Linimasa

Friday, September 9, 2016

Lebih Dari Ini, Lebih Dari Cukup

Perasaan yang robek apakah kau sanggup bertahan dengan sisa hati ini?
Semua habis, tak berhenti dalam irama.

Aku nyaris tidak percaya diri, aku tidak percaya siapa.
Semenjak semua habis, tak ingin mengulang satu pun rasanya lagi.

Nanti dan kini, Tuhan mengampuni dosaku.
Itu sudah lebih dari cukup.


Tuesday, August 30, 2016

Tak Melukai

Udara perkotaan makin sakit saja.
Perempuan-perempuan sibuk digentayangi umurnya.
Seperti aku yang masih sendiri.
Tidak salah mereka bilang aku sakit bak udara yang berhamburan melintasi serpihan dosa kekasih.

Doa tak pernah salah.
Tuhan mengiyakan apa saja yang baik oleh manusia.
Seumpama waktu memihak padaku nanti, berharap tak menyakiti.
Aku tak ingin melukai.

Airmata di Sudut Kamar

Kita benci kesedihan.
Tapi manusia tak cukup hanya merasakan bahagia.
Matahari ingin dimengerti tentang cahayanya.
Bulan tak dapat kugapai sebagaimana kita hanya menangisi mimpi-mimpi.

Aku kecil tak berdaya.

Aku (Tak) Pernah Ingin

Aku tak ingin melupakan sesal.
Aku tak ingin terbunuh penyesalan.
Aku tak ingin sekadar bermimpi.
Aku tak ingin terkubur dalam gelisah.
Aku tak ingin hari datang begitu cepat.
Aku tak ingin merasa sepi.

Segelas kopi hitam gula instan tidak cukup menenangkan hati.

Monday, August 29, 2016

SEPI KALI INI

Tak mampu, aku tak mampu menanggung sepi.
Sore begitu sepi, aku tak mampu hadapi.
Teranglah airmata..

15 Jam Berlalu

Menanti senja dalam kerumunan logika.
Kenyataan hidup memang pahit.
Siapa yang dijodohkan dengan hidup?
Mereka sering lupa ingatan.
Hari-hari yang dilalui seakan murah.
Saat kesedihan tiba semua menjadi berharga.
Rokok ini, baju ini, alas duduk ini, dan obat-obatan yang kusingkirkan sementara mendorongku untuk kembali bermimpi.

Tidak ada alasan lari dari kenyataan apalagi menghilang. Hidup yang kuhadapi, senyuman ikhlas kunanti.

17 Jam Berlalu

Kesepian itu tidak enak.
Kesepian itu menyakitkan.
Penderitaan hati terus berlanjut.
Penderitaan hati menghabisi tubuh.
Sanggupkah aku bertahan?
Sanggupkah aku menelusuri hari tanpa pegangan?
Tuhan, jangan pernah tinggalkan aku.
Aku semakin kesepian.

9 HarI Lalu

Pukul tiga pagi.
Memikirkan sepi begitu menyakitkan.
Berulang kali sepi hanya membuatku sakit.
Kembali kupikirkan dan tetap sakit.
Apakah pagi yang sepi terus berlanjut?
Tak pernah berharap keajaiban datang.
Tak pernah bermimpi aku tetap menjadi yang terbaik di hatimu.
Andai cinta berakhir dalam sekali.
Hanya sekali aku tunduk mencintaimu.

Friday, July 29, 2016

(Belum) Terlambat

Kadang terlambat mengungkapkan, kadang terlambat bertindak, kadang terlambat membuatku sakit. 

Kadang terlambat membuatku semakin kuat, kadang terlambat menyiksaku, kadang terlambat jawabannya.

Kadang aku tak heran atas keterlambatan ini. Kalimat panjang yang disemogakan lidah ibuku, jemari ayah yang tak pernah lelah berdoa, dan mereka tetap berpisah.

Apakah waktu terlalu baik? Kadang aku bosan merasa terlambat.

Monday, July 25, 2016

Tiga Puluh Tahun Kecil

Seperti baru tiga tahun padahal sudah tiga puluh tahun berlalu. Lagu begitu cepat menjadi kenangan. Ketika masa kecil pikiranku harus terisi, sudah besar pikiranku terpaksa dikosongkan. Entah apa sebenarnya yang terjadi? Kadang aku malu mengakui kesalahan. Tidak ingin menyalahkan keadaan. Sepenuhnya langkah milik kaki-kakiku. 

Tuhan, sekali lagi jangan marah. Aku ingin kuat.

Thursday, July 21, 2016

Dingin Menjadi

Tidak ingin tidur, tidak ingin bangun, dan tidak ingin berpikir. Kemudian sebagian ingatan hilang. Seperti lelah terbangun, sulit tertidur.

Rasa bukan hitam yang gelap atau merah yang berani. Ingatan menjadi dua sisi gelap tanpa arah. Seperti berjalan hanya dengan kaki.



Tuesday, July 19, 2016

Sunyi Tersiksa

Sunyi bosan melihatku sendiri.
Sunyi muak dengan lamunan jorokku.
Sunyi tertawa menyaksikan sandiwara.
Sunyi rela berbagi dengan diam.
Sunyi, temanmu aku disini.

Kejam, Manusia

Kejam!

Manusia kejam!

Andai saja dengan mengeluarkan airmata detik ini aku bisa tenang. 

Andai saja aku berani melepaskan belenggu dalam diri.

Kejam!

Manusia kejam!

Andai saja aku bukan pengecut. Pasti aku bahagia dari siapapun yang merasa berkorban lebih banyak.

Saturday, July 2, 2016

Selesaikah?

Kepedihan membuatku terbiasa untuk tenang.
Tak sanggup menatap ibu menangis karena anak lelakinya.
Sudah pilu bukan kepalang dengan janji-janji palsu.
Tuhan memang adil.
Tuhan memberikan rezeki kepada manusia secukupnya.
Yang lebih musnah.
Yang kurang ditambah.

Monday, June 27, 2016

Diam Sendiri Menangis Usai

Pikiran begitu runyam sejak bangun tidur meneteskan airmata siang tadi. Apakah masih ada harapan untukku lebih bahagia? Tuhan, hanya Engkau yang dapat kuharapkan. Meskipun tak nampak, tak pernah mengirimkan teks sayang, dan terimalah aku penuh dosa. 

Sunday, June 26, 2016

Mendesah Lemah

Katanya manusia tempatnya dosa. Setelah dipikir dosa itu bukan tempat yang nyaman. Manusia hanya berusaha memberikan kenyamanan terhadap sesama dengan dosa. Aneh memang ketikan kali ini. Gila selalu mendesah dalam tubuh lemah.

Anak Kecil!

Kembali bertemu pukul 2 pagi lebih. Dinding kamar ini sama seperti anak kecil yang dipaksa menjawab dengan tanya, "kamu mau apa?". Lalu, ia hanya menggelengkan kepala. Tragis bagi dinding. Ia hanya pasrah ketika roboh saat gempa bumi. Apakah aku harus menunggu gempa bumi baru merasakan jatuh cinta? Ah, anak kecil!

Mampukah?

Aku bosan menambah trauma. Pikiran yang rusak ini semakin tak berdaya. Kasihan. Lalu, aku terus bersembunyi di balik perasaan yang enggan terkikis. Aku bosan menambal luka-luka kecil di hati. Hati yang rusak ini semakin pudar tak berwarna. Mampukah aku sendiri?

Thursday, June 23, 2016

Warnamu


Pagi selalu mencuri perhatianku untuk tetap membuka mata. 

Sebenarnya perasaan yang kacau mencari titik tenang.

Tak kunjung berhenti gelisah menanti hari ke hari.

Sebagian diri ini kamu dan sebagiannya lagi tertinggal di balik selimut.

Akulah pengecut yang sangat tega untuk tetap berdiri, berbaring, dan bermimpi.

Suatu saat misalnya pagi tak lagi berwarna artinya aku hitamkan kamu.

Pembuktian!

Jujur menyakitkan. Setiap orang pernah membencinya. "Maaf, kita berteman saja" atau "Aku harus membahagiakan mereka". Entah apa yang terjadi sebenarnya. Ketika manusia tetap berusaha mempertahankan perasaan. Saat mimpi bukan lagi mimpi. Kenyataan yang pahit adalah kita tidak pernah berusaha membuka hati. Tapi satu hal untuk menang, pembuktian! 

Saturday, June 18, 2016

Sebagai Kamu

Apakah bulan berwenang mengatur keadaan langit atau mereka hanya ingin tetap berdiri tegap meskipun matahari sangat menyengat?

Seakan keanehan tidak pernah ada. Bahwa keanehan hanya perhiasan semata yang dibiarkan aneh menempe di mata.

Mereka hanya tak ingin dikenali dengan kebahagiaan yang nyatanya menjadi luka rasa bersalah. Mereka tersimpan di balik selimut norma.

Kusebut waktu sebagai mata, kamu sebagai mulut, dan kuulang lagi. Menyebut mata sebagai waktu, mulut sebagai kamu.

Hujan Ramai

Hujan berebut turun ke bumi. Entah tetesan mana yang sampai pertama. Terdengar deras saling menyapa. Sesama hujan yang setuju membasahi. Darat membiarkan buliran air tergeletak. Kemesraan miliknya. Kesendirian miliknya. Hujan tak mau sendiri.

Tali

Ia mengikatku tahunan. Ia membuatku tunduk. Ia menciptakan drama. Ia memang egois. Ia membiarkanku pergi. Ia juga menyambutku datang. Ia seolah benar. Ia seorang, tali dalam lamunan.

Friday, June 17, 2016

Bernama Duri

Rindu itu bernama duri. Akhirnya, ia tergeletak lemah di bagian otak yang sudah tak lagi berfungsi. Duri tak lagi berdaya. Kasihan duri. Nasibnya tak baik. Hanya sebatas tembok. Sial! 

Thursday, June 16, 2016

Mereka Sebentar

Teman makhluk sebentar. Ia sekadarnya. Hisapan rokok ini mungkin tak sebentar. Teman hanya palsu. Perbincangan sendu tak dimengerti. Teman sekadarnya. Mereka tidak lebih baik dari asap rokok yang menancap di dada. 

Si Kenang

Mengeluh sungguh menyiksa. Mengeluh membuat kita tahu bahwa mereka tidak peduli. Mengeluh sungguh dramatis. Kesusahan sendiri. Kesenangan ramai. Mengeluh sungguh TRAGIS.

Wednesday, June 15, 2016

Diam, Kembali Diam

Aku mengatakan tidak bukan aku tidak. Rasanya semua berputar untuk mengatakan iya. Aku pengecut yang setia memilih kesalahan tegang di depan mata. Rasanya masih adil jika harus berstatus tidak menikah sementara. 

Malam semakin sakit, dan membiarkan tembok mendengar jutaan diam. Aku tidak pernah kehilangan. Tua bukanlah usia. Perjalanan ini hanya tentang waktu yang begitu tegang. Melangkah atau tetap menganggapmu satu-satunya. 

Tuesday, June 14, 2016

Bukan Aku yang Satu

Masih ada waktu untuk tertawa.
Masih ada waktu untuk menangis.
Semua tentang hidup.
Semua datang dan pergi.
Tidak ada satu-satunya yang diam.
Tidak ada satu-satunya cinta.
Kembalilah, aku.

Sunday, June 12, 2016

Bosan di Kota

Apakah pikiranmu sama denganku? Setelah ribuan hari terlampaui bosan di kota.

Kenangan selalu mengikat, erat, sampai teringat bosan di kota.

Apakah perasaanmu sama denganku? Setelah lampu menyala jalanan bising, bosan di kota.


Saturday, June 11, 2016

Ibu, Aku Ada

Ibu, sabarlah.
Ibu, aku hanya mampu mencium pipi kenyalmu.
Ibu, sabarlah.
Ibu, aku yakin kau mampu menghadapi ini.



Teman Bicara, Sebentar

Sudah pagi, kira-kira setengah tiga. Angin dan langit yang sedikit gelap termangu menatap rumah-rumah kesepian di kota. 

Tak mungkin mereka iri dengan kami yang bodoh dengan masalah polusi, harta, apalagi status. 

Sedikit tersiksa ketika ingin disiram, dibasuh pelukan karena harus menanggungnya sendiri. Gelisah tak ada teman bicara. 

Media sosial hanya sebatas baca, ketik, lalu, dan baru. Apalagi kehidupan yang kapan saja musnah. 

Tidak ada satu pun orang yang sanggup menghitung dosanya sendiri. Tidak ada satu pun hati yang mampu dibagi kecuali bumi dan langit tidur di matamu.

Thursday, June 9, 2016

Sore, Rindu, dan Diacuhkan

Cinta harus berpisah. Cinta tidak bersama. Cinta bertemu saat tegang. Cinta bertemu saat butuh. Cinta harus bersama? Cinta tidak berpisah?

Aku hanya merasa cinta.

Tuesday, June 7, 2016

Selesai Tak Pernah Berhenti

Aku sudah berbaring di permadani. Aku kesepian. Temani aku tidur. Aku ingin dipeluk. 

Tak lama aku mencoba tenang sampai tertidur dan bertemu dalam percakapan teks denganmu Selasa pagi. 

Rangkaian rindu terus meragu.

Saturday, June 4, 2016

Oh, Tidak!

Oh, tidak. Aku tidak sendirian di kamar ini. Tuhan menatapku dengan kasihan. 

Tiga puluh tahun berlalu. Cepat jadi dewasa karena masalah begitu dekat. 

Dimana tawa yang ingin kembali. Kemana rasa jadi perempuan.

Tuhan mengampuniku dengan kasihan. Hidupkan kesepian ini.

Sendiri TAI

Mungkin rasanya bagimu sudah tidak lagi seperti dulu. Wajar manusia berubah karena status baru. Aku memang orang bodoh yang kagum akan waktu. Tak ingin kusia-siakan apa yang sudah kubina. Meskipun akhirnya harus tetap pulang sendiri. Kamar seperti tempat pengampunan dosa bagiku. Duduk tanpa celana sambil menatap layar. Begitu setiap malam yang membosankan. Mungkin ini alasan mereka menikah. Walau tanpa perasaan setidaknya tidak kesepian. TAI.

Friday, June 3, 2016

Gerah!

Bumi semakin sepi. Semenjak dihuni digital keparat. Manusia seakan keji. Semenjak lupa diri.

Era dimana "apa kabar?" menjadi misteri, sapa hangat menjadi bahasa alien yang terdengar kurang harmonis.

Dosa besar kita, rasa acuh terhadap diri sendiri yang diacuhkan, dibiarkan banyak sendiri sampai malam tak mau pulang.


Thursday, June 2, 2016

Aku, Kamu, dan Sisa Cinta

Kalau cinta tidak tinggal serumah, tidak menikah, jarang bertemu, mengunyah rindu, cinta membuktikan bahwa yang kekal hanyalah kenangan. 

Manusia cuma bisa berharap, menangis, kembali merenung, dan mungkin menyesal sampai enggan tidur. 

Namun, cinta hidup meskipun tidak lagi subur, tumbuh menjadi keindahan yang menggelantung di kelopak mata kita.

Bukan, Derita Bukan

Aku tidak bisa berharap banyak dengan sisa ingatan. Perasaan melulu tanpa masa depan. Duduk, bakar rokok, melamun, dan aku seakan terbengkalai di rumahku sendiri. 

Tuhan pernah marah padaku. Semua terputus sementara. Hingga terputus-putus, aku hanya bisa menyesal. Akankah hari menjadi milikku seutuhnya nanti?

Diam, Hati, Sudahlah

Kadang aku bosan menyerah pada sepi.

Malam kesepian terus beriringan dengan hati.

Entah siapa yang harus menanggung sepi.

Malam sudah tidak lagi berdaya seperti hatiku.

Tuesday, May 31, 2016

Adalah Kita

Kesalahan yang kita perbuat membuat kita hancur. Kita adalah bagian terkecil bumi yang sombong. Kita merasa bisa mendahului kebahagiaan yang belum datang. Kita menuntut kesedihan berhenti sementara kita lemah menghadapi airmata. Kita keras kepala membenturkan kepala dan gigi menjadi pertentangan hati. Harusnya kita tidak hancur, tidak sombong, tidak merasa benar, tidak menyerah, selagi bumi dapat dipijak dan nafas berhembus. Kita yang pandai berbuat salah, kita pula yang sanggup memperbaikinya.

Saturday, May 28, 2016

Begitu Datang, Tak Kunjung Selesai

Senja tidak datang sendirian, mungkin ia bersamamu.
Pagi begitu sakit, mungkin banyak salah.

Entah apa maumu..
Kau hancurkan apa yang mereka bangun.
Tak jera melihat mereka menderita.

Sadarlah, walau sebentar pun tak sedikit menyisakan tawa.

Wednesday, May 25, 2016

Pengecut Menyimpannya

Harapan membuat orang bertingkah seperti pengecut. Tidak bergerak hanya menatap dari kejauhan. Sirna pula harapan bagi orang pengecut. Hidup tidak akan pernah berubah dengan diam. Pergerakan selalu membuahkan hasil. Meskipun harus jatuh, divonis kalah, dan tidak berdaya lagi.

Oleh Diri

Setiap orang menanti esok yang berbeda. Pastinya bukan derita, luka, apalagi airmata. Tapi orang tak dapat menghindari bencana yang datang, mungkin esok. Dimana penderitaan terkadang diciptakan oleh dirinya sendiri. 


Monday, May 23, 2016

Kira Hati

Merasa kesepian itu tidak enak, sayang. 
Bukan berarti kamu tidak punya waktu untukku.
Mungkin kesepian manja.
Bukan berarti aku menuntutmu 24 jam.
Mengira hati berpaling, namun ternyata lebih gila.

Friday, May 20, 2016

Berdua Kita

Sampai pada titik dua puluh dalam sendiri. Apa sebenarnya menanti puisi cinta yang baru? Mungkin bahagia sendirian hanya dalam hati. Esok kau mempercayaiku untuk tetap disini. Biarkan matahari terbit tanpa banyak bicara seperti sediakala. Malam tiba membawa sepi lama. Sadarlah kita berdua. Hanya berdua.

Tuju

Cinta membutakan kami yang tidak buta. 

Sampai akhirnya setengah pandangan hilang ini menjadi pesan terakhirnya.
 
Jatuh cinta untuk dinikmati tanpa kendali. 

Apa kami bodoh mempertanyakan drama?

Mereka di luar sana merakit bahagianya perlahan. 

Seakan berkorban demi membahagiakan yang lainnya. 

Mereka di luar sana membangun istananya perlahan. 

Walau tidak satu pun yang membantu termasuk orang yang mereka tuju.

Raga Disini

Apakah aku harus jadi orang tolol untuk merasa sedih? 
Tangan yang datang tak mungkin kembali.
Biarlah penyesalan.
Rasanya kita jadi manusia, kadang hilang.

Begitu kejam rasa. Begitu sakit raga.

Selesai Percaya?

Gelembung malam meletus di kepala.
Airmata berlalu tanpa penyelesaian.
Tak ada yang pasti di dunia.

Hadiah bagi orang yang kecewa adalah sabar.
Setiap nafas yang hilang tak akan pernah kembali.
Tempatmu bukan tempatmu. Selesailah percaya.

Thursday, May 19, 2016

Tak Pernah Berarti

Suntuk bergumul dalam tangisan.
Malam tiba dengan tatapan kosong.
Aku benci kata "sibuk".
Seperti yang terlupakan.
Menghapus luka dan menumbuhkannya di atas kepala.
Segala penyesalan tak pernah berarti.

Wednesday, May 18, 2016

1 Lagi

Rasanya tak lagi sanggup,
jiwa dan raga lelah,
bibir tertutup,
menuhankan pasrah.

Kosong seperti kaleng minuman yang habis dilibas dahaga. 
Kosong seperti pandangan duka atas dunia fana.

Bosan mencari, tertunduk, mengemis, tertatih, seakan kematian dekat. Satu sentimeter lagi.

Dia, Cerita, Dinamika

Ketika menikah dia bukan lagi sahabatmu yang utuh seperti dulu. Tiap kali senang, bersama. Tiap kali sedih, berdua. 

Senyum lepas tertinggal di ujung meja sana setelah aku mengelap sisa kopi di bibir dengan kebahagiaan.

Saling mengadu sakit dengan diam. Tidak ada yang penting utamanya bungkam. Tidak ada lagi dialog mendalam kecuali menatap tajam dari kejauhan. Masa lalu membuntuti tak berkesudahan.

Janji tenggelam bersama ribuan cerita sederhana di ujung kuku yang patah. Hari ini dia utuh menjadi dirinya sendiri.


Tuesday, May 17, 2016

Sebatang Ancaman

Resah hati tak tertuju, siapa, dimana, apakah hati perlu arah tuju?

Dialog air dan angin mengeras di telinga. Lipatan kaki menguat berbekal angan.

Masih banyak batang yang tersisa. Harapan tengah kuhisap dalam-dalam.

Sesal, bathin beradu, tanpa ampun membayangkan baru.




Itulah Haru

Kesedihan selalu sempurna, kesedihan membuatku harus menjadi diriku sendiri, menangis, dan diam tanpa satu pun kata, semua sakit, rasanya sesak di dada. Apa yang kulihat tak lagi bisa kubaca, apa yang  kurasakan belum mati, ialah satu-satunya yang hidup, tumbuh, semoga erat.

Terima Senyum Kasih

Senyum yang datang, senyum yang hilang. Mata berburu senyum-senyum yang senantiasa membahagiakan. Tanpa berpegangan tangan, mendekat apalagi bercumbu. Bayangan senyum mesra menghiasi bagian otak yang pudar. Terima kasih senyum kasih.

Cinta Dalam Semoga

Cinta menemukan keadilannya sendiri. Ketika mereka pemilik cinta asyik tidur pulas, mata ini tak sanggup terpejam. 

Pagi selalu menanti sambutan yang hangat. Cinta terlupakan oleh waktu yang digenggam begitu erat. 

Semoga saja cinta mengenal dirinya tanpa diadili bukan tentang siapa.

Saturday, May 14, 2016

Sakit Romantis

Romantis itu kadang sakit, misalnya sendirian. 

Segelas kopi susu manis mengental di tenggorokan. 

Terbunuhlah sepi! 

Dan aku tak ingin terus terbebani. 

Sementara mereka asyik tatap muka dan bertukar nafas. 

Entahlah, aku yang beruntung atau mereka memang ditakdirkan lebih dulu bahagia?

Thursday, May 12, 2016

Sebentar Kali Ini Saja

Aku ingin memilikimu sekali ini saja tanpa hati atau tidak adalah ketersiksaan bathin yang tak ada habisnya. 

Suatu Saat Kita

Kita akan menjadi debu di kehidupan orang lain, suatu saat ketika angin memanggil untuk terbang. Jauh di antara ribuan kilometer, berusaha tetap tenang menelan ludah-ludah basi.

Friday, May 6, 2016

Hati-hati Hati

Hati tidak ingin merana, 
mereka bilang sakit.
Hati tidak ingin terluka,
mereka bilang dusta.
Hati selalu ingin menang menjadi hati.
Hati rela dikalahkan demi hati.
Hati bernafas perlahan, menanjak dan terjun dalam kebebasan. 

Istirahatlah hati hati yang lelah.

Monday, April 25, 2016

Stroke T*i Kucing

Judul kali ini dikutip dari ucapan seorang pria yang memijit tubuhku. 

Aku memang tidak yakin manusia baik, aku tidak percaya manusia jahat. Manusia hanyalah manusia. Kehidupan yang bukan manusia sudah pada tempatnya.

Segelas kopi menyuruh tidur sejam ke depan.  

Maaf, Maaf, Maaf

Beberapa hari ini badanku dijamah orang-orang yang berusaha membuatku sadar akan hal-hal yang tak bisa kulihat. 

Sekarang aku hanya ingin memberi maaf atas perlakuan jahat mereka di luar sana. Jangan ganggu lagi, kami minta maaf.

Thursday, April 21, 2016

Pilihan Itu Ada

Aku tidak percaya sudah bulan keempat. Tahun ini masih sama seperti yang lalu. Kegelisahan masih dalam kunyahan. Pernah kutelan dan menghajar otak. Apakah masih ada hari terbaik untukku? Jika mengharapkan seseorang beritikad baik, aku harus lebih dulu berani melangkah ke depan. Sendirian atau tidak sama sekali memang menyebalkan.

Tuesday, April 19, 2016

Nikmat yang Disemogakan

Aku tidak ingin merasa cinta itu mudah. Apalagi mengatakan cinta itu gampang. Sebuah perjalanan tak selalu nampak jelas. Adalah pengorbanan yang tak akan mungkin bisa orang ganti dengan apa yang ia lepaskan dan dapatkan. Kita hidup dalam lingkaran semoga. Tak selalu keinginan bisa terkabulkan, namun doa tak mungkin berdusta menghapus satu persatu airmata yang berlalu.

Thursday, April 14, 2016

Seru Merdu

Pergilah kesepian!
Aku pemikir yang masih suka ramai.
Biarkan aku senang dengan kerumunan.

Berjuta huruf dan angka di kepala.
Aku terjebak di dalamnya.

Dan biarkan aku terbang jauh dari kesepian!

Wednesday, April 13, 2016

Pura-pura Ramai

Aku munafik,
tidak berdaya,
kehilangan akal,
dan aku sadar bahwa aku kesepian.

Thursday, April 7, 2016

Mungkin Begitu?

Kertas-kertas berterbangan di atas kepala. Kertas pertama menanti keajaiban. Kertas kedua mempertahankan cinta. Kertas ketiga rela berkorban. Sementara kertas lainnya kosong kehabisan tinta. Tak lama kemudian kertas-kertas itu tersapu badai. Tak satu pun menyisa. Kepala bingung kemana arah angin membawanya. Manusia bersih keras memikirkan apa yang mereka inginkan dan miliki tanpa kepala. Begitulah cinta.

Monday, April 4, 2016

Oh, Aku!

Kenapa harus sangat cinta?
Kenapa harus kecewa?
Itu hanya cerita bodoh seseorang yang dibudakki perasaannya.
Itu hanya kisah tergila seseorang yang rela menjadi sandaran.

Orang itu aku.

Mungkin Saja Iya

Pagi yang muram. Wajah gelisah terbaring kaku. Demi waktu semua bebas menyakiti. Tapi aku tinggal berdiri meratapi cabikan. Aku tahu Tuhan begitu adil. Suasana hangat menjadi dingin. Aku tidak lagi ingin menjadi pemenang. Biarlah kalah agar lelah tak lagi merasa bersalah.

Keparat Rasa

Perasaan ini lama-lama keparat. Menyiksaku sesukanya. Dan lebih bodohnya aku mau saja. Sampai kapan aku rela bertahan dengan keadaan hati yang tersiksa? Mengertilah kasih.

Sunday, April 3, 2016

Entah Tiga Tahun Ke Depan

Aku tak kuasa menahan rindu. Menatap fotomu berulang kali. Hasilnya bangun tidur aku tetap sendirian. Kadang aku merasa tersiksa. Tapi aku belum jera. Semoga kamu tahu betapa hancurnya aku.

Saturday, March 26, 2016

Janji Membusuk

Kini tidak ada siapa. Tidak ada yang menguatkan kecuali diriku sendiri. Keputusanku dibiarkan membulat, tanpa perlawanan. Ini membuktikan kau yang terhebat. Kau memang berani. Pada akhirnya aku dibiarkan PERGI dan ditinggalkan. Semoga kau benar-benar bahagia. 

Friday, March 25, 2016

Rindu Usai

Sebentar lagi hari berganti. Rindu sudah menghampiri. Sedihnya rindu sendiri. Rindu yang diakhiri. 

Itu Berakhir

Hari ini tidak seperti biasanya. Aku merasa semakin sendiri. Tapi yang penting kamu tidak sendiri. Cinta itu menyiksa. Aku tahu sejak lama. Namun, aku tak berharap kau mendapatkan siksa. Ketika semakin sendiri, aku tidak percaya kamu lagi. Hari ini aku tahu semua tentangmu. Semoga akhirnya kamu bisa mencintainya, dan lepas dari belenggu. 


Sunday, March 20, 2016

Sibuk Laki-laki atau Perempuan

Laki-laki berambut panjang kata mereka seperti perempuan. Perempuan berambut pendek kata mereka seperti laki-laki. 

Mereka sibuk dengan laki-laki dan perempuan. Mereka sibuk mencari kesalahan. Mereka lupa mengurusi kehidupannya sendiri. 

Aku seperti laki-laki, atau aku bukanlah perempuan seutuhnya, aku bukanlah nafas yang kau hirup pagi nanti. 

Saturday, March 19, 2016

Segelintir Resah Malam

Gairah cinta yang tidak bisa kupaksakan. Hariku yang semakin kebingungan bersabarlah. Kelak yang bicara itu suara alam bukan hati. Dan yang tersimpan hanya kebahagiaan seutuhnya. Jika hatimu tulus, aku tak akan kehilanganmu.

Adalah Takut Pengecut

Jangankan menyusunnya menjadi berani, kepingan rasa sepertinya tak sanggup lagi kuambil. Entahlah, darah pengecut ini kapan berganti menjadi daging yang empuk? Kegelisahan demi kegelisahan semakin dekat. Sorot lampu yang datang dari kiri, kanan, atas, bawah, segala sisi itu menyakitkan mataku dan teriakan-teriakan itu bergantian menusuk telinga. Untuk sadar aku musnah demi ingatan yang pernah hilang. Kata terakhir yang paling pedih adalah TAKUT. 

Thursday, March 17, 2016

Mata Telanjang Hati Berbaju

Aku berbohong, mereka tidak tahu, Tuhan yang tahu.
Aku kebingungan, mereka menebak, Tuhan tersenyum.
Aku terjatuh, mereka pura-pura tidak melihat, Tuhan menolong. 
Aku berdosa, mereka bilang aku sakit, Tuhan mengampuni.

PSA

Ketika aku memikirkan ayah, juga ibu. Ketika aku asyik dengan duniaku sendiri. Ketika aku dihantui ayah dan ibu.
Ketika aku lupa dengan diriku sendiri.
Ketika aku larut dalam keentahan. Dan aku pasrah pada ketika. 

Tuesday, March 15, 2016

Si Buku Mana

Banyak rencana yang kupikirkan, kubiarkan, hingga terbuang begitu saja. Padahal sederhana. Tentang karya tulis. Entahlah kapan aku berani menyuguhkan mereka setengah pikiran tololku. Besok, nanti, atau malah tidak akan pernah.

Thursday, March 10, 2016

Kamu Mengumpat!

Mungkin orang lebih asyik mengumpat. Mereka tak lebih dari seorang pengecut. Apa yang mereka lihat bukanlah segalanya. Mereka yang terus mengumpat akan mati ditelan bumi suatu saat nanti. Hidup ini sederhana dengan mengurusi diri sendiri dibanding mengusik kehidupan orang lain.

Kita Bahagia

Kita harus bisa menjaga bahagia-bahagia kecil yang kita punya. Kita harus bisa merawatnya agar tidak layu. Kebahagiaan itu bukan hanya tentang apa tapi siapa yang benar-benar mengerti bahwa kita bahagia.

Thursday, March 3, 2016

Misalnya Hari Ini

Jaga hati untuk hati yang terbaik. Tidak mudah langsung jatuh cinta. Hati tak 'kan pernah terbaca oleh mata-mata yang terluka. Senyum bukanlah alasan pertama setia. Misalnya airmata ini kujual berapa mereka berani tawar? Tiga juta kali terjatuh, tiga juta kali kembali bangkit hanya karena setia. Lakukan, renungkan, tentang kita, masa lalu yang nanti tak pernah kembali.

Saturday, February 27, 2016

Kita yang Dipastikan Bisa!

Kamu, cerita kecil yang besar di hatiku. Jangan pernah lelah menjalani hidup ini. Entah bagaimana caranya menahan rasa sakit. Tuhan baik memberikan kita pelajaran untuk bertahan kuat. Kamu bisa, aku bisa, dan kita pasti bisa! 

Cerita Roti

Saat aku sedang menatap layar sambil berusaha merangkai kata, bingkisan datang. Bukan kaset, CD, apalagi vinyl. Tapi sepotong roti kesukaan kita yang kau sengaja kirim. Romantis! 

Kadang aku kesal denganmu, tapi rasa cinta begitu besar. Sadarilah itu! Terima kasih untuk perhatian yang luar biasa. Semoga lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Peluk aku dimana pun kau terbaring.

Thursday, February 25, 2016

Sinyal Biru

Ketika aku berendam di kolam penderitaan. Hidup.. hiduplah! Dan ketika aku merasa bahagia. Mati.. Matilah!

Aku hanya sementara..

Wednesday, February 24, 2016

Kisah Hujan Si Malam

Malam, dia beruntung di malam sedingin ini bersama pendampingnya. Setidaknya dia tidak sendirian, kedinginan, dan harus menanam rindu di ujung ingatan. Tubuh yang mulai mengurus, sabarlah. Aku sedang mempertahankan perasaan. Perhatikan saja aku dari kejauhan. Lalu, mendekatlah ketika aku mulai goyah. Jangan sampai aku terjatuh untuk kedua kalinya di atas kasur yang sama.

Sunday, February 21, 2016

Suatu Pagi Nanti

Wangi pagi tak dapat kuendus.
Aku lupa rasanya nikmat.
Kopi terbakar sejak berbulan yang lalu.
Apakah aku mampu melepaskan tali-tali yang kuikat sendiri di tangan dan kaki ini?

Entah..
Aku penakut.
Aku pengecut.
Semoga wangi pagi suatu hari nanti dapat kuhirup.

Sunday, February 14, 2016

Minggu Rasa Rindu

Mendung, petir bersahutan, duduk dengan segelas air putih, ambil rokok dan bakar. Rindu itu tenang, bebas. Sayangnya tidak bertemu. Syukurnya bisa dinikmati. Aku, kamu.

Monday, February 8, 2016

Rindu & Kalah

Rindu bukan main. Tapi malam ini rindu menjadi abu. Siapa aku? Aku sadar posisiku. Rindu tersimpan adalah kekalahan. 

Hancur Siang

Selamat siang, hancur.
Akhirnya, aku terbuang.
Hancur terasingkan.

Jangan menangis, hancur.
Pejamkan mata, dan percayalah yang pantas akan datang, yang menyakiti biarlah berlalu.

Satu Langkah, Satu Asa

Satu langkah pun tidak.
Aku hanya mampu iya.
Entah bodoh atau kalah.

Sakitnya begitu sakit.
Cinta yang belum sanggup kulepas, kubiarkan bebas, dan lebih bahagia dari kisah denganku.

Sunday, February 7, 2016

Di Ujung Celah


Sudah, kamu maklum saja. Keadaanmu bukan keadaannya. Selama ini juga maunya tak selalu maumu juga. Maka tak ada yang harus disesali dengan marah, tangis, derita. Inilah kamu yang sebenarnya. Aku yang sebenarnya hanya bisa mengetik, sesekali membaca lagi, luka dan kenangan. 

Saturday, February 6, 2016

Sore, Hujan, Aku Bahagia

Teman-temanku sudah memiliki pasangan hidup. Mereka sedang menyambut kelahiran anak pertama, kedua, dan seterusnya. 

Mereka sibuk menata rumah tangga, menambal tembok kontrakan yang bocor, mencuci pakaian dalam suami, dan mempertahankan kebahagiaan yang mereka bentuk. Entah sampai mati atau hanya sandiwara. 

Sementara aku masih terpaku mendengarkan hujan. Ini pilihan yang harus kurenungi. Aku belum membuka hati, tetap menutup diri, semoga tak pernah ada sesal, dan aku percaya Tuhan Maha Mengampuni.

Hujan Kekasih

Kekasih, dimana pun kamu berdiri, lepaskanlah gundah itu, sebagai pengganti dari rasa sepiku. Kekasih, hujan tak berhenti, seperti perasaanku padamu terus melaju. Kekasih, aku sebenarnya nyaris kehilangan akal, berkali aku sampaikan. Berulang kali rokok kubakar, diam, dan gemercik suara hujan ini begitu mendebarkan. 

Kuatkan!

Kuatkan aku menjalani apa yang sudah menjadi keputusanku. Kuatkan aku menghadapi apa yang seharusnya kuterima. Kuatkan aku, Tuhan. Meskipun terkadang aku larut dalam kehancuran.

Thursday, February 4, 2016

Aku, Sudahlah

Sedihnya, kehilangan akal untuk terus bertahan cinta atau berusaha "jatuh cinta". 

Tak pernah mencari apalagi menemukan. Entah sampai kapan aku mengekang diri. Sudahlah, aku. 

Wahai Benci

Matilah kebencian di bawah tanah yang kupijak. Tenanglah disana bersama wajah barumu. Jangan kembali lagi membunuh nafas yang sesak. Aku rela kehilanganmu wahai kebencian.


Kira-kira Begitu Sakit

Kamu yang sedang tidak mendapat tamparan dan sakit hati mungkin masih bisa tersenyum lega. 

Sementara aku hanya sanggup membaca komentar mereka sambil berpikir "apa aku ini gila?".

Aku bertahan dengan segala kesakitan. Aku sudah tidak lagi bisa menangis sesuka hati.

Sakit di dalam.


Wednesday, February 3, 2016

Sekilas Andai

Andai saja kesepianku bisa kutukar dengan kesepianmu. Andai kebahagiaanmu bisa kau tukar dengan kebahagiaanku. Tapi semua rencana Tuhan. Sejak bersama mungkin tak pernah berpikir akan sering berpisah. Sejak bersama mungkin tak pernah berpikir akan tetap baik-baik saja. Jika itu benar baik-baik saja sampai nanti. Terima kasih kau benar-benar mencintaiku.

Wednesday, January 27, 2016

Bodoh?

Dulu secangkir kopi yang menemani malam suntuk seperti ini. Sekarang yang tersisa segelas air putih dan rokok yang belum selesai terbakar. 

Hari ke hari yang membuatku semakin takut. Pertanyaan yang sama muncul. Apa aku orang bodoh? Mungkin iya. Jika tidak berarti aku sedang beruntung saja. 

Sakitnya Begitu Sakit

Tidak adil, menyakitkan, dan sudahlah. Hanya itu yang berputar dalam otakku. Aku harus menerima apa saja yang sudah menjadi risikonya. Perasaan yang begitu dalam sulit menjerit. Kesakitan ini terus berjalan. Andai dapat kuputar kebahagiaan setiap kali kuingin bahagia. Dan segala pertentangan hati bukan lagi menjadi penghalangnya. Aku tersiksa, aku mau.

Monday, January 25, 2016

Mereka Diam

Disaat orang-orang tahu aku memerlukan bantuan dan mereka diam. Aku akan selalu ingat kejadian ini. Semoga mereka selalu diberikan kesehatan lahir dan bathin. Aku bisa. Kamu, harapan aku satu-satunya.

Sadar Ini Cinta Ini

Irama malam melaju. Detik berjalan cepat. Baru saja mencium baumu. Sudah berlalu yang tak ingin berlalu. Tak ingin sadar tentang beberapa keresahan. Melupakan hati yang sakit di atas pertahanan. Cinta, cinta, mereka bilang aku gila! 

Sunday, January 24, 2016

Bagimu, Bagiku

Kita memikirkan tentang kekalahan-kekalahan yang tak terpikirkan. Kita merenung tentang angan-angan. Kita merindukan yang pernah datang. Kita wujud yang terbayang.

Ajak aku terbang jauh dalam khayalmu, lepaskan jenuh di sela keruntuhan. Aku tak ingin larut dalam kesepian. Biarkan aku di sampingmu. Perang begitu sulit diikuti, aku tetap menjadi pelindung bagimu.

Saturday, January 23, 2016

Masihkah?

Rasanya ingin pergi jauh menggapai harapan bersinar. Tapi aku ini pengecut. Berani sebatas ingin. Pikiran dan hatiku sudah membiru. 

Menelan ludah basi berkali-kali dan tetap tersenyum. Aku tidak lega, aku tidak sabar, aku bukan orang kuat, aku sudah hancur. Masih adakah harapan itu?

Bingung Kadang

Kadang aku heran kenapa aku mau? Menunggumu berlama-lama duduk di tempat kakiku melangkah ini. Seperti warung di pinggir jalan yang sedangku singgahi. Sebenarnya akan membosankan jika tanpa alasan. Aku menanti orang yang sudah berpunya. Aku menahan pilu terdalam. Aku sudah hancur tapi enggan mengakui bahwa aku berantakan tak terkira.


Masih Bila Masa

Mengumpulkan kepingan sisa luka. Diam tanpa sepatah kata pun aku diam. Siang seperti pagi nan cerah. Melepas isak tangis bathin. Guncangan enggan pergi. Sadarkah aku terluka? 

Thursday, January 21, 2016

Hingga Tak Terhingga

Kadang aku bosan meratapi kesendirian. Mencari celah di antara kepulan asap rokok yang kubakar. Semakin malam terasa sepi. Duduk gemetar di atas motor dalam ringkukan gerimis. Aku ingin dipeluk dan merasa nyaman. Lagi, aku tersiksa. Hingga menuju tidur digentayangi rindu menderita.

Tuesday, January 19, 2016

Kepada Sendiri, Aku Sepi

Di tempat ramai yang tak bersalah aku merasa semua orang senang dan aku paling berduka atas hidupku. Atau mereka yang justru tak sebahagia aku? Entah juga wahai sepi, aku sendiri. Lelah, lelah, lelah ini bertaburan di taman hati. Dimana aku bersandar? Tubuhku sendiri.

Monday, January 18, 2016

Aku atau Kamu

Waktu itu aku jatuh cinta untuk sebuah luka. Kini luka kembali datang dan aku masih bertahan jatuh cinta. Aku yang bodoh atau kau yang sadis?

Sunday, January 17, 2016

Diam Semoga

Percuma mencurahkan isi hati kepada yang berbahagia. Sudah berbeda waktu dan status. Ketika nanti aku dibutuhkan baru terasa perbincangan lama. Semoga aku sanggup melawan hati.

Kuat! Kuat? Kuat!

Tiga puluh, tiga puluh, tiga puluh! Aku bisa gila mempermasalahkan ini. Tiga puluh, tiga puluh, tiga puluh! Orang bahagia, aku yang tersiksa. Aku takut, sedih, dan hinggaplah padaku wahai keajaiban. Aku lemah!!!

Cinta atau Jatuh

Jatuh cinta tidak bisa dicari. Jatuh cinta menaklukkan kesepian. Jatuh cinta pasti menyenangkan. Apa kabar jatuh cinta? 

Minggu Pagi 1/2 Gila

Tidur terlalu pagi, bangun terlalu cepat. 
Tiba-tiba sudah Minggu dan aku masih saja berdiri di atas awan mengelus memori.

Aku ingin terbebaskan dari patah hati.
Andai aku bisa terbangkan perasaanku ke atas sana dan memandang ke depan sana.

Babak Baru Dimulai

Perjalanan hidup ini entah akan panjang atau tidak. Aku tetap bernafas menatap kekhawatiran. Kira-kira aku sanggup atau tidak mendulang sebangkul kerikil baru? 

Tuhan, Engkau memang tidak ada di sini. Tapi aku yakin hanya Engkau pelindungku.

Friday, January 15, 2016

Kuat, Sepi

Merasa kesepian itu tidak enak apalagi benar-benar kesepian. Kita tidak bisa mengandalkan siapapun. Orang yang paling kita harapkan kelak punya jalan hidup sendiri. Bicara sendirian melawan sakit. Waktu yang tepat untuk hebat adalah kuat.

Sebentar Lagi Selesai?

Aku takut membayangkan kebahagiaan orang. 

Aku tidak punya nyali untuk mundur jauh dari kenyataan.

Karena aku harus berani menanggung perlakuanku sendiri.

Karena aku harus takut terbunuh rasa bersalah.

Aku bisa, kamu bisa, dan kenangan mengiringi hidup kita masing-masing. Sebentar lagi.

Thursday, January 14, 2016

Teruskan Kebahagiaanmu

Pada akhirnya cinta yang tersisa kebohongan. Sungguh manis di bibir kemudian perlahan hilang. Orang mengaku cinta setelah ia merasa butuh. Ketika mencoba pindah hati yang lama dibuang. Rasa bahagia tidak dapat disembunyikan dari raut wajahmu. Harusnya tidak perlu berpura-pura tidak suka, tidak mau, tidak ingin, padahal sudah bahagia.

Wednesday, January 13, 2016

Aku Bukan Adalah

Aku adalah alasanmu untuk tersenyum.
Aku adalah alasanmu untuk bahagia.

Aku adalah alasanmu untuk tegar.
Aku adalah alasanmu untuk bimbang.

Aku adalah alasanmu mencari masa depan bukan denganku.

Sanggupkah Aku?

Pada awal aku mengenalmu, bimbang datang membuatku banyak menimbang. Namun, langkah tak terhenti dengan segala masalah yang akhirnya bisa kuselesaikan. 

Pada akhirnya, aku semakin mengenalmu. Bimbang itu sudah pergi lama, kini tibalah rasa takut yang tertanam. Apakah aku sanggup melihat awal?

Perlu!

Seakan aku hebat padahal rapuh. Aku hanya bisa menahan dan bertahan. Udara dingin jauh dari matahari yang biasa menendang syarafku. Aku perlu terbiasa sendiri. 

Tuesday, January 12, 2016

Datang, Hilang, Kembali

Semangatku hilang dan datang. Ketika hilang aku rasanya ingin mengakhiri hidup. Namun, ketika datang aku semakin ingin menikmati hidup ini. Teruntuk rasa sakit yang kuciptakan sendiri, jangan kau goda aku dengan kelemahan. Goda aku bersama rencana masa depan. Besok untuk apa, lusa bagaimana, dan bulan depan apakah aku tetap memijak bumi? Rahasia Tuhan, kematian. Kehidupan untuk selalu disyukuri. Semoga aku bisa.

Monday, January 11, 2016

Ampuni Saja

Sebenarnya, aku paling takut mati. Apa yang aku bawa nanti? Aku banyak dosa. Nafas ini sepertinya bosan denganku. Tubuh mulai lunglai. Aku yang kurang senyum makin sulit tersenyum. Entah! Tuhan, aku memang salah. Sekiranya Engkau beri aku kesempatan. Ampuni saja dosaku.

Sunday, January 10, 2016

Terbakar Tidak

Rokok yang kubakar ini sudah tidak mampu menenangkan, memberikan kenikmatan, apalagi mengubah kenyataan. Hidup yang katanya indah, tak seindah itu juga, tanamlah bunga di taman hati kita dengan cerita yang baru.

Matahari dan Hujan

Mereka seakan akrab.
Nafas semakin sesak di cuaca yang aneh ini.
Dimana rindu yang kita tumpuk bersama?
Sudah banyak dan tinggi.

Mereka seakan akrab.
Hati bertahan menang di tengah kericuhan.
Tak selalu kebahagiaan diungkapkan dengan kata bahagia.

Mungkin aku harus tahu mereka --matahari dan hujan-- yang seakan akrab memiliki cerita berbeda.


Pilu, resah, airmata.

Wednesday, January 6, 2016

Diam

Diam meratapi dini hari yang sunyi.
Dimanapun aku berada terinjak pikiran yang sama.
Diam menyesali keadaan diri.
Kemanapun aku pergi terpukul lintasan masa.
Ingin rasanya kubunuh "diam".

Tuesday, January 5, 2016

Kegelisahan Berlanjut

Ada kebahagiaan yang harus kita tebus dengan cara terluka. Persetan cinta, rindu, dan kenangan. Entah bagaimana menceritakan rasanya? Tidak pahit, namun pedih! Manisnya tinggal kenangan. 

Sunday, January 3, 2016

Sepuluh Kurang Tujuh

Jangan takut aku patah hati karena aku tengah merasakannya. Segelas teh manis hangat ini tak mampu meredamnya. Entah dimana harus bersadar? Tuhan Maha Segalanya, aku pasrah. Ikhlas tak mudah. Sudahlah, belenggu.

Saturday, January 2, 2016

Aku Mencintamu, Sayang

Aku mencintaimu. Meskipun kadang begini tidak cukup, begitu masih terasa kurang.

Aku mencintaimu. Walaupun kita sering berpisah dan memendam rindu. 

Aku mencintaimu. Dan ini memang tidak akan pernah cukup. Maaf, sayang.