Linimasa

Tuesday, May 31, 2016

Adalah Kita

Kesalahan yang kita perbuat membuat kita hancur. Kita adalah bagian terkecil bumi yang sombong. Kita merasa bisa mendahului kebahagiaan yang belum datang. Kita menuntut kesedihan berhenti sementara kita lemah menghadapi airmata. Kita keras kepala membenturkan kepala dan gigi menjadi pertentangan hati. Harusnya kita tidak hancur, tidak sombong, tidak merasa benar, tidak menyerah, selagi bumi dapat dipijak dan nafas berhembus. Kita yang pandai berbuat salah, kita pula yang sanggup memperbaikinya.

Saturday, May 28, 2016

Begitu Datang, Tak Kunjung Selesai

Senja tidak datang sendirian, mungkin ia bersamamu.
Pagi begitu sakit, mungkin banyak salah.

Entah apa maumu..
Kau hancurkan apa yang mereka bangun.
Tak jera melihat mereka menderita.

Sadarlah, walau sebentar pun tak sedikit menyisakan tawa.

Wednesday, May 25, 2016

Pengecut Menyimpannya

Harapan membuat orang bertingkah seperti pengecut. Tidak bergerak hanya menatap dari kejauhan. Sirna pula harapan bagi orang pengecut. Hidup tidak akan pernah berubah dengan diam. Pergerakan selalu membuahkan hasil. Meskipun harus jatuh, divonis kalah, dan tidak berdaya lagi.

Oleh Diri

Setiap orang menanti esok yang berbeda. Pastinya bukan derita, luka, apalagi airmata. Tapi orang tak dapat menghindari bencana yang datang, mungkin esok. Dimana penderitaan terkadang diciptakan oleh dirinya sendiri. 


Monday, May 23, 2016

Kira Hati

Merasa kesepian itu tidak enak, sayang. 
Bukan berarti kamu tidak punya waktu untukku.
Mungkin kesepian manja.
Bukan berarti aku menuntutmu 24 jam.
Mengira hati berpaling, namun ternyata lebih gila.

Friday, May 20, 2016

Berdua Kita

Sampai pada titik dua puluh dalam sendiri. Apa sebenarnya menanti puisi cinta yang baru? Mungkin bahagia sendirian hanya dalam hati. Esok kau mempercayaiku untuk tetap disini. Biarkan matahari terbit tanpa banyak bicara seperti sediakala. Malam tiba membawa sepi lama. Sadarlah kita berdua. Hanya berdua.

Tuju

Cinta membutakan kami yang tidak buta. 

Sampai akhirnya setengah pandangan hilang ini menjadi pesan terakhirnya.
 
Jatuh cinta untuk dinikmati tanpa kendali. 

Apa kami bodoh mempertanyakan drama?

Mereka di luar sana merakit bahagianya perlahan. 

Seakan berkorban demi membahagiakan yang lainnya. 

Mereka di luar sana membangun istananya perlahan. 

Walau tidak satu pun yang membantu termasuk orang yang mereka tuju.

Raga Disini

Apakah aku harus jadi orang tolol untuk merasa sedih? 
Tangan yang datang tak mungkin kembali.
Biarlah penyesalan.
Rasanya kita jadi manusia, kadang hilang.

Begitu kejam rasa. Begitu sakit raga.

Selesai Percaya?

Gelembung malam meletus di kepala.
Airmata berlalu tanpa penyelesaian.
Tak ada yang pasti di dunia.

Hadiah bagi orang yang kecewa adalah sabar.
Setiap nafas yang hilang tak akan pernah kembali.
Tempatmu bukan tempatmu. Selesailah percaya.

Thursday, May 19, 2016

Tak Pernah Berarti

Suntuk bergumul dalam tangisan.
Malam tiba dengan tatapan kosong.
Aku benci kata "sibuk".
Seperti yang terlupakan.
Menghapus luka dan menumbuhkannya di atas kepala.
Segala penyesalan tak pernah berarti.

Wednesday, May 18, 2016

1 Lagi

Rasanya tak lagi sanggup,
jiwa dan raga lelah,
bibir tertutup,
menuhankan pasrah.

Kosong seperti kaleng minuman yang habis dilibas dahaga. 
Kosong seperti pandangan duka atas dunia fana.

Bosan mencari, tertunduk, mengemis, tertatih, seakan kematian dekat. Satu sentimeter lagi.

Dia, Cerita, Dinamika

Ketika menikah dia bukan lagi sahabatmu yang utuh seperti dulu. Tiap kali senang, bersama. Tiap kali sedih, berdua. 

Senyum lepas tertinggal di ujung meja sana setelah aku mengelap sisa kopi di bibir dengan kebahagiaan.

Saling mengadu sakit dengan diam. Tidak ada yang penting utamanya bungkam. Tidak ada lagi dialog mendalam kecuali menatap tajam dari kejauhan. Masa lalu membuntuti tak berkesudahan.

Janji tenggelam bersama ribuan cerita sederhana di ujung kuku yang patah. Hari ini dia utuh menjadi dirinya sendiri.


Tuesday, May 17, 2016

Sebatang Ancaman

Resah hati tak tertuju, siapa, dimana, apakah hati perlu arah tuju?

Dialog air dan angin mengeras di telinga. Lipatan kaki menguat berbekal angan.

Masih banyak batang yang tersisa. Harapan tengah kuhisap dalam-dalam.

Sesal, bathin beradu, tanpa ampun membayangkan baru.




Itulah Haru

Kesedihan selalu sempurna, kesedihan membuatku harus menjadi diriku sendiri, menangis, dan diam tanpa satu pun kata, semua sakit, rasanya sesak di dada. Apa yang kulihat tak lagi bisa kubaca, apa yang  kurasakan belum mati, ialah satu-satunya yang hidup, tumbuh, semoga erat.

Terima Senyum Kasih

Senyum yang datang, senyum yang hilang. Mata berburu senyum-senyum yang senantiasa membahagiakan. Tanpa berpegangan tangan, mendekat apalagi bercumbu. Bayangan senyum mesra menghiasi bagian otak yang pudar. Terima kasih senyum kasih.

Cinta Dalam Semoga

Cinta menemukan keadilannya sendiri. Ketika mereka pemilik cinta asyik tidur pulas, mata ini tak sanggup terpejam. 

Pagi selalu menanti sambutan yang hangat. Cinta terlupakan oleh waktu yang digenggam begitu erat. 

Semoga saja cinta mengenal dirinya tanpa diadili bukan tentang siapa.

Saturday, May 14, 2016

Sakit Romantis

Romantis itu kadang sakit, misalnya sendirian. 

Segelas kopi susu manis mengental di tenggorokan. 

Terbunuhlah sepi! 

Dan aku tak ingin terus terbebani. 

Sementara mereka asyik tatap muka dan bertukar nafas. 

Entahlah, aku yang beruntung atau mereka memang ditakdirkan lebih dulu bahagia?

Thursday, May 12, 2016

Sebentar Kali Ini Saja

Aku ingin memilikimu sekali ini saja tanpa hati atau tidak adalah ketersiksaan bathin yang tak ada habisnya. 

Suatu Saat Kita

Kita akan menjadi debu di kehidupan orang lain, suatu saat ketika angin memanggil untuk terbang. Jauh di antara ribuan kilometer, berusaha tetap tenang menelan ludah-ludah basi.

Friday, May 6, 2016

Hati-hati Hati

Hati tidak ingin merana, 
mereka bilang sakit.
Hati tidak ingin terluka,
mereka bilang dusta.
Hati selalu ingin menang menjadi hati.
Hati rela dikalahkan demi hati.
Hati bernafas perlahan, menanjak dan terjun dalam kebebasan. 

Istirahatlah hati hati yang lelah.