menemani Pencemburu

Banyak puja-puji pencemburu, ketika langit menangisi bumi, dekapan hilang lalu datang lagi, dimana kamu, disini aku Tiba-tiba enggan tidur, menimang pikiran, terbangun lagi melihat waktu, malam berlalu, disini aku Masih dirasa ramah, ksatria mencaci-maki puteri raja, hening dalam jemari, HUJAN MENEMANI PENCEMBURU!

Bekas (Bukan) Orang Kaya

Aku tidak mengerti, tentang ke-tidak-jenuhan-ku menulis, walau segelintir hasrat memang tak mau berhenti, Jika aku bertanya, apa ini benar? Jam satu empat puluh lima menit melesat dari Tol Jagorawi, aku tak bebas hambatan, sudut kiriku memandang sadar, sudut kananku tak lagi belagu dalam kemabukkan, semua sudut menyandarkan aku di problema basi! Aku hanya layak tertidur saat pagi menjelang dan aku pulang untuk sekedar meng-istirahat-kan uang! Isak tangis di lubuk hati, bukan kesenangan yang kurindukan, namun nyatanya hari ini jauh lebih baik, jauh lebih berarti! Menyesal itu jauh dari ingatan, keyakinanku terlantar di separuh jejak tanpa nyawa, pasti semua selalu baik-baik saja!