Linimasa

Friday, July 29, 2016

(Belum) Terlambat

Kadang terlambat mengungkapkan, kadang terlambat bertindak, kadang terlambat membuatku sakit. 

Kadang terlambat membuatku semakin kuat, kadang terlambat menyiksaku, kadang terlambat jawabannya.

Kadang aku tak heran atas keterlambatan ini. Kalimat panjang yang disemogakan lidah ibuku, jemari ayah yang tak pernah lelah berdoa, dan mereka tetap berpisah.

Apakah waktu terlalu baik? Kadang aku bosan merasa terlambat.

Monday, July 25, 2016

Tiga Puluh Tahun Kecil

Seperti baru tiga tahun padahal sudah tiga puluh tahun berlalu. Lagu begitu cepat menjadi kenangan. Ketika masa kecil pikiranku harus terisi, sudah besar pikiranku terpaksa dikosongkan. Entah apa sebenarnya yang terjadi? Kadang aku malu mengakui kesalahan. Tidak ingin menyalahkan keadaan. Sepenuhnya langkah milik kaki-kakiku. 

Tuhan, sekali lagi jangan marah. Aku ingin kuat.

Thursday, July 21, 2016

Dingin Menjadi

Tidak ingin tidur, tidak ingin bangun, dan tidak ingin berpikir. Kemudian sebagian ingatan hilang. Seperti lelah terbangun, sulit tertidur.

Rasa bukan hitam yang gelap atau merah yang berani. Ingatan menjadi dua sisi gelap tanpa arah. Seperti berjalan hanya dengan kaki.



Tuesday, July 19, 2016

Sunyi Tersiksa

Sunyi bosan melihatku sendiri.
Sunyi muak dengan lamunan jorokku.
Sunyi tertawa menyaksikan sandiwara.
Sunyi rela berbagi dengan diam.
Sunyi, temanmu aku disini.

Kejam, Manusia

Kejam!

Manusia kejam!

Andai saja dengan mengeluarkan airmata detik ini aku bisa tenang. 

Andai saja aku berani melepaskan belenggu dalam diri.

Kejam!

Manusia kejam!

Andai saja aku bukan pengecut. Pasti aku bahagia dari siapapun yang merasa berkorban lebih banyak.

Saturday, July 2, 2016

Selesaikah?

Kepedihan membuatku terbiasa untuk tenang.
Tak sanggup menatap ibu menangis karena anak lelakinya.
Sudah pilu bukan kepalang dengan janji-janji palsu.
Tuhan memang adil.
Tuhan memberikan rezeki kepada manusia secukupnya.
Yang lebih musnah.
Yang kurang ditambah.