Linimasa

Wednesday, October 29, 2014

Aku Tak Ingin Lupa Puntung

Duduk sabar menanti. Duduk sabar menunggu. Duduk sabar dengan rasa yang sama. Aku terbiasa. 

Puntung rokok mulai berserakan di dekat kaki. Segelas kopi membantu mata agar tidak redup. Aku tak pernah lupa ini.


(kantin MT. Haryono)

Tuesday, October 28, 2014

Hidup Ajaib

Hidup dengan hal ajaibnya seperti menikmati rokok yang kubakar dengan korek api di bawah sengitnya matahari. Mana tahu hari ini ada kebahagiaan yang tak terduga datang, mana tahu esok harapan terwujud bagi orang-orang yang lama tersiksa hatinya. 

Misalnya

Untuk sebagian kecil, manusia terlihat besar.
Untuk sebagian lebar, manusia terlihat sempit.
Keinginannya untuk memiliki lebih besar dari pemikiran yang sia-sia.
Keinginannya tak lebar untuk sesuatu yang kecil sangat bermakna. 

Misalnya kenal diri sebelum berharap cinta datang karena terbiasa. 

Tak Baik 'Tuk Dihindari

Ketika orang menganggapku tak baik sampai akhirnya benci, aku berpikir hidup ini begitu adil. Pertimbangan benar atau salah, aku tak menginginkan dendam itu hadir. Hari-hari yang kuanggap sederhana semoga tanpa pamrih selalu. Tak ada maksud menyakiti apalagi membuat diri terhina. Biarlah Tuhan satu-satunya yang mengenalku, di antara jiwa yang tak lagi utuh seperti sediakala ibu memanjakan tangis. Aku tak hebat berpaling muka untuk melakukan niat terbaik karena ketulusan adalah rasa. Mata tak perlu melihat, telinga silakan mendengar, dan hati tak rela menyakiti. 

Tuesday, October 21, 2014

Semua Kapan

Dengan mengetik jemariku tidak menganggur, maka aku suka mengetik, otakku lebih banyak lagi kata, berpikir apa yang kutuangkan. Kadang membual perasaan terlalu sering membuat pembaca menjauh, orang di dunia nyata memang sudah jauh. Ini bukan curahan hati, parahnya omong kosong. Malam bukan siang, sore bukan pagi yang tak ingin hadir. Tidak sama berputar di tempat yang sama. Uang menempel di kepala dan kaki. Aku harus bekerja, kapan aku kembali bersemangat? Aku harus punya uang banyak, kapan aku mencari? 

Monday, October 20, 2014

23:23

Susah tidur membuatku harus berpikir harus apa lagi, bukan mau apa aku dengan mimpi nanti. Obat yang kutenggak ini menyiksa. Tidak memberikan nyaman malah bikin gelisah. Doa-doa sudah kupanjatkan namun belum ada pertanda baik. Apa aku paling berdosa sampai harus mengantri lama agar dikabulkan? Sudah basi celotehku ini untuk mengguyur permadani dengan air kembang lepas derita. 

Kali Ini Panjang

Aku tidak tahu maka aku harus cari tahu sampai aku tahu. Kadang ini hanya berbuntut sakit hati. Iya, kehidupan mengajarkan kita untuk tetap sabar dan ikhlas. Lupakan sejenak tentang percintaan yang mereka anggap kebohongan, berpura-pura, dan tidak punya nyawa. Aku berjalan sebagai manusia, ingin dikenal sebagai manusia bukan musuh, bukan seorang yang menjijikkan, misalnya segala anggapan buruk yang memuakkan kembali menyerang, aku pun masih manusia bila mengelak. Umurku mendadak tua jika harus menangis di jalan yang benar dan mengaku tidak salah. Biarlah urusan Tuhan, yang paling BERKUASA. Hukuman bagi dusta, kehilangan, ketakutan, aku tak menginginkan keduanya membebani. Aku tak perlu banyak bicara lagi, seharusnya. Karena pengorbanan tak kenal pamrih, waktu tak pernah bohong. Hari ini, kemarin, selamanya.

Kita dan Gugurlah

Kita tidak bisa mencegah seorang yang tengah bosan untuk tetap mesra. Kita tidak bisa merasa tetap jatuh cinta karena gugur harapan. Kita adalah lilin-lilin yang menyala dan dipadamkan.

Berantakan Sementara

Tak ada sesal untuk menjadi lebih baik setelah keluar dari zona nyaman tempatku dibentuk. Kuiringi segala bingung dengan pertimbangan dan hasilnya tetap bingung. Aku tak mau kehilangan "diri". Jiwaku masih utuh meski sesekali terguncang merasa masih hebat. Tuhan adil. 

Empat Selamat

Pagi menginginkanku bangun bukan tidur. Siang menyuruhku terus berjalan tanpa mengerenyitkan dahi. Sore seperti cuaca kenangan yang tak mungkin berlalu. Malam tak lepas dari rasa bersalah dan untaian selamat membenci.

Kembali di Kantuk

Kantuk yang hilang dimana. Aku menunggu di permadani seakan tenang. Pinjamkan mimpi pada bunga malam. Rayuan pagi tak boleh dipidana. Hancurkan dusta di dalam jeruji. Wajah sakti turun dari langit. Rendam segala bayang-bayang. Kembali di titik.

Thursday, October 16, 2014

Harapan di Ujungnya

Menjelang tidur aku harus mengalah dengan pikiran. Sudahlah yang serba sakit, mengecewakan. Aku ingin membiarkannya tenang tak terbuai melulu oleh perasaan. 

Melihatmu di pertigaan rasanya aku masih ada harapan untuk menjadi kenangan. Terbaik atau terindah bukan soal pilihan. Kuharap ketulusan hati masih mau bicara hati.

Luka Tolol

Senang berkenalan denganmu wahai luka. Kamu datang tiba-tiba tanpa bunyi gerak kaki apalagi menyodorkan tangan. 

Menarik bukan? Luka kubanggakan. Dia membuat aku seperti orang tolol. Sementara tolol itu pasti dibuang.

Wednesday, October 15, 2014

Detik Ini Diam Ini

Malam bisa menyuruhku diam tanpa suara namun ia tak dapat menghentikan jeritan. Akhirnya kata-kata yang berantakan di kepala mulai tersusun di halaman ini. Tak ada hari besar dan kecil selain hati yang mulia. Tak ada genggaman paling erat kecuali rasa tulus tanpa pamrih. 

Buka Tutup Jendela

Menutup jendela yang terbuka. Membuka jendela yang tertutup. Apakah jendela sudah tak berdaya rela dibuka tutup? Inisiatifku tak punya kendali. Syukur bila inisiatifku berarti bagi mereka yang merasakan dari titik awal. Diantara luka dan rerumputan berduri yang terpaksa kupijak, tak ada alasan untuk menolak menjadi teman selamanya di balik kaca tanpa jendela.

Di Jiwa Hilang

Anak perempuanmu sedang gelisah. Ia semakin tua bukan dewasa. Semoga kau tetap sabar. 

"Ade sll di jiwa pa2." (4.16)

Monday, October 13, 2014

Kopi Gula Merah

Aku tawanan yang sengaja tak hadir dalam perang. Setiap bathin yang pernah tersiksa tak rela menghukum diri dengan kesendirian. Aku bukan penjahat yang berpura-pura baik. Gemetar menuliskan ini. Setiap waktu yang hilang berhasil mengembalikan jiwa. Aku guncang, bangkit, kuat berdiri ditemani beban. Tersenyum di atas kopi gula merah bersama ancaman.

Sunday, October 12, 2014

Kemudian Tumpahkan

Aku seperti sedang berada di detik terakhir jatuh cinta. Rindu kembali membalut hati dengan manisnya. Senyuman tak begitu saja hilang meski wajahmu lesu. Esok adalah cerita baru. Kita harus menyambutnya penuh semangat. Kuharap gelisah ini menjadi pembelajaran dari sisa mabuk semalam yang tak perlu diulang. Tuang airmata di gelas yang kosong kemudian tumpahkan.

Kuat, Lupakan

Kuatlah sayang. Lupakan hari yang kau anggap cukup mengkhawatirkan. 

Doa Oktober

Sudah Oktober. Rumah ini masih terbelenggu. Tuhan Maha Segalanya. Kami tak putus berdoa. 

Karena Aku

Karena aku tak akan lelah menjagamu dengan pengorbanan. Karena aku tak akan meninggalkanmu dalam kesusahan. Karena aku terpilih. 

Percayalah waktu baik mengajarkan kita hidup. Percayalah waktu tak pernah sempurna karena kita salah satu dari sekian harapan yang sirna. 

Friday, October 10, 2014

Nyamuk!

Gigitan nyamuk seperti banyak tanya yang menggerogoti kepala. Rasa gatalnya tak begitu saja hilang dengan garukan. 

Kehidupan nyamuk yang berbeda. Sementara kita manusia yang paling sempurna harus sanggup menggaruk kulit bekas gigitannya. 

Jumat Bersahabatlah

Semua hari penuh harapan. Manusia punya cita-cita. Masa depan yang terencana seindah apapun itu hanya Tuhan yang meridhoi. Jalan dibuka, ditutup, doa-doa saling menguatkan. Apalah daya kita kecuali mohon ampun.

Diri Titik

Waktu yang dihabiskan dengan banyak diam kadang menyakitkan. Pikiran hanya berputar tanpa kenal arah cukup membingungkan. Manusia sejatinya akan sedih dan bahagia. Ingatlah bahwa tak ada jalan buntu dalam merebut kesuksesan hidup. Dilarang putus asa mengindahkan hari demi hari karena musuh mendekat lebih cepat sekedip mata, diri.

Wednesday, October 8, 2014

Sore Tak Kesunyian

Anjing menggong-gong keras. Mungkin pertanda sebentar lagi adzan Maghrib. Kau masuk kedalam untuk mencoba satu kesempatan. Sementara aku tunggu diluar duduk membakar rokok-rokok yang sempat diangguri. 

Kita berada di perumahan yang sepi sore ini. Sedikit merasa damai, hati tenang karena sekalipun bising paling bekas gong-gongan anjing tadi. 

Tak lama kau keluar dengan senyum. Bertemu teman lama memang mengesankan. Tak ada yang penting selain membahagiakan orang tersayang. Semoga kenangan ini manis tanpa angka, huruf namun pejamkan mata suatu saat nanti ketika merindu. 

Bahagia yang Sama

Aku baru saja membaca lagi tulisanmu di kertas kecil yang kau berikan bersama segenggam rindu. Sulit percaya bahwa aku tetap jatuh cinta. Aku sedang tidak berkhayal. Kadang aku khilaf menganggap cinta seperti Tuhan. Dan aku melihatmu bak malaikat tanpa tugas. Kau setia dalam waktu yang tidak satu pun rela kau buang. Aku tidak jauh, aku tidak dekat, suatu hari nanti bukan penantianku atau penantianmu, kita masih sama-sama bahagia karena ketulusan.

Tuesday, October 7, 2014

Jangan Menyerah Dalam Ketiadaan

Kesunyian datang untuk menemani tiap detik tanpa satu pun kata kecuali detak jantung yang memberikan nada. Nafas mulai menipis di ujung tangis apalah arti mimpi buruk kita sementara Tuhan Maha Adil. Malam yang gelap menemani takut dalam guncangan hebat meski esok matahari tak segan menyinari ruangmu. Tenangkan jiwa di hembusan nafas kita dengan doa. Tidur sekarang tanpa beban atau bangun di samping bunga yang layu. Hidup bukan pilihan yang serba sulit melainkan diri terukur oleh sebuah kesungguhan. Jangan menyerah dalam ketiadaan.

Monday, October 6, 2014

Berpikirlah, Jakarta Ini

Hari semakin tua diantara gedung yang berlomba-lomba paling tinggi.


Kita bernafas dalam balutan debu dan asap kendaraan bermotor. Harusnya Jakarta makin resah karena kehilangan banyak sekali pepohonan. 

Luka di kulit mengering oleh panasnya. Esok korban dari kemacetan tertidur pulas di disko. Berenang di kolam alkohol agar sadarnya musnah melihat realita. Sebentar, hari masih wangi dituang senyuman. Berpikirlah.

Friday, October 3, 2014

Sinar Jalanku

Tak ada yang bisa mengalahkan sinarNya. Tak ada yang bisa menyusulku di depan sekarang.


Tak ada alasan mundur untuk kuat. Tak ada keajaiban dalam cinta kecuali bertahan. 

hertz

Yang kuingat aku penasaran. Aku hanya ingin mengenalmu saat itu. Tak pernah berpikir sejauh apa rasanya. Perlahan masa lalu pun runtuh terganti kebahagiaan baru, kamu. Dengan kesungguhan aku merasa hebat, dengan pengorbanan aku merasa kuat, hal besar yang tak terlupakan, semoga kesalahan tetap termaafkan. Terima kasih setia menyayangiku.

Thursday, October 2, 2014

Iya

Aku tidak bisa melawan kekesalanmu. Malam ini tanpa kata. Percakapan berakhir "iya". Aku terbiar entah dimana harus mengadu. Padahal rindu yang sudah mengantri lama segera mendapat tempat. Aku menanti sebuah pertemuan, setiap detik yang hilang pasti kembali. Bibir manis tak boleh ternoda hanya karena amarah. Aku menyayangimu, ingatlah selalu.

Nanti, Jangan Khawatir

Suatu hari nanti, dimana aku sudah tidak lagi dipercayamu, sudah tidak lagi kau anggap ada, aku pernah sangat memikirkanmu, begitu mengkhawatirkanmu, setidaknya aku serba pernah meski akhirnya tak mungkin terus disimpan, tinggal dikenang.

Di Depan Mata

Doa-doa berterbangan. Harapan, sukacita, uraian kata yang menimbulkan kecewa. Aku memang bukan orang yang selamanya akan mengabdi. Mungkin tak banyak waktu lagi untuk berbuat. Seakan aku tak pernah diam, aku pun tak berharap lebih di matamu, sudahlah aku sadar. Jalan terbaik tak perlu kita cari karena ruang pengampunan terbuka di depan mata.

Maaf Tak Boleh Sia-sia

Aku pantas mendapatkan apa yang sudah kuperbuat baik maupun buruk. Tuhan, aku banyak mohon ampun padaMu juga meminta maaf ke makhluk ciptaanMu. Sedih tanpa airmata namun berkecamuk didalam ini. 

Sabarlah, Sabar

Sabar menyuruhku tersenyum. Meski kadang rasanya tak karuan. Isi kepalaku seperti ingin meledak. Apa daya manusia tercipta untuk saling mengerti. Maka sabarlah.

Wednesday, October 1, 2014

September di Oktober

September kemarin mengajariku lebih bahagia. Aku yang berumur dewasa mencoba pintar ini ternyata rapuh. Perasaan bagaikan Tuhan yang kutakuti. 

Aku tak ingin menyesal. Hidup berjalan dengan rencana atau tidak adalah masih dari bagian kehendak Sang Pencipta. Aku tak perlu malu.

Oktober datang sambil tersenyum. Menyuruhku tidur nyenyak, lalu mencerna makanan dengan baik dan minum keikhlasan.