Linimasa

Monday, September 29, 2014

Tak Hilang Oleh Doa

Tak selalu diam itu berarti iya, tak selalu banyak bicara menandakan tidak. Andai hati bisa ditebak, andai saja pikiranmu sampai di ujung nadiku. Jangan putuskan asa yang mengalir dengan doa. 

Sunday, September 28, 2014

Muram, Pergilah!

Sore ini aku harus pergi dengan wajah yang muram. Aku sedang tidak enak hati. Pikiran burukku tak bisa disimpan sementara. Hatiku seakan dicuri dan tak akan pernah dikembalikan. Aku tak ingin sembarang membuang perasaan sesakit apapun itu. Mereka bukan TUHAN!

Pasrah Bukan Tuhan Kita

Jangan membiarkan dirimu teraniaya karena ancaman besar. Tuhan tidak tidur dan terus mengasihi. Tangan-tangan yang baik segera mendekat. Singgahi ruang kosong untuk kau isi sebagaimana mestinya bukanlah pasrah. Perang datang dengan perintah, sementara peluru habis bukan berarti kalah. Kuharap kau tak rela. Istighfar!

Tiada Tidak Ada

Kesempatan bisa diciptakan. Tak melulu dianggap tidak akan pernah datang lagi. Haruskah bertuhan pada manusia yang juga hadir sebagai pemuja keajaiban? 

Jangan MENYERAH dalam KETIADAAN. 

Mudaku Kini

Umurku semakin muda. Ia larut dalam kesendiriannya. Keresahan itu tunduk oleh waktu terindah. Disini sampai hari dimana akhirnya umurku sanggup untuk memilih, bukan karena sayap-sayap tak bisa lagi terbang, kaulah anginnya.

Cegah

Semakin kita takut, kita tenggelam dalam ketiadaan. Takut yang menghantui begitu sulit diatasi, kita pun terdiam. Hati tak banyak bicara namun tetap salah. Semua orang melihat bukan mendekat. Orang yang baik tak pernah mendesak apalagi menjatuhkan harga diri kita demi obsesinya. Menjauhlah tangan-tangan kehancuran. 

Rutinitas Kopi Malam

Tengah malam dengan segelas kopi hanya sekadar memeluk lelah sehari kemarin. Dewasanya hari menunjukkan banyak jalan untuk bangkit dari kalah. Siapapun bisa mengaku kecewa, terluka, ketika terlalu percaya diri, padahal sendirian, bukan keputusan berdua. Laki-laki, perempuan, atau lebih tepatnya manusia yang diberi nafas oleh Tuhan jalan menggunakan kaki-kakinya. Itu yang kita pasti tahu, namun bukan berarti kita bisa mendapat pertolongan semudah apa yang kita tahu, rasa sakit memijak duri, dan harus tetap berjalan. 

Thursday, September 25, 2014

Mata Sore

Sore tak boleh sia-sia. Jadi biarkan ia menangis ditutupi dua kaca. Kiri-kanan yang telah menyaksikan suka dan dukanya. Selain hati, mata tetap melihat.

Semangat Baru Lagi

Pagi, harapan baru. Entah baik atau buruk dalam dua pilihan selalu ada cerita yang mengesankan. Aku harus mampu bekerja. 

Wednesday, September 24, 2014

Sadarlah KarenaNya

Waktu itu aku tidak punya pilihan kecuali bersujud padaMu, membiarkan airmata jatuh lemas diiringi ayat-ayat yang Engkau turunkan. Sementara keputusan yang ada kurasa mengacaukan hati. Aku banyak dosa dan sekarang masih melakukannya. Doa-doa bagi terkasih. September belum habis, Tuhan tahu diri kita. Dimana kita berpijak, kita tertawa dan berbagi kesusahan. Tak ada kegelisahan yang abadi karena petunjukNya lebih pantas bertindak dari kesedihanku. 

Tuesday, September 23, 2014

Singkatnya Berani

Sakit hati tak mengubah keadaan menjadi lebih baik, akalmu yang harus cerdas. Jika obral mulut punya harga diri, berani paksa bunuh rasanya. 

Jodoh Pasti Berpisah

Manusia senang bermimpi. Mengelu-elukan pujaannya. Seakan pertemuan menjadi satu kepastian. Namun perpisahan tidak akan pernah. Seolah-olah keseriusan pasti menang. Aku memang bodoh. Maka aku tak mungkin mengaku tidak kalah. Kesenanganku menderita karena perasaan. Jodoh mereka Tuhankan. Aku bukan jodoh. Kamu bukan jodoh. Cinta tak perlu jodoh. Cinta adalah bagaimana sayap kiri-kanan yang patah tetap bisa terbang.

Bukan Doa Cinta

Doa terbaik bukan untuk cinta, mungkin. Kita jarang mengendalikan diri, manusia ingin terus dimaklum. 

Semua terasa biasa tanpa lamunan. Air mengalir tak seberapa besarnya kobaran api. 

Kekasih baik di tepian sungai kecil, jangan kau hilangkan nama di kepala. Jemari belum mau berhenti. 

Ketakutan lebih dari api yang sedang membara. Usaplah air yang mengguyur wajah-wajah kehilangan.

Tak Kenal, Rindu

Rindu tak kenal waktu.
Rindu sungguh manis.
Rindu betapa hebat.
Rindu selalu datang.
Rindu kamu.

Ujung Kaki, Ujung Kepala

Aku berharap kau tak berpura-pura. Tunjukkan kesungguhan yang baik dengan akal sehatmu. Semaksimal mungkin berpikir jauh. Ujung kaki hingga ujung kepala, tak sempurna. Dewasa bersama raga, jiwa, dan tertatih rendah hati.

Kopi yang Dingin Diindahkan

Tak cukup dengan keseriusan. Proses selalu menarik untuk dijamah. Wanginya harus kuat. Tak perlu melontarkan bualan semu. Kenyataan pahit kapan saja datang. Merenung di balik segelas kopi yang sudah dingin. 

Jangan Tunduk Pada Dusta

Harusnya tak terburu-buru, harusnya tak begini, apa dayaku. Harusnya tak tersiksa, harusnya tak begitu, apa salahku. Jawaban tak pernah kalah, namun pertanyaan menekan. Jangan sakit, jangan lain di bibir lain di hati.

Monday, September 22, 2014

Sore Itu Kita


Ingatlah, sore itu tak dapat kita ulang. Sore itu saksi bagian yang hilang. Dan sore itu cerita selamanya. 


19.09

Senyum paksa memang menyebalkan. Wahai Tuhan, kesempatanku sekali dan ini harus terakhir kalinya aku patah hati. 

Coret Orang Ketiga atau Jadi Orang Ketiga

Pilihan hidup baik suka maupun duka. Sebelumnya aku tak pernah berpikir soal judul ini. 

Mungkin panggilan jiwa yang guncang. Aku menanti aku sadar siapalah aku? 

Diantara Peran Bathin

Kasih yang tulus. Oh, kekasih bahagia. Senyum yang tulus. Oh, kekasih beruntung. Ketulusan pasti menang hingga perang bathin. 

Waktu ke Waktu Tak Menyisa

Patah hati membuatku tak ingin lagi jatuh cinta. Rasa pilu yang mampir ke ujung nadi tetap bungkam tanpa jalan.

Serba enggan ini cukup menyiksa. Pembaca yang kasihan belum sempat menangis.

Airmata tak penting kalah. Mereka boleh tertawa hingga bulan dua belas.

Bukan Benci

Sedih ketika merasa kau bukanlah yang dulu lagi. Namun apa dayaku untuk kenyataan sepahit apapun. Tuhan Maha Segalanya. Aku berusaha tak membencimu seperti mengenalmu.

Sunday, September 21, 2014

Mungkin Sanggup

Setiap tersiksa aku berharap keajaiban datang. Aku tak punya simpanan waktu untuk mengulang masa lalu tanpa banyak tekanan. Cinta tak mau pergi. Semoga aku sanggup.

Hari Ini Bukan Selamanya

Tidak begitu penting untuk memaksa diri menjadi seorang yang paling berarti di hidup orang lain. Alasan hati berkali-kali hanya membawa kehancuran semata. Aku biarkan pengorbanan yang tulus adalah saksinya. 

Friday, September 19, 2014

PadaMu

Di depan mataku permadani kita. Kurasa seperti tak ada lagi yang adil soal cinta. Seberapa pentingnya koma itu menjadi titik bukan kalah atau menang. 

Tuhan, aku harus bicara dengan siapa? PadaMu. 

Cepat dan Menyakitkan

Judul yang sakit untuk dijelaskan panjang. Aku tak punya ide lagi untuk sedih. Hancurnya tak tersambung. Entah. 

Satu Dua Tiga

Ketika pilihan tak berpihak padaku. Sadar tak mampu menghilang. Kondisi hati terjaga rapih. Satu, dua, tiga tak akan berakhir. 

Hari Kadang Menusuk

Hari yang kadang tak lebih tenang dari sekadar bicara pertemuan. Semua umur guna logikanya. Jalan-jalan lebar yang tak berperasaan. Mata saling menusuk dengan alasan ingin bahagia. Monyet kekacauan! 

Jumat Nostalgia Malam

Terngiang 201, kita sempurna, rindu. Sebungkus kopi terakhir dan aku tak ingin memikirkan soal rencanamu. 

Berita baik mereka bukan sepenuhnya milikku. 

Malam yang indah berlalu. Suka, cita, rasa, airmata hangat dalam pelukan. Harusnya tak ada keraguan.

Semoga aku luluh dengan bujukanmu.

Tuhan, aku memang banyak dosa. Jangan ceraikan aku dengan bahagiaku. Sedetik saja, biarlah aku bertahan.

Wednesday, September 17, 2014

Arrival di Hatiku

Sejuta rindu 'kan berakhir dalam kehangatan. Teringat pertama kali menantimu di keramaian. Detik ini tak jauh keadaannya. Cinta tak boleh sia-sia.

Kecewa Terikat Batas

Seakan rasa kecewa ini tak terobati. Kecewa yang tak seharusnya kurasa. Tuhan Maha Pengampun, siapalah aku? Dua mata ini tak dapat melihat lebih dekat karena jauh. Dua telinga ini tak dapat mendengar karena terpisah batas. Seumpama dua hati masih sanggup saling mengasihi, biarlah Tuhan, jangan hukum aku lebih berat.

Sekadar Itu

Harapan, cita, asa. Sebelum takdir datang lebih cepat, aku bergegas menciptakan waktu yang terbaik untuk kita. Aku bukan orang baik, kamu bukan segala-galanya namun apa salahnya cinta? Nada tak bernafas, suara pilu dalam pengampunan. Hati tak pernah utuh bagi orang ketiga. 

Tuesday, September 16, 2014

Biar Sapa Tetap Datang

Sudah pukul enam lebih mataku tak kunjung menyerah. Padahal tidak disuruh menunggu sampai pagi. Semestinya jera namun apa dayaku inilah kesungguhan. Demi waktu yang tertinggal biar sapa tetap datang. 

Habis Menang

Aku ingin sekali menangis agar lepas dari keresahan. Namun ternyata airmataku sudah habis. 

Seminggu ini keadaan paling kejam bagiku. Pikiran seakan hebat padahal tubuh melemah.

Ketika aku mencoba pahami situasi, waktu malah kembali genting. Entah sebenarnya apa?

Tak ada kekalahan yang abadi begitupula menang.

Sepagi Gelisah Parah

Dzikir, terima kasih membuatku sedikit lebih tenang. Meski aku gagal memejamkan mata, setidaknya aku belajar untuk pasrah. Rasanya aku mulai tak sanggup mendapatkan gelisah bertubi-tubi. Akalku yang mungkin sehat buram membedakan mana bohong dan jujur. Tuhan bersamaku pagi buta ini menanti alasanmu nanti.

Monday, September 15, 2014

Lima Tak Berarti

Apa kau sedih bila aku tak merasa cemburu? 

Pertanyaan bodoh membuat kita tak ingin berlama-lama termenung. 

Hari bosan disebut buruk karena manusia yang paling sempurna.

Apa kau kecewa bila perasaanku terbagi? 

Cinta tak pernah berharap begitu. 

Berdua Luka

Pada akhirnya aku harus terbiasa menjilat lukaku sendiri wahai kasih. Sebenarnya ini luka kita berdua. Luka yang bukan sepenuhnya kau rasakan. Biasanya aku langsung mengamuk, mencaci maki, dan gegabah. Namun kali ini aku diam dan mencoba tenang. Aku hanya tak ingin menertawakan tingkah serba salahmu nantinya. 

Pedih dan Sakit Termaafkan

Aku selalu tahu apa saja tentangmu sekecil apapun itu karena aku mau tahu. Aku tidak bisa marah ketika melihat hal yang sebenarnya cukup mengecewakan, diduakan. Aku terpaksa meredam kesalku demi kebahagiaan mereka. Semoga perasaan ini tidak mati begitu saja tanpa ucapan selamat tinggal. 

Friday, September 12, 2014

Kita Cinta!

Kegelisahan bathinku harus mereda demi kamu. Aku menghindari segala pikiran yang membuatku sangat geram. Tak dapat memukul apalagi mencaci maki keadaan. Mimpi bukanlah kenyataan, kenyataan bukanlah mimpi. Sederhanakan cinta kita.

Tak Sia-sia Bukan

Jumat bagiku spesial namun beberapa kali Jumat memaksaku untuk pasrah juga dengan hari lainnya. Suara burung di balik jendela membuatku takut bersuara kemudian hati ini terasa sakit sekali. Harusnya aku tak menyiksa diri karena nafas yang semakin sesak tak akan sia-sia. 

Guncang Gulana

Aku sedang asyik bermain dengan pikiranku sendiri. Aku sedang bergembira sambut kekalahan. Aku sedang banyak diam menahan sedih. Aku sedang tak ingin mengamuk. Aku guncang. 

Wednesday, September 10, 2014

Bertahanlah, Nasib

Oh, nasib. Mengapa kau nampak sedih? Sudahlah nasib kita bergembira saja.

Oh, nasib. Apakah waktu dapat diulang? Sudahlah nasib kita bukan Tuhan.

Oh, nasib. Mungkinkah kecewa terobati? Sudahlah nasib kita hanya manusia.

Aku Sabtu, Kamu Minggu

Akhir pekan. 
Iya, aku hanya ingin bilang "Aku Sabtu, kamu Minggu."

Setiap bangun dari gelisahnya tidurku, perasaan ini harus dibuat baik-baik saja. 

Hari kita pasti indah.

Tuesday, September 9, 2014

Jangan Larang Aku Bahagia denganmu

Setiap judul yang tercipta disini membuat lega. Pembaca tak perlu menyelami isinya. Jangan larang aku bahagia denganmu. 

Aku sedang merasakan banyak hal yang "tidak enak" dari mulai makan hingga tidur. Jujur saja menyiksa. Bayanganmu menghantui detik, menit, jam yang berlalu tanpa permisi.

Sewajarnya kekasih, aku takut kehilangan. Aku tahu suatu saat nanti  kita tak punya waktu memikirkan sejuta kekonyolan ini. 

Untuk memilikimu tak semudah itu, aku berhasil menaklukkannya. Hati mana yang rela diduakan? Aku tak perlu sebut apa dan siapa. Cemburu perlahan terkubur. Pasir yang kugenggam menjadi kenangan walau semuanya pasti lepas dan hilang.

Aku dan Racun Hati

Aku takut kamu marah lagi, kesal lagi, dan semakin tertekan.
Aku terpaksa meruntuhkan artinya sayang, si cemburu itu demi mereka.
Aku memilih untuk berpikir positif dengan segelas kopi, berbungkus rokok, dan menantimu pulang.
Aku mau kamu lebih sabar dan tetap menyayangiku sampai mati.

Monday, September 8, 2014

Kau Selalu

Tak ada pilihan untuk jatuh cinta lagi karena lagu yang kuputar bukanlah nostalgia.

Langit gelap tak enggan membagikan cahaya kecilnya menari di atas kepalaku. Sungguh dramatis!

Dan hari ini kau berhasil melepaskan rasa takutku dari sangat menderita, hanya kau yang bisa. 

Jika Aku, Bukan Mereka

Jika nanti aku tak punya cara lagi, aku berharap kau memelukku lama. Jika nanti aku tak punya rasa lagi, aku berharap kau memelukku lebih lama. Jika aku hadir dalam kebahagiaan mereka karena benar aku mencintaimu. 

Hati, Pahamilah

Aku melihatmu disini, percis di hadapan dalam bayangan.
Aku tidak gila karena ini rindu yang paling mesra.
Aku lelah berusaha untuk mematikan rasa, nyatanya cuma kamu. 
Pahamilah hati yang tak dapat berubah lebih buruk dari adanya. 

Maaf untuk Kesekian Kali (Teduhlah)

Kita percaya bahwa airmata adalah kekuatan untuk mengenal diri. 
Kebohongan bukan jalan buntu agar hati tetap utuh. 
Perdebatan membuat kita sangat kecewa bahkan nyaris putus asa. 
Kau menjelaskan banyak waktu yang akan berjalan tanpa mata, hati, dan telinga.
Kau simpan aku untuk kisah terbaik, demi aku kau rela tersiksa.
Kita percaya janji yang kita buat, kita sadar kita saling menyayangi.   

Sunday, September 7, 2014

Tanpa Harus Marah

Selalu ada tempat terindah bagi orang patah hati. Misalnya kebahagiaan yang tertunda. 

Akal ini lelah, tahu bahwa perasaan tidak layak untuk dinikmati.

Aku merindukanmu setiap saat aku mengingatmu. Airmata menetes lagi. 

Tersiksa luar biasa. Entahlah harus apa kecuali diam membiarkan sikapmu, tanpa harus marah. 

Tak Ada Siapa?

Siapa saja boleh menusukku, asal bukan kamu. Meski kamu terpaksa harus mengecewakan aku dengan kebohongan. 

Hari ini serasa tak ada lagi harapan. Aku banyak menangis, diam, dan tak dapat mengontrol diri. Wajarnya aku mengalah. Kenyataan pahit yang kukecap, kusimpan rapih.

Tak ada penggantiku, sayang.

Saturday, September 6, 2014

Malam Minggu Bukan yang Lalu

"Disaat menunggu, dalam ketidaktahuan, aku diam menikmati hingar bingar suasana, malam minggu tercipta untuk kita berdua saat itu, disini terasa sepi, gelisah, dan tak berarti, aku menantimu," kataku padamu, kalimat yang akhirnya cuma bisa kunikmati sendiri. 

Jangan sedih yang kau cintai acuh, tidak berada di pikiranmu. 

Ponsel Diam

Aku menantimu setiap bangun tidur.
Layar ponselku menyala dalam harapan hingga pertemuan kita tiba, entah kapan!
Mungkin aku salah karena diam sementara kau asyik bercerita. 
Rokok yang asyik terbakar semakin pahit di mulut. 
Mengapa diri seakan tak lagi berkesan?
Jauh membuat segalanya tak berarah.


Thursday, September 4, 2014

Pertempuran Bathin!

Sejak siang tadi aku berusaha tak banyak tanya. Aku tahu keadaan ini sungguh menyiksa kita. 

Renung Salah

"Tidak dipercaya itu bisa buat orang merasa tertekan."

Aku renungi.


Takut, Menjauhlah

Takut, menjauhlah sekarang! 
Takut, pergilah!
Takut, jangan dekati aku!
Takut, aku tak butuh kamu!
Takut, matilah!

Paling Sedih

Hari-hari yang resah. Seakan aku yang selalu mengaku salah. Itu saja yang bisa kuungkapkan oleh perasaan dan tetap salah. Aku harus mencoba pasrah. 

Wednesday, September 3, 2014

Setiap Selamat Pagi

Waktu yang datang tiba-tiba, rasa yang tumbuh dipaksa hilang, ketika hanya berakhir selamat tinggal, sedih. Sabarlah hati, tak ada pertikaian buatmu nanti, entah kapan. Kalimat terus menari dalam putaran. Tanpa suara keras, bisikan manja, kekonyolan, kuharap kau bahagia setiap ingat "Selamat Pagi". 

Tak Boleh Pedih

Bicara apa saja, berubah kapan saja. Aku harus pahami perasaanmu. Anggap saja aku lupa hari ini. Tentang waktu yang tercipta dari sejuta pengorbanan. Tetapkan saja hatimu, bukan aku mungkin siapa. Airmata kuusap perlahan, tak boleh pedih. 

Tiga Nanti

Cintaku tak akan membuatmu dewasa. Tumbuhlah ingatan di atas tanah yang mengering itu. 

Cerita akan berlanjut dengan senyum dan murung. Renungan pagi ini terlalu menyiksa.

Catat pukul tiga nanti tentang doa serta pengampunan.

Tuesday, September 2, 2014

Selamanya Disini

Apabila waktu berhenti maka aku hanya ingin yang terbaik dengan diam. Aku tak mau menyiksamu dengan banyak tanya, mengekangmu. Apabila waktu memaksaku pergi suatu hari nanti, jangan bersedih karena kau berjanji menyayangiku selamanya.