Linimasa

Wednesday, July 30, 2014

Terkunci Lemah

Ketika merasa sangat khawatir ditambah cemburu aku tak boleh banyak bertanya. Segala pertanyaanku hanya berbalik melukai. Aku harus pasrah. 

Pergilah, Takut

Semoga ketakutan ini tak membunuh. Kuharap hanya ketakutan yang sekadar hinggap mengguncang sebentar. Betapa besarnya salah, tak seberapanya hati menikmati indah. 

Manis, Selamat Tinggal

Manis, kenangan.
Manis, rasa kecewa.
Manis, pengorbanan.
Manis, waktu yang hilang.
Manis, cintaku padamu.
Selamat tinggal manis.

Tuesday, July 29, 2014

Maaf Semoga Terakhir

Pertengkaran akan selesai cepat atau lambat. Kita tinggal menanti hari terakhir untuk bisa saling menemukan perasaan yang sebenarnya. Aku tak ingin menekanmu lagi. Maaf.

Akhirnya Begitu

Malam ini duduk seperti biasa bertemankan segelas kopi. Radio menyala dan kendaraan bermotor sibuk lalu-lalang diluar sana. Sementara hati terasa remuk karena jarak makin jauh. Komunikasi hancur begitu saja. Cerita yang mudah kau dilupakan, akhirnya.

Lebaran Hari Kedua Juli

Sore ini pilu tanpa kabarmu, kau buat aku patah tidak berdaya. Aku tersiksa di keramaian ini. Sungguh merana. Tidur dalam gelisah dan terbangun menanggung kecewa. Pedih.

Sunday, July 27, 2014

Kopi, Penguat Hati

Pikiran yang mudah kacau, jangan buat diriku semakin merasa menderita karena perasaan. Bisakah lebih bijaksana demi dirinya yang kini sedang bimbang?

(Secangkir kopi tak jauh dari bibir dalam derita, bernafas dengan cerita lama)

Demi dirinya yang kucintai, pikiran bersahabatlah sebentar untuk masa mendatang. Waktu yang indah tak mungkin berbohong, dan aku tak perlu takut kau lupakan. Apapun rasanya cinta, kita mesti kecewa. 

(Secangkir kopi tak mengkhianati rasa takut, jangan kasihani aku)

Ingatlah pikiranku yang kubawa mati, saat dirimu terlena akan cinta. Saat itu segalanya tak dianggap karena yang ada hanya cinta. Dan dirimu yang pernah mengakui cinta kepadaku, setiap hari kita harus bahagia!

Dimana Hari Ini

Dimanakah tempat paling jauh dari mimpi karena aku tak sengaja bangun? Siapa pengganti kehilangan? Entah. Kemana arah yang kau tuju untuk bermesraan? Sementara aku tinggal harapan. 

Jiwa Hiduplah Jangan Sakit

Senyum tak selalu berarti bagiku, bagimu. Andai saja kemarin masih disini, sedih dan tawanya berdekatan. Namun sekarang, kita tak lagi seperti kemarin meski hanya aku yang menyadarinya. Mungkin juga salah kaprah. Hiduplah jiwa, aku lemah untuk berpikir tentang keadaannya. Semestinya kesakitan tak ada, apalagi harus terulang.

Aku Menikahimu, Mimpi

Aku mencintaimu namun tak selamanya kita bersama. Aku merindukanmu namun tak selalu kau mencariku. Begitu adanya perasaan sedalam-dalamnya aku terluka akan kekalahan.

Dua jalan dapat diciptakan demi satu tujuan. Namun satu jalan tak membenarkan kita menyatu untuk beriringan. Cinta menyebalkan.

Dan kita hanya dipersatukan dalam satu paket pesan terakhir. Bunyinya, aku tak ingin kau menderita. Meski akhirnya itulah yang terjadi. 

Aku tak pernah menyuruhmu pergi dari hati. Sakit rasanya, dan sakit keadaannya keinginan detik ini datanglah padaku walau hanya di mimpi.

Saturday, July 26, 2014

Dipaksa Tinggal Jadi Kenangan

Percakapan yang terjadi tak lagi sebaik-baiknya kita paling sibuk disini. Kau sengaja sibuk dengan halmu disana. Sementara aku hanya meratapi keadaan sambil bertanya-tanya. Aku yang tak lebih pintar daripadamu hanya diam menerima. Waktu yang berlalu dipaksa tinggal jadi kenangan. 

Wednesday, July 23, 2014

Aku Wanita Terbodoh

Aku mulai bingung. Tak menentu dan semakin ragu. Namun apalah sesungguhnya cinta. Hanya pertemuan dan berpisah. Aku tak mungkin memaksa keadaan menjadi sebaik dulu, semanis madu, apalagi mengharapkan seindah-indahnya kenangan. Baiklah, aku harus mundur perlahan atas kehendakmu. Meski hati ini bukan telapak tangan, mata ini bukan detak jantung, telinga ini bukan lidah yang cengeng, aku tak mungkin mengemis cinta melulu. Bohongnya aku rela, siapapun yang berhasil merebut hatimu, aku adalah wanita terbodoh.

Kemarin Tidak Ada Lagi

Kita tidak bisa memaksa untuk selalu dicintai. Sakit hati membiarkan biasa. 

Monday, July 21, 2014

KETIKA PATAH HATI SEMUA KEMBALI NOL

Segelap pagi rindu terus berbisik. Detik ini sudah setengah gila. Entahlah sayang aku siapa? Jika muncul dalam mimpi enggan permisi. Guncang tak berdaya lagi. Cinta pasrah dimuntah. Kursi tak ingin kududuki. Permadani malas kutiduri. AKU DILEPAS PERLAHAN. Ukur sakit dengan senyuman. Wahai Senin duka jangan biarkan aku menanggung airmata tanpa ganti. 

08.11

Harapan selalu ada meski terlanjur datang perdebatan yang menyakitkan. Aku ingin selalu mengertimu, luluh. Beginilah pengemis rasa.

Asyik, Aku Patah Hati (Lagi)!

Asyik aku patah hati! Aku mengetik buaian lagi! Asyik aku patah hati! Aku mengetik lagi dengan kekalahan! Asyik kau jujur! Asyik aku patah hati lagi, sayang! Asyik!

Kau Hebat!

Sudah kubungkus rencana serapih mungkin dengan senyum penuh bahagia pekan lalu. Penantian ini mahal, bukan soal rupiah. Aku hanya percaya bahwa kau tahu rindu yang menyiksa segera berbuah manis cepat atau lambat. 

Namun ternyata melupakan kekasih itu mudah menurutmu. Dan hilanglah dalam sekejap perhatian manismu satu hari kemarin. Sekali lagi kau hebat, berbahagialah mencoba jatuh cinta lagi dengannya! 

Kau HEBAT.

Friday, July 11, 2014

Waktu Tersisa Sedikit Lagi

Hati mana yang tenang asyik duduk manis beralaskan duri. Memanglah tajam namun rasanya berat untuk pergi. Sekian lama bersamamu melewati tidur dan bangun dengan hari. Aku tak sanggup menikmati cinta yang kita bina menangis sendiri. Tak ada jalan sempit merebut kebahagiaan. Setiap manusia harus mampu berupaya meski kesempatan ini salah. Tuhan memberikan waktu yang benar agar tetap menjaga ketulusan.

Menuju Jumat yang Mencengkam

Detik menangisi diamku. Rasanya sudah tidak lagi berdaya. Namun aku selalu memaksakan diri untuk tunduk pada setiap tenang. Entah bagaimana caranya itu? Aku tidak bodoh apalagi kurang bahaya. Tuhan, aku malu memohon kepadaMu disini. Biar aku peluk kegelisahan yang kubuat sendiri tanpa alasan klise. 

Saturday, July 5, 2014

AKU HARUS MENERIMA

Ketika sudah tidak dibutuhkan lagi,
ketika sudah tidak diperlukan lagi,
ketika sudah tidak lagi sama. 

Penantian Sia-sia Mungkin Aku Salah

Bodohnya aku saat merasa paling dinanti. Setiap malam gelisah memikirkan jumlah dan waktu, sia-sia. Aku salah mengira, kau tidak menginginkanku. Hingga pada akhirnya tak ada jalan yang paling penting kecuali mengalah dengan rasa kalah. Pernyataan pahit muncul tiba-tiba tanpa kesalahan. Airmata pun kubiarkan menari, walau perasaan yang hancur tak mungkin tersusun kembali. Semoga aku tak menjadi dusta dalam manisnya ketulusan. Meski cinta berakhir denganmu.

Sakitnya Hati

Percakapan yang mesti aku kubur, dan termaafkan. Pengakuan yang mesti aku terima, dan terima kasih sempat menunggu. Hasilnya, kau selalu mendapatkan yang terbaik.

Friday, July 4, 2014

SORE JUMAT KELABU

AKU TIDAK BERSEDIH, AKU SEDANG MENCINTAIMU, AKU TAK INGIN MEMBUANG AIRMATA TERLALU BANYAK, AKU HANYA SEDANG MERINDU.

Di Ujung Lemah

Airmata, kenapa kau begitu cengeng dan lemah? Muak aku meladenimu sendirian!!! 

Thursday, July 3, 2014

Tak Harus

Tak harus begini untuk begitu. Kita tidak dapat memegang bulan, menelan kata yang sempurna dalam balutan hujan, kenyataan tak akan berbalik. Tak harus begini untuk begitu.

Tuesday, July 1, 2014

Sial, Politik!

Linimasa tengah berdebar, memberi jantungnya tak henti kejar-kejaran dengan logika. Bahkan detaknya lebih kencang dari nyanyian kaki kuda di tepi jalan. Mereka berusaha mencari jalan keluar, sementara bumi terlanjur digadaikan. Jangan sedih ketika senjata yang mematikan itu bangkit dari masa lalu. Walau lebih tajam lagi kata yang berulang-ulang diungkit hanya karena ingin MENANG. Sesungguhnya fakta tak pernah sanggup dituliskan dengan perasaan. Lalu apa maumu setelah berhasil duduk manis nanti? Jangan berharap pergi dari kegelisahan di pelukan 'mereka'. Destinasimu bukan destinasiku, nasib yang miris bukan karena cita-cita melainkan kertas sobekan baru yang kelak terbakar jua. Kemenanganmu tak sangat berarti, lihat gemerlap malam! Aku budak disana yang minggir dan tahu diri.