Linimasa

Wednesday, February 26, 2014

Cinta Tepuk Tangan

Cinta bertepuk sebelah tangan menjadi ketakutan kecil setiap perasaan yang berada di pinggir. Untuk memulai tepuk tangan hanya butuh keberanian bahwa suara yang muncul tidak menganggu orang sekitar. 

Sunday, February 23, 2014

Bangun dari Pelukan

Hujan mengisi setiap sisi yang hilang. Mewujudkan keberadaan pada barisan yang kosong. Tak ada mulut yang beradu. Kita percaya wangi mesra bangun dari pelukan.  

Saturday, February 22, 2014

Sabtu Februari

Sabtu datang begitu mesra di ujung Februari. Jika esok penyesalan maka tak ada lagi AKU. 
Derasnya hujan menjeritkan "Aku rindu, aku rindu padamu."
Tak henti bersenandung "Peluk aku sebentar."
Kemudian panas sebagai harapan baru pada Tuhan matahari. 


Friday, February 21, 2014

Merindu Lagi!

Wajah merindu di kacaku. 
Malam terbalut sepi, aku rasakan rindu lagi.
Suara gemercik air bekas hujan mendekatkan aku pada wangimu. 
Tak ada ketukan pintu, seakan semua kosong.

Thursday, February 13, 2014

Di Hari Tanpamu

Aku hanya biasa terluka, hanya mencoba untuk tak terbiasa melukai, hanya berusaha tidak terluka. Dimana aku, di hari tanpamu.

Sembuhlah Hati

Baru hitungan minggu. 

Tersiksa belum sembuh.

Rindu tak sanggup ditebus.

Sudah harus ikhlas.

Wednesday, February 12, 2014

Saat Ini, Selamanya

Senyum yang tulus tak 'kan mudah sirna. Kapan terakhir kita bertemu? Jawab ini dalam hati. 
Aku tak mengingatnya sebagai penyesalan karena tetap ingin rindu. 
Wajah-wajah hilang tak kembali.
Luka terbalut perjalanan indah yang 'kan mewangi sepanjang hidup kita. 
Suaramu mendesah selamanya di telingaku, walau kenyataan kalah untuk dibandingkan.
Hidup penuh warna jauh dari gelisah ketika kita saling menatap tanpa dendam. 

Tuesday, February 11, 2014

Tulismu

I LOVE U, tulismu dalam senyuman. Dan seketika perasaan ingin kembali mengalunkan irama paling mesra. Kita tidak akan saling melupakan. Simpan aku serapih mungkin. 

Monday, February 10, 2014

Sebut Aku Rindu

Di ujung gelisah.
Selamat tidur yang akhirnya tak lagi tersampaikan. 
Aku menyesal.

Selamat Bebas

Mungkin saja selama ini rasamu yang lain terpenjara.
Aku senang melihat banyak percakapan yang tak biasa.
Jika pernah aku kurang dan maafkanlah. 
Jika pernah aku berlebihan, lupakan. 

Nan Pekat

Menuju pagi nan pekat akan kesepian. 
Sudah lebih dari seribu irama menangis.
Ia turun dari langit gelap tanpa permisi.
Aku tahu bahwa kehilangan adalah sedih.

Dan aku sadar ketakutan ini pada akhirnya terhapuskan.
Mereka yang sedang tertawa, mungkin juga tidak mau tahu.
Setidaknya mereka tak lagi bosan melihat cinta yang tulus terpancar dari dua pasang mata tak bersalah. 
Esok masih ada waktu untuk bergulat dengan rindu tak berbatas.

Aku siap mengatakan iya lalu memeluk awan sambil tersenyum.

Sunday, February 9, 2014

Lagi, Sedih, Dini Hari

Sebenarnya aku ingin sekali menahan airmata ini supaya tidak terasa asin di bibir. Supaya aku sadar bahwa kau dapat berhenti untuk mengingat apa saja yang indah. Seakan-akan kita tak punya hati padahal kalau mereka mau tahu cuma kita yang paling bahagia. 

Saturday, February 8, 2014

Aku Rindu, Aku Tersiksa

Ramai namun merasa sangat kesepian. Menikmati rindu dengan airmata. Hati tak dapat terbujuk. Aku tidak mau ini, aku tidak mau itu. Aku mau kamu, aku tersiksa! 

Memutar Kembali

Tempat biasa membuat kita terbiasa. Sabar untuk menunggu, tetap tersenyum walau begitu kesal.


Tak pernah kita menyesal. Apalagi merasa paling berdosa membangun mimpi di setiap malam, berdiri tegap pada petang.

Ingatku bahwa kesetiaan tak perlu lagi diuji apabila rindu menyerang hingga sakit namun hanya satu nama yang muncul dalam benak. 

Kamu. 

Pengorbanan Abadi

Tak ada waktu sedikit pun berhenti melakukan pengorbanan. Selama kita merasakan sangat sayang. Kita tahu apa yang harus kita perbuat.


Menuju senja aku gelisah, detik-detik yang terkadang sulit berkompromi. Namun kekuatan hati mengalahkan logika. 

Gerimis di sore itu terasa manis, sekali lagi kita tahu bahwa apa yang kita rasakan selama ini adalah tulus. 

Kemudian hari-hari seakan memaksa untuk beralih pada titik perhatian. Datang dari hal-hal yang kecil. Aku terpukul, kita bersedih. 

Setidaknya ada perasaan tetap setia pada senja yang mesra, kau tahu betapa enggan aku menolak segala rasa jika bersamamu. 

Sore berselimutkan rindu, Sabtu menusukku.

Racun, Selimut dan Romantika

Kita ini tidak berjodoh!
Kita ini tidak percaya bahwa kita tidak berjodoh!
Kita ini tidak berjodoh bahwa kita tidak percaya! 
Entah kapan aku melamun di depan kaca meratapi wajah kusam yang tak kubenahi lantaran sibuk terlalu percaya diri.
Odol tak dapat kutelan, air kubasuh, gigi terhantam sikat, selimut menimbulkan luka, jera aku meminum racun yang kubuat demi romantika berujung prahara. Tanpa sapa, aku kesepian. 
Kita ini tidak berjodoh menusuk-nusuk telinga, ampun.

Disini Bising Trauma

Trauma begitu mengerikan. Kuputar lagu yang pernah mendesahkan kita, dua nafas, dua badan yang menyatu dalam hasrat, merajut nafsu, sementara di luar sana semua orang bising akan status. Airmata tak sanggup membayar, waktu membuktikan semua. Kawanku bukan lagi kawanku! Kucatat nama-nama kalian sebagai penghargaan ketika hancur dihancurkan!

Sekali Sakit Tetap Sakit

Nasib menjadi kalah ialah mutlak. Emosi yang percuma. Terima kasih untuk pemandangan yang muncul di Jum'at ini. 

Friday, February 7, 2014

Tidak Punya Lupa

Mencoba pura-pura tidak rindu. Membiarkan isi kepala sakit. Menahan perasaan dengan hebat. Aku tidak menyediakan sedikit pun waktu untuk lupa. Tidurlah bersama airmata kita. 

Thursday, February 6, 2014

Peran yang Dihilangkan

Tertidur pulas dalam suatu saat dimana kau tahu kita sangat takut kehilangan. Mesra berbuntut airmata yang terikat akan tangisan abadi. Tak mudah menjadi mereka atau memaksa mereka untuk menjadi seorang yang terbaik bagi hati. Pagi mungkin sempurna dengan secangkir kopi mengumpulkan asa di separuh jiwa merana. 

Terang untuk Semoga

Entah apa detik ini? 
Terbelenggu, mungkin.
Sebagian asap memudar.
Wajahku menua.
Tanpa imajinasi, luka.
Dicambuk kecewa.
Pantulan janji.
Semoga hidupku terang.

Wednesday, February 5, 2014

Cambuk Asa

Andai waktu yang dapat kuputar kembali maka tak akan kubiarkan kecewa ini datang. Malam yang pekat banyak kita lalui, pagi dengan sapa hangat hingga tertidur karena jauh untuk memeluk diredam. Aku sadar mereka disana dan disini segera bahagia nanti, walau selama ini hanya sekadar bertanya di pikiran penuh negatif. Tak kurang apalagi lebih aku dicambuk.

Selasa Kupeluk

Rindu selalu kita anggap sebagai pemanis dalam sebuah kisah cinta, rindu yang ternyata kita mulai hari Selasa kemarin lewat salam perpisahan. Mungkin tak ada hal yang lebih penting kecuali menyimpanmu sementara hidup-hidup di lubuk hati terdalam. Sejam serasa setahun, semenit pun tak ingin berhenti meratapi kekalahan ini. Aku betah dengan kasih yang tulus, rasa sayang yang mudah marah dan tersenyum lama.

Tuesday, February 4, 2014

Hati itu Sangatlah Klise

Dusta telah habis, menangisi api yang sengaja ia padamkan. Tetesan peluh pun sirna, hari menyuruhku diam dan melamun. Padahal aku serba rela, namun ternyata aku tak serba bisa. Misalnya tak bisa membuat mereka mengerti hati, menjabarkan bahwa cinta tak selalu khusus. Lagi pula sehati itu sangatlah klise. 

Masih Disini Hujan

Terlelap dalam bunyi hujan. Malam belakangan ini merdu. Pujangga sibuk diam berselimutkan gelisah. Separuh hati tak ada irama. Nafas pincang dibantai airmata. Sesak tak berarti. Aku masih disini.

Monday, February 3, 2014

Pagi dan Terus Bermimpi

Senin (3/2) ini terlalu dingin, terlalu menyedihkan untuk bersikap lebih baik karena aku hanyalah perempuan. Huruf-huruf tak bernyawa pandai menangis. Tak melukai, rela dikoyak hatinya. Semoga suatu saat kau temukan yang pantas. 

Sunday, February 2, 2014

Restorasi Bayang

Genangan air tergilas roda-roda yang tak bersalah di jalanan, tak ada yang dipersalahkan. Kutemui hari-hari untuk terus menatapmu dengan badan tersungkur demam yang tinggi, aku tak mungkin kehilangan. Begitu saja sekiranya harapku yang jauh. 

Di Pagi Yang Kucintai

Mari terlelap dipejamkan malam nan sunyi tanpa takut dan merasa hina. Cinta menghembuskan nafsu yang ditiduri hingga bangun terikat peluk. Suatu hari jika kau ingat senyuman, jangan hilangkan bibir kecilku di matamu.