Linimasa

Thursday, February 28, 2013

Bahagia Karena Kau Membahagiakan Aku

Sekitar sore beberapa tahun yang lalu, pertemuan tercipta. Tanpa banyak alasan, seingatku yang ada hanya senyumanmu. Mungkin tak perlu kuceritakan disini bagaimana jalan senang dan dukanya. Singkatnya, proses yang terjadi melintasi kesedihan pula. Malahan tak hanya menyakiti banyak orang namun menusuk-nusuk hatiku juga untuk akhirnya bisa selalu bersamamu. Satu dari sekian hal yang berdatangan ketika kita bergandengan. Pilu kudapati menjadi teman belajar yang paling berharga. Jika suatu hari kau sangat jauh, aku sadar akan bahagia karena kau membahagiakan aku!

Semakin Malam Semakin Rindu

Airmata senja menetes di antara batas sendiri. Sunyi menggong-gong sambil menangis. Tak mampu hidup. Berontak dengan paksa merobek bathin. Tak ada hati yang baru. Haru masih tertinggal.

Tuesday, February 26, 2013

Thamrin Mulai Sepi Ketika Lewat 9 Malam

Tak terasa dari kesiangan berangkat kerja tadi membuatku harus pulang lebih malam. Disitu aku selalu mengerti apa arti kesepian. Berjalan menuju pinggiran jalan besar, Thamrin. Bis yang ada hanya sisa beberapa. Akhirnya, 640 saja yang dapat dipastikan bisa menghantarku pada tujuan. Menoleh ke arah samping Atma Jaya, mobil kijang masih parkir. Turun dari bis lalu kuhampiri mobil tersebut memastikan akan melaju ke Cibubur. Tepat pilihanku, 20 ribu pun tak apa. Asalkan perjalanan tidak perlu menempuh waktu terlalu lama. Kusadari waktu mengajarkan aku banyak hal dari banyak pula yang hilang.

Monday, February 25, 2013

Jam Tiga Yang Terlewatkan

Mataku masih tertuju pada layar telefon genggam. Menggali hasrat yang dalam tak semudah itu keluar dari sebuah peran sama. Sibuk memikirkan apa yang harus aku lakukan (lagi) untuk bertahan tidak gagal. Tidak ada yang semestinya melainkan aku harus lekas pergi (sementara). Jika kau setuju, kita hancurkan terus menerus rasanya. Rasa memiliki, merasakan untuk dimiliki. Masih satu-satunya perasaanku, kamu.

Sebelum Tidurku Salah

Cinta. Dan ada orang yang menyukainya dengan cara diam, adapula yang membencinya dengan cara banyak bicara. Kita. Ada banyak orang yang tidak mau bertanya dengan cara berpikir negatif, adapula yang berusaha mengerti karena terlalu berpikir positif. Cinta adalah kita yang mengenali tangan orang-orang. Dimana adanya pikiran untuk berbagi suka dan duka, dimana ada sikap untuk melakukan segalanya demi bukti.

Sunday, February 24, 2013

Bagaimana Caranya Untuk Berhenti Mencintaimu?

Jika aku pencipta lagu, maka sudah miliaran kata yang mesti kau dengarkan. Jika aku pemusik, maka ada jutaan panggung yang mesti kau saksikan. Jika aku berhenti mencintaimu, maka aku mengaku kalah.

K.E.L.U

Malam yang (masih) dingin soal hati. Red & White Lounge, Kemang Raya, Jakarta membawaku begitu tenang dalam ingatan. MALIQ & D'Essentials tampil sekitar pukul 22.22 WIB. Malam itu penampilan mereka tak biasa, sungguh berbeda! Bukan karena aku sedang jatuh cinta dan bukan juga karena aku menyesal karena pernah patah hati. "Sampai Kapan" bergerak dari bibir Angga Puradiredja, "Hangat mentari dan terangnya rembulan mengiringi hari-hariku yang tetap tanpa kehadiranmu, " sahut Indah. Masa yang sudah terlewati, hingga bertemu dengan masa yang baru, wangi, dan gemilang. Entah mengapa "Kita Jatuh Cinta"? Dan lagu mereka berikan aku 'sayap' untuk bisa terbang. Terima kasih, hidup. Kalian, dan hadirnya irama itu semua.

Tak Sepintar Kalian

Hidup butuh proses untuk melakukan perubahan. Hidup butuh cara baru untuk berubah. Walau tak sebaik itu juga dirimu dan tak sepintar itu pula aku.

Thursday, February 21, 2013

Hanya Perasaan Saja

Membaca wajah yang terluka di separuh malam Rabu. Seakan menularkannya ke wajahku. Pernah juga aku sebingung itu, jiwa berterbangan. Tanpa arah terus menari. Siapa yang punya hati? Aku jawabmu.

Dua NOL Februari

Ada tumpahan rasa yang mengalir bersama hujan kini. Seolah perasaanku itu cuma kamu. Kemana rindu? Disini ia tak 'kan tertawa, jangan mengancamnya hingga mati.

Hati Punya Sayap

Sudah jelas soal hati dan kamu biarkan (lagi) hati terbungkam karna hati. Dimana hati? Hati tak 'kan bicara, jangan berharap ia berhenti dari diamnya.

Wednesday, February 20, 2013

Bedah Hati

Harapan terbentang, tulislah. Jangan banyak pilih kata, seburuknya kamu adalah kebahagiaan. Lelah hari ini selalu mencoba damai, kamu rasa, kamu bisa. Setangkai mawar, satu duri kita bisa mati. Pisahkan yang tajam, simpan indah dalam ingatan. Tentang kamunya aku, mesranya aku. Tak ada jalan baru, cerita lama itu dihapus satu persatu.

Peluk Semu

Telanjang di bawah lampu malam. Kerlipan debu membasuh keheningan. Sahabat satu jengkalmu, sesal. Ritme panjang, do'a juwita senja. Kalbu teraniaya.

Tuesday, February 19, 2013

Harus Tak Sama, Imajinasi

Semua orang berbicara dan melakukan hal yang sama. Meniru yang lucu untuk menarik perhatian agar bisa mendapatkan banyak tawa. Merubah imajinasi, ukur satu meter, renggang satu jari, selesai pengangguran kata.

Setengah Dilema

Disini, disitu, dimana kaki berpijak dan tinggalkan sepi. Terus berjalan menuju keramaian supaya lupa pernah sendiri, lupa pernah denganmu tadi. Sadis rasanya jika memaksa untuk berpura-pura tidak nyaman, pada hatimu dariku, yang diungkapkan belum lama ini. Masih setengah jalan, dilema.

Tukar Buku

Terjaga dalam malam drama. Suara gentayangan di telinga. Kalimat saling melepaskan emosinya. Sudah tua, hari ini baru merasakan lelahnya. Waktu kecil mana yang buruk, banyak sekali kesenangan di masa itu. Tuhan Adil beri waktu yang kini dan semua berbalik. Bukan berarti tak ada syukur, kadang lemah itu memaksaku tenggelam. Mati rasa. Bisik-bisik lagi sebelum mimpi terpenjara, tukar dengan yang lain, kalimat tanpa luka.

Monday, February 18, 2013

Aku Tahu, Ibu.

Aku tahu Ibu, beban itu berat. Maka, biarlah segalanya berjalan seperti sediakala walau semakin hari tetap saja terasa berat. Aku tahu Ibu, dunia ini sebentar. Maka rasanya susah 'tuk tinggalkanmu lebih dari tiga hari. Aku juga sakit sama sepertimu. Aku tahu Ibu, apa yang kau rasakan itu terlalu dalam hingga tenggelam. Maka, tunggulah sesal itu menjadi murni indah kelak kau temukan jalan sesungguhnya.

Saturday, February 16, 2013

Hobi Baru Bilang: Brengsek!

Menyimpulkan bahwa di zaman sekarang. Berkawan itu serba pakai 'syarat'. Positif! Satu kata, dan gue harus bilang: brengsek! Etika, hal mendasar yang paling diperhatikan dari hebat. Brengsek, kata yang melegakan namun sangat sakit. Uang banyak bicara, namun persoalan yang berat adalah tak punya etika baik. Tak seburuk itu (harusnya) manusia. Sudahlah, ini urusan sederhana. Memang harus kuketahui sejauhmana karakter individu bergerak hingga aku tak selalu harus DIAM. Bertemu banyak kebrengsekan kadang buatku muak.

Dengan Kamu Bagaimana?

Aku tak menemukan luka, disaat aku kesakitan. Dan percayalah, hati adalah tempat terindah untuk meletakkan perasaan. Bagaimana dengan kamu?

Thursday, February 7, 2013

Malam yang Dingin, Cinta Selalu Hadir

Segelas kopi yang mulai dingin. Tak ada pertanda untuk lekas naik ke permadani. Akulah malam, saat lampu di atas kepala padam. Dan akulah mimpi, saat kau tertidur pulas malam ini. Rindu pun bernyanyi, menghantar pakaian yang segera dipakai tubuh yang dingin. Enggan merajuk dalam kekosongan, karena hati ini masih berdetak dengan lajunya. Kau seakan terus mendekat, tanpa batas jarak ini tidak bermasalah, cinta tetap cinta.

Satu Diantara Kalian

Belakang ini aku semakin banyak bekerja dan belajar. Jemari tak pernah melambai-lambai. Lalu, kutuliskan apa yang perlu kukatakan. Seperti sekarang ini. Tadi ada diskusi tentang masalah (kusebut musibah) yang tengah kualami. Sedikit melegakan. Setidaknya atasanku tahu. Itu menenangkan. Apakah kronologis kejadian yang aku ceritakan itu penting? Entah. Bisa juga mereka hanya terfokus pada benda yang hilang, titik. Belum lepas dari ingatan, seumpama aku bisa memprediksi bahwa ada 'maling' di dalam bis yang aku tumpangi. Apalagi maling tersebut ada percis di samping kananku. Tentu aku tak akan membiarkan perjalanan malam itu berlanjut. Apa daya, aku cuma manusia biasa. Tidak pernah mengetahui apa yang aku terjadi dalam sekedip mata (sekalipun). Tidak semua dapat dimaklumi begitu saja. Diantara pembicaraan tadi siang, masih saja ada yang mengharapkan aku tetap harus mengganti sama dengan apa yang aku hilangkan padahal itu musibah. Iya, aku paham. Sekedar bicara, jikalau orang yang mendengarkan ceritaku mengalami hal tersebut. Apakah akan bingung sama seperti yang kurasakan saat ini? Sementara, aku tidak mampu mengganti barang bekas bernilai jutaan. Di lain sisi, aku tetap bertahan untuk mengukur kemampuan diriku sendiri. Aku bukan orang 'kaya'. Tapi aku mau berusaha melakukan apa saja demi kebaikan semua, agar terhindar dari fitnah. Tuhan Maha Mengetahui, maka selalu ada jalan bagi yang benar.

Tuesday, February 5, 2013

Tanggal 4 Pagi

Tanggal 4, pagi itu dalam perjalanan Bandung ke Jakarta. Memang tak seperti sebelumnya, bis yang kutumpangi saat itu rada menyeramkan. Namun, mau dikata apa, satu-satunya kendaraan pulang hanya bis yang sudah menyala mesinnya di Terminal Leuwipanjang. Keberangatanku ke Bandung tak lain adalah untuk melakukan liputan konser yang berlangsung di salah satu Hotel berbintang disana. Saat bis meninggalkan Terminal, aku sadar lelaki yang duduk di sebelah kiriku cukup meresahkan. Pikiran harus positif bahwa itu hanya perasaanku saja. Mungkin aku sudah tertidur sejak bis masuk di Tol Cipularang. Hingga bangun tersadar sudah mau mendekat ke arah Pasar Rebo. "Turun dimana mbak?, " ungkap lelaki bertubuh besar itu sambil memdekap tasnya. Aku pikir buat apa dia menanyakan hal tersebut namun masih dalam keadaan setengah kantuk, (lagi-lagi) aku berpikir positif saja, ia sekedar berbasa-basi.
Jelang di perhentian Pasar Rebo, aku bersiap-siap turun. Ada yang mengganjal, tas yang aku bawa menjadi ringan saat aku bangun dari bangku penumpang. Lalu, ketika membuka tas (untuk mengetahui kenapa ringan) yang kudapati malahan kehilangan. Satu benda yang terbalut goodie bag berwarna hitam sudah tidak ada di sebelah benda telanjang. Panik, antara tak ingin menuduh sesiapapun. Rekan yang pergi bersamaku pun masih dalam keadaan bingung meyakinkan benda yang ada tidak hilang. Sayangnya, benda berharga itu terlanjur lenyap termasuk isi dompet, koleksi uang asing ludes. Entah kapan lelaki bertubuh besar itu mengambil barang yang ada didalam tasku. Terlambat menyesal, ia sudah turun bergegas keluar bis. Ini kejadian untuk kedua kalinya setelah aku kehilangan gadget pemberian abangku Agustus 2012 lalu. Bedanya, masalah hilang barang kali ini cukup menyiksa pikiranku, karena bukanlah milik pribadi. Semoga Tuhan memberikan jalan untukku.

Saturday, February 2, 2013

Hidupku Duniaku

Sebulir nafas gemulai, menindih satu sisi dari bayangmu. Dunia terasa pengap tanpa sapa, rasa, warna cinta. Hidupku satu-satunya untuk dipenuhi setiap wajah tanpa tangis, wajah dengan senyuman, wajah tanpa kata.

Terima Kasih, HATI!

HATI, aku senang menyebut "hati" di telingamu! Lalu, senyuman itu menusuk mataku! Setelah hari itu, tepatnya di perjalanan berangkat ke kantor. Kulumati manisnya pemberianmu! HATI, aku senang menjadi bagian dari hatimu, apapun bentuknya, walau sudah hancur berkeping-keping? Sebelum hari semakin menyiksa, biarlah rindu kita terbiasa.