Linimasa

Sunday, March 31, 2013

Silakan Banyak, Permisi Sedikit

Bicara banyak setelah melakukan banyak. Bukan bicara banyak namun tak pernah berpikir banyak. Banyak dan sedikit akan menjadi pembanding. Sedikit bukan berarti tak bernilai. Banyak bukan berarti tak menilai. Keduanya beda, dua-duanya nilai. Beda itu nostalgia. Sama-sama adalah kenangan.

Adalah Hati

Sepagi cinta. Kalimat barusan bagiku sangat mesra. Bahkan kalau saja mandi menggunakan cinta, kita sudah menghemat berapa ratus liter air dalam seminggu? (jangan terlalu dipikirkan) Aku di atasmu wahai permadani. Sisa semalam tak menggugah hasrat untuk pergi sekalipun akan ada lagi kegelisahan baru. Aku bukan seorang yang serba bisa, namun mencoba untuk mau tahu apa yang aku bisa. Seperti begini. Jika Tuhan memberikan aku perhentian terakhir maka akan kuhitung seberapa jauh jarak yang sudah ditempuh hingga harus menyelesaikannya denganmu. Rasanya masih kurang dari apa yang direncanakan. Itu pun kalau aku kurang rasa bersyukur. Maka, kau tak perlu menyentuh seberapa dalam hati. Sesungguhnya waktu adalah hati.

Saturday, March 30, 2013

Jangan Nikah Wahai Lelaki

Kesimpulan penting dari perjalanan Cibubur ke Cilandak. Perbincangan aku dan lelaki yang kuhormati. Tak perlu kuhitung ada berapa pertengkaran dan perdebatan Ibu dengan dirinya sepanjang hidup 27 tahun. Beban yang paling berat tetap pembenaran. Lelaki yang kuhormati, bicaralah secepatnya dengan Ibu bukan denganku. Hari terlalu sakit, rindu tak terbayar lunas, hati terlanjur terluka. JANGAN NIKAHI PEREMPUAN JIKA TAK MAMPU MENJADI LELAKI.

Nice Haircut

Sejak potong rambut 2 Maret lalu. Aku hanya merasa tetap biasa karena bagiku salon bukan tempat satu-satunya mempercantik diri. Kalau menganggap buang sial, "Anugerah" yang Tuhanku kasih lebih dari cukup. Alhamdulillah. Rabu kemarin, MALIQ & D'Essentials tampil di SCORE! Jakarta. Aku sempat bertemu dengan Mas Angga disana saat ia bersiap untuk naik ke panggung. Kurang dari 10 lagu membasuh rindu, Sudahlah, itu halku. Hingga tadi siang (29/3), tiba-tiba ia menyapaku. Sederhana, hanya kalimat pujian. Namun betapa pentingnya jatuh cinta, bukan untuk MEMILIKI. Beginilah indahnya:

Friday, March 29, 2013

Tak Segila Kebodohan

Di antara banyak 'Tuhan' baru yang bermunculan. Pelengkap jiwanya dipaksa hilang. Sejarah menjelaskan, namun kekinian selalu menentang. Ada beberapa pilihan saja tadinya, namun diperluas dengan alasan untuk mencari jati diri. Mereka ketimuran, sebab itu yang paling mudah rapuh apa adanya. Tak cukup menjabarkannya di bibir, bahkan perasaan, lama-lama mereka pikir 'Tuhan' bisa segila kebodohannya.

Langkah Bayang Rindu

"Lihat langkahnya, langkahnya, langkah, " ungkap penjaga pintu TransJakarta. Malam sendu menuju libur panjang. Sepulang para pekerja kantoran bersama lelahnya. Harus mengantri sekitar 15 menit untuk berlari dari tempat menunggu. Akhir dari langkahku menghampirimu tetaplah dalam bayang rindu.

Thursday, March 28, 2013

Walau Hanya Sebentar

Hingga detik ini. Aku masih terus berusaha untuk meyakinkan bahwa hati adalah hasil dari sebuah perasaan yang (terkadang) salah. Hingga kemarin ini. Aku harus menepis segala kemungkinan hasrat yang lain untuk berani mencoba karena takut kehilangan. Hingga kita sama-sama tahu betapa besarnya cinta walau hanya sebentar.

Hanyalah Teman

"Seperti cinta wahai kasih, seperti cemburu yang enggan berteriak lebih keras, sesungguhnya hiduplah ini karena keegoisan." Belum pernah aku alami terusik memulai kisah yang baru saat bersamamu. Dan entah kapan kujalani hari tanpa memikirkanmu. Masih di seputar hal yang sama. Siapapun orangnya hanyalah teman.

Wednesday, March 27, 2013

Sore Kita Terpenjara

Tak ada luka yang gembira, tak ada tarian yang hanya berputar 1 detik. Selama itu masih kamu, dan ini jawaban yang terpenjara. Renungkan dalam sore kita.

Satu Lagu Lagi, Kau Milikku

Seperti itulah penantian. Cerita dan jatuh cinta. Betapa pentingnya kamu, begitulah arti hadirku. Kita adalah separuh mimpi terindah yang dimusnahkan. Satu lagu lagi, kau milikku.

Tuesday, March 26, 2013

Selasa Pekat

Bagaimana cara aku memukul? Tangan ini emosiku. Dan bagaimana aku bisa menghentikan emosi? Merelakan ruang di hasrat ini tertikam. Pekerja malang.

Hargai Mati 24 Jam

"Tuhanmu adalah Tuhanku jika kita sama-sama mengerti." Airmata tertahan dan sakit. Hati yang malahan terus menangis. Pagi ini pikiran mengalir deras, kesana-kemari mencari jalan keluar. Namun, belum ada satu pun yang terbuka. Tuhan masih disini. Waktu tetap dipercaya untuk belajar mengasihi ribuan detik yang sempat terlewatkan, soal lupa. Enggan banyak tanya, sakit tersimpan dalam. Kecewa bercampur buah bibir yang tak punya sedikit saja perasaan. Begitu nyaman seenak-enaknya, ingat saat itu sangatlah kacau. Seumpama kesempatan datang kembali, hari ini adalah kemenangan!

Aku Tetap Kekasihmu (Walau) Tak Selamanya

Hari bahagia selalu kita nantikan, seperti menanti pagi tanpa banyak berkhayal. Setiap menjelang tidur aku seakan rapuh, begitulah perempuan, kau tahu. Ada banyak kalimat yang belum terselesaikan, padahal hanya berupa kiasan, contohnya aku ini pasti bersamamu sampai mati. Entahlah, kadang gila. Namun, ini yang membuatku asyik memikirkanmu. Walau bukan untuk selamanya.

Monday, March 25, 2013

Pohon Tanpa Bicara

Sandarkan hari kita di bawah pohon yang paling rindang, bayangkan duduk menatap awan biru tanpa keluhan, kita tak perlu banyak bicara karena kitalah pengagumnya. Ketika malam tiba, biarlah tetap biru yang tenang. Percis saat pertama kali membayangkan kita berdua benar-benar sedang bersandar.

Masa Sempit untuk (Tidak) Dimulai

Sudah lebih dari ratusan juta jam tertinggal di halaman kepalaku. Mereka kadang nampak sangat membosankan. Basa-basi dan bawa perasaan. Jika saja aku lebih apa adanya maka timbullah kecewa dan muram yang tertuju padaku. Layaknya cinta-cinta di atas akal. Pembenarannya hanya karena waktu menjepit di bawahnya. Tempat yang mudah untuk dibuai. Kolom gratis sistem komunikasi, malasnya mereka demi merebut kasih. Sekedar memperbanyak kata "selamat", cinta murahan sering meninggalkan dialog virtual.

Campurkan Detikmu

Seribu jarak mendesah. Menjerit kehausan. Adakah nyanyian merdu seperti kicauan burung di pagi hari? Tidak menentu. Hari sudah tua, Angan tanpa batas. Hasrat mendendam, menari lagi sampai pintar. Asap berkeliaran. Inikah peri kasih setia? Campurkan detik-detik ke dalam satumu!

Wangimu Wangiku

Biarkan aku tidur, untuk sekedar menahu ada tempat peristirahatan selain mencari rasa kantuk. Jangan pisahkan antara wangimu dan wangiku, untuk malam ini. Walau kita jauh berbeda, karena beda pula kita terikat. Meskipun yang menyisa hanya malam ini, itu pun aku rela mengaku kali ini tetap kamu.

Genggam Kenangan

Masa lalu sering berdusta jika kembali datang atau dipaksa pergi. Huruf dan angka. Mematikan. Keingintahuanku hanya sebatas tangan yang bergerak, lelah untuk marah. Kamu tahu betapa sulitnya jatuh cinta jika harus memilih. Lalu, apa yang kau pikirkan tentang hari-hariku? Selalu bergegas dengan gambar dan tulisan. Keduanya tak bisa berpisah, walau kita saat ini serasa dipaksa terpisahkan. Genggam kenangan dalam nafas yang tak pernah terluka.

Rindu Berbayang

Di depan mataku hanya ingatan, lalu segelas kopi ini belum habis. Entah harus apa hati ini? Mungkin Tuhan marah denganku. Sabtu malam aku egois, dan kau semakin kurus kata mereka. Mana senyummu hari ini? Kuharap masih tersisa. Esok yang selalu tidak kita inginkan jika hanya amarah. Merindu dalam bayangan.

Tanpa Pura-pura Lupa

Aku belum menemukan tempat senyaman aku mencintaimu. Entah bagaimana melepas setiap sinar yang masuk dan keluar jika aku masih melintasi sudut lewat kedua mata ini. Kadang aku merasa sesat. Tapi Tuhan yang memastikan jalan mana yang salah. Bahkan aku tetap salah. Hari apa ini? Aku tidak pernah pura-pura lupa dari mulai Senin hingga Minggu tiba. Kemudian aku tetap memijak hari yang sama yaitu Senin untuk memulai satu minggu penuh tanpa harus terpaksa mengurangi rindu kita.

Thursday, March 14, 2013

Cinta Pengingat Lupa

Aku patah hati. Singkat dan jelas kalimat ini termuntahkan dari sebuah perasaan. Akhirnya, aku jatuh cinta lagi. Setelah sanggup melupakan airmata semalam, kalimat ini kontras. Kedua hal yang mengajakku main dan menari. Berulang-ulang kali aku dibawanya gila. Entahlah, haru. Kau jangan diam, aku sedih.

Kucoba Melawan Kamu!

Kekamu-kamuan untuk menepis keaku-akuan. Bahasa cinta kita yang manja tanpa iri hati. Tak lagi disini. Perginya hari, datang yang t'lah pulang, rindu hanya tersiar dalam mimpi. Kucoba melawan kamu di setiap bayangan yang menghantui. Persembahan terindah adalah nyanyian tanpa suara, tertulis lagi. Seumpama ada umur panjang kita pasti berpelukan dengan airmata tanpa janji.

Karena Aku Memang Serius

Adakalanya sebuah keputusan itu berlanjut ke jalan akhir yang lain. Aku baru saja melakukannya. Tentu ada saatnya orang lebih memilih untuk berinteraksi dengan hal-hal yang (kebanyakan) penting. Aku ini memang serius.

Senyumnya Kamu

Kamu adalah senyum yang membuatku lupa akan kesedihan. Namun, kini aku harus tetap tersenyum untuk melepaskanmu. Sulitkah masa-masa ini? Kita pasti bahagia.

Wednesday, March 13, 2013

Sedalam Tenang

Saat tenang menjadi bahaya. Aku tak mengerti apa mauku. Kenyamanan ini. Sedalam tenang. Mungkin kamu juga tau. Apa malah kamu yang lebih mengerti? Keramahan ini. Sedalam tenang.

Andai Aku Tuhan, Kau Milikku Sampai Mati

Andai aku Tuhan, yang kubiarkan mati adalah dosa bukan perasaan kita. Jika aku Tuhan, kau pasti kumiliki sampai mati. Kalimat lainnya seketika LENYAP.

Hiduplah Denganku

Dekap erat setiap nafas yang pernah kau tumpahkan di antara jemariku, dan tetaplah menari! Bakarlah tangan-tanganku namun jangan kau hanguskan kertas tertulis di lubuk hatiku! Persetan dengan apa yang aku dan kau anggap cukup menyiksa, nyatanya kita tetap mesti menjalankan masa yang lebih menyakitkan! HIDUPLAH BERSAMAKU DALAM KENANGAN.