Linimasa

Thursday, December 31, 2015

Penghujung Tahun

Tuhan, aku tidak ingin memikirkan soal hati. Aku tidak ingin jatuh sakit lagi seperti bulan sembilan. Kuatkan jiwaku yang rapuh. Ampun! 

Cinta Bukan Kesalahan

Sakit hati jangan biarkan aku semakin terpuruk sakit. Sakit hati pergilah dengan cerita barumu yang lain. Jangan ganggu kesedihanku. Jangan usik rasa sendiri ini. Sakit hati, cinta memang benar.

Sunday, December 27, 2015

Adakah?

Hari yang indah bagi jiwa yang sepi. Mungkin hujan segera turun ke bumi. Basahi hati yang sedang gelisah. Menghitung detik yang teraniaya. 

Adakah rasa yang manis bagi kami yang datang dengan keikhlasan? 

Sudah Minggu

Sampai bertemu nanti sore dalam kebahagiaan. Aku tidak membawa hadiah kecuali ikhlas. Jangan menahanku dengan kecurangan. Semua ini sudah membuatku MATI RASA.

Saturday, December 26, 2015

Segera Menang

Aku berharap aku tidak menyesal di kemudian hari. Sekarang aku hanya bisa diam memerhatikan kebahagiaan orang. Mereka bukan aku, dan aku bukan mereka. Jadi aku tidak perlu pusing. Tidak ada kata terlambat untuk menang. Sabarlah, hati.

Hati Pemalu

Orang akan menemukan pasangan hidupnya saat harus rela kehilangan cintanya. Sesungguhnya hati tidak akan pernah terlihat jelas di mata karena hati pemalu. Manusia punya banyak rencana atau tidak sama sekali ingin menciptakan sesuatu yang berarti. Cinta bukan satu-satunya alasan mereka untuk bertahan dalam kesendirian. Kadang mereka terpaksa mengorbankan kesendirian orang lain demi mempertahankan cinta sebenar.

Friday, December 25, 2015

Aku Hanya Mengaku Manusia

Hari ini, besok, tidak pernah ada. Terbelesit untuk menyusun kata barusan. Yang berbaris rapih akan sampai pada pintu utamanya. Manusia berhadapan dengan manusia. Manusia tetaplah manusia, bukan anjing atau setan. Jawaban yang dibisikkan terdengar orang lewat lagu-lagu sumbang. Di antara doa dan diam. Kita tidak sedang berada dalam lingkar keajaiban. Ampuni dosa hamba, Tuhan.

Rasa Gambar

Tidak ada yang menggambarkan rasa sebagai rasa. Gambar akan terbaca saat rasa dirasa. Begitu melihat gambar yang terbaca adalah rasa gambar. Kemudian gambar yang tak terlihat adalah rasa.

Thursday, December 24, 2015

Tiap Malam Pengampunan

Bersyukur menjadi sebuah kesempurnaan. Apakah aku orang yang paling terlambat bersyukur? Semoga Tuhan mengampuni dosaku, yang lalu dan kini.

3 Tahun Lagi

Aku mengganti hari dengan tahun supaya aku tegar. Aku banyak lupa semenjak darah membeku di otak. Jika ini hukuman yang harus aku terima, maka kurelakan. Jika ini menjadi kebahagiaan bagi mereka, maka kuikhlaskan. Maaf, aku seringkali mendesakmu dengan cemburu. Doakan aku bisa menerima segalanya.

Monday, December 21, 2015

Tiga Dekade, Tiga!

Tiga angka kecintaanku yang kujaga selama bertahun. Tiga dekade tanda bahayaku yang mudah rapuh. Aku tak ingin terhempas lebih jauh lagi dengan tiga dekade ini. Sewajarnya aku pantas bahagia, tak selalu seiya sekata. Mata kananku yang masih mencari. Semoga ia menemukan terangnya. Tuhan, jangan bosan menjagaku!

Sunday, December 20, 2015

Seminggu Setuju

Orang bilang tentang hari ini. Aku menyebutnya Minggu cepat atau lambat pasti datang. Semua hal yang menakutkan aku percaya. Hidup ini indah, hidup ini cinta, dan hidup ini tanggungjawabku sebagai manusia.

Rasa 30

Beginilah rasa 30. Pikiranku mudah kosong semenjak bulan sembilan. Aku orang kacau yang tidak ingin menghina. Bungkam mulut yang kasar demi mencuri perhatian lebih banyak. Hatiku sudah hancur entah bagaimana bentuknya. Rasanya saja sudah tiada. Senyuman tetap menari di atas kepala. Terima kasih kamu yang menyempatkan diri untuk menyapaku dengan hangat. Kado tersimpan manis dan semangatlah kamu.

Tuhan! Tuhan!

Sementara tak ada tempat senyaman doa. Aku tengah berbahagia kemudian terdiam karena satu perkara. Mungkin aku akan selalu salah. Berharap ada kesempatan untuk menjadi yang terindah di matamu. Tangan tak selalu berpegangan, tubuh jauh untuk mendekap. Eratkan jiwa kami yang guncang, Tuhan.

Saturday, December 19, 2015

Keraguan yang Salah

Rasanya ingin kuhabiskan tahun ini dengan cepat. Tapi semua pasti melalui waktu yang penuh kejutan. Adakala pikiran ini tenang, kemudian robek seketika. Mungkin rokok yang hanis kubakar itu memang tak berguna. Setidaknya aku berhasil melamun tanpa kekosongan. Isi pikiran yang datang dan pergi terus memburu hingga tiba kebahagiaan mereka. Namun bukan untukku. Bahagia sepenuhnya, keraguan yang salah.

Nyanyian 30

Bertambahnya umur nanti seperti sebuah ancaman besar. Angin berbisik, "kapan kamu berani?" dan aku kembali menelan ludah. Hidup ini tidak sepahit yang kurasakan. Berhenti di 30 atau menganggap diri benar-benar pecundang!

Terima Saja

Dinding hati ini gelap sampai tak nampak ujung sinarnya. Mencekik nafas-nafas tak bersalah dan akulah orang bodoh. Pilihannya, makan rindu atau tersiksa. Sudah, terima saja. 

Friday, December 18, 2015

Harapan Tersisa

Lama-lama aku lebih baik mundur. Seperti perlahan aku mendekatimu dulu. Entah perasaan apa yang begitu berat. 

Tentu waktu tidak akan pernah memihak padaku. Perjalanan ini masih panjang. Nafasku seakan tenang.

Padahal aku gelisah jarang bertemu. Aku ragu kau benar-benar rindu. Ketika waktu bersamanya lebih banyak nantinya.

Tuesday, December 15, 2015

Di Antara Bahagia

Kalau aku menyerah pada hidup ini, bagaimana dengan ibuku? Dia tegar dan hebat menghadapi masalahnya. Aku tidak seperti dia. Tapi aku harus tetap semangat. Uang bukan Tuhanku. Uang bukan kebahagiaan sesungguhnya.

Sore yang Sejuk

Jika saja aku bisa menuntaskan gelisah hati detik ini, pasti kulakukan tanpa menunggu persetujuanmu. Namun, aku bukan pemberani dan memilih membiarkan orang yang sabar menunggumu itu berbahagia sore ini disana. Atas nama sore yang sejuk, sakitku bukan sakitmu. 

Selasa Pagi

Pagi sang pemberi harapan, dan mata yang sulit terpejam lagi. Berbatang rokok kembali kubakar. Sakit hati lama-lama juga sembuh, biar dewasa. Hari-hari indah tinggal disambut, mencoba untuk tetap tenang. Saat merasa kehilangan arah, aku sadar Tuhan tidak kemana-mana.

Sunday, December 13, 2015

Tentang Ingin Kita

Seperti baru sedetik yang lalu kita saling melempar senyuman. Rindu kembali membasuh hati. Apa kau ingat jumpa pertama? 

Cinta tidak berada di hadapan kita. Memang. Hingga waktu terlewati, kau tak bosan menatapku dengan cinta. Ketulusanmu, inginku.

Friday, December 11, 2015

Hidup, Mati, Kenyataan

Takut mati, tapi kadang lebih takut hidup. 

Kesempatan yang datang begitu cepat pergi.

Kita cuma punya semangat, dan harga diri.

Apa kabar kemarin?

Hari yang dihadapi tantangan yang harus selalu disyukuri!


Sunday, December 6, 2015

Kekasih Dijaga

Buat apa aku sedih disaat melihat kau begitu bahagia dengannya? 

Wahai pembaca, jangan tertawa! 

Aku tidak ingin kalian mengerti, apalagi menganggap aku hancur. 

Wahai pembaca, pegang erat tangan kekasihmu. 

Jaga kekasihmu sebenarnya.

Minggu Lagi

Minggu tak selalu milikmu, tak selalu milikku, tak selamanya milik kita yang senang berduaan. Kekasih datang, kekasih pergi. Suatu hari tanpa kekasih, dan terbelenggu lagi. Sudahlah, aku pasrah dipatahkan!!!

Saturday, December 5, 2015

Enam Minggu di Hadapan

Tuhan memberikan aku sakit paling tersakit sepanjang hidup. Semoga tidak ada sakit susulan. Persoalan sembuh apa tidak, aku pasrah. 

Hari bahagiamu semakin dekat. Mungkin akan menjadi perpisahan yang paling menyedihkan bagi cinta. Tapi sudahlah, aku harus terima dalam keadaan sakit.

Bukan hanya dia yang tersenyum puas di sampingmu tapi mereka yang selama ini membenciku. Selamat, kalian menang. Tepuk tangan untuk kita semua.

15:00

Cinta terangkum dalam sebuah perjalanan. Pendek atau panjang, kecil atau besar, sempit atau luas, dan manusia berhak menentukan jalan yang mana. Cinta semakin kejam. Menusuk bagian tersakit, melempar kertas-kertas berisikan goresan pena biru, tertanda "aku cintamu".

Thursday, December 3, 2015

Setitik Lagi

Kenangan sedih ditatap. Bagaikan ombak terombang-ambing. Sadarlah aku dengan diam. Lepaskan gundah gulana. Pencarian berakhir. Di ujung waktu kita tertatih.

Cinta Bukan?

Dulu kita selalu menanti hari ini untuk mengingat cinta. Tapi itu dulu, bukan sekarang. Waktu berjalan dalam perubahan. Kita tidak lagi terlihat benar-benar saling membutuhkan. Mungkin pendamping terbaikmu adalah masa depan bukan cinta.