Linimasa

Sunday, December 28, 2014

100 Tahun Mimpi

Haruskah aku menyerah ketika aku merasa tidak berdaya? Tidak.
Haruskah aku mundur ketika perang dimulai dengan senyuman? Tidak.
Haruskah aku mengaku pengecut ketika aku merasa jujur dengan hati? Tidak.

"Tidak" selalu membuat diri ini hidup sampai 100 tahun nanti meskipun hanya mimpi.

Tentang Bahagia Raya

Aku menyimpan sejuta bahagia dengan melakukan beribu hal yang membahagiakan. 

Aku belum memikirkan rencana masa depan ketika bergerak diam-diam dan bersyukur tentang hari ini. 

Pendapat setiap orang berbeda soal cinta, hidup, dan kematian. Kadang mereka sekadar berbisik atau menusuk.

Pendapat orang bisa membuat hati terluka. Aku akan berusaha tak menyakiti hati yang sudah hilang nyawa.

Tahun ke tahun hingga zaman berganti menjadi sebuah cerita paling berharga. Jadikan rasa syukurmu, bahagia.

Maju dengan Tulus

Tubuh ini sedang mengeluh. Mungkin meladeni sakit yang sempat tertunda. Semoga tidak parah karena hari indah menanti, aku tak ingin kehilangan kesempatan. Walaupun tak mungkin sempurna, aku berani maju dengan ketulusan. 

Saturday, December 27, 2014

Terang Tak Kemana



Setiap terang berhak ketakutan, merasa sepi, dan semakin tak dapat melihat dengan jelas. 

Drama Bathin

Sebelum kata menyerah dijual dalam penjara bathin. Maka, kuatlah dengan tenang. Terbangkan rasa-rasa yang tak lagi berfungsi demi mencegah kerusakan hati. 

Dibenci dan Dibenci

Aku tak bisa melawan benci. Aku bertahan diam dengan tanya sendiri dan tetap melakukan yang terbaik. 

Aku sadar akan diri. Khayalan memang tak kenal batas namun punya pilihan untuk lanjut atau disudahi. 

Aku tak mau menyalahkan hati, kekalahan, serta begitu indahnya kenyataan ini. 

Biar harum yang menyebar tanpa harus dipuji, kemudian kau melipat kenangan dengan wangi suatu hari nanti. 

Thursday, December 25, 2014

Desember Hari ke 25

Kehidupan memberikan kita tempat yang layak untuk berusaha dan berdoa meskipun akan selalu terpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Kala sendirian manusia diberi waktu untuk merenung. Kadang tak mudah menganggap diri paling benar di antara kitab-kitab yang setia mengetuk satu persatu pintu bathin manusia dengan penuh kesabaran. Kesempatan yang Tuhan kasih bertubi-tubi walau manusia masih saja ragu sebaik mungkin memakainya.

Hanya kepedihan yang selalu dirasa tak semanis ucapan "tenang" dalam gejolak jiwa berantakan. Langit, Tuhan, asa yang terhapus dan Kamis lahir tanpa pertikaian.

Wednesday, December 24, 2014

MencariMu

Tuhan yang hilang, bumi mencariMu. Bumi menangis sendirian. Menangis untuk memohon satu, tutup saja mulut-mulut yang kejam. Mulut yang berbau tak sedap dengan sembarang kata menyakitkan. Kata yang tak santun melukai hati. Semakin banyak masalah, kerusakan jiwa. 

Tuesday, December 23, 2014

Waktuku Bukan Kalian

Pagiku bukan pagi kalian, siangku pun begitu, soreku tak dapat ditandingi apalagi malam. 

Apa yang perlu dibanding-bandingkan antara aku dan kalian? Selain bagaimana. Kita semua tak pernah merapat di satu kaca yang sama. Maaf.

Sunday, December 21, 2014

Menunggu Bukan Kiamat

Menunggu itu bukan hal yang sulit. Untuk sabar menunggu kita tidak perlu membayangkan kiamat. Dunia bukan milik kita, dan kita tidak perlu bersih tegas ingin menggenggamnya.

Malam pun tiba, tak ada rasa kesal. Band di sudut sana asyik memainkan nomor-nomor lawas salah satunya "Inikah Cinta". Seakan aku romantis sendirian, padahal kamu ada. 


Terima Kasih Kesempatan yang Indah

Hari Sabtu (20/12), kebahagiaanku lengkap dengan senyuman yang datang dari wajah-wajah lama-baru. Mereka menyempatkan diri untuk berbagi senang, tak perlu dijelaskan seberapa menderitanya hidup masing-masing. 

Aku merasa semakin dewasa walau belum menjadi perempuan seutuhnya di umur yang lumayan "mengerikan". Beberapa ucapan yang disertai doa membuat hati ini lega karena tak ada niat untuk saling melupakan.

Tuhan yang baik, aku banyak salah. Terima kasih atas segala kesempatanMu yang indah. 

Saturday, December 20, 2014

Hidupku di 29

Aku tidak boleh lupa tentang kebaikan. Orang yang memberiku senyuman pertama, ibu yang senantiasa tegar, serta doa ayah yang tak pernah putus. 

Hari ini aku merasa banyak dosa, tapi bukan untuk ditangisi apalagi menyesal. 

Tuhan Yang Maha Segalanya, ampunilah dosaku, jangan Engkau permalukan aku di hadapan hambaMu, jangan Engkau miskinkan aku di hadapan hambaMu. 

Wangi sampai mati, hidupku di 29. 

Friday, December 19, 2014

Hujan Melipat Sakit

Hujan menghapus dosa pada Jumat tak bersalah. Warnanya bukan hitam tapi bening siap diminum. Tenggorokan murka diam menyembunyikan sakitnya. 

Dusta Tak Cinta

Mereka bilang dusta, aku cinta. Hujan, jangan buatku menderita.

Monday, December 15, 2014

Selangkah Datang, Tak Mau Pergi

Rasanya tak ingin tua, rasanya ingin dilahirkan kembali, namun puluhan tahun bukan sebentar, aku hanya perempuan dusta yang egois ingin bahagia, berdua, sendiri, aku hanya perempuan yang mereka sebut bukan perempuan sesungguhnya. Dan airmata menyelinap ke dalam pori-pori di pipi, hari dimana sebagian hilang tak pernah nyata, detik dimana sebagian yang datang adalah keajaiban. Terima kasih Tuhan untuk segala kesempatan yang Engkau berikan, semoga dapat kujalani meski kalah bersama cerita indah.

Sunday, December 14, 2014

Merindu Gila Denganmu

Dimana harus kubuang dosa? Tempat sampah penuh kepalsuan.  Dan wadah untuk mengeluh habis suaranya, kesakitan. Aku ingin lupa sebentar, aku yang pernah bahagia, saling merindu "gila" denganmu. 

Ingin Tenang, Sedikit

Aku tidak butuh apa-apa, aku ingin sedikit lebih tenang. Beberapa menit terbuang jadi penyesalan. Satu yang mengubah "akhir", hanyalah keajaiban. Kemudian, proses sulit di awal bukan pelajaran terbaik. Dalam ritme yang kencang, aku dianggap guncang. Tidak berhenti untuk hidup!

Karena Aku Juga Manusia

Seperti habislah kata, saat membayangkan hal terburuk. Namun apa yang harus aku takuti? Waktu tak pernah rela berbohong. Manusia harus tegar hadapi kenyataan.

 

Wednesday, December 10, 2014

Kamu Harus Bahagia

Kamu tidak bodoh, aku pun tidak, kita sedang banyak sadar meski akhirnya kamu diam dan aku tetap melamun.

Mungkin aku tak perlu mengingat hari yang paling indah, airmata yang paling sakit, atau pertikaian dusta.

Hidup berjalan dengan manis. Seperti kopi-kopi yang kubuat terlarang. Malam selalu menerimaku apa adanya. 

Kamu harus bahagia, aku menyusul. 

Setiap Hati, Baca Lagi

"Kamu tahu istilah pasir kalau semakin digenggam bakalan lepas." 

Aku harus mampu membacanya lagi tanpa banyak tanya. 

Misalkan terjadi, aku tak heran. Ruang kosong harus siap terisi. 

Dan akulah masa lalu yang tak pernah bosan melupakan kecewa.

Tuesday, December 9, 2014

Tanya Sendiri, Jawab Sendiri

Relakan sedih datang dan pergi karena suatu hari nanti cinta bukan milikmu lagi.

Aku tengah berkhayal soal kekuatan hati. Apakah manusia sanggup kehilangan orang yang ia cintai?

Tanya hati yang sakit.

Belum Menikah, Aku

Aku belum mau menikah, rasanya aku tak perlu sedih karena aku belum menikah. Aku harus menjadi diriku sendiri, meski malu dihadapan Tuhanku. Aku belum menikah karena aku belum mau menikah. 

Sebentar Lagi atau Lebih Cepat

Cepat atau sangat lambat, aku tidak ada lagi. Segala kesalmu 'kan sirna. Doa-doaku selalu yang terbaik. Rasanya tidak sakit atau pedih. Aku hanya bisa tersenyum. 

Aku Tak Ingin Luka Lagi

Habis manis sepah dibuang. Aku jijik dengan pernyataan itu. Mungkin lebih baik memilih lupa daripada menganggap orang lain buruk. Perjalanan terasa sebentar. Meski masih panjang untuk menghapus banyaknya dosa. Dengan berbatang rokok dan segelas kopi hangat, aku tak ingin terluka lagi. 

Sakit Dusta

Dusta,
sakit,
kupandangi yang sedang berhadapan dari jauh,
sakit,
dusta,
kutelan ludah dengan ikhlas,
sakit,
dusta.

Thursday, December 4, 2014

Di Bawah Pohon Duduk Sendiri

Di bawah pohon keringat dingin, airmata makin deras bercucuran. "Ya, sudah menangislah" dan aku selalu tahu diri mengecap pahit ucapanmu. Tuhan, kuatkan jiwa yang lemah ini.

Temani aku, ketikan.

Anjing!

Andai aku tak cinta, aku tak merasa tersiksa seperti ini. Andai aku tak tersiksa, aku lebih dalam merasakan cinta. Anjing!

Wednesday, December 3, 2014

Mungkin?

Aku tak mau memaksakan diri untuk singgah di hati yang lain demi kebahagiaan orang-orang. Dengan begitu aku tetap menjadi penjahat yang murung tunggu ditangkap. Entahlah, Tuhan bisa memberikan aku waktu berapa lama lagi dalam membenahi kepingan dusta yang berserakan di taman kalah. Bila esok tiba, jangan cari aku karena kau butuh. Pastikan hari kemarin terbuang kesalnya. Biarkan jiwa yang tenang bersahabat pada tubuh baru, mungkin.

Rabu, Terima Kasih Untukmu

Harusnya aku tak perlu mengharapkan apa-apa lagi karena aku tak ingin berpikir seburuk itu. 

Hari yang indah tak selamanya bisa dikenang, hari yang kita anggap sangat spesial sudah lama berlalu. 

Hitamnya wajahku tak mungkin diputihkan menjadi sangat cantik bak bidadari. 

Semoga malam ini tidurmu nyenyak, terima kasih rela berbagi bahagia dengan bangsat sepertiku.

Monday, December 1, 2014

MEMBACA!

Takdir tak pernah tidur. Rencana yang berhasil patut disyukuri. Bangunlah dengan cita-cita. Kekasih tak boleh menangis lama. Selembar kertas adalah masa lalu. Hari ini kita hanya perlu MEMBACA!

Sunday, November 30, 2014

Minggu Duka

Beberapa jam setelah kuunggah foto keranda mayat di media sosial, berita duka datang. Kemudian siang itu cerah menghantarkan kakak dari ibuku ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku tidak ingin terusik alasan "penyakit", sebutan kehendak Yang Maha Kuasa lebih pantas daripada banyak menduga. Hari Minggu ini membuka mataku terbuka lebar, dan aku membiarkan telingaku mendengar jelas, tak enggan untuk merendahkan hati. 

Kematian membuat kita semua kembali "tegur sapa". Hilang rasa benci, lupakan pertikaian. Airmata menetes bersama, bergantian, ikhlas jawabannya. Selamat Jalan ibu yang memiliki tiga laki-laki tangguh. 

Friday, November 28, 2014

Tanpa Dendam, Penuh Sayang

Kesabaran adalah segalanya. Perang bathin selalu terasa sakit. Kata-kata yang terus terhimpit semakin menua. Sudahlah malam, jangan siksa aku karena kau anggap pagi menyebalkan. Ini bukan soal benar atau salah. Tidak juga soal aku yang pasti lemah. Aku ingin cerita terindah tanpa dendam, penuh kasih sayang.

Tuhan, Bicaralah!

Di balik jendela kujepit rokok yang semakin hari menusuk dada. Memikirkan jumlah waktu yang sudah dilalui, aku merasa sangat beruntung. Tak perlu kusebut bagaimana. Biarlah 10 tahun nanti kuceritakan indahnya suka-duka. Itu tak ingin menjadi seberapa tentang mimpi. Aku tak suka berangan tinggi. Cukup yang sederhana saja untuk memuaskan dahaga jiwa ini. Enggan menuhankan uang meski cinta kubawa sujud tiap gerak dalam doa. Apakah aku manusia paling hina? Tuhan, bicaralah!

Wednesday, November 26, 2014

Kubur Rasa

Mengubur semua rasa yang patah lantaran bentuknya tak lagi utuh. Seperti kaca yang pecah tak dapat tersambung dan bisa digunakan untuk menatap diri. Tak ada yang mungkin benar, tak ada yang tak mungkin dalam salah. Keadaan tak sehancur itu. Suasana malam tak selalu sepi dengan gelap tanpa bunyi. Kita yang berakal mengucap syukur lewat nafas teratur. Abadikan ritmenya di tembok putih yang lugu. Saling diam karena masa lalu.

Monday, November 24, 2014

Di Antara Bulir Hujan

Tak ada derita dalam bathin. Tak ada sedih yang harus disesali. Tak ada bahagia dengan pura-pura. Tak ada airmata tanpa alasan. Hujan mengingatkan aku pada dinginnya hati, suasana ini penting. Bukan kesendirian, bukan perpisahan, sederhana saja untuk satu cinta, bertahan.

Tak Serba Salah

Memang bukan untuk selamanya tentang isi dunia. Kesadaran itu terkadang membuatku jadi pesimis. Rasanya tak ingin banyak sikap lagi. Manusia yang serba salah tak boleh lelah. 

Sunday, November 23, 2014

Mabuk Rindu Aku Mabuk

Rindu mabuk, aku rindu setengah sadar banyak bicara. Namun itu hanya sekadar rindu yang tak bisa kupaksakan untuk "kembali" lagi. Rindu mabuk, aku rindu harus punya uang demi banyak teguk tak sadar. Namun masa lalu adalah kenangan.

Masa ke Masa, Takutnya

Kadang aku merasa bodoh ketika terlalu memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Harusnya aku tidak takut apalagi bingung karena telah dewasa. Meskipun "takut" adalah pengecut.

Hari yang terlalui seolah memburu. Kadang aku harus membuatnya nyaman dengan senyum. Rasanya tak pernah bosan memberi apa saja yang terbaik bagi separuh hati. 

Masa yang indah, masa yang terlupakan, masa yang tak pernah abadi.

Saturday, November 22, 2014

Karena Putih Mengaku Suci

Beberapa kali membuang kalimat dalam bayangan membuat iramanya tak mudah untuk diingat. Perasaan teguh pada titik normal di ruang batas yang enggan kuterima. Seperti kedua jempol yang sungkan menolak saat dipaksa gerak demi mencapai garis. 

Apakah hitam selalu terlihat gelap? 

Friday, November 21, 2014

Sebentar, Pergi

Suatu hari nanti bila tulang-tulang jemariku digerogoti ulat dalam kubur, halaman ini menangis sendirian. Tak ada aku lagi yang menggoyangnya menjadi irama tai kucing soal hidup, kebosanan, dan ketakutan dibenci. Lihat berikutnya.


Sukacita Tertuju ke Depan

Segera tiba di penghujung tahun. Teringat 3 tahun yang lalu saat aku berada di bulan pengenalan. Kini aku kembali menjalani rutinitas dan tak lagi kebingungan seperti bulan-bulan kemarin seakan terpuruk tanpa pekerjaan. Alhamdulillah, seorang laki-laki membantuku masuk ke rumah yang baru sebut saja Linikini.

Di setiap perjalanan menuju kantor dan pulang ke rumah aku selalu memutar kembali hari-hari yang pernah kulalui dari atas sepeda motor berwarna hitam-kuning. Kehidupan hanya sebentar, namun aku tak pernah siap MATI. Sujud berjuta kali membuat aku tetap bersalah, iya manusia.

Garis menentukan arah, namun takdir bukan penyebab keterpurukan. Aku harus berani menyambut tahun baru dunia yang fana ini dengan ikatan tali hitam di kepala bertuliskan "Jiwaku Lemah". Terima segala maksud, cara, sukacita, pergilah kegelisahan. 


Saturday, November 15, 2014

Sekiranya Terbiar

Aku tidak ingin kamu kosong, sendirian, dan tidak bahagia. Untuk hati yang baik, jangan biarkan kecewa jadi bumerang. Hari selalu baru ketika berganti. Sore menghilang tanpa pesan namun Sabtu datang mengetuk. Bersandarlah dengan senyuman, sayang.

Thursday, November 13, 2014

Lalui Harus

Mungkin aku harus mengurangi sedikit perhatian ketika dianggap banyak bicara. Aku tak ingin menganggap diri ini paling sabar apalagi merasa benar. Semua yang kulalui begitu berkesan. Waktu menunjukkan keajaibannya dengan syarat sederhana, mengalah.

Apalagi Karma

Karma tidak akan menunggu karma. Mereka anggap karma sebagai Tuhan, yang dapat membalas segala keluhan sakit pasca jatuh cinta. Padahal hati cuma ada satu bukan dua apalagi Karma.

12 Lewat Sudah

Rabu sudah lewat. Aku tahu masih ada hari yang tersisa. Entah sampai kapan penantian ini mengejar kami. Sejuta kenangan harus ditinggalkan. Tempat tinggal kami yang baru, sabarlah. 

Benci Ditemani Kutip Dua

Aku benci dengan "benci". 
Aku benci sama "benci". 
Aku benci tertipu "benci".
Aku benci melukai "benci".
Aku tak pernah menginginkan "benci".

Monday, November 10, 2014

Tidak Tahu Apa, Satu Semua

Luka tak punya banyak alasan untuk menjadi sangat berarti, ketika alasan terluka lebih kecil dari ukuran dusta. Seiya tak pernah memahami gelombang hati yang rusak, maunya hidup ini tak ada perasaan sebesar isi kepala. Logikamu, logikamu. Dalam sunyi logikamu enggan bernada, suntuk di kegelapan. Hiasan dosa menerawang jauh, semoga tak menggrogoti imajinasinya. 

Saturday, November 8, 2014

Lebih Bodoh dari Beda

Tak dapat dibedakan lagi antara yang beda dengan yang tidak. Seperti pendapat yang mempunyai satu tujuan sama namun terus berselisih paham. Harusnya begini, meskipun begitu. Dan tak ada jeda untuk berpikir sejenak, kenapa yang beda tak boleh diagungkan sementara yang sama lebih bodoh. 

Friday, November 7, 2014

Tiga Lebih Jumat Ini

Tiga lebih membacaku perlahan sampai esok tiba ia tetap gugup. Di ujung sirna sakitnya luka tak seberapa untuk terluka lagi. Enggan bermimpi tinggi karena hidup tentang daun ini tumbuh dan gugur. Pilihan membuat kita dewasa bukan menjadi mentah. Usia yang tak seberapa bukan halusinasi. Genggam erat ketulusan hati.

Tuesday, November 4, 2014

November Terima Kasih

Bulan November aku berterima kasih padamu. Perjalanan baru dimulai dengan berbagai macam cara dan keikhlasan. Orang-orang baik yang menghampiriku semoga hidup kalian selalu damai. Sementara orang-orang yang menjauh jangan berharap tak kembali dengan jabatan tangan. Aku buktikan segera! Kutuang banyak sedih dalam gelas yang kosong. Kuminum bahagia yang mengapung di lautan. Aku bukan musuh kalian yang dapat dimenangkan. 

Monday, November 3, 2014

Senin di Hari Sama

Hariku dan sepucuk harapan baru.
Kesempatan datang tanpa diminta.
Terima kasih ketulusan.
Mawar putih tak boleh terluka. 
Semangat ini paling luar biasa. 

Sunday, November 2, 2014

Hilang Gairah

Kini aku semacam tak ada gairah, mungkin waktunya orang enggan lagi bertanya padamu. Siapalah aku untuk berpikir keras harus bagaimana aku? Diamku sudah banyak, aku tak perlu memaksanya jadi bisu. Entah dosa apa yang akhirnya hanya memberatkan langkah manusia jika alasan hidup ini sesungguhnya mencari bahagia. 

Saturday, November 1, 2014

Ibu Jangan Menangis Lagi

Dalam lamunan airmata berkaca.
Bayang-bayang menangis terlalu lama sampai tertidur pulas.
Matahari belum nampak yang ada hanya dingin bekas hujan.
Enggan menanti hari tanpa bahagia.
Semoga laki-laki selalu ingat perempuan yang ia sakiti. 


Wednesday, October 29, 2014

Aku Tak Ingin Lupa Puntung

Duduk sabar menanti. Duduk sabar menunggu. Duduk sabar dengan rasa yang sama. Aku terbiasa. 

Puntung rokok mulai berserakan di dekat kaki. Segelas kopi membantu mata agar tidak redup. Aku tak pernah lupa ini.


(kantin MT. Haryono)

Tuesday, October 28, 2014

Hidup Ajaib

Hidup dengan hal ajaibnya seperti menikmati rokok yang kubakar dengan korek api di bawah sengitnya matahari. Mana tahu hari ini ada kebahagiaan yang tak terduga datang, mana tahu esok harapan terwujud bagi orang-orang yang lama tersiksa hatinya. 

Misalnya

Untuk sebagian kecil, manusia terlihat besar.
Untuk sebagian lebar, manusia terlihat sempit.
Keinginannya untuk memiliki lebih besar dari pemikiran yang sia-sia.
Keinginannya tak lebar untuk sesuatu yang kecil sangat bermakna. 

Misalnya kenal diri sebelum berharap cinta datang karena terbiasa. 

Tak Baik 'Tuk Dihindari

Ketika orang menganggapku tak baik sampai akhirnya benci, aku berpikir hidup ini begitu adil. Pertimbangan benar atau salah, aku tak menginginkan dendam itu hadir. Hari-hari yang kuanggap sederhana semoga tanpa pamrih selalu. Tak ada maksud menyakiti apalagi membuat diri terhina. Biarlah Tuhan satu-satunya yang mengenalku, di antara jiwa yang tak lagi utuh seperti sediakala ibu memanjakan tangis. Aku tak hebat berpaling muka untuk melakukan niat terbaik karena ketulusan adalah rasa. Mata tak perlu melihat, telinga silakan mendengar, dan hati tak rela menyakiti. 

Tuesday, October 21, 2014

Semua Kapan

Dengan mengetik jemariku tidak menganggur, maka aku suka mengetik, otakku lebih banyak lagi kata, berpikir apa yang kutuangkan. Kadang membual perasaan terlalu sering membuat pembaca menjauh, orang di dunia nyata memang sudah jauh. Ini bukan curahan hati, parahnya omong kosong. Malam bukan siang, sore bukan pagi yang tak ingin hadir. Tidak sama berputar di tempat yang sama. Uang menempel di kepala dan kaki. Aku harus bekerja, kapan aku kembali bersemangat? Aku harus punya uang banyak, kapan aku mencari? 

Monday, October 20, 2014

23:23

Susah tidur membuatku harus berpikir harus apa lagi, bukan mau apa aku dengan mimpi nanti. Obat yang kutenggak ini menyiksa. Tidak memberikan nyaman malah bikin gelisah. Doa-doa sudah kupanjatkan namun belum ada pertanda baik. Apa aku paling berdosa sampai harus mengantri lama agar dikabulkan? Sudah basi celotehku ini untuk mengguyur permadani dengan air kembang lepas derita. 

Kali Ini Panjang

Aku tidak tahu maka aku harus cari tahu sampai aku tahu. Kadang ini hanya berbuntut sakit hati. Iya, kehidupan mengajarkan kita untuk tetap sabar dan ikhlas. Lupakan sejenak tentang percintaan yang mereka anggap kebohongan, berpura-pura, dan tidak punya nyawa. Aku berjalan sebagai manusia, ingin dikenal sebagai manusia bukan musuh, bukan seorang yang menjijikkan, misalnya segala anggapan buruk yang memuakkan kembali menyerang, aku pun masih manusia bila mengelak. Umurku mendadak tua jika harus menangis di jalan yang benar dan mengaku tidak salah. Biarlah urusan Tuhan, yang paling BERKUASA. Hukuman bagi dusta, kehilangan, ketakutan, aku tak menginginkan keduanya membebani. Aku tak perlu banyak bicara lagi, seharusnya. Karena pengorbanan tak kenal pamrih, waktu tak pernah bohong. Hari ini, kemarin, selamanya.

Kita dan Gugurlah

Kita tidak bisa mencegah seorang yang tengah bosan untuk tetap mesra. Kita tidak bisa merasa tetap jatuh cinta karena gugur harapan. Kita adalah lilin-lilin yang menyala dan dipadamkan.

Berantakan Sementara

Tak ada sesal untuk menjadi lebih baik setelah keluar dari zona nyaman tempatku dibentuk. Kuiringi segala bingung dengan pertimbangan dan hasilnya tetap bingung. Aku tak mau kehilangan "diri". Jiwaku masih utuh meski sesekali terguncang merasa masih hebat. Tuhan adil. 

Empat Selamat

Pagi menginginkanku bangun bukan tidur. Siang menyuruhku terus berjalan tanpa mengerenyitkan dahi. Sore seperti cuaca kenangan yang tak mungkin berlalu. Malam tak lepas dari rasa bersalah dan untaian selamat membenci.

Kembali di Kantuk

Kantuk yang hilang dimana. Aku menunggu di permadani seakan tenang. Pinjamkan mimpi pada bunga malam. Rayuan pagi tak boleh dipidana. Hancurkan dusta di dalam jeruji. Wajah sakti turun dari langit. Rendam segala bayang-bayang. Kembali di titik.

Thursday, October 16, 2014

Harapan di Ujungnya

Menjelang tidur aku harus mengalah dengan pikiran. Sudahlah yang serba sakit, mengecewakan. Aku ingin membiarkannya tenang tak terbuai melulu oleh perasaan. 

Melihatmu di pertigaan rasanya aku masih ada harapan untuk menjadi kenangan. Terbaik atau terindah bukan soal pilihan. Kuharap ketulusan hati masih mau bicara hati.

Luka Tolol

Senang berkenalan denganmu wahai luka. Kamu datang tiba-tiba tanpa bunyi gerak kaki apalagi menyodorkan tangan. 

Menarik bukan? Luka kubanggakan. Dia membuat aku seperti orang tolol. Sementara tolol itu pasti dibuang.

Wednesday, October 15, 2014

Detik Ini Diam Ini

Malam bisa menyuruhku diam tanpa suara namun ia tak dapat menghentikan jeritan. Akhirnya kata-kata yang berantakan di kepala mulai tersusun di halaman ini. Tak ada hari besar dan kecil selain hati yang mulia. Tak ada genggaman paling erat kecuali rasa tulus tanpa pamrih. 

Buka Tutup Jendela

Menutup jendela yang terbuka. Membuka jendela yang tertutup. Apakah jendela sudah tak berdaya rela dibuka tutup? Inisiatifku tak punya kendali. Syukur bila inisiatifku berarti bagi mereka yang merasakan dari titik awal. Diantara luka dan rerumputan berduri yang terpaksa kupijak, tak ada alasan untuk menolak menjadi teman selamanya di balik kaca tanpa jendela.

Di Jiwa Hilang

Anak perempuanmu sedang gelisah. Ia semakin tua bukan dewasa. Semoga kau tetap sabar. 

"Ade sll di jiwa pa2." (4.16)

Monday, October 13, 2014

Kopi Gula Merah

Aku tawanan yang sengaja tak hadir dalam perang. Setiap bathin yang pernah tersiksa tak rela menghukum diri dengan kesendirian. Aku bukan penjahat yang berpura-pura baik. Gemetar menuliskan ini. Setiap waktu yang hilang berhasil mengembalikan jiwa. Aku guncang, bangkit, kuat berdiri ditemani beban. Tersenyum di atas kopi gula merah bersama ancaman.

Sunday, October 12, 2014

Kemudian Tumpahkan

Aku seperti sedang berada di detik terakhir jatuh cinta. Rindu kembali membalut hati dengan manisnya. Senyuman tak begitu saja hilang meski wajahmu lesu. Esok adalah cerita baru. Kita harus menyambutnya penuh semangat. Kuharap gelisah ini menjadi pembelajaran dari sisa mabuk semalam yang tak perlu diulang. Tuang airmata di gelas yang kosong kemudian tumpahkan.

Kuat, Lupakan

Kuatlah sayang. Lupakan hari yang kau anggap cukup mengkhawatirkan. 

Doa Oktober

Sudah Oktober. Rumah ini masih terbelenggu. Tuhan Maha Segalanya. Kami tak putus berdoa. 

Karena Aku

Karena aku tak akan lelah menjagamu dengan pengorbanan. Karena aku tak akan meninggalkanmu dalam kesusahan. Karena aku terpilih. 

Percayalah waktu baik mengajarkan kita hidup. Percayalah waktu tak pernah sempurna karena kita salah satu dari sekian harapan yang sirna. 

Friday, October 10, 2014

Nyamuk!

Gigitan nyamuk seperti banyak tanya yang menggerogoti kepala. Rasa gatalnya tak begitu saja hilang dengan garukan. 

Kehidupan nyamuk yang berbeda. Sementara kita manusia yang paling sempurna harus sanggup menggaruk kulit bekas gigitannya. 

Jumat Bersahabatlah

Semua hari penuh harapan. Manusia punya cita-cita. Masa depan yang terencana seindah apapun itu hanya Tuhan yang meridhoi. Jalan dibuka, ditutup, doa-doa saling menguatkan. Apalah daya kita kecuali mohon ampun.

Diri Titik

Waktu yang dihabiskan dengan banyak diam kadang menyakitkan. Pikiran hanya berputar tanpa kenal arah cukup membingungkan. Manusia sejatinya akan sedih dan bahagia. Ingatlah bahwa tak ada jalan buntu dalam merebut kesuksesan hidup. Dilarang putus asa mengindahkan hari demi hari karena musuh mendekat lebih cepat sekedip mata, diri.

Wednesday, October 8, 2014

Sore Tak Kesunyian

Anjing menggong-gong keras. Mungkin pertanda sebentar lagi adzan Maghrib. Kau masuk kedalam untuk mencoba satu kesempatan. Sementara aku tunggu diluar duduk membakar rokok-rokok yang sempat diangguri. 

Kita berada di perumahan yang sepi sore ini. Sedikit merasa damai, hati tenang karena sekalipun bising paling bekas gong-gongan anjing tadi. 

Tak lama kau keluar dengan senyum. Bertemu teman lama memang mengesankan. Tak ada yang penting selain membahagiakan orang tersayang. Semoga kenangan ini manis tanpa angka, huruf namun pejamkan mata suatu saat nanti ketika merindu. 

Bahagia yang Sama

Aku baru saja membaca lagi tulisanmu di kertas kecil yang kau berikan bersama segenggam rindu. Sulit percaya bahwa aku tetap jatuh cinta. Aku sedang tidak berkhayal. Kadang aku khilaf menganggap cinta seperti Tuhan. Dan aku melihatmu bak malaikat tanpa tugas. Kau setia dalam waktu yang tidak satu pun rela kau buang. Aku tidak jauh, aku tidak dekat, suatu hari nanti bukan penantianku atau penantianmu, kita masih sama-sama bahagia karena ketulusan.

Tuesday, October 7, 2014

Jangan Menyerah Dalam Ketiadaan

Kesunyian datang untuk menemani tiap detik tanpa satu pun kata kecuali detak jantung yang memberikan nada. Nafas mulai menipis di ujung tangis apalah arti mimpi buruk kita sementara Tuhan Maha Adil. Malam yang gelap menemani takut dalam guncangan hebat meski esok matahari tak segan menyinari ruangmu. Tenangkan jiwa di hembusan nafas kita dengan doa. Tidur sekarang tanpa beban atau bangun di samping bunga yang layu. Hidup bukan pilihan yang serba sulit melainkan diri terukur oleh sebuah kesungguhan. Jangan menyerah dalam ketiadaan.

Monday, October 6, 2014

Berpikirlah, Jakarta Ini

Hari semakin tua diantara gedung yang berlomba-lomba paling tinggi.


Kita bernafas dalam balutan debu dan asap kendaraan bermotor. Harusnya Jakarta makin resah karena kehilangan banyak sekali pepohonan. 

Luka di kulit mengering oleh panasnya. Esok korban dari kemacetan tertidur pulas di disko. Berenang di kolam alkohol agar sadarnya musnah melihat realita. Sebentar, hari masih wangi dituang senyuman. Berpikirlah.

Friday, October 3, 2014

Sinar Jalanku

Tak ada yang bisa mengalahkan sinarNya. Tak ada yang bisa menyusulku di depan sekarang.


Tak ada alasan mundur untuk kuat. Tak ada keajaiban dalam cinta kecuali bertahan. 

hertz

Yang kuingat aku penasaran. Aku hanya ingin mengenalmu saat itu. Tak pernah berpikir sejauh apa rasanya. Perlahan masa lalu pun runtuh terganti kebahagiaan baru, kamu. Dengan kesungguhan aku merasa hebat, dengan pengorbanan aku merasa kuat, hal besar yang tak terlupakan, semoga kesalahan tetap termaafkan. Terima kasih setia menyayangiku.

Thursday, October 2, 2014

Iya

Aku tidak bisa melawan kekesalanmu. Malam ini tanpa kata. Percakapan berakhir "iya". Aku terbiar entah dimana harus mengadu. Padahal rindu yang sudah mengantri lama segera mendapat tempat. Aku menanti sebuah pertemuan, setiap detik yang hilang pasti kembali. Bibir manis tak boleh ternoda hanya karena amarah. Aku menyayangimu, ingatlah selalu.

Nanti, Jangan Khawatir

Suatu hari nanti, dimana aku sudah tidak lagi dipercayamu, sudah tidak lagi kau anggap ada, aku pernah sangat memikirkanmu, begitu mengkhawatirkanmu, setidaknya aku serba pernah meski akhirnya tak mungkin terus disimpan, tinggal dikenang.

Di Depan Mata

Doa-doa berterbangan. Harapan, sukacita, uraian kata yang menimbulkan kecewa. Aku memang bukan orang yang selamanya akan mengabdi. Mungkin tak banyak waktu lagi untuk berbuat. Seakan aku tak pernah diam, aku pun tak berharap lebih di matamu, sudahlah aku sadar. Jalan terbaik tak perlu kita cari karena ruang pengampunan terbuka di depan mata.

Maaf Tak Boleh Sia-sia

Aku pantas mendapatkan apa yang sudah kuperbuat baik maupun buruk. Tuhan, aku banyak mohon ampun padaMu juga meminta maaf ke makhluk ciptaanMu. Sedih tanpa airmata namun berkecamuk didalam ini. 

Sabarlah, Sabar

Sabar menyuruhku tersenyum. Meski kadang rasanya tak karuan. Isi kepalaku seperti ingin meledak. Apa daya manusia tercipta untuk saling mengerti. Maka sabarlah.

Wednesday, October 1, 2014

September di Oktober

September kemarin mengajariku lebih bahagia. Aku yang berumur dewasa mencoba pintar ini ternyata rapuh. Perasaan bagaikan Tuhan yang kutakuti. 

Aku tak ingin menyesal. Hidup berjalan dengan rencana atau tidak adalah masih dari bagian kehendak Sang Pencipta. Aku tak perlu malu.

Oktober datang sambil tersenyum. Menyuruhku tidur nyenyak, lalu mencerna makanan dengan baik dan minum keikhlasan.


Monday, September 29, 2014

Tak Hilang Oleh Doa

Tak selalu diam itu berarti iya, tak selalu banyak bicara menandakan tidak. Andai hati bisa ditebak, andai saja pikiranmu sampai di ujung nadiku. Jangan putuskan asa yang mengalir dengan doa. 

Sunday, September 28, 2014

Muram, Pergilah!

Sore ini aku harus pergi dengan wajah yang muram. Aku sedang tidak enak hati. Pikiran burukku tak bisa disimpan sementara. Hatiku seakan dicuri dan tak akan pernah dikembalikan. Aku tak ingin sembarang membuang perasaan sesakit apapun itu. Mereka bukan TUHAN!

Pasrah Bukan Tuhan Kita

Jangan membiarkan dirimu teraniaya karena ancaman besar. Tuhan tidak tidur dan terus mengasihi. Tangan-tangan yang baik segera mendekat. Singgahi ruang kosong untuk kau isi sebagaimana mestinya bukanlah pasrah. Perang datang dengan perintah, sementara peluru habis bukan berarti kalah. Kuharap kau tak rela. Istighfar!

Tiada Tidak Ada

Kesempatan bisa diciptakan. Tak melulu dianggap tidak akan pernah datang lagi. Haruskah bertuhan pada manusia yang juga hadir sebagai pemuja keajaiban? 

Jangan MENYERAH dalam KETIADAAN. 

Mudaku Kini

Umurku semakin muda. Ia larut dalam kesendiriannya. Keresahan itu tunduk oleh waktu terindah. Disini sampai hari dimana akhirnya umurku sanggup untuk memilih, bukan karena sayap-sayap tak bisa lagi terbang, kaulah anginnya.

Cegah

Semakin kita takut, kita tenggelam dalam ketiadaan. Takut yang menghantui begitu sulit diatasi, kita pun terdiam. Hati tak banyak bicara namun tetap salah. Semua orang melihat bukan mendekat. Orang yang baik tak pernah mendesak apalagi menjatuhkan harga diri kita demi obsesinya. Menjauhlah tangan-tangan kehancuran. 

Rutinitas Kopi Malam

Tengah malam dengan segelas kopi hanya sekadar memeluk lelah sehari kemarin. Dewasanya hari menunjukkan banyak jalan untuk bangkit dari kalah. Siapapun bisa mengaku kecewa, terluka, ketika terlalu percaya diri, padahal sendirian, bukan keputusan berdua. Laki-laki, perempuan, atau lebih tepatnya manusia yang diberi nafas oleh Tuhan jalan menggunakan kaki-kakinya. Itu yang kita pasti tahu, namun bukan berarti kita bisa mendapat pertolongan semudah apa yang kita tahu, rasa sakit memijak duri, dan harus tetap berjalan. 

Thursday, September 25, 2014

Mata Sore

Sore tak boleh sia-sia. Jadi biarkan ia menangis ditutupi dua kaca. Kiri-kanan yang telah menyaksikan suka dan dukanya. Selain hati, mata tetap melihat.

Semangat Baru Lagi

Pagi, harapan baru. Entah baik atau buruk dalam dua pilihan selalu ada cerita yang mengesankan. Aku harus mampu bekerja. 

Wednesday, September 24, 2014

Sadarlah KarenaNya

Waktu itu aku tidak punya pilihan kecuali bersujud padaMu, membiarkan airmata jatuh lemas diiringi ayat-ayat yang Engkau turunkan. Sementara keputusan yang ada kurasa mengacaukan hati. Aku banyak dosa dan sekarang masih melakukannya. Doa-doa bagi terkasih. September belum habis, Tuhan tahu diri kita. Dimana kita berpijak, kita tertawa dan berbagi kesusahan. Tak ada kegelisahan yang abadi karena petunjukNya lebih pantas bertindak dari kesedihanku. 

Tuesday, September 23, 2014

Singkatnya Berani

Sakit hati tak mengubah keadaan menjadi lebih baik, akalmu yang harus cerdas. Jika obral mulut punya harga diri, berani paksa bunuh rasanya. 

Jodoh Pasti Berpisah

Manusia senang bermimpi. Mengelu-elukan pujaannya. Seakan pertemuan menjadi satu kepastian. Namun perpisahan tidak akan pernah. Seolah-olah keseriusan pasti menang. Aku memang bodoh. Maka aku tak mungkin mengaku tidak kalah. Kesenanganku menderita karena perasaan. Jodoh mereka Tuhankan. Aku bukan jodoh. Kamu bukan jodoh. Cinta tak perlu jodoh. Cinta adalah bagaimana sayap kiri-kanan yang patah tetap bisa terbang.

Bukan Doa Cinta

Doa terbaik bukan untuk cinta, mungkin. Kita jarang mengendalikan diri, manusia ingin terus dimaklum. 

Semua terasa biasa tanpa lamunan. Air mengalir tak seberapa besarnya kobaran api. 

Kekasih baik di tepian sungai kecil, jangan kau hilangkan nama di kepala. Jemari belum mau berhenti. 

Ketakutan lebih dari api yang sedang membara. Usaplah air yang mengguyur wajah-wajah kehilangan.

Tak Kenal, Rindu

Rindu tak kenal waktu.
Rindu sungguh manis.
Rindu betapa hebat.
Rindu selalu datang.
Rindu kamu.

Ujung Kaki, Ujung Kepala

Aku berharap kau tak berpura-pura. Tunjukkan kesungguhan yang baik dengan akal sehatmu. Semaksimal mungkin berpikir jauh. Ujung kaki hingga ujung kepala, tak sempurna. Dewasa bersama raga, jiwa, dan tertatih rendah hati.

Kopi yang Dingin Diindahkan

Tak cukup dengan keseriusan. Proses selalu menarik untuk dijamah. Wanginya harus kuat. Tak perlu melontarkan bualan semu. Kenyataan pahit kapan saja datang. Merenung di balik segelas kopi yang sudah dingin. 

Jangan Tunduk Pada Dusta

Harusnya tak terburu-buru, harusnya tak begini, apa dayaku. Harusnya tak tersiksa, harusnya tak begitu, apa salahku. Jawaban tak pernah kalah, namun pertanyaan menekan. Jangan sakit, jangan lain di bibir lain di hati.

Monday, September 22, 2014

Sore Itu Kita


Ingatlah, sore itu tak dapat kita ulang. Sore itu saksi bagian yang hilang. Dan sore itu cerita selamanya. 


19.09

Senyum paksa memang menyebalkan. Wahai Tuhan, kesempatanku sekali dan ini harus terakhir kalinya aku patah hati. 

Coret Orang Ketiga atau Jadi Orang Ketiga

Pilihan hidup baik suka maupun duka. Sebelumnya aku tak pernah berpikir soal judul ini. 

Mungkin panggilan jiwa yang guncang. Aku menanti aku sadar siapalah aku? 

Diantara Peran Bathin

Kasih yang tulus. Oh, kekasih bahagia. Senyum yang tulus. Oh, kekasih beruntung. Ketulusan pasti menang hingga perang bathin. 

Waktu ke Waktu Tak Menyisa

Patah hati membuatku tak ingin lagi jatuh cinta. Rasa pilu yang mampir ke ujung nadi tetap bungkam tanpa jalan.

Serba enggan ini cukup menyiksa. Pembaca yang kasihan belum sempat menangis.

Airmata tak penting kalah. Mereka boleh tertawa hingga bulan dua belas.

Bukan Benci

Sedih ketika merasa kau bukanlah yang dulu lagi. Namun apa dayaku untuk kenyataan sepahit apapun. Tuhan Maha Segalanya. Aku berusaha tak membencimu seperti mengenalmu.

Sunday, September 21, 2014

Mungkin Sanggup

Setiap tersiksa aku berharap keajaiban datang. Aku tak punya simpanan waktu untuk mengulang masa lalu tanpa banyak tekanan. Cinta tak mau pergi. Semoga aku sanggup.

Hari Ini Bukan Selamanya

Tidak begitu penting untuk memaksa diri menjadi seorang yang paling berarti di hidup orang lain. Alasan hati berkali-kali hanya membawa kehancuran semata. Aku biarkan pengorbanan yang tulus adalah saksinya. 

Friday, September 19, 2014

PadaMu

Di depan mataku permadani kita. Kurasa seperti tak ada lagi yang adil soal cinta. Seberapa pentingnya koma itu menjadi titik bukan kalah atau menang. 

Tuhan, aku harus bicara dengan siapa? PadaMu. 

Cepat dan Menyakitkan

Judul yang sakit untuk dijelaskan panjang. Aku tak punya ide lagi untuk sedih. Hancurnya tak tersambung. Entah. 

Satu Dua Tiga

Ketika pilihan tak berpihak padaku. Sadar tak mampu menghilang. Kondisi hati terjaga rapih. Satu, dua, tiga tak akan berakhir. 

Hari Kadang Menusuk

Hari yang kadang tak lebih tenang dari sekadar bicara pertemuan. Semua umur guna logikanya. Jalan-jalan lebar yang tak berperasaan. Mata saling menusuk dengan alasan ingin bahagia. Monyet kekacauan! 

Jumat Nostalgia Malam

Terngiang 201, kita sempurna, rindu. Sebungkus kopi terakhir dan aku tak ingin memikirkan soal rencanamu. 

Berita baik mereka bukan sepenuhnya milikku. 

Malam yang indah berlalu. Suka, cita, rasa, airmata hangat dalam pelukan. Harusnya tak ada keraguan.

Semoga aku luluh dengan bujukanmu.

Tuhan, aku memang banyak dosa. Jangan ceraikan aku dengan bahagiaku. Sedetik saja, biarlah aku bertahan.

Wednesday, September 17, 2014

Arrival di Hatiku

Sejuta rindu 'kan berakhir dalam kehangatan. Teringat pertama kali menantimu di keramaian. Detik ini tak jauh keadaannya. Cinta tak boleh sia-sia.

Kecewa Terikat Batas

Seakan rasa kecewa ini tak terobati. Kecewa yang tak seharusnya kurasa. Tuhan Maha Pengampun, siapalah aku? Dua mata ini tak dapat melihat lebih dekat karena jauh. Dua telinga ini tak dapat mendengar karena terpisah batas. Seumpama dua hati masih sanggup saling mengasihi, biarlah Tuhan, jangan hukum aku lebih berat.

Sekadar Itu

Harapan, cita, asa. Sebelum takdir datang lebih cepat, aku bergegas menciptakan waktu yang terbaik untuk kita. Aku bukan orang baik, kamu bukan segala-galanya namun apa salahnya cinta? Nada tak bernafas, suara pilu dalam pengampunan. Hati tak pernah utuh bagi orang ketiga. 

Tuesday, September 16, 2014

Biar Sapa Tetap Datang

Sudah pukul enam lebih mataku tak kunjung menyerah. Padahal tidak disuruh menunggu sampai pagi. Semestinya jera namun apa dayaku inilah kesungguhan. Demi waktu yang tertinggal biar sapa tetap datang. 

Habis Menang

Aku ingin sekali menangis agar lepas dari keresahan. Namun ternyata airmataku sudah habis. 

Seminggu ini keadaan paling kejam bagiku. Pikiran seakan hebat padahal tubuh melemah.

Ketika aku mencoba pahami situasi, waktu malah kembali genting. Entah sebenarnya apa?

Tak ada kekalahan yang abadi begitupula menang.

Sepagi Gelisah Parah

Dzikir, terima kasih membuatku sedikit lebih tenang. Meski aku gagal memejamkan mata, setidaknya aku belajar untuk pasrah. Rasanya aku mulai tak sanggup mendapatkan gelisah bertubi-tubi. Akalku yang mungkin sehat buram membedakan mana bohong dan jujur. Tuhan bersamaku pagi buta ini menanti alasanmu nanti.

Monday, September 15, 2014

Lima Tak Berarti

Apa kau sedih bila aku tak merasa cemburu? 

Pertanyaan bodoh membuat kita tak ingin berlama-lama termenung. 

Hari bosan disebut buruk karena manusia yang paling sempurna.

Apa kau kecewa bila perasaanku terbagi? 

Cinta tak pernah berharap begitu. 

Berdua Luka

Pada akhirnya aku harus terbiasa menjilat lukaku sendiri wahai kasih. Sebenarnya ini luka kita berdua. Luka yang bukan sepenuhnya kau rasakan. Biasanya aku langsung mengamuk, mencaci maki, dan gegabah. Namun kali ini aku diam dan mencoba tenang. Aku hanya tak ingin menertawakan tingkah serba salahmu nantinya. 

Pedih dan Sakit Termaafkan

Aku selalu tahu apa saja tentangmu sekecil apapun itu karena aku mau tahu. Aku tidak bisa marah ketika melihat hal yang sebenarnya cukup mengecewakan, diduakan. Aku terpaksa meredam kesalku demi kebahagiaan mereka. Semoga perasaan ini tidak mati begitu saja tanpa ucapan selamat tinggal. 

Friday, September 12, 2014

Kita Cinta!

Kegelisahan bathinku harus mereda demi kamu. Aku menghindari segala pikiran yang membuatku sangat geram. Tak dapat memukul apalagi mencaci maki keadaan. Mimpi bukanlah kenyataan, kenyataan bukanlah mimpi. Sederhanakan cinta kita.

Tak Sia-sia Bukan

Jumat bagiku spesial namun beberapa kali Jumat memaksaku untuk pasrah juga dengan hari lainnya. Suara burung di balik jendela membuatku takut bersuara kemudian hati ini terasa sakit sekali. Harusnya aku tak menyiksa diri karena nafas yang semakin sesak tak akan sia-sia. 

Guncang Gulana

Aku sedang asyik bermain dengan pikiranku sendiri. Aku sedang bergembira sambut kekalahan. Aku sedang banyak diam menahan sedih. Aku sedang tak ingin mengamuk. Aku guncang. 

Wednesday, September 10, 2014

Bertahanlah, Nasib

Oh, nasib. Mengapa kau nampak sedih? Sudahlah nasib kita bergembira saja.

Oh, nasib. Apakah waktu dapat diulang? Sudahlah nasib kita bukan Tuhan.

Oh, nasib. Mungkinkah kecewa terobati? Sudahlah nasib kita hanya manusia.

Aku Sabtu, Kamu Minggu

Akhir pekan. 
Iya, aku hanya ingin bilang "Aku Sabtu, kamu Minggu."

Setiap bangun dari gelisahnya tidurku, perasaan ini harus dibuat baik-baik saja. 

Hari kita pasti indah.

Tuesday, September 9, 2014

Jangan Larang Aku Bahagia denganmu

Setiap judul yang tercipta disini membuat lega. Pembaca tak perlu menyelami isinya. Jangan larang aku bahagia denganmu. 

Aku sedang merasakan banyak hal yang "tidak enak" dari mulai makan hingga tidur. Jujur saja menyiksa. Bayanganmu menghantui detik, menit, jam yang berlalu tanpa permisi.

Sewajarnya kekasih, aku takut kehilangan. Aku tahu suatu saat nanti  kita tak punya waktu memikirkan sejuta kekonyolan ini. 

Untuk memilikimu tak semudah itu, aku berhasil menaklukkannya. Hati mana yang rela diduakan? Aku tak perlu sebut apa dan siapa. Cemburu perlahan terkubur. Pasir yang kugenggam menjadi kenangan walau semuanya pasti lepas dan hilang.

Aku dan Racun Hati

Aku takut kamu marah lagi, kesal lagi, dan semakin tertekan.
Aku terpaksa meruntuhkan artinya sayang, si cemburu itu demi mereka.
Aku memilih untuk berpikir positif dengan segelas kopi, berbungkus rokok, dan menantimu pulang.
Aku mau kamu lebih sabar dan tetap menyayangiku sampai mati.

Monday, September 8, 2014

Kau Selalu

Tak ada pilihan untuk jatuh cinta lagi karena lagu yang kuputar bukanlah nostalgia.

Langit gelap tak enggan membagikan cahaya kecilnya menari di atas kepalaku. Sungguh dramatis!

Dan hari ini kau berhasil melepaskan rasa takutku dari sangat menderita, hanya kau yang bisa. 

Jika Aku, Bukan Mereka

Jika nanti aku tak punya cara lagi, aku berharap kau memelukku lama. Jika nanti aku tak punya rasa lagi, aku berharap kau memelukku lebih lama. Jika aku hadir dalam kebahagiaan mereka karena benar aku mencintaimu. 

Hati, Pahamilah

Aku melihatmu disini, percis di hadapan dalam bayangan.
Aku tidak gila karena ini rindu yang paling mesra.
Aku lelah berusaha untuk mematikan rasa, nyatanya cuma kamu. 
Pahamilah hati yang tak dapat berubah lebih buruk dari adanya. 

Maaf untuk Kesekian Kali (Teduhlah)

Kita percaya bahwa airmata adalah kekuatan untuk mengenal diri. 
Kebohongan bukan jalan buntu agar hati tetap utuh. 
Perdebatan membuat kita sangat kecewa bahkan nyaris putus asa. 
Kau menjelaskan banyak waktu yang akan berjalan tanpa mata, hati, dan telinga.
Kau simpan aku untuk kisah terbaik, demi aku kau rela tersiksa.
Kita percaya janji yang kita buat, kita sadar kita saling menyayangi.   

Sunday, September 7, 2014

Tanpa Harus Marah

Selalu ada tempat terindah bagi orang patah hati. Misalnya kebahagiaan yang tertunda. 

Akal ini lelah, tahu bahwa perasaan tidak layak untuk dinikmati.

Aku merindukanmu setiap saat aku mengingatmu. Airmata menetes lagi. 

Tersiksa luar biasa. Entahlah harus apa kecuali diam membiarkan sikapmu, tanpa harus marah. 

Tak Ada Siapa?

Siapa saja boleh menusukku, asal bukan kamu. Meski kamu terpaksa harus mengecewakan aku dengan kebohongan. 

Hari ini serasa tak ada lagi harapan. Aku banyak menangis, diam, dan tak dapat mengontrol diri. Wajarnya aku mengalah. Kenyataan pahit yang kukecap, kusimpan rapih.

Tak ada penggantiku, sayang.

Saturday, September 6, 2014

Malam Minggu Bukan yang Lalu

"Disaat menunggu, dalam ketidaktahuan, aku diam menikmati hingar bingar suasana, malam minggu tercipta untuk kita berdua saat itu, disini terasa sepi, gelisah, dan tak berarti, aku menantimu," kataku padamu, kalimat yang akhirnya cuma bisa kunikmati sendiri. 

Jangan sedih yang kau cintai acuh, tidak berada di pikiranmu. 

Ponsel Diam

Aku menantimu setiap bangun tidur.
Layar ponselku menyala dalam harapan hingga pertemuan kita tiba, entah kapan!
Mungkin aku salah karena diam sementara kau asyik bercerita. 
Rokok yang asyik terbakar semakin pahit di mulut. 
Mengapa diri seakan tak lagi berkesan?
Jauh membuat segalanya tak berarah.


Thursday, September 4, 2014

Pertempuran Bathin!

Sejak siang tadi aku berusaha tak banyak tanya. Aku tahu keadaan ini sungguh menyiksa kita. 

Renung Salah

"Tidak dipercaya itu bisa buat orang merasa tertekan."

Aku renungi.


Takut, Menjauhlah

Takut, menjauhlah sekarang! 
Takut, pergilah!
Takut, jangan dekati aku!
Takut, aku tak butuh kamu!
Takut, matilah!

Paling Sedih

Hari-hari yang resah. Seakan aku yang selalu mengaku salah. Itu saja yang bisa kuungkapkan oleh perasaan dan tetap salah. Aku harus mencoba pasrah. 

Wednesday, September 3, 2014

Setiap Selamat Pagi

Waktu yang datang tiba-tiba, rasa yang tumbuh dipaksa hilang, ketika hanya berakhir selamat tinggal, sedih. Sabarlah hati, tak ada pertikaian buatmu nanti, entah kapan. Kalimat terus menari dalam putaran. Tanpa suara keras, bisikan manja, kekonyolan, kuharap kau bahagia setiap ingat "Selamat Pagi". 

Tak Boleh Pedih

Bicara apa saja, berubah kapan saja. Aku harus pahami perasaanmu. Anggap saja aku lupa hari ini. Tentang waktu yang tercipta dari sejuta pengorbanan. Tetapkan saja hatimu, bukan aku mungkin siapa. Airmata kuusap perlahan, tak boleh pedih. 

Tiga Nanti

Cintaku tak akan membuatmu dewasa. Tumbuhlah ingatan di atas tanah yang mengering itu. 

Cerita akan berlanjut dengan senyum dan murung. Renungan pagi ini terlalu menyiksa.

Catat pukul tiga nanti tentang doa serta pengampunan.

Tuesday, September 2, 2014

Selamanya Disini

Apabila waktu berhenti maka aku hanya ingin yang terbaik dengan diam. Aku tak mau menyiksamu dengan banyak tanya, mengekangmu. Apabila waktu memaksaku pergi suatu hari nanti, jangan bersedih karena kau berjanji menyayangiku selamanya.

Saturday, August 30, 2014

Aku Andai

Andai aku dapat menghentikan cinta, lalu membiarkanmu raih sang cita, namun tak mungkin kubiarkan diri tersiksa, harus apa aku? 

Hanya satu andai yang dapat merebut hatimu dariku, paling nekat, aku tetap cinta.

Rindu Seperti Kematian yang Pasti Terjadi

Jarang bertemu kita merindu, sering bertemu kita ciptakan rindu, dekat kita sering merindu, dan jauh membuat rindu menjadi sebuah kelurahan. Ada apa dengan rindu? Hasrat kita melekat karena saling membutuhkan. Seakan tubuh selamanya merapat berpelukan, jemari bergenggaman tanpa beban, dan tidak ada satu orang pun sanggup menganggu. Rindu seperti Tuhan yang kita agungkan. Rindu seperti Tuhan yang kita takuti. Rindu seperti kematian yang pasti terjadi. 

Abadi di Hati

Seumur ini aku masih berbelit dengan "apa". Tak karuan. Isi kepalaku berkecamuk, selalunya, sebelum mendarat di permadani. 

Aku tak menginginkan depan apalagi belakang. Tujuanku denganmu, mereka tak akan pernah menerimanya. Sadarkah "hari" tentang rasa-rasa yang terbuang.

Di sebuah pertanyaan, aku tak mau menjawab. Sesungguhnya cinta adalah pengorbanan abadi.

Thursday, August 28, 2014

Kamis Tak Tahu

Banyak keadaan pedih yang tak terlupakan seperti detik ini dan aku tak boleh menyesal.

Setidaknya aku masih selalu merasa punya Tuhan. Biarlah tanpa perhatian dan kecewa.

Omong kosong sudah biasa. Aku harus rela menerima konsekuensi. Hidup sebentar saja.

Wednesday, August 27, 2014

01.03

Tak ada lonceng untuk dibunyikan. Nada lama tersisa. Kutuliskan lagi 'hidup'. 

Ibuku terbangun dari tidur batuknya meradang. Rasanya semakin rumit. 

Masalah, selesailah. Kami memohon. Ini melelahkan.

Thursday, August 21, 2014

Gerakan Cinta

Jika cinta tak bergerak dengan dua tangan, tak berjalan dari kedua kaki, tak nampak dari kedua mata, dimana cinta menelusuri waktu dalam sesaknya? 

Hati yang terluka, hati yang mereka sebut perasaan, namun sayangnya tak punya hati mereka tetap ingin merasa punya cinta.

Wednesday, August 20, 2014

Mimpi Sementara Gila

Jangan telanjangi aku dengan takut, marah apalagi cemburu wahai cinta. Ini menyebalkan. 

Waktu habis terkikis curiga tanpa bukti atau pengakuan hanya menerkanya dengan logika serta perasaan. 

Padahal kemarin aku jauh kemudian mendekat karena rindu gila. Untaian rasa datang mengukir kalimat terindah. 

Begitu saja pergi tak membentuk pada bagian di dalamnya. Seakan berlalu tanpa permisi.

AKU TIDAK INGIN BERMIMPI.


Berpisah, Untukku

Aku tidak tenang. Aku semakin mengerti. Aku tak ingin segelisah ini. 

Sebenarnya mudah saja. Namun aku tak ingin melepasmu. 

Aku percaya cinta karena kita pasti berpisah. 

Friday, August 15, 2014

Jumat Disini

Awan putih gerak perlahan. Kupandang drama di balik jendela. Langit jauh 'tuk kugapai. Sekali lagi, tak ada keajaiban.

Thursday, August 14, 2014

9 Lagi

Setelah 9 hari kedepan aku harus kembali diselimuti ketakutan meski detik ini sudah terjadi. Rasa yang tak ingin hilang dipaksa musnah perlahan dengan sikap acuhmu.

Memang benar waktu tak akan pernah berbohong. Namun tidak salah bila kenyataan membawamu betah di persinggahan baru.

Dewasa ini sulit menterjemahkan gelak tawa lepas tanpa beban. Hal yang mengganjal kadang tak terjawab. Kau memaksaku untuk menelan pil pahit demi perubahan.

Tak berdaya harus bahagia.

Tunggu Kabar

Ungkapan hati sia-sia sejam berlalu. Jauh-dekat tugasku menunggu kabar. Kasihan pada diri ini lemah. 
Pengemis cinta yang tak kunjung sadar. 
Sebut aku dusta tak bernyawa. 

Jangan Dusta, Kaca

Tak ingin menghitung waktu bertahan untuk pulang. Keresahan cukup menyiksa dalam entah. Seakan rela dibodohi padahal hanya tiada kesan yang berarti lagi. Perjalananku, jangan engkau mendustai kaca-kaca pecah yang tak mungkin kembali UTUH. 

Wednesday, August 13, 2014

Setiap Pagi dalam Sepekan

Sudah 1 minggu terbangun di udara pagi. Inilah kehidupan yang tak seperti biasanya. Tak banyak berharap untuk menikmati sebuah perjalanan lepas dari waktu sibuk lama. Hidup ini, hasrat ini, kekuatan pikiran serta senandung hati. Jangan pergi semangatku! 

Tuesday, August 12, 2014

Istirahat Hati, Diri

Tidak ada luka apalagi cinta, tersisa hanyalah pengabdian.
Tidak ada airmata apalagi dusta, ternoda hanyalah pengakuan.
Tidak ada drama apalagi penyesalan, teraniayalah perpisahan.
Selamat istirahat diri.

Aku Tak Tahu

Aku tak boleh muak dengan mesra. Tak boleh merasa tak punya lagi perasaan karena diri salah. Sebenarnya aku tak kuasa dengan ketakutan ini. Hati dan pikiranku tak jelas. Akalku tak menemukan pertanda baik. Aku tak ingin jauh namun aku juga tak berpikir didekatkan. 

Terkutuk Entah

Terkutuklah entah. 
Kuhabiskan takut ini hingga sakit.
Berbaring gelisah.
Hati kuat mengikat.
Tak kuasa meninggalkan indah.
Semoga aku tabah.


Saturday, August 9, 2014

Sakit Mungkin

Kalimat berbaris dengan logika singkirkan pedihnya hati menuju petang tanpa irama.

Aku menunggu jawaban mesra oleh jemari tak bersalah karena semuanya masih berfungsi. 

Tiba-tiba sudah pukul satu lebih setelah makan selesai lalu terbaring memaksa kantuk sepakat untuk bermimpi.

Namun yang hadir gelisah membabi buta bengong mengukur detak jantung sambil melihat dada. 

Mungkin sakit.

Gratis Kenangan

Langit biru mencakar bathinku hingga tak tersisa. 

Aku pasrah karena bumi inilah tempat penyimpan kenangan gratis. 

Airmata enggan turun dari atas sana, menakutkan sedikit pun tidak.

Haruskah tetesan luka dipaksa sakit meringis? 

Diam karena perasaan yang mendalam. 

Semoga esok gembira datang lepas menari riang.

Alasan Hebat

Alasan selalu membuatku merasa hebat dalam bertindak. Padahal kamu tak pernah setuju apalagi peduli. Belas kasihan tak akan pernah menjadikan alasan itu cerdas.  Kebingungan yang terpaksa mati tanpa tanya dan jawab. 

Kembali Kembali Kembali

Kembali ke tempatmu, kembalilah.
Kembali menyadari dimana tempat terbaikmu, kembalilah. 
Kembali menyebar senyum dalam keruh, kembalilah.
Kembali ke rumahmu, kembalilah.
Kembali menciptakan indah jauhkan ragu, kembalilah. 
Kembalilah! 

Aneh, Posesif, Segalanya

Aku aneh. Aku posesif. Aku tak pernah mengerti. Aku merasa dekat ini seperti jauh. Aku mengaku salah bertuhan pada maaf. Aku hanya bisa diam meratapi segalanya. 

Aku Hilang

Harusnya perlahan mencari yang lain, meski sulit berpaling saat ini. Langkah awal saja belum terbuat, sementara ia sudah. Aku tak ingin ada rencana banyak. Tak mengagumkan niat untuk bertekad. Cerah datanglah di tidur dan bangunku. Aku hilang! 

Friday, August 8, 2014

Sore di Tepi

Entahlah entah. 
Gundahlah entah.
Entahlah gundah.

Petang Biru di Bali

Jemari mengepit sebatang rokok yang sedang tersiksa menuju mati. Sore datang lagi dalam harapan. Rindu berterbangan dibawa udara Bali. Gelisah menganggap aku lawan.

Tuesday, August 5, 2014

Semesta Berbisik di Atas Awan

Matahari terbit perlahan di atas awan. Gumpalan putih menyebar ke penjuru langit Tuhan. Irama sederhana sungguh berkesan. Dengung mesin pesawat sambut hari liburan. 

Sunday, August 3, 2014

Hari Ini Tak Ada yang Lain

Dan hari semakin dekat untuk menceritakan kepadamu bahwa inilah resah, sakit, dan bukan ketersiksaan biasa. Aku setengah gila memikirkan hati, guncangkan jiwa. Pikiranku terancam dibatas bayangmu. Kamu jangan pergi.

Saturday, August 2, 2014

Tak Rasa Hilang

Aku hanya tak ingin rasa-rasa begitu saja hilang seakan yang hidup mesti dimatikan yang mati tak boleh tumbuh kembali. Tak ada kata hilang untuk rasa-rasa yang begitu saja datang ketika yang mati masa lalu dan yang hidup kini jiwamu di jiwaku.

Friday, August 1, 2014

Lebih Cepat Saja

Pengorbanan bisa membuat kenangan indah bertambah manis dan kenangan pahit semakin sakit. Pikiranku mungkin salah apalagi perasaan yang begitu mengekang hati. Semoga saja aku tersadar. Seandainya lebih cepat. 

Wednesday, July 30, 2014

Terkunci Lemah

Ketika merasa sangat khawatir ditambah cemburu aku tak boleh banyak bertanya. Segala pertanyaanku hanya berbalik melukai. Aku harus pasrah. 

Pergilah, Takut

Semoga ketakutan ini tak membunuh. Kuharap hanya ketakutan yang sekadar hinggap mengguncang sebentar. Betapa besarnya salah, tak seberapanya hati menikmati indah. 

Manis, Selamat Tinggal

Manis, kenangan.
Manis, rasa kecewa.
Manis, pengorbanan.
Manis, waktu yang hilang.
Manis, cintaku padamu.
Selamat tinggal manis.

Tuesday, July 29, 2014

Maaf Semoga Terakhir

Pertengkaran akan selesai cepat atau lambat. Kita tinggal menanti hari terakhir untuk bisa saling menemukan perasaan yang sebenarnya. Aku tak ingin menekanmu lagi. Maaf.

Akhirnya Begitu

Malam ini duduk seperti biasa bertemankan segelas kopi. Radio menyala dan kendaraan bermotor sibuk lalu-lalang diluar sana. Sementara hati terasa remuk karena jarak makin jauh. Komunikasi hancur begitu saja. Cerita yang mudah kau dilupakan, akhirnya.

Lebaran Hari Kedua Juli

Sore ini pilu tanpa kabarmu, kau buat aku patah tidak berdaya. Aku tersiksa di keramaian ini. Sungguh merana. Tidur dalam gelisah dan terbangun menanggung kecewa. Pedih.

Sunday, July 27, 2014

Kopi, Penguat Hati

Pikiran yang mudah kacau, jangan buat diriku semakin merasa menderita karena perasaan. Bisakah lebih bijaksana demi dirinya yang kini sedang bimbang?

(Secangkir kopi tak jauh dari bibir dalam derita, bernafas dengan cerita lama)

Demi dirinya yang kucintai, pikiran bersahabatlah sebentar untuk masa mendatang. Waktu yang indah tak mungkin berbohong, dan aku tak perlu takut kau lupakan. Apapun rasanya cinta, kita mesti kecewa. 

(Secangkir kopi tak mengkhianati rasa takut, jangan kasihani aku)

Ingatlah pikiranku yang kubawa mati, saat dirimu terlena akan cinta. Saat itu segalanya tak dianggap karena yang ada hanya cinta. Dan dirimu yang pernah mengakui cinta kepadaku, setiap hari kita harus bahagia!

Dimana Hari Ini

Dimanakah tempat paling jauh dari mimpi karena aku tak sengaja bangun? Siapa pengganti kehilangan? Entah. Kemana arah yang kau tuju untuk bermesraan? Sementara aku tinggal harapan. 

Jiwa Hiduplah Jangan Sakit

Senyum tak selalu berarti bagiku, bagimu. Andai saja kemarin masih disini, sedih dan tawanya berdekatan. Namun sekarang, kita tak lagi seperti kemarin meski hanya aku yang menyadarinya. Mungkin juga salah kaprah. Hiduplah jiwa, aku lemah untuk berpikir tentang keadaannya. Semestinya kesakitan tak ada, apalagi harus terulang.

Aku Menikahimu, Mimpi

Aku mencintaimu namun tak selamanya kita bersama. Aku merindukanmu namun tak selalu kau mencariku. Begitu adanya perasaan sedalam-dalamnya aku terluka akan kekalahan.

Dua jalan dapat diciptakan demi satu tujuan. Namun satu jalan tak membenarkan kita menyatu untuk beriringan. Cinta menyebalkan.

Dan kita hanya dipersatukan dalam satu paket pesan terakhir. Bunyinya, aku tak ingin kau menderita. Meski akhirnya itulah yang terjadi. 

Aku tak pernah menyuruhmu pergi dari hati. Sakit rasanya, dan sakit keadaannya keinginan detik ini datanglah padaku walau hanya di mimpi.

Saturday, July 26, 2014

Dipaksa Tinggal Jadi Kenangan

Percakapan yang terjadi tak lagi sebaik-baiknya kita paling sibuk disini. Kau sengaja sibuk dengan halmu disana. Sementara aku hanya meratapi keadaan sambil bertanya-tanya. Aku yang tak lebih pintar daripadamu hanya diam menerima. Waktu yang berlalu dipaksa tinggal jadi kenangan. 

Wednesday, July 23, 2014

Aku Wanita Terbodoh

Aku mulai bingung. Tak menentu dan semakin ragu. Namun apalah sesungguhnya cinta. Hanya pertemuan dan berpisah. Aku tak mungkin memaksa keadaan menjadi sebaik dulu, semanis madu, apalagi mengharapkan seindah-indahnya kenangan. Baiklah, aku harus mundur perlahan atas kehendakmu. Meski hati ini bukan telapak tangan, mata ini bukan detak jantung, telinga ini bukan lidah yang cengeng, aku tak mungkin mengemis cinta melulu. Bohongnya aku rela, siapapun yang berhasil merebut hatimu, aku adalah wanita terbodoh.

Kemarin Tidak Ada Lagi

Kita tidak bisa memaksa untuk selalu dicintai. Sakit hati membiarkan biasa. 

Monday, July 21, 2014

KETIKA PATAH HATI SEMUA KEMBALI NOL

Segelap pagi rindu terus berbisik. Detik ini sudah setengah gila. Entahlah sayang aku siapa? Jika muncul dalam mimpi enggan permisi. Guncang tak berdaya lagi. Cinta pasrah dimuntah. Kursi tak ingin kududuki. Permadani malas kutiduri. AKU DILEPAS PERLAHAN. Ukur sakit dengan senyuman. Wahai Senin duka jangan biarkan aku menanggung airmata tanpa ganti. 

08.11

Harapan selalu ada meski terlanjur datang perdebatan yang menyakitkan. Aku ingin selalu mengertimu, luluh. Beginilah pengemis rasa.

Asyik, Aku Patah Hati (Lagi)!

Asyik aku patah hati! Aku mengetik buaian lagi! Asyik aku patah hati! Aku mengetik lagi dengan kekalahan! Asyik kau jujur! Asyik aku patah hati lagi, sayang! Asyik!

Kau Hebat!

Sudah kubungkus rencana serapih mungkin dengan senyum penuh bahagia pekan lalu. Penantian ini mahal, bukan soal rupiah. Aku hanya percaya bahwa kau tahu rindu yang menyiksa segera berbuah manis cepat atau lambat. 

Namun ternyata melupakan kekasih itu mudah menurutmu. Dan hilanglah dalam sekejap perhatian manismu satu hari kemarin. Sekali lagi kau hebat, berbahagialah mencoba jatuh cinta lagi dengannya! 

Kau HEBAT.

Friday, July 11, 2014

Waktu Tersisa Sedikit Lagi

Hati mana yang tenang asyik duduk manis beralaskan duri. Memanglah tajam namun rasanya berat untuk pergi. Sekian lama bersamamu melewati tidur dan bangun dengan hari. Aku tak sanggup menikmati cinta yang kita bina menangis sendiri. Tak ada jalan sempit merebut kebahagiaan. Setiap manusia harus mampu berupaya meski kesempatan ini salah. Tuhan memberikan waktu yang benar agar tetap menjaga ketulusan.

Menuju Jumat yang Mencengkam

Detik menangisi diamku. Rasanya sudah tidak lagi berdaya. Namun aku selalu memaksakan diri untuk tunduk pada setiap tenang. Entah bagaimana caranya itu? Aku tidak bodoh apalagi kurang bahaya. Tuhan, aku malu memohon kepadaMu disini. Biar aku peluk kegelisahan yang kubuat sendiri tanpa alasan klise. 

Saturday, July 5, 2014

AKU HARUS MENERIMA

Ketika sudah tidak dibutuhkan lagi,
ketika sudah tidak diperlukan lagi,
ketika sudah tidak lagi sama. 

Penantian Sia-sia Mungkin Aku Salah

Bodohnya aku saat merasa paling dinanti. Setiap malam gelisah memikirkan jumlah dan waktu, sia-sia. Aku salah mengira, kau tidak menginginkanku. Hingga pada akhirnya tak ada jalan yang paling penting kecuali mengalah dengan rasa kalah. Pernyataan pahit muncul tiba-tiba tanpa kesalahan. Airmata pun kubiarkan menari, walau perasaan yang hancur tak mungkin tersusun kembali. Semoga aku tak menjadi dusta dalam manisnya ketulusan. Meski cinta berakhir denganmu.

Sakitnya Hati

Percakapan yang mesti aku kubur, dan termaafkan. Pengakuan yang mesti aku terima, dan terima kasih sempat menunggu. Hasilnya, kau selalu mendapatkan yang terbaik.

Friday, July 4, 2014

SORE JUMAT KELABU

AKU TIDAK BERSEDIH, AKU SEDANG MENCINTAIMU, AKU TAK INGIN MEMBUANG AIRMATA TERLALU BANYAK, AKU HANYA SEDANG MERINDU.

Di Ujung Lemah

Airmata, kenapa kau begitu cengeng dan lemah? Muak aku meladenimu sendirian!!! 

Thursday, July 3, 2014

Tak Harus

Tak harus begini untuk begitu. Kita tidak dapat memegang bulan, menelan kata yang sempurna dalam balutan hujan, kenyataan tak akan berbalik. Tak harus begini untuk begitu.

Tuesday, July 1, 2014

Sial, Politik!

Linimasa tengah berdebar, memberi jantungnya tak henti kejar-kejaran dengan logika. Bahkan detaknya lebih kencang dari nyanyian kaki kuda di tepi jalan. Mereka berusaha mencari jalan keluar, sementara bumi terlanjur digadaikan. Jangan sedih ketika senjata yang mematikan itu bangkit dari masa lalu. Walau lebih tajam lagi kata yang berulang-ulang diungkit hanya karena ingin MENANG. Sesungguhnya fakta tak pernah sanggup dituliskan dengan perasaan. Lalu apa maumu setelah berhasil duduk manis nanti? Jangan berharap pergi dari kegelisahan di pelukan 'mereka'. Destinasimu bukan destinasiku, nasib yang miris bukan karena cita-cita melainkan kertas sobekan baru yang kelak terbakar jua. Kemenanganmu tak sangat berarti, lihat gemerlap malam! Aku budak disana yang minggir dan tahu diri. 

Sunday, June 29, 2014

Kayu Patah

Jika pensil yang patah tak dapat lagi tersambung karena ia terbuat dari kayu. Maka biarlah kayu memilih untuk tak sendirian tidur dalam buaian.

Baik Jahat Biasa

Semoga aku bukan sebaik-baiknya setan yang rela menuangkan gemercik dogma dalam nuranimu. 
Semoga aku bukan sejahat-jahatnya setan yang pasrah menjejalkan cuka dalam airmatamu. 
Pagi ini, aku hanya biasa untuk menjadi cinta yang terlupakan. 

Thursday, June 26, 2014

Kuning Menyerang

Wajah wajah penuh kegelisahan tersenyum di antara warna-warni cahaya lampu pada ruang ini. Setengah dari kegelapan mencabik sisi haru, detiknya mati rasa.

Wednesday, June 25, 2014

Rindu Terbalut Waktu

Seiring waktu yang pekat akan rindu. Merana sudah diantara terangmu dan gelapku. Kunanti hari yang luar biasa. Semoga tak lebih jauh dari ketersiksaan yang mengalir detik ini. 

Sunday, June 15, 2014

Ketika Rindu itu Kamu

Ketika rasa rindu jauh lebih penting daripada harus jatuh cinta lagi. Aku bertemankan nyanyian syahdu, segelas kopi, dan berbatang rokok yang kutelan asapnya mencintaimu apa adanya. 

Monday, June 9, 2014

Doa Tanpa Irama, Luka Tanpa Bekas

Tak ada kesedihan abadi untuk hidup yang berarti. Aku hanya ingin melihat kembali sebagian waktu yang hilang di matamu. Segala yang tak dapat kumiliki dan biarlah. Cinta terbiasa berjalan tanpa kaki bagi tangan dingin. Disini tak ada tempat layak bahagia kecuali kita dipertemukan lagi.

Friday, June 6, 2014

Tak Berencana Kembali Terbakar

Hari ini bukan hari seharusnya hatiku gelisah, begitu menderitanya ia meneteskan kesedihan dalam entah. Dini hari selalu tak berdaya, tak satu pun yang seharusnya menjadi paling benar. Aku hanya salah yang selalu memberanikan diri menggoreskan luka sendiri. Tak berencana untuk kembali terbakar.  

Thursday, June 5, 2014

Titik Setelahmu

Ada saatnya rasa sabar itu tak lagi menjadi keajaiban dalam diriku ketika aku harus mengaku lelah. Titik yang begitu sakit, koma pun tak pernah menemukan seru yang keras untukmu. Sadarlah! 

Sakit Terlalu

Ketika sudah tidak bisa lagi menahan sesak di dada, aku hanya sanggup menangis. Jiwa dan ragaku terlalu sakit saat ini.

Friday, May 30, 2014

Mendung Hebat

Siapa yang dapat mengalahkan gelapnya langit dan terangnya matahari? Manusia tunduk seketika melihat alam yang tak akan mungkin ia rubah. Pepohonan mengadu nasib bersama angin sepoi-sepoi. Jangan mimpi harimu hanya satu.

Tuesday, May 27, 2014

Itu Hanya Mimpimu Saja Wahai Lelaki

Seharusnya bukan aku disini, namun luka tak dapat terganti karena ibu banyak kecewa. Bukannya aku berniat untuk membenci, bukannya aku ingin menyalahkan. Ayah yang kusayangi, jangan pernah berharap menemukan wanita sehebat ibuku. 

Jangan Biarkan

Tidur di bawah kegelisahan. Tak satu pun yang tahu rasanya, beginilah ulah sendiri. Tuhan, jangan biarkan aku tak berdaya apalagi lemah melawan diriku sendiri. 

Monday, May 26, 2014

Aku Ingat Ciuman Pertama

Kita selalu sama ketika bilang rasanya seperti pertama kali jatuh cinta. Rasanya tak jauh beda seperti kau tahu aku menginginkanmu, rasanya tak lain bahwa aku serius menerima pertanyaanmu. Tak ada setengah rindu, beginilah ingatanku. Ciuman pertama di tepi jalan itu, jangan pernah lupa soal ketulusan. Kita tidak pernah menukar janji, kita hanya manusia.

Dilanda Bosan

Tak pernah kupikir tentang hari-hari yang begitu sibuknya. Tak ada waktu untuk hari-hari yang begitu pentingnya. Hingga akhirnya harus merasa bosan. Hingga aku harus jenuh. Apakah aku berani menghadapi diriku sendiri? Hari ini!

Lamunan Malamku

Melamun ditemani sebatang rokok lagi. Sudah tengah malam aku masih sendirian disini, tanpa menanti apapun dan siapapun. Aku hanya memuja detik-detik yang berlalu. Segala senyum, semua duka, dan berbagai cerita. Takjub aku melihat ibu. Maaf ayah aku terlalu banyak meminta. Aku cuma punya MALU. Tak ada kekurangan yang harus ditangisi, memang inilah jalannya. Hidupku, umurku, dan terima kasih sabar menunggu.

Sunday, May 25, 2014

Malam Ini Aku Punyamu

Malam ini,
aku tidak ingin sakit, menyakitimu, dan disakiti.
Malam ini, 
aku ingin rindu itu menjadi pertemuan yang paling mesra esok.
Malam ini,
aku punyamu dalam mimpi, selamanya.

Saturday, May 24, 2014

Menyukaimu

Aku menyukaimu sekali,
aku merindukanmu berkali-kali.
Aku menyayangimu sekali,
aku tak mencintaimu untuk pertama kali.
Setiap hari adalah senyum bahagia yang terukir dari kesal dan amarah. 
Tak ada kendali untuk terus bertahan karena kita senang bersama. Walau nanti hanya sering jumpa dalam mimpi.

Jadi, Tuhan

Ayam berkokok, dan aku tak heran. Ini sudah pukul tiga lebih. Mereka sebut pagi buta, aku hanya masih belum sadar. Harus kuingat wajahmu sebelum matahari terbit karena bosan tenggelam. Harus kuingat dimana mereka berada. Ayam tak henti bernyanyi di sekitar rumah, aku masih menatap layar. Detik-detik menegangkan yang tak ingin kuhadapi, melupakanmu. Jadi, inilah masalah terbesar. Soal cinta yang kita urus sejak lama, kita pupuk dengan airmata, kita tanam di pepohonan yang dingin, namun berakhir karena dibakar. Kesedihan duduk di balik jendela kecil, umurnya masih belasan, malu-malu dan kurang bahagia. Kesedihan ayam berkokok, hanya aku yang dengar.