Linimasa

Saturday, February 27, 2016

Kita yang Dipastikan Bisa!

Kamu, cerita kecil yang besar di hatiku. Jangan pernah lelah menjalani hidup ini. Entah bagaimana caranya menahan rasa sakit. Tuhan baik memberikan kita pelajaran untuk bertahan kuat. Kamu bisa, aku bisa, dan kita pasti bisa! 

Cerita Roti

Saat aku sedang menatap layar sambil berusaha merangkai kata, bingkisan datang. Bukan kaset, CD, apalagi vinyl. Tapi sepotong roti kesukaan kita yang kau sengaja kirim. Romantis! 

Kadang aku kesal denganmu, tapi rasa cinta begitu besar. Sadarilah itu! Terima kasih untuk perhatian yang luar biasa. Semoga lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Peluk aku dimana pun kau terbaring.

Thursday, February 25, 2016

Sinyal Biru

Ketika aku berendam di kolam penderitaan. Hidup.. hiduplah! Dan ketika aku merasa bahagia. Mati.. Matilah!

Aku hanya sementara..

Wednesday, February 24, 2016

Kisah Hujan Si Malam

Malam, dia beruntung di malam sedingin ini bersama pendampingnya. Setidaknya dia tidak sendirian, kedinginan, dan harus menanam rindu di ujung ingatan. Tubuh yang mulai mengurus, sabarlah. Aku sedang mempertahankan perasaan. Perhatikan saja aku dari kejauhan. Lalu, mendekatlah ketika aku mulai goyah. Jangan sampai aku terjatuh untuk kedua kalinya di atas kasur yang sama.

Sunday, February 21, 2016

Suatu Pagi Nanti

Wangi pagi tak dapat kuendus.
Aku lupa rasanya nikmat.
Kopi terbakar sejak berbulan yang lalu.
Apakah aku mampu melepaskan tali-tali yang kuikat sendiri di tangan dan kaki ini?

Entah..
Aku penakut.
Aku pengecut.
Semoga wangi pagi suatu hari nanti dapat kuhirup.

Sunday, February 14, 2016

Minggu Rasa Rindu

Mendung, petir bersahutan, duduk dengan segelas air putih, ambil rokok dan bakar. Rindu itu tenang, bebas. Sayangnya tidak bertemu. Syukurnya bisa dinikmati. Aku, kamu.

Monday, February 8, 2016

Rindu & Kalah

Rindu bukan main. Tapi malam ini rindu menjadi abu. Siapa aku? Aku sadar posisiku. Rindu tersimpan adalah kekalahan. 

Hancur Siang

Selamat siang, hancur.
Akhirnya, aku terbuang.
Hancur terasingkan.

Jangan menangis, hancur.
Pejamkan mata, dan percayalah yang pantas akan datang, yang menyakiti biarlah berlalu.

Satu Langkah, Satu Asa

Satu langkah pun tidak.
Aku hanya mampu iya.
Entah bodoh atau kalah.

Sakitnya begitu sakit.
Cinta yang belum sanggup kulepas, kubiarkan bebas, dan lebih bahagia dari kisah denganku.

Sunday, February 7, 2016

Di Ujung Celah


Sudah, kamu maklum saja. Keadaanmu bukan keadaannya. Selama ini juga maunya tak selalu maumu juga. Maka tak ada yang harus disesali dengan marah, tangis, derita. Inilah kamu yang sebenarnya. Aku yang sebenarnya hanya bisa mengetik, sesekali membaca lagi, luka dan kenangan. 

Saturday, February 6, 2016

Sore, Hujan, Aku Bahagia

Teman-temanku sudah memiliki pasangan hidup. Mereka sedang menyambut kelahiran anak pertama, kedua, dan seterusnya. 

Mereka sibuk menata rumah tangga, menambal tembok kontrakan yang bocor, mencuci pakaian dalam suami, dan mempertahankan kebahagiaan yang mereka bentuk. Entah sampai mati atau hanya sandiwara. 

Sementara aku masih terpaku mendengarkan hujan. Ini pilihan yang harus kurenungi. Aku belum membuka hati, tetap menutup diri, semoga tak pernah ada sesal, dan aku percaya Tuhan Maha Mengampuni.

Hujan Kekasih

Kekasih, dimana pun kamu berdiri, lepaskanlah gundah itu, sebagai pengganti dari rasa sepiku. Kekasih, hujan tak berhenti, seperti perasaanku padamu terus melaju. Kekasih, aku sebenarnya nyaris kehilangan akal, berkali aku sampaikan. Berulang kali rokok kubakar, diam, dan gemercik suara hujan ini begitu mendebarkan. 

Kuatkan!

Kuatkan aku menjalani apa yang sudah menjadi keputusanku. Kuatkan aku menghadapi apa yang seharusnya kuterima. Kuatkan aku, Tuhan. Meskipun terkadang aku larut dalam kehancuran.

Thursday, February 4, 2016

Aku, Sudahlah

Sedihnya, kehilangan akal untuk terus bertahan cinta atau berusaha "jatuh cinta". 

Tak pernah mencari apalagi menemukan. Entah sampai kapan aku mengekang diri. Sudahlah, aku. 

Wahai Benci

Matilah kebencian di bawah tanah yang kupijak. Tenanglah disana bersama wajah barumu. Jangan kembali lagi membunuh nafas yang sesak. Aku rela kehilanganmu wahai kebencian.


Kira-kira Begitu Sakit

Kamu yang sedang tidak mendapat tamparan dan sakit hati mungkin masih bisa tersenyum lega. 

Sementara aku hanya sanggup membaca komentar mereka sambil berpikir "apa aku ini gila?".

Aku bertahan dengan segala kesakitan. Aku sudah tidak lagi bisa menangis sesuka hati.

Sakit di dalam.


Wednesday, February 3, 2016

Sekilas Andai

Andai saja kesepianku bisa kutukar dengan kesepianmu. Andai kebahagiaanmu bisa kau tukar dengan kebahagiaanku. Tapi semua rencana Tuhan. Sejak bersama mungkin tak pernah berpikir akan sering berpisah. Sejak bersama mungkin tak pernah berpikir akan tetap baik-baik saja. Jika itu benar baik-baik saja sampai nanti. Terima kasih kau benar-benar mencintaiku.