Linimasa

Friday, March 27, 2015

Khawatir Menyiksa

Rasa khawatir sungguh menyiksa. Aku hanya bisa diam saat dibuat gelisah. Pikiran entah kemana, mencarimu tidak tahu bagaimana, hanya menerka. Jangan begini, aku tak kuasa. 

Wednesday, March 25, 2015

Judul Ketiga

Aku bertanya pada diriku tentang hari-hari yang buruk.
Hari dimana kacau membuatku jadi orang paling hina.
Disitu aku menangis.

Setelah dua judul diunggah, rasanya sama, kehancuran.

Tidak Ingin, Tuhan

Duka tersimpan di sela jari kananku.
Meremas mulut yang kehilangan rasa.
Semua tidak akan kembali.
Titik yang indah, koma yang selalu menghantui.
Seandainya, Tuhan memberikan aku satu kesempatan.
Aku tidak menginginkan hati ini terisi.

Hilang Tak Kembali, Cuma Pilu

Airmata halus membasahi pipi.
Aku enggan termenung lama.
Jemari kaku saat hati tak berdaya.
Apakah aku sedang terluka?
Aku hebat dan tidak pantas bersedih.

Sore, hujan, anganku hilang tak kembali.

Tidur, Bangun, Patah Hati

Sebelum tidurku dimulai, aku ingin bilang "aku sudah bangun dari kemarin". Setelah tidurku selesai, aku ingin bilang "aku sudah tidur sekarang".

Sejak patah hati.

Monday, March 23, 2015

Mengapa Cinta?

Cinta tidak akan memaksa kita untuk datang.

Cinta tidak akan menyuruh kita pergi tanpa kenangan. 

Setiap kata yang terucap menjadi alasan cinta untuk datang.

Setiap kata yang terbuang sia-sia menjadi kesalahan mengapa cinta begitu saja pergi.

Saturday, March 21, 2015

Bukan Hari Terakhir

Menuju tidur diiringi rintikan hujan. Hilang sepi ketika memikirkanmu. Tak ada daun yang ingin kupetik. Bunga di hati tumbuh dengan senang. Esok bukan hari terakhir. 

Jalanan Manusia

Setiap hari aku melintasi jalanan dan merasa sedih. Jalanan semakin parah menuruti keserakahan manusia. Jika mengeluh akan terlihat paling tidak bersyukur, jika hanya diam makan hati di dalam. Jalanan yang penuh kebisingan ditambah lagi pembangunan. Sampai kapan jalanan disiksa? Semoga manusia tidak kembali dimakan jalanan.

Sunday, March 15, 2015

Bulan di Terang

Terang bulan di jendela. 
Debu jalanan menyisa di pipi.
Hidup apa hari ini?
Cinta tanpa rasa.

Dua Puluh Lima Ribu

Aku menghapus airmataku sendiri, dan tersenyum. Sebuah hari tidak menyuruhku mundur dari kekalahan. Rasa pedih mungkin sulit terhapuskan. Namun, pengorbanan adalah kemenangan diri. 

Waktu tidak membohongiku. Hanya saja aku yang membuatnya sia-sia. Keterlambatan telah tiba dalam pelukan. Andai saja aku tidak memilih. Tidur malam ini mungkin sisa gelisah.

Saturday, March 14, 2015

Karena Aku

Karena aku tidak perlu menemukan luka saat aku tidak ingin terluka lagi. Karena aku pernah mengiringi panggung yang megah dengan jutaan penonton bertahun-tahun untuk merasa tetap bahagia. Karena aku juga bukanlah pemimpi baik agar kenyataan tidak sepedih bangun dari tidur semalam. Karena akulah tempat terbaikmu dalam rindu di separuh hari. 

Doamu

Aku berpikir pada akhirnya kebahagiaan yang bisa diciptakan adalah bagaimana kita bisa mengatakan hal sebenar. Apa yang ingin kita lakukan untuk membenahi hidup. Sementara kehancuran tidak lagi dapat tersusun kembali menjadi utuh. Aku hanya kedipan mata dan genggaman tangan dalam doamu.

Wednesday, March 11, 2015

Sebelas Maret 02.56

Kekuatan tidak datang dengan sendirinya. Dengan proses, kita jadi lebih berani. 

Waktu yang terbuang mengisi jendela-jendela kosong. Dengan tidak pernah lupa, kita ingat.


Tuesday, March 3, 2015

Kecuali Menangis

Dilarang membunuh perasaan yang sudah mati. Teguran ini merasuki telinga para pendusta. Sebab yang menaruh harapan tinggal kekasih terakhir. Tidak ada akibat bagi kisah putus cinta kecuali menangis. 

Tiga Setengah Asa

Setengah tiga dan aku sedang merasa putus asa. 

Hidup ini bukan pilihan yang mudah untuk memilih.

Patah hati adalah nafas buatan untuk menemukan diri.

Jatuh cinta lagi bukanlah jalan keluar menuju bahagia.

Tidak akan mendapatkan lebih dari banyaknya kurang.

Irama yang terdengar merdu tidak pernah bisa kembali diputar.

Andai, membakar hati yang terbakar jalan terbaik. Sudah kulakukan detik ini.


Monday, March 2, 2015

[TAI]

[T]eks adalah luka.
[A]ku sudah melemah.
[I]nilah seanjing-anjingnya cinta.

Sunday, March 1, 2015

Paling Berharga

Waktu yang paling berharga adalah merasa sedih dan bahagia. Disitu kita utuh menjadi manusia. Entah bagaimana cara mengutarakan sedih? Entah bagaimana mengaku bahagia sementara sedihnya terasa lebih banyak.