Linimasa

Thursday, December 31, 2015

Penghujung Tahun

Tuhan, aku tidak ingin memikirkan soal hati. Aku tidak ingin jatuh sakit lagi seperti bulan sembilan. Kuatkan jiwaku yang rapuh. Ampun! 

Cinta Bukan Kesalahan

Sakit hati jangan biarkan aku semakin terpuruk sakit. Sakit hati pergilah dengan cerita barumu yang lain. Jangan ganggu kesedihanku. Jangan usik rasa sendiri ini. Sakit hati, cinta memang benar.

Sunday, December 27, 2015

Adakah?

Hari yang indah bagi jiwa yang sepi. Mungkin hujan segera turun ke bumi. Basahi hati yang sedang gelisah. Menghitung detik yang teraniaya. 

Adakah rasa yang manis bagi kami yang datang dengan keikhlasan? 

Sudah Minggu

Sampai bertemu nanti sore dalam kebahagiaan. Aku tidak membawa hadiah kecuali ikhlas. Jangan menahanku dengan kecurangan. Semua ini sudah membuatku MATI RASA.

Saturday, December 26, 2015

Segera Menang

Aku berharap aku tidak menyesal di kemudian hari. Sekarang aku hanya bisa diam memerhatikan kebahagiaan orang. Mereka bukan aku, dan aku bukan mereka. Jadi aku tidak perlu pusing. Tidak ada kata terlambat untuk menang. Sabarlah, hati.

Hati Pemalu

Orang akan menemukan pasangan hidupnya saat harus rela kehilangan cintanya. Sesungguhnya hati tidak akan pernah terlihat jelas di mata karena hati pemalu. Manusia punya banyak rencana atau tidak sama sekali ingin menciptakan sesuatu yang berarti. Cinta bukan satu-satunya alasan mereka untuk bertahan dalam kesendirian. Kadang mereka terpaksa mengorbankan kesendirian orang lain demi mempertahankan cinta sebenar.

Friday, December 25, 2015

Aku Hanya Mengaku Manusia

Hari ini, besok, tidak pernah ada. Terbelesit untuk menyusun kata barusan. Yang berbaris rapih akan sampai pada pintu utamanya. Manusia berhadapan dengan manusia. Manusia tetaplah manusia, bukan anjing atau setan. Jawaban yang dibisikkan terdengar orang lewat lagu-lagu sumbang. Di antara doa dan diam. Kita tidak sedang berada dalam lingkar keajaiban. Ampuni dosa hamba, Tuhan.

Rasa Gambar

Tidak ada yang menggambarkan rasa sebagai rasa. Gambar akan terbaca saat rasa dirasa. Begitu melihat gambar yang terbaca adalah rasa gambar. Kemudian gambar yang tak terlihat adalah rasa.

Thursday, December 24, 2015

Tiap Malam Pengampunan

Bersyukur menjadi sebuah kesempurnaan. Apakah aku orang yang paling terlambat bersyukur? Semoga Tuhan mengampuni dosaku, yang lalu dan kini.

3 Tahun Lagi

Aku mengganti hari dengan tahun supaya aku tegar. Aku banyak lupa semenjak darah membeku di otak. Jika ini hukuman yang harus aku terima, maka kurelakan. Jika ini menjadi kebahagiaan bagi mereka, maka kuikhlaskan. Maaf, aku seringkali mendesakmu dengan cemburu. Doakan aku bisa menerima segalanya.

Monday, December 21, 2015

Tiga Dekade, Tiga!

Tiga angka kecintaanku yang kujaga selama bertahun. Tiga dekade tanda bahayaku yang mudah rapuh. Aku tak ingin terhempas lebih jauh lagi dengan tiga dekade ini. Sewajarnya aku pantas bahagia, tak selalu seiya sekata. Mata kananku yang masih mencari. Semoga ia menemukan terangnya. Tuhan, jangan bosan menjagaku!

Sunday, December 20, 2015

Seminggu Setuju

Orang bilang tentang hari ini. Aku menyebutnya Minggu cepat atau lambat pasti datang. Semua hal yang menakutkan aku percaya. Hidup ini indah, hidup ini cinta, dan hidup ini tanggungjawabku sebagai manusia.

Rasa 30

Beginilah rasa 30. Pikiranku mudah kosong semenjak bulan sembilan. Aku orang kacau yang tidak ingin menghina. Bungkam mulut yang kasar demi mencuri perhatian lebih banyak. Hatiku sudah hancur entah bagaimana bentuknya. Rasanya saja sudah tiada. Senyuman tetap menari di atas kepala. Terima kasih kamu yang menyempatkan diri untuk menyapaku dengan hangat. Kado tersimpan manis dan semangatlah kamu.

Tuhan! Tuhan!

Sementara tak ada tempat senyaman doa. Aku tengah berbahagia kemudian terdiam karena satu perkara. Mungkin aku akan selalu salah. Berharap ada kesempatan untuk menjadi yang terindah di matamu. Tangan tak selalu berpegangan, tubuh jauh untuk mendekap. Eratkan jiwa kami yang guncang, Tuhan.

Saturday, December 19, 2015

Keraguan yang Salah

Rasanya ingin kuhabiskan tahun ini dengan cepat. Tapi semua pasti melalui waktu yang penuh kejutan. Adakala pikiran ini tenang, kemudian robek seketika. Mungkin rokok yang hanis kubakar itu memang tak berguna. Setidaknya aku berhasil melamun tanpa kekosongan. Isi pikiran yang datang dan pergi terus memburu hingga tiba kebahagiaan mereka. Namun bukan untukku. Bahagia sepenuhnya, keraguan yang salah.

Nyanyian 30

Bertambahnya umur nanti seperti sebuah ancaman besar. Angin berbisik, "kapan kamu berani?" dan aku kembali menelan ludah. Hidup ini tidak sepahit yang kurasakan. Berhenti di 30 atau menganggap diri benar-benar pecundang!

Terima Saja

Dinding hati ini gelap sampai tak nampak ujung sinarnya. Mencekik nafas-nafas tak bersalah dan akulah orang bodoh. Pilihannya, makan rindu atau tersiksa. Sudah, terima saja. 

Friday, December 18, 2015

Harapan Tersisa

Lama-lama aku lebih baik mundur. Seperti perlahan aku mendekatimu dulu. Entah perasaan apa yang begitu berat. 

Tentu waktu tidak akan pernah memihak padaku. Perjalanan ini masih panjang. Nafasku seakan tenang.

Padahal aku gelisah jarang bertemu. Aku ragu kau benar-benar rindu. Ketika waktu bersamanya lebih banyak nantinya.

Tuesday, December 15, 2015

Di Antara Bahagia

Kalau aku menyerah pada hidup ini, bagaimana dengan ibuku? Dia tegar dan hebat menghadapi masalahnya. Aku tidak seperti dia. Tapi aku harus tetap semangat. Uang bukan Tuhanku. Uang bukan kebahagiaan sesungguhnya.

Sore yang Sejuk

Jika saja aku bisa menuntaskan gelisah hati detik ini, pasti kulakukan tanpa menunggu persetujuanmu. Namun, aku bukan pemberani dan memilih membiarkan orang yang sabar menunggumu itu berbahagia sore ini disana. Atas nama sore yang sejuk, sakitku bukan sakitmu. 

Selasa Pagi

Pagi sang pemberi harapan, dan mata yang sulit terpejam lagi. Berbatang rokok kembali kubakar. Sakit hati lama-lama juga sembuh, biar dewasa. Hari-hari indah tinggal disambut, mencoba untuk tetap tenang. Saat merasa kehilangan arah, aku sadar Tuhan tidak kemana-mana.

Sunday, December 13, 2015

Tentang Ingin Kita

Seperti baru sedetik yang lalu kita saling melempar senyuman. Rindu kembali membasuh hati. Apa kau ingat jumpa pertama? 

Cinta tidak berada di hadapan kita. Memang. Hingga waktu terlewati, kau tak bosan menatapku dengan cinta. Ketulusanmu, inginku.

Friday, December 11, 2015

Hidup, Mati, Kenyataan

Takut mati, tapi kadang lebih takut hidup. 

Kesempatan yang datang begitu cepat pergi.

Kita cuma punya semangat, dan harga diri.

Apa kabar kemarin?

Hari yang dihadapi tantangan yang harus selalu disyukuri!


Sunday, December 6, 2015

Kekasih Dijaga

Buat apa aku sedih disaat melihat kau begitu bahagia dengannya? 

Wahai pembaca, jangan tertawa! 

Aku tidak ingin kalian mengerti, apalagi menganggap aku hancur. 

Wahai pembaca, pegang erat tangan kekasihmu. 

Jaga kekasihmu sebenarnya.

Minggu Lagi

Minggu tak selalu milikmu, tak selalu milikku, tak selamanya milik kita yang senang berduaan. Kekasih datang, kekasih pergi. Suatu hari tanpa kekasih, dan terbelenggu lagi. Sudahlah, aku pasrah dipatahkan!!!

Saturday, December 5, 2015

Enam Minggu di Hadapan

Tuhan memberikan aku sakit paling tersakit sepanjang hidup. Semoga tidak ada sakit susulan. Persoalan sembuh apa tidak, aku pasrah. 

Hari bahagiamu semakin dekat. Mungkin akan menjadi perpisahan yang paling menyedihkan bagi cinta. Tapi sudahlah, aku harus terima dalam keadaan sakit.

Bukan hanya dia yang tersenyum puas di sampingmu tapi mereka yang selama ini membenciku. Selamat, kalian menang. Tepuk tangan untuk kita semua.

15:00

Cinta terangkum dalam sebuah perjalanan. Pendek atau panjang, kecil atau besar, sempit atau luas, dan manusia berhak menentukan jalan yang mana. Cinta semakin kejam. Menusuk bagian tersakit, melempar kertas-kertas berisikan goresan pena biru, tertanda "aku cintamu".

Thursday, December 3, 2015

Setitik Lagi

Kenangan sedih ditatap. Bagaikan ombak terombang-ambing. Sadarlah aku dengan diam. Lepaskan gundah gulana. Pencarian berakhir. Di ujung waktu kita tertatih.

Cinta Bukan?

Dulu kita selalu menanti hari ini untuk mengingat cinta. Tapi itu dulu, bukan sekarang. Waktu berjalan dalam perubahan. Kita tidak lagi terlihat benar-benar saling membutuhkan. Mungkin pendamping terbaikmu adalah masa depan bukan cinta.

Monday, November 30, 2015

Disambut Babak Baru

Harusnya aku tidak berada disini. Tapi aku jadi tahu wajah bahagiamu. Semoga kau tidak lagi berpura-pura. Ceritakan perasaanmu yang sebenarnya. Aku siap patah lagi. Tidak perlu pakai hati. Sudah selesai.

Sedih, Jangan!

Sedih, jangan kau datang mencabik pikiranku. Biarkan aku leluasa mencari apa yang kuinginkan. Entah kutemukan atau tidak. Biarlah aku yang tahu.

Sedih, jangan kau ganggu kesenanganku. Biarkan aku bebas menemukan apa yang tak pernah kudapatkan. Entah kumau atau tidak. Biarlah aku yang menentukan jalannya.

Sunday, November 29, 2015

Biar, Biarkan!

Biarkan aku tidur dalam pelukanmu tanpa orang ketiga. Biarkan aku bahagia untuk terakhir kalinya. Biarkan aku cemburu karena kau milikku. Biarkan aku tersenyum bebas membayangkan tentang kita. 

Biarkan aku memilih jalan kenangan sendiri.

Entah Kemudian

Memudar.. Hilang.. 

Enggan rasanya bicara lagi.

Harapan sirna ditelan ketiadaan. 

Aku cuma seorang perempuan..



Tetap Sederhana

Selamat pagi, Minggu. Aku sudah terbangun beberapa jam yang lalu. Harapan selalu ada, kesempatan pun sama. Apakah frustasi berhasil membunuh perasaanku? Iya, pengalaman begitu indah dan berharga. Restui aku untuk selalu bersabar. Kelak langit biru menunjukkan awan terbaiknya. Putih, kau tetap sederhana. 

Saturday, November 28, 2015

Laporan Stroke

Darah membeku di otakku. Egois betah membuat garisnya sendiri. Menyakitiku perlahan. Nasib baik tak sampai terbunuh. Banyak hilang ingatan, banyak yang kulepaskan. Akhirnya, fokus yang di depan mata. 

Tolonglah.. tolong.. tolong.. tolong.. sakit, tolong.. siapa yang berani menghentikan kebodohan ini? AKU SENDIRI!

Sisa Cinta

Kita harus berterima kasih pada cinta. Ia memberikan kita energi luar biasa dan kehancuran tak menyisa. Wahai malam, apakah kau mau bertanggungjawab mengobati hati-hati yang terluka? Jika setuju, kirimkan kami kekuatan baru untuk bertahan dengan sisa cinta yang kami punya. 

Tuhan dan Jalan TerbaikNya

Di setiap kebahagiaan ada hati yang tersakiti. Sabtu tak seperti Sabtu yang kita selalu nantikan. Tuhan sudah menentukan jalan terbaik bagi orang bersalah. Sekarang atau tidak sama sekali. Kebabagiaan adalah pilihan.

Desember?

Belum sampai di bulan yang kucintai, rasa takut datang menyiksa. Takut, pergilah ke tempat asalmu. Aku tidak ingin diganggu. Biarlah aku sibuk menyembuhkan sakitku. Hari-hari menegangkan. Aku terancam.

Terakhir Kali

Banyak cinta yang terluka. Pengorbanan yang tak seberapa ini pun malu. Enggan menangis lagi. Siang begitu kejam menghantuiku dengan kenangan. Aku rela patah hati untuk yang terakhir kali.

Thursday, November 26, 2015

Umpama

Andai aku tak punya hati, membiarkanmu lebih dulu sakit hati. Tapi biarlah.. aku yang menanggung lebih banyak hancur. Ketika malam datang, dan pagi membuatku enggan terbangun, siang berganti sore, seakan hari mengikatku pada rasa bersalah.. Tuhan biarkan hidup ini tetap indah denganmu atau tanpamu. 

Tuesday, November 24, 2015

Pura-pura Iya

Sakit hati itu sederhana, kecil, dan bernanah. Ada banyak tips meruntuhkan sakit hati. Namun, sedikit yang berhasil memaksakan diri untuk jatuh cinta lagi. 

Tidak bisa lagi dan coba lagi atau dengan mudah seperti mereka bilang iya saja. Hingga waktu menikahkan jodohnya. Aku harus berpura-pura kuat.  

Tegar?

Melupakanmu tak semudah melupakan patah hati. Aku patah hati dan tak ingin melupakanmu. Waktu yang menyakitkan semakin dekat untuk mengajariku berdiri tegap. Aku tak bisa mundur dan terus berjalan menelusuri duri kecil. Jalan yang kulewati tak 'kan mungkin kulupakan. Dengan senyuman aku menyambut kebahagiaan orang yang mungkin kau tak cintai. Semoga tegar.

Saturday, November 21, 2015

Sedikit Kalah

Menangis. Aku cuma bisa menangisi apa yang pantas aku terima. Semenjak awal September itu datang, semua berubah. Aku hanya bisa memohon ampun. Menangis. Aku cuma bisa menangisi kekalahanku. Bagi yang sehat, jagalah pikiranmu agar tetap bebas.

Ancaman?

Harusnya sakit ini tidak membatasi ruang gerakku.
Ketika banyak kejadian yang tak bisa diulang terpaksa kulewati.  
Sakit ini mengasihi waktu-waktu yang terabaikan.
Airmata menjadi teman bijaksana ketika Tuhan marah besar padaku.

Sakit ini.. Sakit ini.. Ancaman!

Friday, November 20, 2015

Tidak Ada Pilihan Lain

Perasaanku sudah hancur tanpa kau jaga. Hingga tiba waktunya, semua hal tentang kita bukan lagi aku dan kamu. Kita terpaksa harus memikirkan orang lain. Persetan dengan kesedihan ini. Tinggal menghitung hari untuk benar-benar menelan pil pahit. Aku pasti menang karena cinta pasti terluka.

Wednesday, November 11, 2015

Seperti Cinta

Mencintaimu seperti sebuah keharusan.
Tidak ada pilihan lain.
Wangimu menempel di indera penciumanku.
Tidak ada rasa lain.
Mencintaimu seperti hari kemarin, yang lalu, dan selamanya.

Monday, November 2, 2015

Hanya Kalah

Aku pikir hidup ini hanya beban. Ternyata aku hanya pemeran utama yang bodoh. Aku pikir cinta ini selalu indah. Ternyata aku hanya pujangga kesiangan yang kalah. 

Sunday, November 1, 2015

Bukan Sakit Jiwa

Sakit hati bukan sakit jiwa. Jika manusia menyerahkan seluruh jiwanya untuk orang yang mereka sayangi, maka ia tidak perlu sakit hati.

Saturday, October 31, 2015

Menebus Kekalahan

Mereka bersembunyi dan tertawa. Mereka kira kami tidak mendengar. Mereka lupa, kami terluka.
Mereka penjahat yang manis.
Kami hanya orang jelek.
Orang yang tersakiti rela berdiri lama dengan peluh.
Airmata mengendap dalam jiwa bertubuh lemah.
Mereka keluar dari tempat persembunyian setelah mengisi peluru ke dalam senjata. Dor.. Dor.. tidak ada yang mati, namun bunyi tembakan dusta jauh lebih menyakitkan.
Kami yang kalah senang melihat kemenangan. Lawan bukan musuh terberat melainkan sahabat yang tersimpan.

Kita, Tuhan, Terakhir

Kita yang menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Kita yang menciptakan kesedihan kita sendiri. Tuhan sudah menyerahkan kebahagiaan dan kesedihan itu sebagai tanggungjawab kita dalam menyambut akhir kehidupan. Semoga dosa tidak membekas, namun terhapus. Semoga dosa tidak menghina, namun memberikan yang salah petunjuk. Disini kita membujuk penantian agar tetap bersabar. Tegap dalam airmata terakhir.

Thursday, October 29, 2015

Luka Tai Kucing

Luka, apakah kau masih sanggup bertahan dalam ketiadaan. Mereka menertawakanmu. Sudahlah, luka. Apa kau malu akui kekalahanmu?

Maaf, cinta hanya soal pengorbanan. Termasuk rela PATAH HATI. 

Kenapa yang Sakit Hati Aku Bukan Dia?

Cinta tidak merencanakan penderitaan. Cinta membawa kebahagiaan bagi empat mata yang saling menatap dengan ketulusan. Aku tidak ingin memperdebatkan perasaan, karena dia pemenangnya. Aku tidak ingin mengemis perasaanmu, karena akulah juara pertama. 

Sunday, October 25, 2015

Obat Patah Hati

Senyum! Senyum! Senyum! 
Ternyata obat patah hati tidak mahal! 
Senyum! Senyum! Senyum!
Ikhlaskan..

Tidur Itu Tidak Murah

Tiga pagi, apa aku harus menyerah? Dada ini sesak tak terhingga. Rasanya ingin meledak! Kenapa aku harus patah hati? Sementara orang-orang sibuk berbahagai. Entah...

Saturday, October 24, 2015

Hati, Sayang

Jgn pernah pergi dr hidup aku, sampe kpnpun~

Tapi aku terpaksa harus melewati kesepian ini lebih dulu, sayang. Padahal kamu orang yang aku anggap paling setia. Ternyata tidak. Aku harus berani menghadapi kenyataan pahit ini. Sakit biarlah begitu sakit. Hati-hati, sayang.

Friday, October 23, 2015

Kami di Bumi

Setiap nafas akan mendapatkan kehidupan dan kematiannya masing-masing. Bumi yang tua menanti sisa nafas terakhir dengan membiarkan hujan tertahan. Salah kami di bumi. Maafkan kami di bumi. 

Saturday, October 17, 2015

Cemburu Menyakitkan

Menahan cemburu itu menyakitkan. Tapi cinta tidak akan menyerah. Cinta adalah sosok yang berani. Cinta adalah tubuh yang tegap berani melawan sakit. Cinta tidak akan rela mundur begitu saja dengan alasan kalah. Menahan cemburu itu menyakitkan, sayang.

Friday, October 9, 2015

Salah yang Disemogakan

Dada kanan terasa pilu seperti bekas kena tembakan, apakah begitu rasanya? Entah. 

Kulawan sadarku dengan menghisap rokok. Manisnya hidup ini tak sepahit pemikiran manusia. 

Semoga aku tetap salah!

Thursday, October 8, 2015

Sabar, Jangan Pergi

Sabar, jangan bosan dengan pemikiranku. Sabar, ikhlaskan rasa tersiksa. Sabar, jangan biarkan aku melamun lama. 


Wednesday, October 7, 2015

Tak Ingin Lebih Sakit, Tersiksa

Sebenarnya hati ini sedih. Inginku bukan menjadi pesimis. Kondisi ini menyuruhku banyak bersabar. Isi kepalaku mulai terbatas. Ragaku tak seperti dulu. Namun, semangatku bertahan di lingkaran yang kuat. Pikiranku masih berantakan. Konsentrasiku melemah. Tuhan, jangan kau biarkan aku tersiksa.

Saturday, October 3, 2015

Izinkan Pagi Ini

Sebelum tiga pagi jemariku menari di sini. Butuh dua jam lagi sampai pada tiga percis. Semua orang tahu apa yang mereka pikirkan. Meskipun perasaan terkadang bukanlah isi kepala. Sabtu tidak selalu hebat. Kita tetap berusaha menjadi yang terbaik bagi kita. Sebelum matahari terbit, izinkan aku memimpikanmu.

Mereka Adalah Kita

Mereka yang duduk di tepian lelah menghadapi luka. Mereka ingin kembali ke sebuah masa. Mereka tidak mengharapkan yang baru. Mereka pikir yang terbaik adalah menerima. Mereka jarang menangis. Mereka banyak senyum. Mereka tidak pernah merasa kuat. Mereka hanya bosan disakiti. Mereka adalah orang-orang yang tertidur di siang bolong.

Sunday, September 27, 2015

Kita Tidak Sama

Anggapan orang tentang menikah adalah persoalan 'akhirnya laku'. Orang menikah karena ingin terus bersama pasangannya. Iya, keputusan mereka bisa alasan status sosial atau murni perasaan. Bebas! 

Aku tidak berada di tengah. Aku tidak berada disamping. Menjelang tiga puluh ini seakan paling bersalah, oh tidak. Persetan mulut orang yang berani bicara di belakang. 

Keadaanku bukan keadaanmu.

Bertahanlah, Cinta!

Cinta mempertahankan kita meskipun kadang mempermalukan. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, dan sudah jangan pernah berharap taman yang kau pijak kemarin indah akan selalu indah. Mana mungkin perasaan manusia ditembak. Isi kepalanya yang terbaca pun segera berlalu. Perasaan mereka yang mati tidaklah buruk, ini hanya sementara. Kemudian hari terbaik untuk bangkit dari gelisah adalah menerima kenyataan. 

Rasa Kita, Percaya

Dalam rasa kita bercerita tentang sedih dan bahagia. Rasa takut datang tanpa permisi menyuruh kuat. Lantas kita bisa apa mempertahankan cinta? Sementara ombak di lautan begitu terjal. Aku punya kisag sebaik ini yang mereka kira aku gila. Hari terbaik adalah memberi dan menerima. Semoga aku termasuk dalam golongan orang-orang yang ikhlas. 

Thursday, September 24, 2015

Sabar dari Ibu

"Sabar adalah obat untuk menuju kesembuhan yakin dan percaya pasti sembuh," katanya. Aku terharu bahagia membacanya di tengah rasa tidak percaya diri. 

Kemarin, hari ini atau besok aku perlahan bangkit! Aku rindu beraktivitas penuh. 

Sunday, September 20, 2015

920 Pagi

Seakan aku paling salah. Kesalahan itu seakan paling salah. Padahal aku yang akan lebih dulu terluka. Tapi sudahlah. Aku tinggal menghitung bulan, menyiapkan diri, dan kau lihat nanti betapa sakitnya aku. 

Dua Minggu Lebih

Selama ini aku merasa sabar. Aku merasa jadi orang paling sabar. Namun ternyata belum. Tuhan memberikanku kesempatan memperbaiki diri. Aku tidak ingin berjanji soal pembenahan. Dua minggu lebih aku terus berusaha bangkit dari sakit ini. 

Saturday, September 19, 2015

Mungkin dan Tidak

Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap cinta, merasakan cinta yang sama seperti kemarin. Tugasku hanya bersiap merelakan kenangan indah terganti. Meskipun aku tak 'kan terganti.

Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap percaya, mendengar segala penjelasan seperti kemarin. Tugasku hanya bersabar menunggu hari dimana kenangan segera dihapuskan. Meskipun dia yang akhirnya menang mendampingi hidupmu.

Cari aku kapan pun kau butuh dijelaskan tentang rindu yang tak berpihak pada orang-orang yang merasa benar atas cinta.

Tuesday, September 15, 2015

Sakit Tak 'Kan Terasa

Sudah hari kelima belas bulan yang baru. Aku masih berusaha menata isi kepala yang sempat rusak. Terima kasih, cinta begitu besar. Kali ini aku mengaku kalah. Jatuh begitu dalam supaya bisa mempertahankan kemenangan. Tidak lebih dari rasa berdosa. Tidak lebih dari derita. Aku diam ingin terampuni. Hilanglah sesak!

Tuesday, September 1, 2015

Selamatkan yang Salah

Saat merasa hancur, aku harus ingat bahwa aku bukan satu-satunya orang di muka bumi ini yang merasakan patah hati itu menyiksa. 

Mereka di luar sana yang pernah berusaha menghidupkan kembali rasa-rasa mereka dengan segala cara untuk membuktikan ke dunia hari ini mereka bahagia.  

Aku tidak perlu membentuk dendam, mengumpulkan lebih banyak lagi airmata karena akhirnya aku terpaksa berpura-pura menerima demi kebaikan.

Pertanyaannya, apakah cinta itu benar? Cinta tidak akan menunjukkan adanya sebuah kebenaran. Hanya saja ia tumbuh di beberapa tubuh yang salah. Itu pun dipersalahkan.

Tuhan Maha Pengampun. Cinta membuatku berdosa padaNya. Sampai di titik paling mendidih aku akan menjerit dan berucap "selamatkan jiwaku, Tuhan".

Thursday, August 27, 2015

Bosan Bersedih

Aku pikir aku dinanti. Ternyata tidak. Aku hanya jadi cemohan orang-orang. Kamu orang yang paling kusayangi malah gelisah tentang mereka bukan menjelaskan rindu. 

Dalam mabuk hatiku menangis. Tuhan, aku goblok. Aku terlalu lama bermimpi. Aku tolol. Lepaskan ikatanku ini. Aku ingin bebas dari segala pikiran negatif. Aku ingin terbang tinggi dengan senyuman. Aku bosan bersedih.

Wednesday, August 26, 2015

141

Aku drama. Sedikit atau banyak orang yang tahu tentang dramaku adalah aku drama. Prahara cinta tai kucing membuat hati ini keram. Kadang orang perlu berubah tanpa kata. Hanya lakukan dan lakukan saja. Dan akhirnya perubahan yang dibutuhkan menusuk dinding-dinding ketulusan dengan segudang alasan. Tidak ada yang dirugikan apalagi diuntungkan. Cinta berkarat.

Selamat Bebas

Tanpa kamu sadari aku telah membebaskanmu dari apa yang kamu pikir bahwa aku menyimpanmu dalam keterbatasan. Selalu berdoa untuk yang terbaik meskipun hati dan pikiran ini begitu busuk berbau. 

Tuesday, August 25, 2015

Perlahan Hilang

Perasaan yang hilang dan termaafkan belum kunjung lenyap dari lubuk hati. Terlalu dalam hingga sakitnya penuh drama. Airmata mengering dalam ketakutan. Rasa percaya diri yang gratis serasa beli. Aku sulit berpikir dengan baik ketika tersakiti.

Monday, August 24, 2015

Benar Tak Sebenar

Patah hati itu sakit, tapi kalau terlihat menjerit orang pasti bilang aku gila. Bahkan mereka akan sebut aku bangsat. Hari-hari yang aneh dengan memaksakan diri untuk kuat. Sehari baik, sehari hancur, sampai aku benar-benar sudah sakit. 

Saturday, August 22, 2015

Aku Merindukanmu, Nanti

Judul kali ini tidak memberikan kesan. Setidaknya aku pernah menjadi yang pertama dalam setiap detik di harimu. 

Aku tidak ingin menghitung berapa lama. Biarlah mimpi ini kosong hingga semu itu datang. Ingatanku terbungkam.

Kondisi hati yang separah ini. Pernahkah kita berjanji untuk saling mengasihi? Aku harus lupa. 


Nikotin Cinta

Aku cium kesendirian dengan asap yang tak bersalah, mereka bilang nikotin mematikan. Mereka pikir mereka Tuhan? Aku duduk di lantai bisu, menempelkan kulit pada rasa 'dingin'. Mereka memaksaku mati rasa sekarang juga. Aku setuju untuk mengalah tanpa mengaku "aku adalah satu-satunya orang yang paling setia". Mereka menganggapku kuman, dan aku menilai mereka datang bak prahara. Seperti kekasih yang jatuh cinta, kekasih yang senantiasa rela untuk menerima "janji" patah hati.

Masih Disamping Kopi

Tidak ada kekhawatiran. Tanya-tanya yang manis hilang begitu saja. Aku kembali membakar sebatang rokok kekalahan. Beratnya patah hati. Tidak ingat apa yang sebenarnya harus dipikiran dengan apa yang seharusnya dilupakan. Sudahlah, ini aku dan kehancuran dalam senyum terindah.

Tragis Tak Membiru

Sore dengan segala rasanya. Aku terus berpikir tentang kita. Mungkin sudah tidak ada lagi rasa seperti dulu. Hatimu terpaksa harus terbagi. Aku diam dan menangis. 

Dan segelas kopi milo harusnya dingin ini kuminta panas sambil
bertemankan lagu sendu, "Tubuhmu Membiru Tragis". 

Angin yang paling bahagia sore ini karena ia berhasil menyelimuti kesedihanku. Aku bangga diri. Perlahan menjauh dari realitas. Aku menyesal pernah membebani. 

Tiba saatnya nanti, hari ini bukanlah hari kita. Kau berbagi penuh senyum, tawa, sedih bersamanya. Tragis.

Wednesday, August 19, 2015

Waktu (Dipaksa) Tidak Sedih

Agak sulit melihat bagaimana jadi kamu sementara aku pun nyaris tidak berdaya lagi. Mungkin aku tidak perlu menuduh bahwa kali ini Tuhan tidak adil atau bersumpah atas semua kegelisahan hati. Entah apa yang perlu kusembunyikan darimu tentang rasa. Aku hanya bisa diam mengiyakan, mengangguk, dan mengubur segala cemburu seperti orang yang memang sudah tidak berperasaan. Ketika hati begitu sakit, dan airmata habis seperti tidak ada harapan tentang esok hari. Perasaan, silakan mati. Jangan sampai yang terbunuh itu semangatku. Waktu-waktu sedih.

Monday, August 17, 2015

Inginku

Inginku tetap sederhana dalam kesedihan yang besar. Inginku menemukan yang sudah menjadi hakku sebagai perempuan. Kalau ternyata inginku bukan tentang seseorang, maka inginku harus berani bijaksana. Inginku tidak melupakan kebaikan-kebaikan, meskipun hati akan mengalami hal terburuk. Inginku adalah menjadi keindahan yang tidak pernah kau dapatkan sebelum kau inginkan aku. 

Thursday, August 6, 2015

Jendela Kunang

Kadang jatuh cinta tidak cukup disebut senang, kadang juga patah hati tidak cukup hanya dikenal HANCUR. Setiap pikirin yang menyakitkan muncul, aku gila sementara dengan rayuan buruknya. Berapa banyak waktu yang kulipat untuk surat cinta sepanjang 1 kilometer. Tak seberapa kesinisan manusia, mereka boleh menendangku kapanpun. Meski yang rela pergi hanyalah waktu yang tersisa bukan kemarin. Kenangan disini, disana, dimana pun aku meminjam nyali untuk satu syarat kekasih.

Komposisi Sisi

Aku orang pertama yang tertawa setelah sadar melihat kelakuanku sendiri. Rasa apa yang paling berantakan kalau bukan cinta. Sebutir rindu tanpa racun kita minum bersama. Bolehkah aku bersandar di bola mata gelisahmu? Jawablah iya.

Sebab aku tidak akan berhenti dalam kemenangan, hanya saja aku tetap hancur di ujung kesetiaan. Malam yang bahagia, malam yang selalu mengerti betapa pilunya hati, percayalah aku bukan orang jahat. 

Thursday, July 30, 2015

40 Kilometer

Setelah empat puluh kilometer perjam berlalu, tak terasa sudah dua belas lewat. Telunjuk dan jari tengahku mengapit sebatang rokok, sementara kedua jempol tangan kiri dan kanan asyik menatap layar ini. 

Kemarin malam tidurku berantakan, tadi seharian aku gelisah. Aku harus tetap menjalani hariku dengan pikiran-pikiran terbuka, meskipun hati semakin tertutup. Kesedihanku banyak tapi aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Aku tidak mau lebih lama merasa kesepian. 

Semoga yang menyiksa tak akan terulang.

Wednesday, July 29, 2015

Gelisah, Selesai?

Setiap kesepian yang tidak perlu dirasa sepi mengajariku tentang berpikir lebih jauh. Meskipun kebanyakan bimbang dan ragunya daripada menikmati apa yang terjadi. 

Suara pendingin ruangan ini seperti bisikan apa kabar besok? Aku ketakutan dan lanjut mengetik. Tuhan menemani manusia dengan caranya, berharap soal pengampunan. 

Selesailah, gelisah.

Tuesday, July 28, 2015

28

Airmataku rasanya tak ingin berhenti pagi ini. Tak kuat menahan rasa bersalah dan menanggung kehancuran hati.

Iya, aku perempuan.

Sunday, July 26, 2015

Empat Waktu Mundur Kalah

Waktu selalu baik, walau keadaan tidak seperti yang diinginkan. 

Lampu di kamar menyala karena kita yang hidupkan. 

Masihkah ada esok hari untuk sesuatu yang tidak membuatku terpuruk?

Aku ingin dilindungi dari masalah takut dan kecewa. 

Setidaknya, Ampun!

Terima kasih, mimpi. Kau pertemukan aku dengan orang-orang yang terpaksa tidak bisa kutemui saat ini. Aku sedih dibatasi sejak hari itu.

Mungkin mereka memandangku lebih dari ulah penjahat. Banyak yang kusimpan dan kutelan karena aku sadar tentang kekalahan. 

Pasti aku yang harus mengalah, mundur dengan salah, tersenyum karena mereka nanti bahagia.

Tuhan, katakan aku ini manusiaMu yang masih pantas mendapatkan kebahagiaan kecil nan berarti.

Dengan segala dosa aku tetap memohon ampun. 

Masa Sekali Cinta

Aku hanya bisa sedikit menyinggung lewat teks, selebihnya menikmati apa yang aku harus telan. 

Ini akan menjadi yang terakhir kalinya hatiku rela dirobek. Diam begitu menyiksa, sayang. Airmataku keluar dan berhenti seketika tanpa permisi. 

Mungkin waktu menginginkan aku terbiasa sendiri menimbang kekalahan. 

Aku berharap pertemuan berikutnya aku bisa berpura-pura lebih dewasa, tidak lagi menunjukkan kesal. 

Sakit ini tak terbayar. Tak terbayangkan! Kamu harus tau! Dan aku tidak mendendam! Hancur ini tak ternilai, sayang. Tapi aku serahkan pada yang memberi, tak lain adalah Tuhan. 

Wednesday, July 22, 2015

Tetap Membara



Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri. Malam ini aku tidak akan mengatakan bahwa aku hancur karena cemburu. Sudah terlalu sering aku diuji dan tidak pernah kapok. Aku tidak perlu membakar  foto dan kertas kenangan. Sejumlah gambar dan teks digital pun cepat atau lambat akan terhapus. Aku rela kehilangan bukti-bukti. Ingatan kita tidak pendek, ingatan kita panjang. Cinta bukan persoalan aku suka kamu, dan kita hidup bersama. Ingatlah, aku satu-satunya api yang kau nyalakan tanpa pernah kau padamkan. 

Jurang Ikhlas

Setiap hari yang kita pikirkan adalah bagaimana cara untuk bisa bertahan merasakan bahagia. 

Kita juga mendapatkan banyak ancaman agar tetap bahagia di atas duri-duri yang kita pijak. 

Seakan-akan telapak kaki kita kuat. Padahal kedua telapak kaki kita dalam bahaya karena membeku kesakitan. 

Apa yang bisa kita lawan? Kenyataan memang pahit. Namun, kenyataan tidak pernah mendorong kita jatuh ke jurang. Justru kenyataan membuat kita tegap berdiri di tepian. 

Tuhan Maha Adil. Aku harus ikhlas.

Friday, July 17, 2015

Selamat ya!

Sementara orang-orang sujud berjamaah, aku berusaha menghidupkan mata yang sempat tak tenang beberapa jam lalu dengan segelas kopi manis-pahit. 

Aku mengaku banyak salah kepada orangtua dan mereka siapapun yang merasa dirugikan, namun lebih terhina bila aku angkuh. 

Kata "maaf" sangat sederhana, indah, dan melegakan hati. Meskipun kini hatiku tak lagi utuh sebagaimana hati yang baru dilahirkan. 

Pagi yang cerah, burung berisik di jendela pertanda masih ada harapan dari banyak orang untuk memaafkan segala brengsekku. 

Selamat lebaran pembacaku! 

Wednesday, July 15, 2015

Bukan Himalaya

Sudah aku lewati banyak 'sendiri' saat tak bersamamu. Seribu kali aku berpikir tentang apa yang aku harus terima. Apakah aku pantas kesepian? Sebab aku bukan seperti bulan yang dinanti, ketika muncul ia langsung mendapat senyuman. Tahukah kamu bahwa perasaan bersalah yang paling berat adalah aku tidak bisa hidup 10 tahun lagi denganmu.

Tuesday, July 14, 2015

1 Bulan

Sebulan lebih kita tidak bertemu. Terima kasih telepon genggam yang selalu siap mengirimkam teks tanya-jawab aku dengannya. Lebaran hari pertama aku berencana mencium tanganmu. Semoga.

Takut!

Takut melihat tanggal, bulan, dan tahun. Takut melihat jarum jam bergerak. Takut jalan ke belakang. Takut jalan ke depan. Takut merasakan cinta nanti. Takut menghadapi manusia. Takut menyerangku dengan tenang. Takut menyuruhku bungkam. Takut memaksaku menangis. Takut mengikuti jejakku pergi. Takut menggentayangiku dengan kenangan. Takut menghukumku!

Percaya Diri atau Kamu

Rasa percaya diriku seakan hilang ketika keadaan hati seperti ini. Yang kupikirkan satu hal, tentang itu melulu dan aku bosan tersiksa. Pernah kupaksa untuk berbohong, tapi bodohnya aku mencari tahu. Sekarang aku tetap dengan perasaan yang kemarin, sementara kamu asyik kebingungan.

Sunday, July 12, 2015

Ketika Tidak

Ketika aku tidak bisa pulang, aku pergi. Ketika aku tidak bisa pergi aku akan kembali. Ketika aku tidak bisa pulang dan pergi dari tempat aku berdiri, aku sudah tiada.

Berita Baik Mereka, Bukan Untukku

Airmata meneteslah! 

Jangan malu karena kalah! Jangan takut karena kamu tidak jadi juara! Jangan menyesal karena kamu sudah berusaha!

Airmata meneteslah! 



 

Sakit Ini Benar-benar Sakit

Waktumu sudah habis dengan yang lain, aku mencicipi keluhannya dan kembali membakar rokok. Malam semakin dingin dalam perdebatan tentang iya atau tidak, aku tetap bukanlah pilihan. 

Tuhan, Engkau saksi. Airmataku habis, dan aku sangat lelah. Hatiku sudah lama hancur, namun terus kupaksa ia berada pada tempat yang menyiksanya lebih dalam. Sakit ini, benar-benar kurasa sakit. 

Sedikit Lagi, Aku Pergi

Aku harus mengalah dengan keadaan yang menyakitkan. Mulutku dibungkam hanya sesak yang tersisa. Persetan dengan semua alasan. Maumu bukan mauku dan aku lepas dari asa. 

Tubuhku semakin mengecil seperti hatiku yang sudah tidak lagi besar. Aku ingin tidur nyenyak dengan ikhlas. Kulepas segala belenggunya. Aku ingin bangun dengan senyuman.

Saturday, July 11, 2015

Malam Minggu Indah?

Jangan heran bila akhirnya aku biasa saja. Aku membebaskan pikiran mereka, seperti aku merelakan kau dengan yang lain. Suatu hari nanti, kau lebih bebas dari malam ini. Bersenang-senanglah! Aku tidak akan pernah lupa dipaksa untuk berhenti cemburu, mematikan rasaku. Sakit dalam diam, jarak, dan aku mohon Tuhan jangan pergi dari jemari yang rajin mengusap airmata sendiri. 

Tuesday, July 7, 2015

Demi Persiapan

Takut, rasa ini begitu besar. Tapi aku yakin bisa melawan takut. Kadang aku berlebihan soal cinta. Padahal ceritanya mengalir tanpa rencana. Berarti cinta hanya butuh persiapan, banyak bersyukur, dan rela ditinggalkan, mungkin.

Sunday, July 5, 2015

Sibuk Lebaran

Dulu dan sekarang masih sama soal Lebaran. Tempat mana yang akan dikunjungi pertama jadi perdebatan. Ayah dan ibu, kalian memisahkan diri dari sebuah janji. Sementara aku tersenyum untuk cinta. 

Saturday, July 4, 2015

(Tidak Penting) Dibesarkan

Telunjuk dan jari tengah mengapit sebatang rokok. Jempol kiri menekan beberapa huruf. Aku tak heran sepagi ini. Segudang pertanyaan kubiarkan terus bertanya. Cerita kecil bermakna terurai dalam hari saja. Wajah indah tidak penting untuk dibesar-besarkan. Ia tumbuh dan musnah dengan ukuran sederhana.

Lawan Lagi, Lawan Pagi

Bukan untuk pertama kalinya, aku susah tidur. Entah karena setengah gelas kopi sachet atau jiwaku yang tidak sanggup tenang. Di antara dua alasan, aku nyaris kehilangan gairah. Apa sebenarnya hidup ini? Kesenangan, kesepian, kehancuran, kekhawatiran, ketidakpastian yang mereka sebut proses. Perjalanan belum sampai pada satu langkah. Aku terpaksa maju mengelilingi perasaanku sendiri dalam jawaban iya. Sementara yang tidak adalah kekalahan. Dan semakin dekat pukul 8 pagi, Sabtu terlalu bising dan mencengkam. Malam minggu atau aku yang tidak akan pernah bisa percaya diri merasakan kebahagiaan. Sekali lagi, entah. Juli, aku ada untuk melawan diri!

Wednesday, July 1, 2015

Tahun Dalam Enggan

Tahun 2015 ini bukanlah bagian dari yang diimpikan. Sayang sekali aku tidak terlalu suka dengan cita-cita. Apa yang menjadi diriku hanya sedikit, entahlah kapan aku bisa mencurahkan sebagiannya lagi? Enggan berjalan lebih jauh, atau mundur tanpa arah. Seperti kekasih yang terabaikan dari kisah sedih di hari muda. Aku bersamaku, aku tidak abadi.

1/2 Siksa

Aku capek tersiksa dengan pikiran. Kepala nyaris pecah dalam tangisan. Hati meraung kesakitan meminta bantuan. Seketika diam, senyumlah, dan senyumlah airmata! Tidak ada cerita tentang "hari lama" lagi, semua akan pergi terganti olehnya yang berusaha menawarkan janji. Mundur melepas tangan.

Tuesday, June 30, 2015

Sekarang Sakit!

Kenyataan ini pahit, kawan! Pahit! Kita hanya bisa menelan dan mengalah! Sakit, kawan! Sakit! 

Monday, June 29, 2015

Sahur dengan Hati

Akhirnya, aku jadi penonton.
Penonton... 


PeDe Terhempas

Kadang, aku merasa tidak percaya diri untuk membuka hati. Entah kapan dan dengan siapa aku bisa ditaklukkan. Aku pikir cinta itu soal waktu, pertemuan dan perpisahan, kebersamaan adalah tentang salah dan benar. Seperti judul-judul sebelumnya, ketikan menyentuh harapan yang muncul di kepala, lagi dengan semoga. Semoga aku mendapatkan  kesempatan dari orang yang tepat, suatu hari nanti, walau aku tidak utuh, hina, jahat. Aku di sebuah arah.

Kecil, Sederhana, Menghargai

Aku takut bukan karena aku tidak berani melangkah tanpa persetujuanmu. Tanpa kamu sadari, aku telah menghargaimu, dari hal paling sederhana, yang mungkin kamu tidak peduli dan tidak mau tahu. Aku akan terus berusaha tetap menghargaimu, meskipun kenyataan yang mesti kuterima akan jauh lebih banyak pahitnya. Selamat tidur.

Semua Pasti Baik, Aku Sabar

Harusnya aku tidak perlu sering meminta lagi, menunggu kabar, apalagi berharap tentang apapun. 

Waktunya mungkin sudah habis, meski belum tuntas. Semua yang kutelan ini seakan mesti terasa manis. 

Aku tidak boleh mengeluh disaat orang mengeluh. Padahal aku juga punya perasaan. 

Biarlah pahut itu tertiup angin kencang. Aku kehabisan cara untuk mengendalikan diri. 

Sakit hati bukan masalah besar, semua ada obatnya, aku yakin perlahan sembuh. 

Rasa kecewa mereka seger terbayar dengan sikap dan langkah barumu, sikap acuhmu padaku.

Aku mencoba tutup mata, tapi tidak bisa. Teks yang kuterima sangat menyakitkan, sementara kamu di posisi aman. 

Hatiku keram seketika. Hancur, tidak ada tanda bangkit kecuali dikasihani hari ke hari tanpa henti. 

Aku dimusuhi dan aku dipaksa harus menerima segalanya. Risiko pun terlanjur kutanggung.

Tuhan, aku tidak menginginkan balasan. Jangan biarkan dia bingung, sanggup atau tidak suatu saat aku bisa.

Thursday, June 25, 2015

Sedikit Saja, Tuhan

Sudah berhari-hari menatap penantian, teks muncul dan hilang, tanpa suara, dan ketika semua kembali aku hanya mampu pasrah menerima kepahitan. Tuhan, kalau Engkau memang satu jangan biarkan mereka menjadi lebih banyak membenci karena seakan cuma aku yang salah. Aku tidak ingin menyebutnya sakit hati. Aku selalu berharap bisa selalu sabar. Aku berharap ikhlas apapun yang terjadi pada akhirnya nanti. Tuhan...

Wednesday, June 24, 2015

Semangatlah!

Aku sedih karena merindu, seakan-akan kita jauh. Apakah kau begitu marah? Musibah yang menimpaku cukup menjadi pembelajaran. Sabar tidak mudah, ikhlas tidak gampang. Aku tak sabar ingin kembali melihat senyum dan bahagiamu. Semangatlah!

Puasa 3 Hari Lebih

Seperti mimpi bisa mengendalikan diri untuk menjalani Puasa kali ini. Setidaknya 3 hari lebih sudah terlewati. Aku banyak dosa. Aku tidak akan pernah sempurna. 

Semoga Tuhan selalu melindungiku meskipun aku tetap hidup diiringi salah.

Tuesday, June 23, 2015

Hilang! Tidak Pernah?

Sebenarnya, puisiku banyak yang hilang. Hilang karena aku tidak pernah mengerti. 

Kapan dan Layar

Dua bertemu. 
Ketikan dan layar telepon genggam. 
Dua tidak ingin berpisah.
Masih ketikan dan layar yang sama.
Kapan kita benar-benar jatuh cinta?

Beda, Airmata, Terkikis

Pagi ini. Rasanya beda. Hatiku perlahan terkikis. Semenjak waktu mendebarkan datang. Aku tidak punya harapan lagi. Sulit menyimpan kesedihan. Airmata yang kuceritakan sudah mengering sendiri.  

Bukan Keajaiban

Menunggu matahari terbit di malam hari adalah tidak mungkin. Seperti keajaiban yang mungkin pernah datang sekali. Manusia boleh memilih jalan bahagia sendiri. Tuhan menjaganya dengan sempurna. Apakah sesama manusia bisa saling berdamai? Jawabannya bisa. Apakah kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri? Jawabannya mungkin. Sebelum siang tak pernah kembali, aku menginginkan sunyi-sunyi terindah. 

Saturday, June 20, 2015

Pengeras Suara Mengganggu Manusia Digital

Banyak manusia digital yang mengeluh soal pengeras suara Masjid belakangan ini. Dulu saat belum ada tempat pamer keprihatinan di media sosial, mereka tidak bersih keras menolak. Tapi sekarang dianggap mengganggu. Manusia digital itu membentuk dirinya supaya beda, tapi ternyata mereka sama. Seperti orang kebanyakan yang telah menggantungkan separuh hidupnya untuk bermedia-sosial, hingga kehidupan sosial sebenarnya perlahan musnah. Manusia digital tidak lebih baik, atau menjadi lebih berarti, mereka lepas dari kenyataan hidup demi kemajuan yang segera habis oleh ketiadaan.

Masuk Hari Ketiga Ramadan

Ramadan mengajarkan banyak hal. Sebelum masuk hari pertamanya, aku ketakutan. Sampai akhirnya bisa melewati dua puasa. Hal paling sederhana adalah sabar. Tanpa itu, semua hal baik akan menjadi sangat buruk. Aku tidak sabar, aku bosan dengan pikiran-pikiran negatif. Maka, aku  ingin belajar pelan-pelan. Semoga diterima.

Wednesday, June 17, 2015

Di Dalam Kata

Setelah melewati perdebatan, aku hanya berpikir tentang kesalahan yang datang dari diri. Aku tidak ingin menyalahkan orang lain. Perasaan harus kutelan dengan sisa senyuman. Aku tidak pernah merencanakan perubahan karena manusia sepertiku bodoh dalam bertindak. Tuhan, aku lama tak banyak bicara padaMu. Jangan jauh, jangan meninggalkanku. Ini harusnya tidak sakit, apalagi pilu. Jiwa kuat, hati biarlah rusak. Di dalam kata selalu ada makna, misalnya sabar.

Sunday, June 14, 2015

Katakan Ditanya Tidak

Seakan aku diam karena aku menerima apa saja saat aku hanya bisa diam. Apa yang kurasakan hanya selalu mencoba untuk mengalah dengan apa yang kupikirkan. 

Sulit bijaksana menelan pahit. Aku memulai masalah yang sudah usang bila kembali dijadikan masalah. Lagi dan lagi semua keterlambatan jalan, tidak memilih, tidak menangis.

Seperti Aku, Mungkin?

Manusia itu kejam, tidak punya perasaan. Mengaku saja bukan melakukan. Seperti aku, mungkin?

Dan manusia tidak pernah puas dengan apa yang ia sudah dapatkan, sebanyak apapun itu! Seperti aku, mungkin?

Manusia sering berbohong demi satu alasan yang membuatnya jatuh lebih dalam. Seperti aku, mungkin?

Sewangi Kelam

Sendiri menunggu wangi sepi ini semakin menyala. Tidak ada jendela untuk keluar. Tidak ada kunci untuk membuka pintu yang terbuat dari besi. Hatiku sudah lama hilang disimpan. Kadang aku merasa bodoh. Kadang aku lelah. Padahal aku punya Tuhan, tapi aku masih mengelak kebenaran. Darimana airmata yang menetes di pipi? Aku benci semua perasaan. Mereka bilang begini ada untungnya, begitu ada baiknya. Namun, tidak ada satu pun yang tahu kemana jalan hendak dituju.

Monday, June 1, 2015

SM

Setiap arah tak ingin kutendang. Mereka saja yang puas berdendang. Seakan rasa hilang 'tuk memulai. Mereka tak benar mengerti. Seringkali tangisan mencubit. Malam yang teramat dalam. Sesak hati meratapi hati. Melambai terkenang.

Saturday, May 30, 2015

Semoga Benar Kau Bahagia

Rasanya lumayan hancur. Tapi aku tidak ingin mengganggu kesenangan ibu. Aku tidak boleh egois seperti orang-orang yang egois. Sebagai anak perempuan brengsek, aku tetap menjagamu dari sini. Ibu, aku mau kau benar-benar bahagia.

Sunday, May 24, 2015

Kesalahan, Terima Kasih!

Dengan kesalahan, aku terlihat bodoh.
Dengan kesalahan, aku lupa diri.
Dengan kesalahan, aku buang waktu.
Dengan kesalahan, aku terhina.
Dengan kesalahan, aku belajar tentang kesungguhan hidup ini! 

Terima kasih kesalahan.

Friday, May 22, 2015

Terabaikan Perlahan

Jumat. 
Di luar panas.
Matahari tak pernah ragu mengeluarkan hangatnya.
Aku di dalam kendaraan ini duduk manis dan terdiam.
Entah apa yang harus aku lakukan?
Kalah telak!
Aku punya banyak cara namun tidak bisa melawan perasaan orang.
Terabaikan perlahan.

Kenormalan Nol

Malam ini aku mau tidur sebentar. Aku mau jadi kekasihmu, dibelai dan dimanjakan. Iya, hanya malam ini waktunya untuk berkhayal. Setiap tidur ingatan pergi kemudian datang bersama pesan. Ada ksatria dan bidadari, yang satu cuma Tuhan mereka. Doa tidak pernah sia-sia. Meskipun aku hina di hadapan banyak dugaan benar. Percayalah aku tidak normal, aku tidak senormal pikiran busuk kalian.

Thursday, May 21, 2015

Tunggu Saja Rasanya

Aku sudah mulai bosan mengetik keluhan hati. Sementara kamu sibuk berbenah diri. Keajaiban tidak akan pernah datang. Sering kita perdebatkan. Maka, aku harus bisa melakukan hal yang sama sepertimu. Baiklah, nanti coba kupikirkan. Semoga ada jalan yang cerah. Aku tidak mau kacamataku berembun sampai menusuk retina. Hari ini bukan awalnya, bisa jadi akhirnya. 

Segera Bersyukur Wahai Tembok Kamar

Aku hanya berusaha menjadi penyanggah yang selalu tegar menanti senyuman. Aku hanya debu yang menempel di tembok kamar tak berpenghuni. Aku hanya sisa dari keterbatasan sebagai kekasih tersimpan. Sepertinya aku masih punya kesempatan untuk bilang:

"Bila suatu saat kau kecewa, menangislah sekuat tenaga, pegang jemari tangan kananmu sendiri, bersyukurlah masih bisa merasa SAKIT."

Jangan Pernah CINTA!

Jangan pernah percaya sama orang yang mengaku punya perasaan karena sebenarnya ia sedang main hati. Seakan-akan kita orang yang paling kuat menerima apa saja ucapan dan tindakan yang ia perbuat. 

Padahal tahu hati sudah rapuh,
padahal tahu hati sudah tak berbentuk,
padahal tahu hati adalah mata yang tidak bisa dibohongi,
padahal ia selalu memohon dimengerti,
namun tetap merasa tak bersalah.

Jangan pernah mengaku bahwa dirimu begitu mencintainya karena pasti perpisahan datang dalam hinaan besar. 

Wednesday, May 20, 2015

Semoga, Semoga!

Aku tidak ingin mengaku hancur. Keegoisan sudah banyak memukul. Begitu keras dan sakit sekali. Namun, aku pasti yang dipersalahkan dan ini saatnya diam. Apakah kau bahagia? Semoga. 

Wednesday, May 13, 2015

Atasmu, Diriku dan Tidak Pernah Sama

Wajahmu penuh tanya seperti wajahku. Meskipun jawaban yang kita punya tidak pernah sama. 

Aku pernah merasa sangat kacau dan kini aku mulai lelah dengan pikiran yang aku sendiri tidak tahu pasti. 

Seakan aku dirimu. Orang yang rela mengorbankan waktu lebih banyak. Demi mengubur satu kesalahan yang tidak perlu diakui. 

Kita belum terluka dalam. Jangan sampai itu terjadi karena aku tetap disini bertanggung jawab atasmu. 

Sunday, May 10, 2015

Benah Hati

Pukul satu lewat sembilan. 
Aku pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.

Ratusan menit terbuang dalam gelisah. Aku sempat menangisi diri. Kenapa aku tolol?

Tanya dan jawab memburu pikiran. Aku berharap masih sempat untuk berbenah hati.

Saturday, May 9, 2015

9 Mei Haru

Aku tak menemukan apa yang sudah kudapatkan. Semua hilang dalam sepi. Aku tak perlu lagi bangun dari tidur yang panjang karena pasti tidur lagi. Semoga bukan sakit hati biasa. Ini harus benar-benar menyakitkan. Tuhan, jangan lepas aku. Disini aku tersiksa.

Kulepas Mimpi

Aku tidak pernah menunggumu pergi, aku juga tidak lagi ingin mengharapkan kau datang seperti dulu. Hari yang menyakitkan tidak mudah 'tuk dimengerti kecuali membuatnya sedikit lebih tenang. Terima kasih dan perlahan kulepas mimpi.

Friday, May 8, 2015

Malam, Aku Hadir!

Kita akan menemukan keluarga yang utuh di dalam diri kita sendiri, bila keluarga yang nyata sibuk dengan urusan pribadi. 

Tidak ada kesedihan, seharusnya. Tidak ada perpisahan, semestinya. Tidak ada perjalanan yang sempurna, dan inilah keadaan terburuknya. 

Malam mencintaiku dengan tulus. Tanpa sentuhan, malam seakan memeluk erat sepi yang tak mau hilang. Malam selalu merinduiku untuk kembali. 

Aku hadir, malam.

Terbunuh Disini

Terbunuh, aku terbunuh, aku tersiksa oleh pikiranku sendiri. Setenang apapun hati, sekuat apapun jiwa yang terkadang guncang, aku tetap terbunuh. Disini aku terbunuh!

Curiga, Pergilah!

Lelah dengan curiga. 
Bertanya di hati sampai kesakitan.
Semenjak hari itu, rasa percaya berkurang.
Aku tak ingin hilang kendali.
Tak perlu kau merasakan hal yang sama, dan suatu hari keadaan ini menjadi kekuatan baru dalam diri.

Wednesday, May 6, 2015

Ditinggal, Perlahan?

Cinta berarti KEMATIAN EGO.
JUDUL BISA DIGANTI "perlahan ditinggal".
Aku tidak boleh banyak bertanya kecuali DIBERITAHU.
Sulit untuk tidak mengakui bahwa ini PALING SAKIT.
SEUMPAMA waktu kembali, aku harusnya tidak pernah mempersoalkan KAMU dan DIA.

Sunday, May 3, 2015

Percuma, Minggu!

Percuma, aku menangis! Percuma, aku sangat cinta! Percuma, aku merasa bahagia! Percuma, karena semua itu hanya sesaat! Apakah "percuma" memandangku dengan sinis setiap aku sedang GILA?

Tak terhitung berapa asap rokok yang tumpah di mulut. Kasihan bara, hilang terbakar. Minggu dalam kebodohan. Menyadari nasib tentang hati dan pikiran ini. Keluargaku, baik-baik kalian. Percuma, aku mengalah! Percuma, aku berkorban! Aku lelah dengan "percuma".

Saturday, May 2, 2015

Frustasi? Cinta! Ha?

Persoalan cinta yang "kupandangi" tidak rumit. Aku hanya "belum pernah rela" untuk melepaskan satu pikiran. Satu-satunya kelemahan. Bila hilang, aku teraniaya oleh perasaanku sendiri hingga kenyang. 

Seperti pendingin di ruangan ini yang akhirnya mengaku capek. Kenapa aku tetap saja memakai selimut? Padahal udara tidak beku. Disitu aku takut dan mustahil pura-pura biasa. 

Tidak ada alasan frustasi, tidak ada alasan terus cinta. Apa yang tidak mungkin? Setiap terlihat berbohong, wajah itu menusuk jantung. Kisah sebentar menjadi aroma yang tidak tertandingi. Seakan-akan demi kebahagiaan orang lain, perasaan kita waktunya terbunuh rapih.

Thursday, April 30, 2015

Sumbang Senada

Cerita sudah terbagi. Dia datang mengukir senyuman di bibirmu. Semua di dunia ini hanya sementara termasuk aku. Hati yang tak mudah terganti perlu waktu bisa menerima tetesan airmata baru.

Setiap hari aku merasakan bagaimana tidak boleh takut, tidak perlu bersedih, atau tidak berpura-pura kuat, dan aku nyaris kehilangan cara untuk percaya lagi pada diri bahwa hidup akan terus "hidup" dengan keikhlasan.

Aku tidak akan pernah sempurna mengakui kebenaran yang teraniaya. Kemarin, besok, dimana hari masih berperan mencatat satu persatu luka, ketegangan, hati tetaplah tentang sabar dan usaha.

Semoga dia tidak kau anggap aku, aku bukanlah dia.

Thursday, April 23, 2015

Bukan Bisa Menjawab Hati

Aku tidak peduli, perempuan mana yang akhirnya menjadi pilihan Ayahku, dan sekarang aku belum siap memilih laki-laki mana yang menjadi pendamping hidupku. 

Mudah bicara, bukan tidak bisa bertanya. 
Mana hati yang mereka bilang "dari hati"? Tidak mudah bicara, bukan bisa menjawab inilah hati.

Wednesday, April 22, 2015

Terima Kasih, Pembaca!

Terlalu dini menuliskan judul ini. Namun, terima kasih, semacam ucapan yang ingin kutanam perlahan di kepala setelah mendapat banyak teguran darimu. 

Semenjak itu, aku percaya bahwa orang selalu punya waktu untuk melakukan kebaikan. Meskipun bentuk kecewa satu-satunya terlanjur dibunuh orang.

Aku tidak perlu menghitung 24 jam dari sekarang, karena lusa tetap menantiku dalam kebenaran. Di jalan yang berliku, untuk Tuhan aku makhluk satu. 

Tuesday, April 21, 2015

Hati Berhati

Tiap sepi yang menyiksa pasti benci berada dalam kesunyian. Bukan bidadari yang terluka, atau soal pangeran pendendam. Bagaimana tentang pagi buta tanpa pesan? Tawa menggelitik hanya terdengar dalam redup. Meletup hingga ujungnya tidak lagi nampak. Sebuah persoalan hati, beban di hati, pergi dari hati, tidur dengan hati.

Thursday, April 16, 2015

Kepada Takut

Kepada jiwa yang guncang, kepada hati yang tidak lagi berbentuk hati, kepada semesta yang tertawa, kepada rasa yang teramat sakit, kepada hari yang menegangkan, kepada mereka yang tuli akan jeritan tolong, kepada malam yang selalu menemani, aku takut.

Inilah dan Tidak

Ketika pilihan bukan teman bicara yang asyik untuk hidup. Aku tidak bisa bilang iya. Aku tidak butuh ditolak dengan "pergilah". Inilah irama teramat sangat sesak. 

Wednesday, April 15, 2015

Doamu yang Terkabul

Untuk doamu yang terkabul, aku tidak akan bersumpah membalasnya. Tuhan yang adil, jangan kau putuskan nafasku sebelum mencicipi dosa terakhir.

Di Antara Semoga

Semua alasan kusimpan. Aku tidak aneh dengan keadaan ini. Jantungku masih utuh dan hati biarlah terluka. 

Hari yang sulit kutebak. Aku nyaris kehilangan cara. Semoga wajahmu tidak redup lagi dan makin terang! 

Monday, April 13, 2015

Kesunyian Ini Menjebak

Hanya ada suara pendingin ruangan, anjing, dan jam. 

Aku menikmati pagi buta ini dengan keluguan. 

Bukan main lucunya perasaan, tiba-tiba datang kemudian tanpa pakai otak pun dicuri orang.

Memangnya aku punya otak?

Tidak, aku pakai hati.

Airmata di tangan kanan perlahan lepas. Sementara tangan kiri benahi sayap keduanya.

Thursday, April 9, 2015

Dilarang Normal

Kita bisa hebat dengan senyuman, kita bukanlah orang biasa. Dunia selalu menanti kekalahan yang sebenarnya. Piala kemenangan tidak akan jatuh dari genggaman dalam memperebutkan tempat paling aman. Jika mungkin setiap akal manusia tidak perlu sadar, mabuklah sampai kau tahu normal hanyalah kekhawatiran.

Setan Kecil Derita Hati

Cerita cinta itu ada tapi tidak ada, aku tersungkur dalam keentahan saat membahas permasalahan rumah yang tidak lagi bertangga. 

Sebab hati menahu soal derita, bagaimana wanita dianiaya dirinya sendiri setelah lepas dari luka berdarah. Airmata mengalir penuh beban. Kemana harus kucari pengganti trauma? 

Sunday, April 5, 2015

Belajar Menerima

Belajar menerima jauh lebih sulit daripada memberi. Padahal menerima dan memberi berada di satu lingkaran bila digenggam. Detaknya berbeda namun saling bertemu. Seperti apa orang yang luar biasa menerima apa saja yang telah diberikan kebaikan. Adalah orang yang tahu bagaimana nikmatnya memberi. Jangan sampai kita kalah dengan nafsu terberat yaitu enggan bersyukur.

Friday, April 3, 2015

Noda Dibersihkan

Banyak sedih terbuang nafas merintih.
Manusia boleh tega dan tidak berakal seperti aku.
Sama percis salah, mirip sekali nuansa ketidakbenaran dalam lubang putih.
Yang suci tetaplah sang kitab dan kita hanyalah noda untuk dibersihkan. 

Teks Tanpa Suara

Kasihan hati menyimpan banyak luka dan tidak satu pun yang tahu untuk merasakannya bersama. Sementara jatuh cinta senang-senang di ujung pagi bersama teks dan nyanyian. 

Esok bukanlah harapan melainkan hari bisu menunda kerinduan.

Wednesday, April 1, 2015

Singkat, Padat, Tersenyumlah

Aku harus mulai terbiasa. 
Tidak banyak tanya dan belajar melupakan. 
Aku sedih menyadari tentang cinta. 
Tidak ada lagi ungkapan hati dan semua akan menjadi kenangan. 

Friday, March 27, 2015

Khawatir Menyiksa

Rasa khawatir sungguh menyiksa. Aku hanya bisa diam saat dibuat gelisah. Pikiran entah kemana, mencarimu tidak tahu bagaimana, hanya menerka. Jangan begini, aku tak kuasa. 

Wednesday, March 25, 2015

Judul Ketiga

Aku bertanya pada diriku tentang hari-hari yang buruk.
Hari dimana kacau membuatku jadi orang paling hina.
Disitu aku menangis.

Setelah dua judul diunggah, rasanya sama, kehancuran.

Tidak Ingin, Tuhan

Duka tersimpan di sela jari kananku.
Meremas mulut yang kehilangan rasa.
Semua tidak akan kembali.
Titik yang indah, koma yang selalu menghantui.
Seandainya, Tuhan memberikan aku satu kesempatan.
Aku tidak menginginkan hati ini terisi.

Hilang Tak Kembali, Cuma Pilu

Airmata halus membasahi pipi.
Aku enggan termenung lama.
Jemari kaku saat hati tak berdaya.
Apakah aku sedang terluka?
Aku hebat dan tidak pantas bersedih.

Sore, hujan, anganku hilang tak kembali.

Tidur, Bangun, Patah Hati

Sebelum tidurku dimulai, aku ingin bilang "aku sudah bangun dari kemarin". Setelah tidurku selesai, aku ingin bilang "aku sudah tidur sekarang".

Sejak patah hati.

Monday, March 23, 2015

Mengapa Cinta?

Cinta tidak akan memaksa kita untuk datang.

Cinta tidak akan menyuruh kita pergi tanpa kenangan. 

Setiap kata yang terucap menjadi alasan cinta untuk datang.

Setiap kata yang terbuang sia-sia menjadi kesalahan mengapa cinta begitu saja pergi.

Saturday, March 21, 2015

Bukan Hari Terakhir

Menuju tidur diiringi rintikan hujan. Hilang sepi ketika memikirkanmu. Tak ada daun yang ingin kupetik. Bunga di hati tumbuh dengan senang. Esok bukan hari terakhir. 

Jalanan Manusia

Setiap hari aku melintasi jalanan dan merasa sedih. Jalanan semakin parah menuruti keserakahan manusia. Jika mengeluh akan terlihat paling tidak bersyukur, jika hanya diam makan hati di dalam. Jalanan yang penuh kebisingan ditambah lagi pembangunan. Sampai kapan jalanan disiksa? Semoga manusia tidak kembali dimakan jalanan.

Sunday, March 15, 2015

Bulan di Terang

Terang bulan di jendela. 
Debu jalanan menyisa di pipi.
Hidup apa hari ini?
Cinta tanpa rasa.

Dua Puluh Lima Ribu

Aku menghapus airmataku sendiri, dan tersenyum. Sebuah hari tidak menyuruhku mundur dari kekalahan. Rasa pedih mungkin sulit terhapuskan. Namun, pengorbanan adalah kemenangan diri. 

Waktu tidak membohongiku. Hanya saja aku yang membuatnya sia-sia. Keterlambatan telah tiba dalam pelukan. Andai saja aku tidak memilih. Tidur malam ini mungkin sisa gelisah.

Saturday, March 14, 2015

Karena Aku

Karena aku tidak perlu menemukan luka saat aku tidak ingin terluka lagi. Karena aku pernah mengiringi panggung yang megah dengan jutaan penonton bertahun-tahun untuk merasa tetap bahagia. Karena aku juga bukanlah pemimpi baik agar kenyataan tidak sepedih bangun dari tidur semalam. Karena akulah tempat terbaikmu dalam rindu di separuh hari. 

Doamu

Aku berpikir pada akhirnya kebahagiaan yang bisa diciptakan adalah bagaimana kita bisa mengatakan hal sebenar. Apa yang ingin kita lakukan untuk membenahi hidup. Sementara kehancuran tidak lagi dapat tersusun kembali menjadi utuh. Aku hanya kedipan mata dan genggaman tangan dalam doamu.

Wednesday, March 11, 2015

Sebelas Maret 02.56

Kekuatan tidak datang dengan sendirinya. Dengan proses, kita jadi lebih berani. 

Waktu yang terbuang mengisi jendela-jendela kosong. Dengan tidak pernah lupa, kita ingat.


Tuesday, March 3, 2015

Kecuali Menangis

Dilarang membunuh perasaan yang sudah mati. Teguran ini merasuki telinga para pendusta. Sebab yang menaruh harapan tinggal kekasih terakhir. Tidak ada akibat bagi kisah putus cinta kecuali menangis. 

Tiga Setengah Asa

Setengah tiga dan aku sedang merasa putus asa. 

Hidup ini bukan pilihan yang mudah untuk memilih.

Patah hati adalah nafas buatan untuk menemukan diri.

Jatuh cinta lagi bukanlah jalan keluar menuju bahagia.

Tidak akan mendapatkan lebih dari banyaknya kurang.

Irama yang terdengar merdu tidak pernah bisa kembali diputar.

Andai, membakar hati yang terbakar jalan terbaik. Sudah kulakukan detik ini.


Monday, March 2, 2015

[TAI]

[T]eks adalah luka.
[A]ku sudah melemah.
[I]nilah seanjing-anjingnya cinta.

Sunday, March 1, 2015

Paling Berharga

Waktu yang paling berharga adalah merasa sedih dan bahagia. Disitu kita utuh menjadi manusia. Entah bagaimana cara mengutarakan sedih? Entah bagaimana mengaku bahagia sementara sedihnya terasa lebih banyak.

Saturday, February 28, 2015

Terima Saja Diam

Karena Perasaanku Mati.

Tidak ada kemarin. Semua airmata dan tawa menjadi cerita. Kita hanya diam meratapi perubahan.

Terserah perasaanmu, aku tahu banyak tentang sakit. Hati yang kuat adalah hati yang remuk. 

Dan cinta yang abadi tidak pernah mendua.

Wednesday, February 25, 2015

Dihantui Saat Ini

Belakangan ini aku dihantui pikiran yang negatif. Aku tahu darimana asalnya, namun aku hanya bisa diam. Banyak doa yang kusebut setiap merasakan takut. 

Aku tahu kelemahanku, namun aku masih ragu untuk keluar dari pikiran negatifku dan berani teriak "bisa". Aku sedang terpenjara dalam pemikiranku sendiri, saat ini.

Tuesday, February 24, 2015

Sesak!!!

Entah apa yang membuatku senang dengan keadaan ini? Entah apa yang membuatku sedih karena keadaan ini? Isi kepala penuh keentahan. Sakit bercampur lelah yang tidak bisa diungkapkan. Teman bicara kini sudah enggan menjawab. Sesak! 

Saturday, February 21, 2015

Semua Situasi

Semua yang dilakukan dengan atau tanpa perasaan tidak membuat kita tahu bagaimana hati orang. Situasi dan kondisi paling menentukan sang perasaan. Seperti peserta kuis yang harus siap menerima tantangan demi sebuah jawaban. Tanpa hadiah si peserta  tidak boleh mundur tiba-tiba karena terlanjur masuk area yang menentukan menang atau kalah. 

Itu Maksudku

Aku bahagia sekali hari ini, meskipun aku tidak tahu apa itu bahagia, dan apa yang membuatku bahagia. Aku bukan patung, bukan benda mati, dan aku seorang yang penuh rasa (sama rasanya seperti jadi manusia, yang lain). Aku masih bingung bagaimana cara mengetik kekuatan. Bola api berjatuhan, air tumpah di muka, karena esok tidak mungkin datang sendirian. Aku genggam tanganku sendiri, yang kanan menyentuh yang kiri. Tinggalkan luka dalam jiwa terdalam. Jangan pernah takut tidak bahagia dan terpuruk akan kegelisahan, itu maksudku.

Tuesday, February 17, 2015

Padahal Bukan Aku Nanti

Aku mulai pesimis soal cinta.
Aku takut mengatakan aku tidak bisa.
Dan aku tidak punya nyali lagi.

Padahal kau bilang aku hebat.
Padahal kau bilang akulah cinta.

Friday, February 13, 2015

Sekalimat

Aku tidak ingin menemukan batas, ketika jatuh cinta, lebih dari cukup. 

Kita Merasa Berkali-kali

Kita selalu merasakan berkali-kali tentang cinta. Seperti minum es teh manis di gelas yang berbeda-beda rasanya tetap manis walau terkadang tidak pas takarannya. Hidup ini dan isinya, cinta ini hidup dengan sebuah keberadaan untuk bertemu dan berpisah. 

Wednesday, February 11, 2015

Cinta, Cerita Membosankan

Cerita sedih dan bahagianya cinta berputar di lingkaran yang sama. Arus kecil dan besar tidak terkendali dalam emosi jiwa. Seperti punya Tuhan baru, ketika harus selalu iya tanpa rencana. Cinta lagi hidup ini, cinta lagi mereka.

Di Balik Selimut Tebal

Pikiran ini-itu tidak dapat kuhindari. Aku digentayangi. Padahal sudah di atas kasur, harusnya tidur. Mimpi menanti. Tidur seakan masalah. Seperti takut. Masalah untukku menginginkan cepat terbangun lalu kurang tidur. Besok ketikan pertama atau besok ketikan terakhir. Manusia boleh berubah menjadi tidak biasa.

Monday, February 2, 2015

Kusimpan Sakit

Akhir pekan lalu, kamu di pikiranku. Rindu yang mungkin samar terdengar hanya dapat kusimpan, hingga SAKIT. Kesibukan membuatku sedih, dan aku berusaha untuk mengimbangi. Suatu hari kita tidak perlu repot berdebat, kamu tetap pemenangnya.

Sunday, February 1, 2015

Patah Minggu

Setiap merasa kecewa, aku hanya bisa diam. Aku merenung. Iya, aku banyak salah. Setiap merasakan apa saja, yang membuatku sedih, aku pasti akan kehilangan. Aku merana. Iya, aku terlalu memikirkanmu.

Wednesday, January 28, 2015

Sabar Ini Pasti Bahagia

Semoga sabar ini bahagia, tetap tenang ketika harus berhadapan dengan keguncangan. 

Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya berusaha pasrah apa adanya ketika hati sudah berantakan.

Bukan Tuhan, Bukan Malaikat

Aku pernah kehilangan, aku tidak mau itu terjadi lagi.
Aku pernah patah hati, dan aku tidak mau itu terulang kembali.
Namun, aku bukan Yang Maha Adil.
Aku juga bukan Malaikat.
Aku masih banyak berharap dari manusia.
Manusia yang katanya punya perasaan.
Dimana aku berdiri disitu pula aku TERJATUH.
Aku bukan Tuhan, aku bukan Malaikat.

Tuhan, Aku Mau Tenang

Setengah empat sudah dekat. Aku pasrah menelan obat flu demi mendapatkan kantuk dengan kata lain tidur nanti akan sangat gelisah. Hari ke hari yang lumayan bingung meratapi asa. Mungkin aku bukan seperti dulu lagi, mungkin aku bukan aku lagi. Dinding hati penuh coretan, aku mau tenang, Tuhan? 

Tuesday, January 27, 2015

Hari Sibuk Doa

Hari yang sibuk menyimpan pesan-pesan terbaik. Suka dan duka diputar kembali dalam ingatan tajam. 

Kita tidak sendirian untuk memimpin angka pada jarum jam yang terus bergerak. 

Meskipun banyak ketinggalan, harusnya tidak ada penyesalan karena sudah terlambat.

Rasa takut kian membesar, mengejar kemana pun langkah ini pergi. Tidur dan bangun yang menyebalkan.

Apa dayaku sebagai manusia yang masih ingin dibilang waras tetap berusaha tegap bersama sabar.

Tahun lalu bukanlah tahun ini. Dan tahun ini tentang kebahagiaan seutuhnya, pengorbanan untuk selamanya.

Wednesday, January 21, 2015

Sibuk Bersama Sisa Hati

Kita sibuk menanyakan mau apa sebenarnya diri ini setiap menolak kesempatan. Kesalahan yang memiliki batas terbagi menjadi ruang dan tenang untuk melakukan pembenaran. 

Aku tak ingin mencampur segelas Anggur Merah dengan dosa-dosa. Aku tak ingin tergoda ragu sebelum meminumnya apalagi merasa salah. Aku sibuk kali ini bersama sisa hati. 

Saturday, January 17, 2015

Menyebalkan?

Gelisah sungguh menyebalkan. 
Tapi aku tahu apa? 
Aku harusnya bisa tidak peduli.
Entahlah, dan malam ini tanpa kata-kata berjam lamanya sedikit membingungkan. 



Friday, January 16, 2015

Siang Di Antara Siang

Sedih yang tak selalu bisa kubagi denganmu, sedih yang tak bisa kuatur.
Saat mereka bilang aku gila, mereka pikir aku tak pernah baik.
Sadar akan sesal, tak pernah menyesal sabar.

12.20

Hidup ini adakala berat.
Sabar melawan takut.
Terapit dusta dan doa.
Aku tak ingin terjaga lama.

Monday, January 12, 2015

Kamu, Kegagalan

Selamat pagi, kegagalan. Orang-orang tengah sibuk tidur menyimpan mimpi. Dan aku tidak ingin menyalahkan kantuk untuk cepat bertemu dengan senyuman dari doa-doa yang indah. Sudah benarkah kamu?

Gila Tanpa Koma

Laki-laki yang sedang jatuh cinta akan terlihat bodoh ketika menjual masa lalunya demi menarik perhatian sang perempuan. Padahal perempuan tidak butuh cerita masa lalu sama seperti ia tidak memerlukan masa lalu untuk kembali diceritakan. 

Melalui pernyataan tersebut bukan maksud hati ingin menjatuhkan siapa. Rasanya, cinta semakin mudah ditebak bukan karena siapa yang bicara namun alasan apa yang paling tepat agar "Kita tidak bermimpi menghadapi kecewa seratus kali". Gila.

Lilin Imajinasi

Lilin tidak menyala sendiri, lilin butuh dinyalakan. Apinya yang kuning menyala dengan tenang. Seakan menatapku tajam. Lilin tidak jahat, lilin menemani ruang gelap. Manusia selalu punya ide dalam dosanya. Lilin mati jika dimatikan. Jangan relakan imajinasimu terbiar.

Tuesday, January 6, 2015

Nihil Rasa

Waktu yang baru datang seperti rekaman ulang di masa lampau. Seseorang tidak memiliki kenangan dalam hidupnya adalah nihil. Kalimat yang terucap atau langkah yang diambil melalui proses berpikir. Rasa takut yang memburu bak tembakan peluru karet. Ia mencium kulit berkerut, mengganggu ingatan sampai nafas terpental seakan sakitnya luar biasa. Padahal bisa sembuh. 

Monday, January 5, 2015

Tuhan, Jangan Marah Besar

Mungkin tidak ada yang lebih sakit selain jatuh. Tidak ada yang lebih kejam selain membunuh rasa sendiri. Jiwa terpukul menahan guncangan hebat. Bukan mau kita musibah terjadi, bukan mau kita menginginkan kesedihan. Di antara salah terselip salah, di antara benar ternoda pula oleh salah. Rasa bersalah, egois, setan dalam hati, beri siraman doa dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Tuhan, jangan marah besar.

Sekelibat Drama

Sudah banyak kata yang terhapus. Aku mencoba tetap mengetik apa yang kurasa membingungkan. Sementara mengetik irama duka tak perlu banyak pertimbangan.

Aku tengah menyaksikan rasa kecewa ibu yang begitu dalam. Mungkin drama atau aku salah berpikir bahwa orang akan melakukan apa saja hanya demi uang. 

Dua hal paling gawat, menuhankan uang dan perasaan. Tapi aku bukan tipikal orang yang suka uang. Namun aku terlanjur menuhankan perasaanku sendiri. 

Manusia gelap mata untuk sebuah tujuan, tapi bisa jadi tujuan tersebut bukanlah apa yang sepatutnya didapatkan. Berbagai cara ditempuh supaya tidak kalah, apa saja asalkan puas.

Aku sendiri tak mau cepat puas agar dapat mengoreksi kembali apa yang dilakukan dan tambah bersemangat tak henti. Ingat, puas tak sama dengan syukur. Puas terkadang buas. 

Barisan-barisan tak tertata rapih. Entah harus menjadi benar atau salah. Semoga kesempatan yang Tuhan berikan tidak datang terlambat.

Menguat

Mata pedas sekali siang ini.
Airmata yang menetes di pipi terbawa angin.
Ia tak ingin terluka.
Hanya saja membengkak.
Semoga Tuhan mengampuni dosaku.
Bathin menguat.

Friday, January 2, 2015

Hari Kedua Januari

Angin kencang tak kasih ampun debu-debu yang mengancam. Langit seakan kosong oleh derasnya hujan.

Para makhluk Tuhan yang berakal sedang risau menagih janji pada dirinya sendiri. Tahun ke tahun penuh makna untuk bersyukur.

Malam tiba dengan cepat. Aku harus berani menerima gambaran hidup lewat mimpi dalam tidur nanti.