Menunggumu Selesai dari Pejaten
Tak ingin mengetahui banyak hal tentangmu, tak lain inginku untuk menerima tentang apa pun pentingnya masa yang pernah kau lewati.
Setiap kau berpamitan ke rumah yang aku tak tahu siapa, membuatku berpikir apa sebenarnya aku tak selalu harus menerimamu apa adanya?
Detik ini mencoba untuk merangkai kata dengan nada yang paling maklum di aplikasi percakapan. Padahal aku geram bukan kepalang.
Menunggumu pulang dari segala tujuan sudah menjadi tugasku sebagai orang yang ingin mengenalmu lebih lama dari sekadar pertemuan berjam-jam.
Bagaimana raut wajahmu saat menemui seseorang yang tak pernah kau sebut namanya di Pejaten? Aku sama sekali tak punya bayangan. Berbinar-binar atau dia orang yang selama ini kau anggap tempat pulang juga, iya bukan urusanku.
Menuliskan ini, bumbu ayam betutu yang tadi aku makan masih terasa hangat di tenggorokan. Dan aku tak berharap suatu hari kau menemuiku dengan membuat orang yang hidup bersamamu mempertanyakan hal yang sama sepertiku saat ini. Lama-lama hancur.
2025.11.29
Comments