Linimasa

Thursday, April 25, 2013

Tuhan Jangan Marah

Hari yang baik hati, hujan turun siang ini tak terkendali. Seperti emosi manusia yang tak ingin dibatasi, tertumpahkan lalu membuat diri sakit sendiri! Amarah dalam perang, percuma bersenjata namun tak punya nyali. Kekuatan jiwa adalah harga diri, Tuhan jangan marah terlalu lama.

Sudah Mati

Kesedihan ini berlanjut. Bahkan keajaiban menjadi sebuah harapan penuh. Dimana hari yang tak tersiksa? (HATIKU SUDAH MATI)

Kapan Nikah?

Sebenarnya ada pertanyaan yang lebih baik daripada "Kapan nikah?". Misalkan, "Apa hatimu terlalu beku untuk berani mencoba hidup dengan yang baru lagi?". Kebanyakan orang yang menanyakan hal tersebut hanya sebatas kekhawatiran. Bukan persoalan yang pelik kemudian tersiksa adalah rasa sendiri. Silakan berpikir.

Thursday, April 18, 2013

Kuhapus Kesedihan, Kubuang Rasa Takut

Sudah terlambat untuk memikirkan kesalahan. Apalagi berpura-pura merasa sangat menyesal. Tembok-tembok bisu ini lelah menangis. Bisikkan banyak terdengar, dan tak menolong. Kuhapus kesedihan, kubuang rasa takut, kuhargai kesalahan terberatmu ini.

Wednesday, April 17, 2013

Puas Tidak

Sejatinya, kita harus selalu terus berusaha ketika gagal. Namun, kadang kita juga malah tidak melakukan apa-apa saat titik jenuh muncul. Berbicara soal kegagalan, sebagai manusia kita selalu punya akal untuk bisa mencari jalan lain saat yang satunya tak menghasilkan. Di antara jenuh dan akal terdapat hasil yang akan dinilai. Sayangnya, hasil tidak punya pilihan ketiga. Jawaban yang tersedia hanya puas atau tidak. Jika orang merasa tidak puas, maka ia akan kembali memulai perjalanannya sejauh 10 KM tanpa keringat.

Monday, April 8, 2013

Satu Harapan Disini

Rasanya sedikit lega bisa sampai di hari ini dengan sejuta tanya dan ketidaknyamanan yang mengiringi. Sebenarnya ada banyak hal yang tersimpan, lalu tunduk dan diam. Suara tak berteman, aku menanti keadilan satu-satunya harapan hanya dariMu Tuhan.

Friday, April 5, 2013

Jum'at Hariku

Jum'at adalah kado berharga. Sebelumnya mungkin pernah kubilang, bahwa hari Jum'at adalah saksi kelahiranku. Menaruh harapan di Jum'at tentang adilnya hidup ini.

Pagi Semakin Datang

Pagi, akulah teman setiamu. Walau serba kekurangan dan tak mungkin kutemui hati sedamai ini. Belakangan ini banyak dialog yang lebih mudah kucerna, terutama hal yang akhirnya cukup mendewasakan aku. Di antara runtuh yang belum kunjung menemukan jalan keluar. Disinilah tempat bertahan, rumah besar tanpa keakraban, sunyinya sangat pekat hingga dinding-dinding hanya memasang telinga enggan berucap. Semakin pagi, teman-teman datang dan pergi. Sudah kupisahkan pertemuan dan nostalgia. Selagi mampu, Tuhan tetap menuntun.

Thursday, April 4, 2013

TANGGUH!

Menangis bukan berarti terluka, hanya saja KECEWA. Sudahlah, hidup dan rekayasanya. Hidup dengan segala kemungkinannya. TANGGUH!

Jika Kamu Tidak Sibuk, Bolehkah Kita Lebih Akrab?

Basa-basi adalah pertanyaan seputar sibuk. Dalam pembicaraan, selalu ada awalan (memang) untuk menjalin memulai sebuah hubungan. Bukan hubungan cinta saja. Penentuan pertamanya, asumsi si Pendekat yang salah kaprah. Apa setiap waktu dalam 24 jam seseorang itu digentayangi 'sibuk'? Tidak selemah itu. "Jika kamu tidak sibuk, sebut namaku di atas awan!"

Imajinasi Tuhan

Kita harus selalu memulai kesalahan. Berulangkali menyebutnya: maaf. Apalah arti yang dibedakan menuju rumah terakhirmu? Penyesalan berawal dari terabaikannya isyarat. Punya Tuhan lengkap, pemikiran terkadang mencoba untuk memisahkan antara imajinasi dan kenyataannya. Kalian tak mampu.

Buka Tubuh Telanjang

Perkata yang tanpa dibayar, cuma luka. Satu-satunya aliran darah yang terhimpit oleh cibiran juga kenangan. Di antara itu ada mulut-mulut yang berdusta, tangan-tangan yang menangis. Semoga bukan tubuhmu yang telanjang.

Hening di Tangga Merah

Entah apa rasamu kehilangan, kematian yang menjadi sebuah kejadian pilu dalam hidup manusia. Sesungguhnya kita semua juga mesti tau jalan 'pulang'. Banyak hari terlantar, terbuang sia-sia. Banyak pula kepala-kepala yang tetap keras hingga hancur tak tersisa, bungkam jauh dari suara. Rokok yang terbakar menjulur ke dalam sini. Hati yang sunyi tak mampu dipungkiri, mungkin itu maksudmu diam seribu bahasa. Perjalanan panjang terasa mendekat dan semakin sempit. Maukah kau terus menerus dibius zaman? Hening.

Ceria Tak Bernada

Jika aku diam tanpa irama, kau temui bacaan esok harinya dengan senyuman. Itu saja yang kuanggap penting memberikan hati lekas riang. Seperti memperkenalkan sebuah wajah di keramaian. Tanpa begini dan begitu, kertas tak perlu dibakar karena perlu diberi tulisan. Masih berarti, hidup hampa menutup intuisi.

Jatuh Denganmu Tak Kugadaikan

Lebih baik menyimpan daripada tersimpan. Kau bukan buku yang harus kurapihkan. Meja itu selalu hidup dengan kata, jemari inilah yang enggan kugadaikan. Membuatmu jatuh cinta menjadi bagian penting bagi arah hidupku.

Sisa Belenggu

Semua dengan sadar. Sejelek-jeleknya cinta harusnya membuatmu lebih bermakna dari kata absurd. Kehilangan rasa sadar? Itu yang membuatmu sangat jelek. Balik lagi cerita, hanya sisa belenggu yang pura-pura mati hatinya.

Wednesday, April 3, 2013

Menambal Luka dalam Keheningan

Sederet kendaraan mengantri di sudut kiri tak selaras dengan lajunya bis di jalur kanan jalanan utama Ibukota. Bukan itu keluhku! Aku ada di kananmu, percis melewati tempat kita biasa bertemu. Lampu jalan kusam malam ini, dan kesendirian menggambarkan gagalnya 'hubungan'. Bukan soal putus dan terpisah. Namun, kalau saja aku malaikat yang tak perlu lagi dicari-cari kebenarannya melainkan sisa waktu adalah "jalan terakhir kita untuk selalu bersama".

Pikir Saja Sesal

Merasakan serba pilu, lalu jatuh rapuh. Sekokoh apapun itu kamu, perempuan. Bukannya aku begitu peduli saat lelaki sakit hati. Sudahlah pikir saja cerita kalian masing-masing. Harapan tak 'kan sirna selagi kesempatan berdamai. Meraih sesal di gelap malam, menggapai mimpi di teriknya mentari, esok adalah masa depan kenangan.

Tuesday, April 2, 2013

Kotak, Kosong, Pembenaran

Demi mengisi kotak yang kosong, seseorang rela melanggar batas yang ada di pinggiran kotak. Fokusnya pada kosong, bukan pada batasannya. Lalu berpikir kembali bagaimana caranya agar kotak tetap terisi tanpa melanggar? Akhirnya waktu dihabiskan untuk berpikir, begitu pula hidup yang lain kadang terpaku untuk mencari jalan bukan melakukan. Setidaknya jika salah pun murni. Salah bukan harus menerobos aturan, salah seiyanya tak mungkin berbalik. Melainkan waktu yang dipersembahkan adanya diluar pembenaran.

Namun, Tuhan?

Jika tua nanti yang tidak bisa kuharapkan (tetaplah) keabadian. Untuk memupuk perasaan saja butuh seribu malam tempur dengan gelisah, sejuta waktu terbuang sia-sia, dan terpuruk dalam lamunan. Namun, akhirnya manusia akan menyerah ketika nyawa tak lagi dapat ditawar. Tuhan saat ini diperbaharui menjadi bentuk yang lain dari segala macam keyakinan. Mereka biasa menyambunginya dengan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Sesiapapun boleh mencari Tuhannya sendiri, walau sadarnya mereka mati tanpa suara, tanpa pernyataan seperti "Aku lebih percaya Tuhan yang ini dan itu, " atau "Kenapa Tuhan yang itu umatnya berantakan?." Banyak hal-hal yang tidak akan pernah kita sadari soal Tuhan ketika kita mencarinya di ruang khayalan. Nyatanya, ada tanah, ada air, ada angin. Sekejap semua bisa hilang tanpa tanya, tanpa perdebatan, tanpa perbandingan. Seakan dunia ini terus menerus hidup saat dihabiskan untuk mencari Tuhan.